Home / Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / BAB 2 - Pernah Bertemu

Share

BAB 2 - Pernah Bertemu

Author: Redezilzie
last update publish date: 2025-12-24 20:15:30

Arkan sudah menikah.

Kalimat itu, atau tepatnya, pernyataan Riyanti, terus berputar di kepala Zea. Seharian penuh. Dan entah kenapa, hal ini sukses merusak mood-nya tanpa ampun.

Padahal Zea tahu, ia sudah tak mencintai lelaki itu. Sejak lama. Bertahun-tahun lalu. Ia bahkan yakin, perasaannya telah selesai, tertutup rapi, disimpan di sudut terdalam yang tak perlu lagi dibuka.

Namun kenyataan berkata lain.

Mendengar bahwa Arkan sudah menikah tetap saja membuat dadanya nyeri, seperti ditekan pelan tapi terus-menerus.

“Makanya cari pacar, Beb,” usul Nadya santai, ketika mereka bertiga nongkrong sepulang kerja.

“Dikira nyari pacar kayak metik daun di kebon,” keluh Zea sambil mengaduk minumannya, es batu beradu malas di dalam gelas.

“Dia beneran pura-pura nggak kenal kamu?” Vivid kembali bertanya, seolah masih belum percaya.

Zea mengangguk pelan.

“Iya. Datar banget. Profesional.”

Ketiganya terdiam.

“Lagian ya, Ze,” timpal Nadya kemudian, “kan dia udah nikah ya, emang justru seharusnya begitu. Nggak perlu inget-inget mantan.”

Zea kembali mengangguk. Setuju, tapi tetap saja ada bagian kecil di hatinya yang terasa tercubit mendengar kalimat itu.

Keesokan harinya, Zea belum sempat menyesap kopi ketika seorang rekan kerja menghampirinya.

“Ze, dipanggil Bos.”

Zea menghela napas, lalu bangkit dengan langkah setengah hati. Mood-nya masih belum sepenuhnya pulih.

Di ruangan Pak Wira, Zea mendapati Riyanti sudah duduk lebih dulu. Wanita itu tersenyum begitu Zea masuk.

“Duduk, Ze,” perintah Pak Wira.

“Kata Riyanti, kemarin kamu presentasi bagus banget.”

Zea tersenyum tipis, melirik Riyanti yang mengedipkan sebelah mata.

“Udah berapa lama kamu gabung sama kita?” lanjut Pak Wira. “Setahun?”

“Lima belas bulan, Pak.”

Pak Wira mengangguk-angguk, lalu menyandarkan punggung ke kursi.

“Kamu tahu kan, kita ada rencana expand ke Pulau B?”

“Tahu, Pak.”

Siapa yang tak tahu. Isu itu sudah lama beredar. Banyak yang berharap bisa dipindahkan ke sana.

“Nah,” Pak Wira melanjutkan, “gedungnya sudah siap. Kita butuh orang buat set up dari awal.”

Jantung Zea berdegup lebih cepat.

“Jadi pusat ngirim Riyanti ke sana.”

Harapan di dadanya langsung mengempis. Zea melirik Riyanti yang terlihat menahan senyum.

“Dan karena kamu satu proyek sama dia,” sambung Pak Wira, “kamu yang gantiin Riyanti buat handle proyek Pak Arkan.”

Zea tercekat.

“Mumpung masih awal. Kamu dari mula juga sudah terlibat. Kawal sampai deal. Jangan sampai gagal, Oke!”

“Nanti semua data di-handover ke kamu.”

Pak Wira menatapnya penuh arti. “Siap?”

Zea menelan ludah. “S-siap, Pak.”

Dua hari kemudian, surat penawaran itu disetujui.

Email balasan dari Arkan masuk tepat pukul sembilan pagi. Singkat. Formal. Dingin.

Zea membacanya dua kali. Tak ada satu pun kalimat tambahan. Tak ada sapaan personal.

‘Baik, kita lanjut sesuai timeline.’

Itu saja.

Zea tak menyangka, Arkan bisa sesederhana dan seasing ini.

Pertemuan berikutnya dijadwalkan langsung di lokasi kafe. Peninjauan lapangan. Teknis. Praktis.

Zea datang lebih dulu.

Kafe itu masih setengah jadi. Cat belum merata, aroma kayu baru bercampur debu. Zea membuka tablet, menandai beberapa titik penting di denah. Ia menenangkan diri. Fokus.

Lalu suara langkah kaki terdengar di belakangnya.

“Maaf kalau masih berantakan.”

Zea menoleh.

Arkan berdiri tak jauh, menggulung lengan kemeja dengan santai. Gestur yang sama, yang Zea sukai, seperti dulu. Sekilas memori lama menyelinap. Zea menelan ludahnya. Kilasan itu segera terputus oleh suara palu berdentum di kejauhan.

“Tidak apa-apa, Mas,” jawab Zea cepat. “Justru lebih enak dicek pas masih kosong begini.”

Mereka mulai berkeliling.

Zea menjelaskan alur kerja dapur dengan runtut. Tangannya menunjuk titik-titik tertentu, jaraknya selalu terjaga. Arkan mendengarkan, mengangguk, sesekali bertanya. Semua seperlunya.

“Kalau jam sibuk?” tanya Arkan.

“Flow satu arah,” jawab Zea. “Supaya staf nggak saling bertabrakan.”

Arkan tersenyum tipis. “Kedengarannya kamu sudah berpengalaman.”

“Sudah beberapa,” jawab Zea singkat sambil mengangguk.

Mereka berhenti di dekat jendela depan. Cahaya siang masuk leluasa. Arkan berdiri sedikit lebih dekat. Zea bergeser pelan.

Jaga jarak aman, Ze.

Mereka lalu duduk, membahas detail teknis. Tatapan Zea berkali-kali menghindari dari mata tajam itu. Ia berusaha terlihat biasa, padahal jantungnya berdegup keras.

“Entah kenapa,” ujar Arkan pelan, “aku merasa nyaman ngobrol sama kamu.”

Degup di dada Zea mengencang.

Jujur saja, ia tak siap mendengar pernyataan itu. Dan itu membuatnya terkejut. Zea berdehem, membasahi bibirnya.

“Mungkin, karena kita sama-sama fokus kerja,” jawabnya akhirnya. Sebuah jawaban yang aman. Netral.

Arkan mengangguk, tapi matanya seolah mencari sesuatu. Ia tampak…, gelisah.

Cahaya sore membingkai wajah Zea. Angin lembut menggerakkan pasminanya. Tapi gadis itu tak tampak terganggu.

Padahal Arkan tertegun sejenak.

Cantik, bisik benaknya, dan tiba-tiba muncul sebuah rasa asing menggelitik dadanya.

Zea menutup laptop. Lega.

“Terima kasih,” kata Arkan. “Kamu detail. Aku suka.”

“Terima kasih kembali.”

Mereka berjabat tangan. Lalu berpisah.

Zea sudah melangkah cukup jauh ketika suara itu memanggilnya.

“Zea.”

Ia berhenti. Berbalik. Tanpa sadar menahan nafas.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Dan jantung Zea kembali lupa caranya berdetak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nunik Sobari
idih lupa ingatan dia ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 140 - Berlabuh

    BAB 140 Pagi bahkan belum sepenuhnya meninggi, tetapi kafe di puncak bukit itu sudah tampak hidup dengan dekorasi cantik yang menyatu manis dengan alam di sekitarnya.Di atas hamparan rumput hijau yang membentang, berdiri satu set meja dan kursi bernuansa putih gading, dihiasi lengkungan-lengkungan elegan serta rangkaian bunga kecil yang tersusun lembut di tiap sisi.Kain-kain putih menjuntai dari atas kanopi, bergerak perlahan tertiup angin pagi, membuat suasana terasa hangat tanpa kesan berlebihan. Di belakangnya, pelaminan berdiri anggun menyatu dengan alam sekitar, memberi kesan mewah yang tetap tenang dan tidak kaku.Alunan musik lembut mengisi udara yang masih sejuk, sementara aroma mentega panggang menguar hangat ke berbagai penjuru, menggoda siapa pun yang tengah sibuk hilir mudik mempersiapkan acara hari itu.Tak jauh dari sana, di dalam kamar utama rumah bergaya hangat nan asri itu, Zea berdiri di depan cermin be

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 139 - Di Bawah Pohon Rindang

    BAB 139Di dalam perjalanan pulang, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil SUV keluaran Eropa milik Ibra. Zea tampak terdiam, melemparkan tatapan kosong ke luar jendela, memandangi lalu lalang kendaraan yang bergerak cepat di balik kaca.Benaknya riuh, dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa dilakukan oleh orang tua Naya terhadap dirinya maupun keluarganya di kampung halaman.Ancaman terselubung di restoran tadi bukan sekadar gertak sambal. Mereka punya uang, koneksi, dan kuasa untuk membalikkan fakta hukum. Kini, kubah perlindungan dari Ibra berupa pernikahan mendadak terdengar sangat masuk akal.Namun, jauh di lubuk hatinya, Zea tetap berharap ada jalan keluar lain. Sebuah celah alternatif selain dua penawaran ekstrem yang disodorkan kepadanya. Membiarkan Naya bebas setelah semua kejahatan yang dilakukannya kepada Zea atau menyerahkan seluruh hidupnya dalam ikatan pernikahan bisnis bersa

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 138 - Dua Tawaran

    BAB 138Ibra menolak mentah-mentah pengaturan pertemuan yang diajukan kedua orang tua Naya.Lelaki itu entah bagaimana caranya berhasil mengambil alih kendali, merubah waktu dan tempat pertemuan ke keesokan harinya, pada jam makan siang, di sebuah ruang VIP restoran hotel bintang lima.Zea yang memang sudah pasrah, memilih mempercayai dan mengikuti keputusan lelaki itu.Satu yang pasti, Ibra tidak datang untuk bernegosiasi dengan tangan kosong.Saat pintu ruang VIP itu dibuka, kedua orang tua Naya yang sudah duduk di dalam tampak terkejut, ketika mereka tak hanya melihat Zea dan Ibra, melainkan juga tiga orang pria bersetelan necis dengan tas kerja premium di belakang keduanya. Mereka adalah tim pengacara korporat terbaik yang disewa langsung oleh Ibra."Selamat siang, Tuan dan Nyonya," sapa Ibra, suaranya terdengar dingin meski dilengkapi bibir yang melengkungkan senyuman datar. Ia menarikkan kursi untuk

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 137 - Sang Utusan

    BAB 137Lengkingan teriakan Naya-lah yang menyadarkan Arkan. Menariknya dari kegelapan pekat. Gelora emosi wanita itu menyentuh jiwanya yang tertidur. Menggapai kesadarannya yang telah berhari-hari mati rasa.Ketika akhirnya hal itu perlahan mencapainya, kelopak matanya yang terasa berat perlahan bergetar. Hal pertama yang ditangkap oleh rungunya adalah suara lembut seseorang yang sangat ia rindukan.Zea.Suara gadis itu terdengar begitu dekat, nyata, dan hangat. Jantung Arkan berdenyut liar, memberikan pasokan energi instan yang memicu otaknya untuk bekerja kembali.Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sepersekian detik.Lamat-lamat, sebuah suara bariton menimpali ucapan Zea. Nadanya tegas, namun tenang, dan sarat akan keintiman. Seakan pemiliknya begitu dekat, begitu akrab dengan Zea. Rasa tidak suka mendadak membakar dada Arkan, sebuah sengatan cemburu yang lebih menyakitkan daripada luka robek di bahunya.

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 135 - Selalu Dijaga

    BAB 136“Nggak! Kalian salah orang!! Zea!! Ini pasti kerjaan kamu, kan!! Kamu ngejebak aku!! Dasar brengsek kamu!! Murahaaan!!!Mas Arkan!! Mas Arkan!! Tolong aku, Mas!! MAS TOLOOONG!!”Naya menjerit, mencoba menggapai brankar Arkan, namun petugas dengan cepat menghadang tubuhnya dan menggiringnya keluar dari kamar rawat. Ibra berdiri maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Zea. Sebuah gestur protektif.Suara jeritan dan langkah kaki Naya yang terseret perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang damai di dalam ruangan.Zea mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar. Ia menatap telapak tangannya yang masih terasa sedikit panas akibat tamparan tadi.Ibra menatap telapak yang memerah itu, dan segera menyadari apa yang telah terjadi. Perlahan, ia membimbing Zea menuju sofa. Lelaki itu kemudian berjongkok di hadapan Zea.Keduanya terdiam sejenak sambil memandang telapak tang

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 135 - Di Penghujung

    BAB 135Zea tertegun. Ia bisa merasakan ketulusan lelaki dengan iris mata madu ini. Pria ini selalu menawarkan keamanan, kestabilan, dan perlindungan. Sungguh, Zea memahami ketakutan dan kekhawatiran Ibra. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang telah bergeser sejak truk itu menghantam mobil Arkan. Rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh keberanian yang lahir dari rasa sakit.“Aku tau Mas, aku tau kalo Naya itu berbahaya.” jawab Zea, suaranya terdengar jauh lebih tegar dari sebelumnya, “Itulah sebabnya aku setuju pergi ke Pulau ini, aku memilih menyingkir. Menjauh. Tapi bahkan setelah aku memilih pergi dan mengalah, Naya masih terus ngejar aku. Sampe-sampe dia ngedeketin orang kayak Sandra buat ngebantuin dia ngejatuhin aku. Segitu niatnya dia buat bikin aku celaka. Tapi kali ini…,” Zea menggelengkan kepalanya pelan, “Aku nggak akan lari lagi. Aku nggak mau ngumpet lagi. Aku mau nyelesain semuanya. Dan aku rasa, sekaranglah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status