LOGINLucien menatap Helena cukup lama. Ada rasa kecewa di wajah tegas itu.
Helena memahami kekecewaan itu. Dulu, Helena sangat selektif, bahkan lama menjalani hubungan dengan Adrian sebelum memutuskan untuk menikahinya. Tapi kini ia lalai dan malah terjebak dengan pria buruk di pernikahan kedua. Dari tempatnya duduk, Helena bisa melihat rahang pria itu yang sudah kembali mengeras. Tidak ada kata yang terucap sampai akhirnya mereka berhenti di halaman hotel megah yang berhasil membuat Helena melebarkan pupilnya. “Turunlah. Kamu akan tinggal disini sampai semuanya membaik,” kata Lucien. “Suamimu masih emosi. Daripada dia kembali menyakitimu, lebih baik kamu menghindar dulu.” Dia keluar lebih dulu setelah merapikan jasnya. Helena buru-buru mengikuti. Dia sedikit berlari mengekor di belakang Lucien. Sambutan security dan juga pegawai lobi begitu hormat. Helena sampai ikut membungkuk dibuatnya. Lift terbuka, tak ada satu katapun yang terucap di antara keduanya. Helena meremas jemarinya, sambil sesekali melirik Lucien di sampingnya. “Aku menghargai perhatianmu, Lucien, tapi aku tidak bisa menerima ini. Aku harus pulang, sekarang. Aku tidak seharusnya berada di sini—” “Dan menghadapi pria gila itu sendirian?” potong Lucien dingin. Matanya menyipit, membuat Helena menunduk dalam. “Helena, apa yang membuatmu ragu? Dia jelas-jelas kasar. Pergi darinya di saat situasi seperti ini adalah ide yang bagus.” Helena diam. Dia mundur satu langkah, sampai bersentuhan dengan kabin lift. Suasana kembali hening sampai lift terbuka. Sebuah kamar dengan interior klasik membuat langkah Helena membeku. Dia merasa tidak pantas mendapatkan semua ini. Tangannya refleks menarik tangan Lucien. “Ini berlebihan, Lucien. Aku tidak bisa menerima kebaikan sebesar ini.” Lucien belum menjawab, tapi dari tarikan napasnya saja, Helena sudah tahu kalau pria itu masih emosional. “Bersihkan dirimu dulu. Kita bisa bicara setelah kamu lebih tenang,” katanya. Helena tidak bisa lagi membantah. Dia mengangguk kecil, lalu melangkah menuju kamar mandi di sudut suite. Beberapa detik tidak bergerak, sampai akhirnya Helena perlahan membuka pakaiannya, dan membiarkan tubuhnya kebasahan di bawah guyuran shower. Matanya terpejam, merasakan sentuhan air yang sangat menenangkan. Helena berusaha melangkah untuk mengalahkan kerat bathtub, tapi tubuhnya seperti sudah kehilangan sebagian besar tenaga. Dia terpeleset hingga kepalanya membentur ujung bathtub. Suara pekikan dan benturan itu rupanya cukup keras, sampai Lucien mendobrak pintu tanpa berpikir. “Helena—” kalimatnya menggantung. Pupilnya menyusut ketika mendapati Helena yang sudah tergeletak dan berusaha beringsut untuk menutupi dada dan juga bagian bawah tubuhnya. “Apa yang kamu lakukan, melamun di kamar mandi?” desis Lucien. Pria itu buru-buru meraih handuk, membulatkannya ke tubuh Helena yang sudah gemetar tanpa banyak bicara. Matanya tanpa sengaja memperhatikan tubuh polos wanita itu. Meski sudah berumur, Helena masih memiliki badan yang bagus. Tidak terlalu gemuk atau kurus, dan berisi di bagian-bagian yang pas. Namun, kulitnya … berisi banyak memar dan bekas luka di beberapa bagian. Rahan Lucien mengeras saat melihat memar besar di punggung Helena. “Maaf sudah membuat masalah lagi,” ujar Helena lirih. Dia menunduk sambil meremas handuknya. Lucien membantunya duduk di bathtub yang sudah terisi air hangat, matanya sengaja tidak ia turunkan, menjaga jarak sebisa mungkin meski tangannya tetap menopang tubuh ringkih itu. “Ceritakan semuanya, Helena. Apa yang sebenarnya terjadi setelah Adrian meninggal? Kenapa kamu bisa menikah dengan bajingan itu?” Lucien menyentuh dagu Helena dan mengarahkan tatapan wanita itu padanya. “Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku. Aku tidak ingin menyesal seperti sebelumnya.” Helena menggeleng pelan. “Ini bukan urusan Anda, Tuan Sinclair. Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan—” “Berhenti menganggapku orang asing, Helena.” suara Lucien yang meninggi, membuat Helena mengangkat wajahnya. “Aku sudah berusaha menahannya. Tapi setelah apa yang kulihat tadi, aku tidak bisa lagi berpura-pura ini bukan urusanku.” Kedua tangan Lucien kembali terkepal. “Aku pernah melihat luka lebam di wajahmu, sekarang bahkan di tubuhmu juga ada banyak sekali luka-luka lebam,” katanya. Helena menggigit bibirnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang. “Empat tahun… empat tahun aku bersama dengannya.” Helena mengangkat wajahnya. Menatap Lucien dengan mata basah. “Kepergian Adrian membuat aku kehilangan sebagian besar hidupku. Pria itu datang ketika aku benar-benar rapuh, Lucien. Dia berjanji akan menjagaku, menjamin kehidupanku.” Helena tertawa pahit. “Dan… dan aku percaya begitu saja.” “Semuanya berubah. Dia kehilangan pekerjaan, lalu sulit lagi mendapatkan pekerjaan lain. Setiap kali gagal, dia selalu melampiaskan semuanya padaku—kemarahan, hutang yang bahkan dia buat atas namaku.” Helena menunduk dalam. Tangannya meremas dada yang semakin sesak. Wanita itu kembali mengangkat wajahnya. Menatap Lucien, seolah menatap harapan terakhirnya. “Aku tahu, aku harus pergi. Tapi aku tidak bisa. Aku terjebak, Lucien. Terjebak hutang, rasa takut… aku juga harus mempertahankan harta satu-satunya peninggalan Adrian…” ada jeda panjang, sebelum akhirnya Helena kembali melanjutkan. “Apartemen itu, aku tidak bisa merelakannya.” Setelah selesai mendengarkan cerita Helena dan jua tangisannya, Lucien masih memperhatikan wanita itu. Tidak bergerak. Sampai akhirnya tangannya bergerak menyentuh pipi Helena sambil mengusap air matanya. Helena mengernyit keheranan. “Kenapa?” tanyanya serak. Namun tetap tidak ada jawaban. Pria itu justru memajukan wajahnya sampai Helena bisa merasakan napas mereka yang mulai beradu. Mata Helena turun pada jakun Lucien yang sudah bergerak ringan, lalu naik ke mata pria itu. Tatapannya berubah gelap, seolah sedang menatap mangsa di depannya. Namun belum sempat Helena berkata apapun, Lucien langsung menarik tengkuk Helena dan menciumnya. Pelan, yang semakin lama semakin dalam. Pupil Helena melebar. Napasnya tercekat. Tangannya berusaha mendorong dada Lucien menjauh, tapi pria itu justru semakin liar. Ciumannya semakin dalam, tangannya turun menyentuh tulang selangka. Sentuhan lembut yang jauh berbeda dari kekerasan yang selama ini Helena kenal. “Lucien, hentikan. Apa yang sedang kamu lakukan?” Lucien tidak menjawab. Ia hanya menatap Helena sebentar dengan napas semakin memburu, sebelum kembali mendekat dan tidak lagi memberi ruang untuk melawan. Bibir mereka bertemu lagi, lebih dalam dari sebelumnya. Tangannya mengunci tengkuk Helena erat. Penolakan yang tadi masih menggantung di lidah Helena, perlahan luruh begitu saja. Pria itu sedikit mendorong lidahnya, untuk membuka bibir Helena dengan sangat hati-hati. Matanya tidak lepas dari mata Helena yang kini sudah mulai terpejam. Tanpa melepaskan pagutannya, Lucien mengangkat tubuh basah itu dan membopongnya menuju tempat tidur.Lucien membuka celananya, lalu menarik celana dalam Helena yang menurutnya mengganggu. Dia menindih tubuh ringkih itu. Menyusuri setiap tulang selangka, dagu, hingga bibirnya. Napas Helena sudah tersenggal. Pupilnya menyusut, ketika Lucien mengarahkan miliknya di bawah sana.Helena menopang tubuh dengan kedua siku tangannya. Gumpalan daging yang menggantung, langsung di raup ganas oleh Lucien, seolah tidak tega membiarkan keindahan itu begitu saja. “Ah…” desah Helena, saat milik Lucien sudah masuk seutuhnya. Bulir bening menyembul di kedua pelupuk mata itu. Lucien melihatnya. Pria itu tersenyum penuh gairah. “Apa ini menyakitimu? Kalau iya, aku akan melakukannya dengan perlahan,” bisiknya. Helena menggeleng. Dia kembali membaringkan tubuhnya, membiarkan Lucien mengangkat kedua kakinya, dan meletakkannya di bahu. Wanita itu berkedip cepat. Tidak ada rasa sakit, tidak ada paksaan, milik Lucien yang sebesar itu bisa masuk dengan begitu nikmat. Apa ini yang dinamakan sudah siap sec
Mulut Helena sedikit terbuka, tapi tak ada satu katapun yang berhasil dia ucapakan. Tubuhnya tidak bergerak, bahkan ketika Lucien sudah kembali mendekat. “Apa kamu masih meragukanku?” bisik Lucien, tepat di samping telinga Helena.Dia menatap Helena sebentar, lalu sedikit menjauhkan wajahnya. Helena memalingkan wajahnya. “Bukan begitu… aku hanya tidak ingin banyak berharap lagi,” katanya lirih. “Tentang janjimu dengan Adrian. Aku sudah menganggapnya cukup, Lucien. Kamu tidak perlu terbebani lagi. Kamu sudah bebas sekarang.” Untuk beberapa saat, Lucien tidak bergerak. Dia masih menatap Helena lurus, sampai akhirnya satu kalimat darinya berhasil membuat tubuh Helena kembali menegang. “Aku tidak peduli.”Helena refleks menoleh. Belum sempat dia menatap pria itu, Lucien sudah lebih dulu menarik tengkuknya, dan kembali melumat bibirnya, kali ini lebih kasar. Tangan Helena mendorong dada Lucien. Perlakuan kasar ini, mengingatkannya pada Matteo. Dada Helena naik turun dengan cepat. Dia
Helena menyandarkan tubuhnya di sofa. Berdiam diri tanpa melakukan sesuatu, membuat tubuhnya terasa begitu kaku. Lucien benar-benar menyiapkan semua kebutuhannya, bahkan untuk hal yang sepele, seperti makan dan minumnya. Untuk seseorang yang tidak bisa diam sepertinya, Helena jelas bosan. Belum lagi, malam ini terlalu sepi untuk dihabiskan seorang diri. Mata Helena menyipit ketika mendengar suara air tepat di samping balkon. “Lucien?” tanya Helena. Namun tetap tidak ada jawaban. “Lucien itu kamu?” tanya Helena lagi. Jantungnya sudah berdegup dengan cepat. Helena menelan ludahnya, lalu melangkah untuk memastikan. Tubuhnya mematung saat melihat Lucien yang masih berendam di dalam air. Pria itu menyibak rambutnya, dan kembali menyelam. “Dia berenang malam-malam begini?” gumam Helena. Alih-alih pergi, wanita itu justru semakin mendekat. “Apa nggak dingin? Aku kira, dia belum pulang dari kantor.”“Ngapain kamu disitu?” suara Lucien berhasil membuat Helena menegang. “Aku kira, kamu suda
Setelah hampir satu minggu dirawat, akhirnya Helena sudah diperbolehkan pulang. Eve masih setia menemani. Wanita itu bahkan rela izin kerja untuk merawat Helena. Dia tidak percaya sepenuhnya pada Lucien. “Kamu tetap mau ikut, kalau Helena tidak kembali ke apartemennya?” tanya Lucien, saat ketiganya sudah berada di parkiran. Pria itu bersandar di body mobil, dengan kacamata hitam yang membuat auranya semakin misterius. Eve yang merasa tersindir, hanya mendengus. Dia merangkul lengan Helena lebih erat. “Helena, kamu yakin nggak pulang ke apartemen? Lagian, aku bisa jaga kamu—”“Dia tidak akan pulang kesana,” tukas Lucien datar. Pria itu membuka kacamata, menatap Helena dan Eve silih berganti. “Tempat itu belum aman, dan tidak ada jaminan orang-orang itu tidak akan kembali.”Helene memperhatikan Lucien cukup teliti. Pria itu masih terlihat cuek, tapi semua yang dia lakukan pasti selalu ada alasan, dan itu untuk kebaikannya. Helena menggeleng. Dia menepis perasaan aneh yang merayap
Mata Helena berkedut ringan. Kepalanya terasa berat, seolah ada yang menindihnya. Tepat ketika dia mendapat kesadaran seutuhnya, orang yang ia lihat pertama kali adalah Eve. Wanita itu sudah duduk di samping ranjang dengan mata terpejam. Helena mengerjap pelan. “Eve, itu kamu?” tanyanya memastikan. Sudah lama sekali rasanya dia tidak melihat Eve.Namun tidak ada jawaban. Eve masih tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Helena bangun. Pandangannya mengedar, memindai setiap sudut ruangan berwarna putih. Rumah sakit? Kening Helena berkerut sesaat, sebelum akhirnya pupilnya melebar saat mengingat kejadian yang menimpanya semalam.“Matteo… dimana dia?” Helena bangun dengan sangat susah payah. Kepalanya semakin berdenyut nyeri. “Aku harus cari dia—”“Kamu sudah bangun?” suara berat itu memotong kalimat Helena dalam sekejap.Helena langsung mendongak, menatap ke arah pintu. Lucien—pria itu berdiri di sana. Masih tanpa ekspresi, lengkap dengan sorot mata dinginnya. Dia berjalan men
Matteo mendorong Helena hingga tersungkur. Mata gelapnya menatap Helena tanpa belas kasih.Wanita itu mendongak. Rahangnya yang berkedut nyeri, membuat rasa bencinya pada Matteo semakin besar. Dia merogoh tasnya, mengeluarkan dua tumpuk uang dari dalam tas, lalu melemparkannya tepat di depan Matteo. “Ambil itu,” katanya. “Dan jangan pernah lagi membawa Lucien ke dalam masalah ini.”Wanita itu berdiri. Merapikan bajunya dan hendak pergi, tapi Matteo menarik tanganya, lalu mendekap tubuhnya dengan sangat erat. “Kamu pikir uang ini cukup?” bisiknya tepat di telinga Helena. “Matteo, uang itu cukup untuk melunasi salah satu hutang kita yang paling besar,” ujar Helena, sambil terus meronta. “Sisanya, aku bisa mencicil dengan gajiku. Tidak perlu lagi memeras Lucien.”Tangan Matteo yang semula mendekap tubuh Helena, perlahan mengencur. Napasnya tertahan untuk beberapa saat. Sudut bibirnya sedikit terangkat, seolah tak menyangka dengan perubahan sikap Helena yang semakin berani melawannya.







