Partager

Bab 4

Auteur: Loko
Anderson berlari masuk dengan terengah-engah, seolah takut tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagi.

Wajahku langsung pucat. Aku tertawa mencemooh diriku sendiri. Baru saja hendak membuka mulut, tiba-tiba dia menyelipkan sebutir permen susu ke dalam mulutku. Gerakannya begitu natural, persis seperti yang dilakukannya selama tujuh tahun terakhir.

"Lihat wajahmu. Gula darahmu pasti sudah turun lagi."

Rasa susu yang pekat perlahan memenuhi mulutku, tetapi kali ini justru terasa pahit. Melihatku tidak berbicara, Anderson melepaskan jasnya dan menyampirkannya di bahuku. "Aku akan minta sopir mengantarmu ke hotel. Aku juga sudah mengatur kamar. Kamu bisa tinggal beberapa hari di sana. Setelah acara pernikahan selesai, aku akan mencarimu dan menjelaskan semuanya."

Hidungku tiba-tiba terasa tidak nyaman. Dia tidak mengatakan bahwa dia mencintaiku, juga tidak mengatakan bahwa dia tidak rela melepaskanku.

Namun, perhatian yang dilakukannya secara spontan itu tetap membuatku teringat pada Anderson yang dulu rela menerobos hujan untuk mengantarkan obat kepadaku, lalu baru pergi setelah memastikan aku selesai makan.

Ternyata, kebiasaan yang terbentuk selama tujuh tahun itu masih melekat. Jas yang disampirkannya di bahuku masih menyisakan kehangatan tubuh Anderson. Dulu, aku pikir kehangatan seperti ini hanya menjadi milikku seorang. Namun sekarang, istrinya sudah berganti menjadi orang lain.

Tiba-tiba terdengar suara Tessa dari depan pintu. Ineke juga berdiri di belakangnya.

"Anderson, ternyata kamu benar-benar ada di sini."

Tatapannya jatuh pada tangan Anderson yang masih terulur. Matanya seketika memerah.

"Apa aku akan selalu berada di belakangnya? Aku tahu kamu masih belum bisa melepaskan Kak Clara. Kalau memang begitu, biar aku yang mundur untuk merestui …."

Detik berikutnya, Anderson memeluk Tessa dengan erat dan mata memerah. Sementara, Tessa dengan air mata yang masih menggenang, berjinjit untuk menerima ciuman dari Anderson.

Saat itu, aku merasa diriku seperti tokoh antagonis wanita paling jahat dalam dongeng. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mataku.

Aku menyeret koper dan bersiap pergi dalam diam. Saat melewati sisi Ineke, dia sengaja menabrak bahuku.

Aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku menghantam meja rendah di belakangku sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa seperti disobek menjalar dari perutku. Darah hangat segera merembes dan membasahi rokku.

Begitu melihat darah di lantai, wajah Anderson seketika berubah. Dia tidak ragu sama sekali, langsung berjongkok dan memapah tubuhku.

"Clara, bagian mana yang sakit? Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang."

Saat itu, kepanikan di matanya terlihat begitu nyata.

Namun, tepat ketika Anderson hendak menggendongku, Tessa tiba-tiba memegang perutnya dan membungkuk.

"Anderson, perutku sakit. Apa terjadi sesuatu dengan anak?"

Ucapan itu langsung membuat Anderson tertegun.

Ayah dan Ibu juga bergegas ke sisi Tessa. Abangku langsung menggendongnya. Sementara, Ineke segera berlari pergi menekan tombol lift.

Anderson hanya ragu selama beberapa detik, lalu berbalik dan mengejarnya. Sebelum pergi, Anderson menoleh dan melirikku sekilas. "Aku antar Tessa ke rumah sakit dulu. Seharusnya kamu hanya sedang datang bulan. Pulang dan istirahat saja, nanti juga akan membaik."

Pintu ruangan segera tertutup. Di lorong hanya tersisa suara langkah mereka yang tergesa-gesa.

Aku memegang perutku dan berusaha bangkit untuk meminta bantuan. Namun, baru saja jariku menyentuh ponsel, pandanganku langsung gelap dan aku kehilangan kesadaran.

Orang yang akhirnya menemukan aku adalah petugas kebersihan yang masuk untuk membersihkan ruang istirahat pengantin wanita. Begitu melihatku tergeletak dalam genangan darah, dia langsung terkejut dan memanggil ambulans.

Setelah hasil pemeriksaan keluar, raut wajah dokter tampak serius. "Kehamilanmu sudah enam minggu dan ada tanda-tanda keguguran. Kamu perlu dirawat di rumah sakit untuk mempertahankan kehamilan ini."

Aku hanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Ternyata, tepat ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Anderson, anak kedua kami diam-diam hadir dalam hidupku.

Aku berbaring di ranjang rumah sakit selama dua hari. Setiap hari aku harus disuntik dan minum obat. Aku bahkan tidak berani bergerak terlalu kuat untuk membalikkan tubuh.

Namun, pada pagi hari ketiga, setelah dokter selesai memeriksaku, dia terdiam cukup lama.

"Detak jantung janin sudah berhenti. Anak nggak berhasil dipertahankan."

Aku tidak menangis. Aku hanya tanpa sadar mengusap perutku. Perut itu masih rata, seolah-olah anak ini tidak pernah datang ke dalam hidupku.

Sebelum operasi, seorang perawat masuk membawa surat persetujuan. Perawat itu melihat kamar rawat yang kosong. "Di mana keluargamu? Apa Ayah dari anak juga nggak datang?"

Tepat saat itu, ponselku muncul notifikasi baru dari media sosial. Tessa telah mengunggah sebuah foto. Dalam foto itu, dia berbaring dalam pelukan Anderson.

Ayah dan Ibu duduk di samping sambil memilih nama untuk bayi mereka. Abangku membelikan sebuah ranjang bayi. Sementara, Ineke memberinya sepasang sepatu bayi mungil.

Tulisan dari foto itu. [ Sempat panik sesaat, tapi ternyata nggak terjadi apa-apa. Bayiku sangat sehat. Terima kasih kepada semua keluarga yang menyayangiku. ]

Selama dua hari penuh, mereka berjaga di rumah sakit sebelah untuk menemani Tessa. Namun, tidak seorang pun peduli dengan keadaanku.

Perawat bertanya dengan nada ringan, "Bagaimana kalau telepon anggota keluargamu lagi?"

Aku menatap kolom tanda tangan wali pasien pada surat persetujuan operasi. Beberapa saat kemudian, aku mengambil pulpen dari tangannya. "Nggak usah. Aku nggak punya keluarga."

Setelah operasi selesai, dokter menyarankanku untuk tetap beristirahat di rumah sakit.

Aku menggelengkan kepala, lalu menyeret koperku sendirian menuju bandara. Setiap langkah terasa seperti ada pisau tumpul yang menggores bagian perutku.

Saat pengumuman boarding terdengar, aku keluar dari grup keluarga dan mematikan ponsel.

Hitung mundur 24 jam itu telah benar-benar berakhir saat ini. Ketika pesawat menembus awan, kota yang telah mengurungku selama tujuh tahun itu akhirnya lenyap dari pandangan.

Sepuluh jam kemudian, aku tiba di tempat tujuan. Begitu ponsel dinyalakan, layar langsung dipenuhi panggilan tak terjawab yang begitu banyak jumlahnya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 8

    Setelah kembali dari luar negeri, Anderson tidak langsung bertengkar hebat dengan Tessa. Dia hanya pindah dari rumah pernikahan mereka, lalu menyerahkan seluruh urusan komunikasi kepada pengacaranya.Tessa beberapa kali datang ke kantornya untuk mencari Anderson. Dia pernah menangis, bahkan mencoba menahannya dengan menggunakan anak mereka sebagai alasan.Baru setelah menyadari bahwa Anderson benar-benar tidak akan kembali lagi, dia bertanya dengan dingin, "Kenapa hanya aku yang disalahkan? Mendaftarkan pernikahan itu adalah keputusanmu sendiri. Kamu sendiri yang berjanji akan memberikan pernikahan kepadaku. Anderson, kita berdua sama-sama bersalah."Tessa tetap tidak mengakui bahwa dirinya yang menerima telepon tersebut. Dia juga tetap bersikeras bahwa benturan di ruang istirahat pengantin itu hanyalah sebuah kecelakaan.Namun kali ini, tidak ada lagi yang memercayai Tessa tanpa syarat. Setelah anak itu lahir, mereka berdua mengurus proses perceraian.Ayah dan Ibu juga tidak lagi sepe

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 7

    Selama beberapa bulan ini, hidupku juga mulai berubah. Proposal proyekku ditolak sebanyak enam kali. Sebelum presentasi yang ketujuh, aku menghabiskan semalaman di ruang rapat.Ketika penanggung jawab menyerahkan surat persetujuan final kepadaku, dia tersenyum dan berkata, "Clara, selamat. Proposalmu sudah disetujui." Aku menggenggam dokumen itu. Tiba-tiba mataku terasa panas. Dulu, setiap kali aku meraih prestasi apa pun, orang pertama yang selalu ingin kuberi tahu adalah Anderson, kemudian Ayah, Ibu, Abang, lalu Ineke. Namun, kalaupun mereka membalas, sering kali hanya sekadarnya.Sementara itu, Tessa hanya perlu mengirimkan satu foto dirinya sedang menikmati teh untuk mendapatkan perhatian dari semua orang.Kini, di ruang rapat, rekan-rekanku membaca rancangan yang kubuat dengan saksama, lalu bertepuk tangan untukku.Ada yang memberiku kopi, ada pula yang tersenyum dan mengajakku merayakannya nanti malam. Aku menunduk dan membubuhkan tanda tanganku dan nama lengkapku pada dokumen

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 6

    Keesokan harinya, Anderson kembali ke hotel tempat pernikahan itu digelar. Dia meminta rekaman CCTV di depan ruang istirahat pengantin.Dalam rekaman itu, terlihat aku menyeret koper keluar dari kamar.Tessa berjalan menghampiriku dari arah berlawanan. Saat melewatiku, langkahnya terlihat jelas berhenti sejenak. Kemudian, bahunya menghantam bahuku.Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam ruang istirahat. Beberapa detik kemudian, Anderson berlari menyusul masuk. CCTV tidak merekam apa yang terjadi di dalam ruangan.Namun, kamera dengan jelas menangkap gerakan Tessa yang menundukkan kepala dan memandangi ujung sepatunya sebelum pergi. Di sepasang sepatu hak tinggi putih itu telah ternodai beberapa tetes darahku.Tessa telah melihatnya, tetapi dia tetap memegang perutnya dan membawa semua orang pergi.Anderson memutar rekaman itu di hadapan Tessa. Tessa hanya panik sesaat sebelum akhirnya menangis. "Ekor gaun pengantin itu terlalu berat. Aku benar-benar kehilangan keseimbangan.

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 5

    Dari lebih dari seratus panggilan tak terjawab, nama Anderson muncul paling banyak.Ponselku kembali bergetar. Namanya muncul lagi di atas layar ponselku. Aku menatapnya selama beberapa detik, lalu langsung menolak panggilan itu dan memasukkan semua orang ke daftar blokir.Penanggung jawab proyek datang menjemputku di bandara. Begitu melihatku, dia langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kamu mau ke rumah sakit dulu?"Aku menggelengkan kepala. "Aku baru saja menjalani operasi kecil. Cukup istirahat beberapa hari saja."Dia tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengambil koperku dan membukakan pintu mobil untukku.Pemandangan asing perlahan berlalu di balik jendela mobil. Di sini, tidak ada seorang pun yang mengenal Tessa, apalagi mengetahui tentang pernikahan konyol itu.Tim proyek memberiku waktu istirahat selama satu minggu. Namun pada hari ketiga, aku pun telah kembali ke kantor.Alasannya bukan karena tidak sakit lagi, melainkan setiap kali aku memejamkan

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 4

    Anderson berlari masuk dengan terengah-engah, seolah takut tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagi.Wajahku langsung pucat. Aku tertawa mencemooh diriku sendiri. Baru saja hendak membuka mulut, tiba-tiba dia menyelipkan sebutir permen susu ke dalam mulutku. Gerakannya begitu natural, persis seperti yang dilakukannya selama tujuh tahun terakhir."Lihat wajahmu. Gula darahmu pasti sudah turun lagi."Rasa susu yang pekat perlahan memenuhi mulutku, tetapi kali ini justru terasa pahit. Melihatku tidak berbicara, Anderson melepaskan jasnya dan menyampirkannya di bahuku. "Aku akan minta sopir mengantarmu ke hotel. Aku juga sudah mengatur kamar. Kamu bisa tinggal beberapa hari di sana. Setelah acara pernikahan selesai, aku akan mencarimu dan menjelaskan semuanya."Hidungku tiba-tiba terasa tidak nyaman. Dia tidak mengatakan bahwa dia mencintaiku, juga tidak mengatakan bahwa dia tidak rela melepaskanku. Namun, perhatian yang dilakukannya secara spontan itu tetap membuatku teringat pada An

  • Salju Tak Seberat Air Mata   Bab 3

    Pintu aula kembali terbuka.Ibu buru-buru berjalan ke hadapan Tessa dan mengusap air matanya dengan penuh rasa sayang.Namun, ketika menatapku, nada suaranya berubah menjadi penuh celaan. "Demi kamu, Tessa sudah mengalah selama tujuh tahun. Dia hanya ingin mendapatkan kembali pernikahan yang seharusnya menjadi miliknya. Kenapa kamu malah masih harus membuat keributan?"Suaraku bergetar. "Ibu, sebenarnya Ibu nggak punya penyakit jantung sama sekali? Selama ini Ibu hanya berpura-pura sakit?""Tiga tahun lalu, aku dan Anderson sudah sepakat untuk mendaftarkan pernikahan kami. Tapi saat itu Ibu tiba-tiba bilang jantung Ibu nggak nyaman dan memintaku menemani Ibu ke rumah sakit.""Waktu itu, apa Ibu melakukannya untuk mengusirku?"Tiba-tiba Tessa tersenyum. "Kak, akhirnya kamu sudah mengingatnya." Tessa mengeluarkan dua buku nikah berwarna merah dari balik buket bunga yang dipegangnya. Dalam foto di buku nikah itu, dia berada di samping Anderson. Keduanya tersenyum bahagia dan terlihat beg

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status