Partager

Salju Tak Seberat Air Mata
Salju Tak Seberat Air Mata
Auteur: Loko

Bab 1

Auteur: Loko
Saat aku kembali ke hotel, Anderson sedang menggenggam tangan Tessa sambil mengucapkan janji pernikahan.

"Sejak hari aku bertemu denganmu, di sepanjang sisa hidupku, aku hanya ingin kamu menjadi tempat untukku pulang."

Napasku tercekat.

Janji pernikahan itu ditulis olehku. Demi merangkum rasa cinta yang telah terjalin selama tujuh tahun menjadi satu kalimat, aku menghabiskan tiga malam penuh untuk mengubahnya.

Semalam, Anderson bahkan masih memelukku sambil mengatakan bahwa kata-kata itu hanya akan dia ucapkan kepadaku di hari pernikahan kami.

Namun sekarang, dia bahkan tidak mengubah satu kata pun. Dia mengucapkannya persis seperti yang kutulis untuknya.

Begitu para tamu melihatku, suara tepuk tangan pun perlahan terhenti.

Anderson segera melepaskan tangan Tessa, lalu refleks berjalan ke sisiku. "Clara, kamu kembali ke rumah sakit dulu. Setelah upacara selesai, aku akan jelaskan kepadamu."

Aku sudah kehilangan kendali dan langsung melangkah maju untuk bertanya, "Aku mau kamu jelaskan sekarang! Kenapa dia memakai gaun pengantinku, cincin nikahku, dan berdiri di samping pengantin priaku?"

Anderson mengadang di hadapan Tessa. Terlintas sedikit rasa tidak sabar di dalam sorot matanya. "Karena sejak awal acara pernikahan ini memang dipersiapkan untuk Tessa."

Kalimat singkat itu langsung membuatku tertegun di tempat. Demi acara pernikahan ini, aku sudah sibuk selama satu tahun penuh.

Namun, Anderson malah memberitahuku bahwa sejak awal, acara pernikahan ini memang bukan milikku.

Anderson menatap kerudung pengantin yang berhias berlian di atas kepala Tessa, lalu berkata dengan nada tenang, "Tessa sudah lama menyukai kerudung ini. Dia sedang berada di luar negeri dan nggak bisa pulang untuk mencobanya, jadi aku hanya memintamu memastikan ukurannya."

Aku menatapnya lekat-lekat. "Jadi, bagaimana dengan gaun pengantin?"

"Gaun itu juga milik Tessa. Desain awal dibuat sesuai dengan ukuran Tessa."

Sekujur tubuhku terasa dingin. Pantas saja Anderson tidak memperbolehkanku untuk mengubah bagian pinggang gaun itu dan hanya menyuruhku menurunkan berat badan agar bisa menyesuaikannya.

Demi bisa mengenakan gaun itu, aku hampir tidak pernah makan malam dengan layak selama setengah tahun.

Namun, saat ini aku baru mengerti ternyata pengantin wanita yang sebenarnya bukanlah aku. Tessa merangkul lengan Anderson sambil menatapku dengan sorot mata iba. "Kak, kamu jangan salahkan Anderson. Aku yang menyuruhnya untuk mengejarmu."

"Waktu itu, aku mau berobat ke luar negeri, kemungkinan aku nggak akan kembali lagi. Saat itu, kebetulan kamu dicampakkan oleh mantan kekasihmu dan nggak bisa tidur setiap malam."

Terlihat rasa kasihan di dalam tatapan Tessa.

"Aku nggak tega melihatmu begitu kesakitan, makanya aku meminta Anderson menjagamu untuk sementara waktu. Menu sarapan yang setiap hari diantarkan ke bawah asramamu itu, aku yang menyusunnya. Restoran untuk kencan pertama kalian juga aku yang memilihnya. Bahkan kata-kata yang dia ucapkan saat menyatakan cintanya kepadamu pun, aku yang mengajarinya kata demi kata."

Tenggorokanku terasa seperti tercekat oleh sesuatu yang begitu kuat.

Anderson mengejarku selama 99 hari. Aku bahkan pernah mencatat setiap hal kecil yang terjadi selama 99 hari itu di buku harianku. Ternyata, semua hal kecil yang berkali-kali membuat hatiku berdebar itu tidak satu pun benar-benar ditujukan untukku.

Ineke juga datang sambil mengangkat gaun pengiring pengantinnya. "Clara, semua orang memang salah karena sudah menyembunyikan hal ini darimu, tapi Tessa jauh lebih menderita daripada kamu."

"Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri orang yang disukainya menemanimu selama tujuh tahun, tapi dia nggak pernah memisahkan kalian. Dia sudah cukup baik. Kamu jangan memaksanya lagi."

Aku menatap sahabat yang sudah kukenal selama belasan tahun. "Jadi, kamu juga sudah tahu sejak awal?"

Ineke mengangguk. "Kami semua takut kamu nggak sanggup menerima kenyataan ini. Kamu itu orangnya terlalu ekstrem. Kalau sampai kamu tahu bahwa sebenarnya Anderson mencintai Tessa, entah apa yang akan kamu lakukan?"

Semua orang berdiri di sisi Tessa. Mereka menatapku dengan tatapan waspada, seolah-olah aku bukan korban yang telah ditipu selama tujuh tahun, melainkan orang gila yang bisa menghancurkan kebahagiaan Tessa kapan saja.

Tiba-tiba, ponsel di dalam tasku bergetar. Aku menerima pesan dari penanggung jawab proyek luar negeri yang memberiku tawaran tiga bulan lalu.

[ Bu Clara, batas waktu konfirmasi untuk posisi menetap di luar negeri adalah malam ini. ]

[ Kami masih menyisakan satu kursi penerbangan terakhir untukmu. ]

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 8

    Setelah kembali dari luar negeri, Anderson tidak langsung bertengkar hebat dengan Tessa. Dia hanya pindah dari rumah pernikahan mereka, lalu menyerahkan seluruh urusan komunikasi kepada pengacaranya.Tessa beberapa kali datang ke kantornya untuk mencari Anderson. Dia pernah menangis, bahkan mencoba menahannya dengan menggunakan anak mereka sebagai alasan.Baru setelah menyadari bahwa Anderson benar-benar tidak akan kembali lagi, dia bertanya dengan dingin, "Kenapa hanya aku yang disalahkan? Mendaftarkan pernikahan itu adalah keputusanmu sendiri. Kamu sendiri yang berjanji akan memberikan pernikahan kepadaku. Anderson, kita berdua sama-sama bersalah."Tessa tetap tidak mengakui bahwa dirinya yang menerima telepon tersebut. Dia juga tetap bersikeras bahwa benturan di ruang istirahat pengantin itu hanyalah sebuah kecelakaan.Namun kali ini, tidak ada lagi yang memercayai Tessa tanpa syarat. Setelah anak itu lahir, mereka berdua mengurus proses perceraian.Ayah dan Ibu juga tidak lagi sepe

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 7

    Selama beberapa bulan ini, hidupku juga mulai berubah. Proposal proyekku ditolak sebanyak enam kali. Sebelum presentasi yang ketujuh, aku menghabiskan semalaman di ruang rapat.Ketika penanggung jawab menyerahkan surat persetujuan final kepadaku, dia tersenyum dan berkata, "Clara, selamat. Proposalmu sudah disetujui." Aku menggenggam dokumen itu. Tiba-tiba mataku terasa panas. Dulu, setiap kali aku meraih prestasi apa pun, orang pertama yang selalu ingin kuberi tahu adalah Anderson, kemudian Ayah, Ibu, Abang, lalu Ineke. Namun, kalaupun mereka membalas, sering kali hanya sekadarnya.Sementara itu, Tessa hanya perlu mengirimkan satu foto dirinya sedang menikmati teh untuk mendapatkan perhatian dari semua orang.Kini, di ruang rapat, rekan-rekanku membaca rancangan yang kubuat dengan saksama, lalu bertepuk tangan untukku.Ada yang memberiku kopi, ada pula yang tersenyum dan mengajakku merayakannya nanti malam. Aku menunduk dan membubuhkan tanda tanganku dan nama lengkapku pada dokumen

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 6

    Keesokan harinya, Anderson kembali ke hotel tempat pernikahan itu digelar. Dia meminta rekaman CCTV di depan ruang istirahat pengantin.Dalam rekaman itu, terlihat aku menyeret koper keluar dari kamar.Tessa berjalan menghampiriku dari arah berlawanan. Saat melewatiku, langkahnya terlihat jelas berhenti sejenak. Kemudian, bahunya menghantam bahuku.Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam ruang istirahat. Beberapa detik kemudian, Anderson berlari menyusul masuk. CCTV tidak merekam apa yang terjadi di dalam ruangan.Namun, kamera dengan jelas menangkap gerakan Tessa yang menundukkan kepala dan memandangi ujung sepatunya sebelum pergi. Di sepasang sepatu hak tinggi putih itu telah ternodai beberapa tetes darahku.Tessa telah melihatnya, tetapi dia tetap memegang perutnya dan membawa semua orang pergi.Anderson memutar rekaman itu di hadapan Tessa. Tessa hanya panik sesaat sebelum akhirnya menangis. "Ekor gaun pengantin itu terlalu berat. Aku benar-benar kehilangan keseimbangan.

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 5

    Dari lebih dari seratus panggilan tak terjawab, nama Anderson muncul paling banyak.Ponselku kembali bergetar. Namanya muncul lagi di atas layar ponselku. Aku menatapnya selama beberapa detik, lalu langsung menolak panggilan itu dan memasukkan semua orang ke daftar blokir.Penanggung jawab proyek datang menjemputku di bandara. Begitu melihatku, dia langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kamu mau ke rumah sakit dulu?"Aku menggelengkan kepala. "Aku baru saja menjalani operasi kecil. Cukup istirahat beberapa hari saja."Dia tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengambil koperku dan membukakan pintu mobil untukku.Pemandangan asing perlahan berlalu di balik jendela mobil. Di sini, tidak ada seorang pun yang mengenal Tessa, apalagi mengetahui tentang pernikahan konyol itu.Tim proyek memberiku waktu istirahat selama satu minggu. Namun pada hari ketiga, aku pun telah kembali ke kantor.Alasannya bukan karena tidak sakit lagi, melainkan setiap kali aku memejamkan

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 4

    Anderson berlari masuk dengan terengah-engah, seolah takut tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagi.Wajahku langsung pucat. Aku tertawa mencemooh diriku sendiri. Baru saja hendak membuka mulut, tiba-tiba dia menyelipkan sebutir permen susu ke dalam mulutku. Gerakannya begitu natural, persis seperti yang dilakukannya selama tujuh tahun terakhir."Lihat wajahmu. Gula darahmu pasti sudah turun lagi."Rasa susu yang pekat perlahan memenuhi mulutku, tetapi kali ini justru terasa pahit. Melihatku tidak berbicara, Anderson melepaskan jasnya dan menyampirkannya di bahuku. "Aku akan minta sopir mengantarmu ke hotel. Aku juga sudah mengatur kamar. Kamu bisa tinggal beberapa hari di sana. Setelah acara pernikahan selesai, aku akan mencarimu dan menjelaskan semuanya."Hidungku tiba-tiba terasa tidak nyaman. Dia tidak mengatakan bahwa dia mencintaiku, juga tidak mengatakan bahwa dia tidak rela melepaskanku. Namun, perhatian yang dilakukannya secara spontan itu tetap membuatku teringat pada An

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 3

    Pintu aula kembali terbuka.Ibu buru-buru berjalan ke hadapan Tessa dan mengusap air matanya dengan penuh rasa sayang.Namun, ketika menatapku, nada suaranya berubah menjadi penuh celaan. "Demi kamu, Tessa sudah mengalah selama tujuh tahun. Dia hanya ingin mendapatkan kembali pernikahan yang seharusnya menjadi miliknya. Kenapa kamu malah masih harus membuat keributan?"Suaraku bergetar. "Ibu, sebenarnya Ibu nggak punya penyakit jantung sama sekali? Selama ini Ibu hanya berpura-pura sakit?""Tiga tahun lalu, aku dan Anderson sudah sepakat untuk mendaftarkan pernikahan kami. Tapi saat itu Ibu tiba-tiba bilang jantung Ibu nggak nyaman dan memintaku menemani Ibu ke rumah sakit.""Waktu itu, apa Ibu melakukannya untuk mengusirku?"Tiba-tiba Tessa tersenyum. "Kak, akhirnya kamu sudah mengingatnya." Tessa mengeluarkan dua buku nikah berwarna merah dari balik buket bunga yang dipegangnya. Dalam foto di buku nikah itu, dia berada di samping Anderson. Keduanya tersenyum bahagia dan terlihat beg

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status