تسجيل الدخولBAB 14
Zea turun dari panggung dengan langkah pelan, masih sambil memasang senyum. Dia menangkupkan kedua tangannya kepada beberapa para penonton yang memberikan standing applause.Namun, di balik riuhnya tepuk tangan yang memenuhi ruangan, Zea merasa seperti sedang tenggelam di bawah permukaan air. Suara-suara itu terdengar jauh, terendam oleh detak jantungnya sendiri yang mendadak gaduh. Matanya, tanpa bisa dicegah, menyapu satu titik di dekat pintu masuk.Meja itu kosong meski ada piring dengan sisa hidangan di atasnya. Kursinya tampak bergeser.Zea menelan ludah. Ada rasa kecewa yang mendadak mencubit ulu hatinya, perih dan tak terduga. Kakinya sempat ingin berlari, sekadar mengecek ke luar kafe atau memastikan apakah bayangan pria itu benar-benar menghilang di balik kegelapan parkiran. Namun, akal sehatnya menariknya kembali.Harapan kecil yang tadi sempat hidup, kini padam tanpa sempat diberi nama. Ia menelan ludah, berusaha terseBAB 14Zea turun dari panggung dengan langkah pelan, masih sambil memasang senyum. Dia menangkupkan kedua tangannya kepada beberapa para penonton yang memberikan standing applause. Namun, di balik riuhnya tepuk tangan yang memenuhi ruangan, Zea merasa seperti sedang tenggelam di bawah permukaan air. Suara-suara itu terdengar jauh, terendam oleh detak jantungnya sendiri yang mendadak gaduh. Matanya, tanpa bisa dicegah, menyapu satu titik di dekat pintu masuk.Meja itu kosong meski ada piring dengan sisa hidangan di atasnya. Kursinya tampak bergeser. Zea menelan ludah. Ada rasa kecewa yang mendadak mencubit ulu hatinya, perih dan tak terduga. Kakinya sempat ingin berlari, sekadar mengecek ke luar kafe atau memastikan apakah bayangan pria itu benar-benar menghilang di balik kegelapan parkiran. Namun, akal sehatnya menariknya kembali.Harapan kecil yang tadi sempat hidup, kini padam tanpa sempat diberi nama. Ia menelan ludah, berusaha terse
BAB 13Arkan berdiri mematung sejenak, membiarkan matanya menyapu seluruh penjuru kafe miliknya.Rasa lega yang hangat perlahan merayap, menyelimuti dadanya. Semua kerja keras selama berbulan-bulan, tahun-tahun panjang yang ia habiskan dengan tumpukan sketsa dan mimpi yang berjejalan di kepala, kini berdiri nyata di hadapannya. Kayu-kayu yang ia pilih sendiri, pencahayaan yang ia atur presisinya, hingga aroma cat dan furnitur baru; semuanya terasa hidup. Kafe ini bukan lagi sekadar proyek arsitektur, melainkan perpanjangan dari jiwanya.Dan malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arkan ingin bernapas tanpa beban.Ia menginginkan sebuah perayaan kecil. Bukan pesta besar. Bukan keramaian. Hanya ruang untuk menenangkan diri. Dan tanpa perlu berpikir lama, ia tahu ke mana harus pergi.Setengah jam kemudian Arkan sudah melangkah memasuki tempat yang ditujunya. Matanya memandang berkeliling, mencari-cari penuh harap.
BAB 12Aroma kayu manis yang hangat segera menyergap indra penciuman begitu pintu kafe terbuka. Di salah satu sudut favorit mereka, Zea sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia baru saja menyuap sesendok kecil menu andalan kafe Nadya malam itu.Malam ini, tiga sahabat itu kembali berkumpul di tempat nongkrong andalan mereka, kafe kecil bernuansa hangat romantis, yang selalu berhasil menjadi pelarian paling nyaman, sebuah rumah kedua yang meredam bisingnya kota di luar sana.Menu primadona malam ini adalah Apple Cinnamon Pie.Kue pie dengan pinggiran yang rapuh dan buttery, Di dalamnya, potongan apel yang terkaramelisasi dengan sempurna menyembul malu-malu, menebarkan wangi rempah yang menenangkan. Begitu suapan itu mendarat di lidah, perpaduan rasa asam-manis apel dan renyahnya adonan menyatu sempurna. Sederhana tapi nendang! Apalagi saat diselingi sesapan kopi hitam yang pahitnya menyeimbangkan rasa.
BAB 11 - Batas Yang Hancur Zea hampir tersedak mendengar ucapan lelaki di hadapannya.Ia memang paham sepenuhnya maksud dari perkataan Arkan, tapi mendengarnya secara langsung, dengan nada setenang itu, tetap saja membuat dadanya berdebar keras.Zea berdehem pelan, lalu menyedot es teh lecinya, memberi dirinya waktu untuk bernapas.“Aku paham, Mas,” ujarnya akhirnya. “Coba Mas omongin aja sama Mbak Riyanti. Dia penanggung jawab proyek ini sekarang.”Arkan mengangguk, tapi sorot matanya belum sepenuhnya menerima. “Pasti. Sejauh ini aku suka sama cara kerja kamu. Kamu detail.”Zea membalas dengan anggukan kecil.“Zea…,” panggil Arkan lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut.Zea menggigit bibirnya. Kenapa lelaki ini harus mengucapkan namanya seperti itu?“Apa semua klienmu cuma kamu anggap klien?” tanya Arkan tiba-tiba.Zea tertegun. “M-maksudnya, Mas?”“Apa ngga
BAB 10 - Diputuskan, DicariPagi itu kantor berjalan seperti biasa. Seperti biasa juga Zea menghabiskan awal harinya dengan membaca email, dan menyusun ulang jadwal meeting, memastikan tak ada yang terlewat.Sesekali terdengar candaan ringan rekan-rekan satu timnya menambah semarak suasana, membuat Zea ikut mengembangkan senyum kecil. Ia sudah berencana untuk membuat kopi pertamanya, sebelum sebuah suara memanggil namanya. “Zea!” Zea menoleh, “Kak Riyanti?!!” Gadis itu terperangah. Wanita itu seharusnya berada di Pulau B.“Ruang meeting, sekarang ya.” Kata Riyanti setengah berseru.Semua orang memandang Zea penuh tanda tanya. Zea meneguk ludahnya. Cemas mulai menjalari dadanya. Sementara badannya bergerak mengambil ponsel dan tablet, kepalanya mulai menerka-nerka alasan kemunculan ketua timnya itu.Ruang meeting kecil itu terasa hening ketika pintu ditutup. Riyanti yang sedang be
BAB 9 Seperti ada yang menekan mode tempur di tengkuk Naya. Meski sempat bergetar sejenak, saat melihat kebersamaan kekasihnya dengan perempuan lain di kafe yang kosong, ia memutuskan untuk bersikap tak acuh dan melanjutkan langkahnya dengan mantap. Dilepasnya kacamata hitam mahalnya. Matanya tajam menatap lurus ke arah dua orang di dekat meja bar. Menganalisa. Arkan menelan ludahnya. Malam itu, malam setelah ia mengantar Zea pulang, ia dengan sengaja mengganti nama Zea di ponselnya dengan inisial Z. Dan menambah emotikon hati berwarna putih di sana. Kenapa? Naya juga menanyakan hal yang sama. Dan ia tak bisa memberi jawaban pasti. Mungkin karena panggilan pendek Zea itu Ze? Ia sungguh tak tahu. Tapi satu yang pasti, kekecewaan di mata Naya menamparnya lebih dari apapun. “Pagiii.” Naya menyapa riang, “Pagi Sayang, aku bawain sarapan buat kamu. Kelar ini kita makan bareng ya. Cium deh.” Ujar Naya. Langkah pertamanya untuk menjelaskan batas dengan gamblang. Dari tem







