Partager

Bab 2

Auteur: Loko
Aku menggenggam ponselku erat-erat. Aku teringat sebelumnya, aku pernah menolak sebuah kesempatan kerja demi Anderson. Pada saat itu, dia memelukku erat-erat dan membujukku di telingaku.

"Clara, kalau kamu ke luar negeri, bagaimana denganku? Kita akan segera menikah. Apa kamu tega meninggalkanku sendirian?"

Aku bimbang dalam waktu yang sangat lama. Pada akhirnya, demi menikah dengan Anderson, aku menolak kesempatan kerja yang sangat bagus itu.

Ketika teringat momen manis selama tujuh tahun sebelumnya, aku menatap Anderson dengan terisak-isak, lalu bertanya dengan penuh harap, "Tessa sudah kembali, kenapa kamu masih belum putus denganku? Selama tujuh tahun ini, meskipun hanya sesaat, kamu pernah mencintaiku, ‘kan?"

Anderson terdiam cukup lama.

Tessa tersenyum seolah tidak berdaya, lalu berkata dengan nada penuh rasa iba, "Dia nggak putus denganmu karena aku nggak mengizinkannya. Kamu menganggap Anderson adalah segalanya bagimu. Aku takut kalau dia pergi, hidupmu akan hancur lagi."

Tessa melangkah mendekatinya. Sikapnya seolah-olah dia adalah orang yang paling murah hati di dunia.

"Kak, selama tujuh tahun ini, aku membiarkan orang yang paling aku cintai berada di sisimu. Aku melihatnya menemanimu merayakan ulang tahun, menemanimu menjalani sesi foto prewedding, bahkan membantumu mempersiapkan pernikahan. Aku sudah mengalah cukup lama."

"Sekarang, aku hanya ingin mengambil kembali pernikahan yang seharusnya menjadi milikku. Kenapa kamu bahkan nggak bersedia untuk memuaskan sedikit keinginanku?"

Setelah selesai berbicara, Tessa mengusap perut kecilnya dengan perlahan.

"Kalau aku sudah seorang diri, aku masih bisa lanjut mengalah, tapi aku sudah hamil tiga bulan. Aku nggak bisa membiarkan setelah anak lahir nanti, dia malah harus memanggil ayah kandungnya sendiri sebagai paman."

Raut wajah Anderson seketika berubah. Dia segera menopang pinggang Tessa. "Dokter sudah berpesan agar kamu harus menjaga emosimu. Jangan jelaskan kepada dia lagi."

Anderson mengangkat kepalanya untuk menatapku. Suaranya menjadi dingin. "Clara, demi kamu, Tessa sudah mengalah selama tujuh tahun. Sekarang, dia sudah mengandung anakku. Aku nggak mungkin menemanimu untuk berakting lagi."

Hanya dengan beberapa kalimat singkat, dia dengan mudahnya menghapus tujuh tahun yang kami lalui bersama. Padahal, Anderson yang dulu jelas pernah menganggapku lebih penting daripada apa pun.

Saat aku dirawat di rumah sakit karena gastritis akut, dia membatalkan rapat dan menjagaku di sisi ranjang selama dua hari dua malam.

Ketika Keluarga Dikara menentang hubungan kami, dia menutup kartu tambahan dari keluarganya dan pindah ke apartemen kecil yang kusewa.

Di masa-masa tersulit, kami bahkan berbagi semangkuk mie instan. Dia memberikan satu-satunya telur mata sapi kepadaku, lalu berkata dengan tersenyum, "Clara, kamu tunggu aku sebentar lagi ya. Aku pasti akan membuat semua orang tahu bahwa pilihanmu nggak salah."

Kemudian, saat usahanya gagal dan dia terlilit utang dalam jumlah besar, aku yang bekerja di siang hari, lalu mengambil pekerjaan desain di malam hari, menemaninya melewati dua tahun tersulit dalam hidupnya.

Pada saat Anderson mendapatkan investasi pertamanya, dia memelukku dan menangis begitu lama. Dia bahkan mengatakan bahwa seumur hidup ini, dia tidak akan mengecewakanku.

Pelukan-pelukan itu nyata. Air mata itu juga nyata.

Namun sekarang, Anderson justru melindungi Tessa yang sedang mengandung anaknya, lalu memberitahuku bahwa cinta selama tujuh tahun itu hanyalah sebuah sandiwara.

Tiba-tiba, layar besar di belakangku kembali menyala.

Para staf tidak tahu bahwa pernikahan ini sudah berubah kacau balau. Mereka tetap mengikuti susunan acara yang telah disusun sebelumnya dan memutar video kenangan kedua mempelai.

Di tengah layar, muncul beberapa tulisan besar berwarna emas:

[ Anderson dan Tessa telah saling mencintai selama sepuluh tahun. ]

Satu demi satu foto perlahan muncul mengikuti garis waktu.

Pada hari ulang tahunku yang ke-24, Anderson mengatakan bahwa pesawatnya mengalami penundaan, aku pun menunggu sendirian bersama kue yang sudah dingin.

Namun, dalam foto itu, Anderson justru sedang mengenakan syal pada Tessa di bawah pegunungan yang diselimuti salju, lalu menunduk dan mencium ujung hidungnya yang memerah karena kedinginan.

Setengah tahun yang lalu, pada hari aku mengalami keguguran. Anderson mengatakan bahwa dia ada perjalanan dinas mendadak dan tidak bisa datang ke rumah sakit untuk menandatangani surat persetujuan.

Ibu mengatakan bahwa jantungnya sedang tidak nyaman, sedangkan nomor kontak Ayah dan abangku sama-sama tidak bisa dihubungi.

Aku terbaring sendirian di meja operasi. Tubuhku kesakitan hingga gemetar.

Ternyata orang-orang dalam foto itu sedang berada di sebuah pulau untuk merayakan ulang tahun Tessa.

Ibu memegang hadiah, Ayah membantunya memotong kue, dan abangku menyalakan kembang api sepanjang malam di tepi pantai. Ineke berdiri di balik kamera sambil mengabadikan momen kebersamaan keluarga mereka.

Satu demi satu foto itu berisi momen tujuh tahun yang tidak pernah melibatkanku, sekaligus mengungkap celah-celah dalam kebohongan yang selama ini mereka sembunyikan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 8

    Setelah kembali dari luar negeri, Anderson tidak langsung bertengkar hebat dengan Tessa. Dia hanya pindah dari rumah pernikahan mereka, lalu menyerahkan seluruh urusan komunikasi kepada pengacaranya.Tessa beberapa kali datang ke kantornya untuk mencari Anderson. Dia pernah menangis, bahkan mencoba menahannya dengan menggunakan anak mereka sebagai alasan.Baru setelah menyadari bahwa Anderson benar-benar tidak akan kembali lagi, dia bertanya dengan dingin, "Kenapa hanya aku yang disalahkan? Mendaftarkan pernikahan itu adalah keputusanmu sendiri. Kamu sendiri yang berjanji akan memberikan pernikahan kepadaku. Anderson, kita berdua sama-sama bersalah."Tessa tetap tidak mengakui bahwa dirinya yang menerima telepon tersebut. Dia juga tetap bersikeras bahwa benturan di ruang istirahat pengantin itu hanyalah sebuah kecelakaan.Namun kali ini, tidak ada lagi yang memercayai Tessa tanpa syarat. Setelah anak itu lahir, mereka berdua mengurus proses perceraian.Ayah dan Ibu juga tidak lagi sepe

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 7

    Selama beberapa bulan ini, hidupku juga mulai berubah. Proposal proyekku ditolak sebanyak enam kali. Sebelum presentasi yang ketujuh, aku menghabiskan semalaman di ruang rapat.Ketika penanggung jawab menyerahkan surat persetujuan final kepadaku, dia tersenyum dan berkata, "Clara, selamat. Proposalmu sudah disetujui." Aku menggenggam dokumen itu. Tiba-tiba mataku terasa panas. Dulu, setiap kali aku meraih prestasi apa pun, orang pertama yang selalu ingin kuberi tahu adalah Anderson, kemudian Ayah, Ibu, Abang, lalu Ineke. Namun, kalaupun mereka membalas, sering kali hanya sekadarnya.Sementara itu, Tessa hanya perlu mengirimkan satu foto dirinya sedang menikmati teh untuk mendapatkan perhatian dari semua orang.Kini, di ruang rapat, rekan-rekanku membaca rancangan yang kubuat dengan saksama, lalu bertepuk tangan untukku.Ada yang memberiku kopi, ada pula yang tersenyum dan mengajakku merayakannya nanti malam. Aku menunduk dan membubuhkan tanda tanganku dan nama lengkapku pada dokumen

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 6

    Keesokan harinya, Anderson kembali ke hotel tempat pernikahan itu digelar. Dia meminta rekaman CCTV di depan ruang istirahat pengantin.Dalam rekaman itu, terlihat aku menyeret koper keluar dari kamar.Tessa berjalan menghampiriku dari arah berlawanan. Saat melewatiku, langkahnya terlihat jelas berhenti sejenak. Kemudian, bahunya menghantam bahuku.Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam ruang istirahat. Beberapa detik kemudian, Anderson berlari menyusul masuk. CCTV tidak merekam apa yang terjadi di dalam ruangan.Namun, kamera dengan jelas menangkap gerakan Tessa yang menundukkan kepala dan memandangi ujung sepatunya sebelum pergi. Di sepasang sepatu hak tinggi putih itu telah ternodai beberapa tetes darahku.Tessa telah melihatnya, tetapi dia tetap memegang perutnya dan membawa semua orang pergi.Anderson memutar rekaman itu di hadapan Tessa. Tessa hanya panik sesaat sebelum akhirnya menangis. "Ekor gaun pengantin itu terlalu berat. Aku benar-benar kehilangan keseimbangan.

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 5

    Dari lebih dari seratus panggilan tak terjawab, nama Anderson muncul paling banyak.Ponselku kembali bergetar. Namanya muncul lagi di atas layar ponselku. Aku menatapnya selama beberapa detik, lalu langsung menolak panggilan itu dan memasukkan semua orang ke daftar blokir.Penanggung jawab proyek datang menjemputku di bandara. Begitu melihatku, dia langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kamu mau ke rumah sakit dulu?"Aku menggelengkan kepala. "Aku baru saja menjalani operasi kecil. Cukup istirahat beberapa hari saja."Dia tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengambil koperku dan membukakan pintu mobil untukku.Pemandangan asing perlahan berlalu di balik jendela mobil. Di sini, tidak ada seorang pun yang mengenal Tessa, apalagi mengetahui tentang pernikahan konyol itu.Tim proyek memberiku waktu istirahat selama satu minggu. Namun pada hari ketiga, aku pun telah kembali ke kantor.Alasannya bukan karena tidak sakit lagi, melainkan setiap kali aku memejamkan

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 4

    Anderson berlari masuk dengan terengah-engah, seolah takut tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagi.Wajahku langsung pucat. Aku tertawa mencemooh diriku sendiri. Baru saja hendak membuka mulut, tiba-tiba dia menyelipkan sebutir permen susu ke dalam mulutku. Gerakannya begitu natural, persis seperti yang dilakukannya selama tujuh tahun terakhir."Lihat wajahmu. Gula darahmu pasti sudah turun lagi."Rasa susu yang pekat perlahan memenuhi mulutku, tetapi kali ini justru terasa pahit. Melihatku tidak berbicara, Anderson melepaskan jasnya dan menyampirkannya di bahuku. "Aku akan minta sopir mengantarmu ke hotel. Aku juga sudah mengatur kamar. Kamu bisa tinggal beberapa hari di sana. Setelah acara pernikahan selesai, aku akan mencarimu dan menjelaskan semuanya."Hidungku tiba-tiba terasa tidak nyaman. Dia tidak mengatakan bahwa dia mencintaiku, juga tidak mengatakan bahwa dia tidak rela melepaskanku. Namun, perhatian yang dilakukannya secara spontan itu tetap membuatku teringat pada An

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 3

    Pintu aula kembali terbuka.Ibu buru-buru berjalan ke hadapan Tessa dan mengusap air matanya dengan penuh rasa sayang.Namun, ketika menatapku, nada suaranya berubah menjadi penuh celaan. "Demi kamu, Tessa sudah mengalah selama tujuh tahun. Dia hanya ingin mendapatkan kembali pernikahan yang seharusnya menjadi miliknya. Kenapa kamu malah masih harus membuat keributan?"Suaraku bergetar. "Ibu, sebenarnya Ibu nggak punya penyakit jantung sama sekali? Selama ini Ibu hanya berpura-pura sakit?""Tiga tahun lalu, aku dan Anderson sudah sepakat untuk mendaftarkan pernikahan kami. Tapi saat itu Ibu tiba-tiba bilang jantung Ibu nggak nyaman dan memintaku menemani Ibu ke rumah sakit.""Waktu itu, apa Ibu melakukannya untuk mengusirku?"Tiba-tiba Tessa tersenyum. "Kak, akhirnya kamu sudah mengingatnya." Tessa mengeluarkan dua buku nikah berwarna merah dari balik buket bunga yang dipegangnya. Dalam foto di buku nikah itu, dia berada di samping Anderson. Keduanya tersenyum bahagia dan terlihat beg

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status