LOGINClarin mendekat ke telinganya dan berbisik pelan, “Nanti aku ceritakan.”Carles memutar bola mata hitam legamnya ke sudut mata, melirik Clarin dengan sorot miring.Setelah terdiam sejenak, dia memasukkan ponselnya ke saku.Sesampainya di restoran shabu-shabu, Clarin memesan kuah dua rasa dan banyak sekali lauk.Siang tadi dia muntah sampai perutnya kosong. Sekarang dia lapar sampai merasa bisa menghabiskan seekor sapi.Tak lama kemudian, pelayan mengantarkan kuah dan tiga mangkuk es cincau, lalu menuangkan air panas ke dalam cangkir teh bertutup.Clarin duduk di kursi dekat dinding. Sambil menyendok es cincau, dia berkata pada Carles, “Perutku sudah besar, keluar-masuk agak susah. Bisa bantu aku racik saus cocolan?”“Hm.” Carles berdiri dan berjalan ke area bumbu.Dia masih ingat resep saus kesukaan Clarin. Cincangan bawang putih, daun bawang, daun ketumbar, seledri kecil, wijen, saus tiram, kecap asin, minyak wijen yang banyak, cabai rawit kecil, sedikit gula, dan setengah buah jeruk
Kirana menepuk-nepuk punggung Clarin dengan lembut, lalu menasihatinya dengan nada pelan, “Manusia itu makhluk yang punya perasaan. Kamu mengetahui dirimu dikhianati teman. Wajar banget kamu merasa sakit hati. Jadi, menangislah. Luapkan semua emosimu. Setelah itu, kamu akan merasa lebih enak. Kamu mengenal sifat aslinya sekarang jauh lebih baik daripada mengetahuinya nanti ketika dia menimbulkan kerugian yang lebih besar padamu ….”Setelah capek menangis, barulah emosi Clarin perlahan mereda.Tiba-tiba terdengar bunyi keroncongan dari perutnya yang memecah suasana sendu.“Bu, kita makan di luar saja,” kata Clarin.“Baik. Kamu mau makan apa?” Kirana mengusap air mata di wajah putrinya dengan telapak tangan.“Kita makan shabu-shabu saja. Cuaca sedang dingin, enak makan yang hangat-hangat.”“Kalau begitu, kamu cuci muka dulu.”Clarin pun turun dari ranjang, mengenakan sandal rumah berbulu, lalu masuk ke kamar mandi.Setelah mencuci wajah dan berganti pakaian, dia keluar kamar dan mendapat
Dokter baru mulai praktik pukul dua siang.Saat Clarin tiba di rumah sakit, waktu masih menunjukkan pukul satu. Dia duduk diam di ruang tunggu. Pikirannya kosong.Entah berlalu berapa lama, seseorang memanggil namanya.Dia pun tersadar. Seorang perawat berdiri di sampingnya sambil sedikit membungkuk dan tersenyum.“Nyonya Muda Lowui, Dokter Hermawan sudah mulai praktik. Saya antar Anda ke ruang konsultasi.”Clarin mengangguk pelan, lalu bangkit mengikuti perawat itu.Begitu melihat psikolog tersebut, dia tiba-tiba teringat pengkhianatan Valen.Keluarga Herni sangat berkuasa. Mereka bahkan bisa diam-diam membeli kesetiaan Valen. Bagaimana kalau psikolog ini juga sudah disuap?Clarin takut sisi rapuhnya diketahui Herni, lalu dijadikan bahan ejekan.Alhasil, dia mengatupkan bibir rapat-rapat tanpa berkata sepatah kata pun. Dia menolak berkomunikasi, menolak bekerja sama dalam proses pemeriksaan.Setelah keluar dari ruang konsultasi, dia langsung menyuruh sopir untuk mengantarnya pulang ke
Riwayat perubahan pemegang saham menunjukkan bahwa Valen menjadi salah satu pemegang saham Novelindo sejak lebih dari setengah bulan yang lalu.Artinya, itu terjadi sebelum Clarin mengundangnya menjadi rekan bisnis.Clarin langsung menelepon Valen. Panggilan segera tersambung.“Clarin, ada apa?” Suara Valen terdengar sedikit ceria seolah senang menerima telepon dari Clarin.Clarin berusaha keras untuk berpura-pura terkejut.“Valen, tadi aku tiba-tiba melihat kamu sudah jadi pemegang saham Novelindo. Apa itu benar?”Valen terdiam sejenak sebelum akhirnya mengaku, “Iya.”“Waktu aku mengajakmu jadi rekan di perusahaanku, kenapa kamu nggak langsung beri tahu aku? Kenapa kamu harus berbohong dengan mengatakan bahwa kamu nggak punya modal untuk bisnis?” tanya Clarin dengan emosi yang mulai naik. “Valen, kamu benar-benar menunjukkan semua percakapan kita kepada Herni?”Kali ini, Valen terdiam lebih lama.Clarin mendengar suara langkah di seberang sana.Dia menduga Valen sedang pindah tempat u
Clarin menolak. “Aku terima untuk diterapi. Tapi, kamu nggak perlu sengaja pulang hanya untuk menjemputku. Suruh sopir dan pengawal yang menemaniku saja.”Carles tidak berkomentar banyak, berkata dengan nada datar, “Kamu tidur siang saja dulu.”Setelah itu, dia keluar dari kamar.Clarin mengganti pakaian dengan piyama, berbaring di tempat tidur, meletakkan tangannya di atas perut dengan lembut, tenggelam dalam pikiran ….Dia berbaring lama sekali. Rasa kantuk ada, tetapi tak bisa benar-benar tertidur. Kepalanya terasa berat dan mengambang.Entah bagaimana Carles menjelaskan kepada Nenek Vivian dan Mira.Selama dua hari Clarin tinggal di Imperial Resort, mereka tidak lagi menyinggung soal pernikahan.Hari Senin, Clarin bangun siang dan Carles sudah pergi ke kantor.Dia pun turun untuk sarapan, menyapa Nenek Vivian dan Mira, lalu keluar bersama pengawal dan sopir.Di pusat perbelanjaan dekat rumah sakit, dia berjalan-jalan sebentar. Setelah lelah, dia memilih sebuah restoran kue, memesan
“Terakhir kali Keluarga Lowui mengadakan pernikahan itu lebih dari 30 tahun lalu,” kenang Nenek Vivian sambil tersenyum. “Aku bahkan sempat berpikir nggak akan berkesempatan melihat Carles menikah. Siapa sangka, dia diam-diam menikah kilat. Sekarang anaknya sudah mau lahir dan kalian juga akan mengadakan pernikahan. Ini benar-benar sangat membahagiakan ….”Nenek Vivian mengusap pipinya sendiri. “Aduh, pipiku sampai pegal karena terlalu lama tersenyum, hahaha ….”“Nek, soal pernikahan kami bisa ditunda sampai tahun depan saja, setelah aku melahirkan,” ujar Clarin lembut sambil tersenyum tipis.Di samping, Mira ikut menimpali, “Aku juga berpikir begitu. Clarin sudah capek karena hamil. Kalau dipaksakan sebelum melahirkan, selain persiapannya kurang maksimal, dia juga pasti akan kelelahan. Tahun depan sangat pas.”Melihat sang nenek dan ibu mertua begitu bahagia dan bersemangat, Clarin menggenggam jemarinya erat-erat, merasa bersalah.Dia pun bertanya pelan, “Ayah setuju?”“Pendapatnya ng
Hanya satu set perawatan muka saja sudah seharga 16 sampai 18 juta.Belum lagi produk kosmetik. Kalau dihitung kasar, setidaknya perlu belasan juta juga.Carles bisa melihat bahwa Clarin benar-benar menyukai barang-barang itu. Bibirnya sedikit terangkat, menyiratkan guratan puas.“Aku sanggup beli,”
Carles bisa melihat jelas kebingungan di mata Clarin.Dia pun menjelaskan dengan sabar, “Setelah kita mengurus akta nikah, kita sudah resmi suami-istri. Wajar sekali kita tinggal bersama. Sebelumnya, ayahmu terluka parah dan koma, aku mengerti kondisimu. Aku membiarkanmu tetap tinggal bersama ibumu,
Siang tadi Clarin pergi ke rumah sakit. Malamnya dia ikut makan bersama departemen. Jelas tidak ada waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang diberikan Grup Lowui.“Iya.” Clarin mengangguk. “Pekerjaan dari Grup Lowui nggak sulit dan nggak banyak. Biasanya aku kerja di kantor dulu, baru pulang rumah. Ha
“Pak Carles?” Clarin memanggil pelan dari dalam kamar mandi.Tidak ada jawaban.Dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan menyembulkan kepala.“Pak Carles? Apa kamu ada di kamar?”Kosong. Tidak ada bayangan Carles, tidak ada suaranya pula.Begitu memastikan Carles tidak berada di dalam kamar, Clarin







