แชร์

Sampai Kau Ingat Aku
Sampai Kau Ingat Aku
ผู้แต่ง: Redezilzie

BAB 1 - KAMU!

ผู้เขียน: Redezilzie
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-24 18:35:34

Ze! Di mana?”

“Otewe kaa… bentar lagi sampai.”

“Aduuh, gimana yaa…”

Zea mendengus kecil. Dari nada suara di seberang sana, ia sudah bisa menebak akan ada permintaan tambahan.

“Kenapa, Kak? Jadi kan meeting-nya?”

“Jadi. Bukan itu. Yang kemarin sore dikasih Pak Sanusi, produk-produk baru itu belum sempat di-upload. Ketinggalan di meja aku.”

Zea memejamkan mata sesaat. Tangannya refleks mencengkeram setang motor lebih kuat.

“Terus…?”

“Iya, ambilin dulu ya, Ze.”

“Aaa…, aku udah dikit lagi, Kak,” rengek Zea, berharap ada sedikit belas kasihan.

Namun seperti biasa, junior tetaplah junior. Zea akhirnya putar balik, mengambil map yang dimaksud, lalu kembali melaju ke arah kafe tempat meeting berlangsung. Waktu terus berjalan, dan jarum jam seolah mengejarnya tanpa ampun.

Ia tidak boleh terlambat. Bonus tim bulan ini taruhannya.

Begitu sampai, Zea langsung memarkir motor dan melangkah cepat masuk ke dalam kafe. Nafasnya sedikit tersengal, pashmina yang dikenakan sudah tak lagi serapi pagi tadi. Tak ada waktu untuk bercermin. Meeting seharusnya sudah berjalan hampir sepuluh menit.

Ia mengedarkan pandangan, hingga menemukan Riyanti duduk di meja dekat jendela besar yang memisahkan area indoor dan outdoor. Zea mempercepat langkah, sambil berusaha merapikan pashminanya lewat pantulan kaca.

Riyanti duduk berhadapan dengan seorang lelaki yang membelakangi Zea.

Zea mengangkat tangan, memberi isyarat kecil. Riyanti menoleh, lalu mengangguk sambil mengatakan sesuatu pada klien mereka. Lelaki itu ikut menoleh.

Dan dunia Zea seolah berhenti berputar.

Map di tangannya nyaris terlepas.

Arkan!

Bagaimana bisa?

Wajah itu, meski lebih matang, lebih tegas, tetap tak asing. Rahang yang dulu sering ia perhatikan diam-diam. Alis yang selalu tampak serius saat berpikir. Tatapan hangat yang dulu pernah menjadi sumber kehangatan dan ketenangannya.

“Zea! Cepat,” tegur Riyanti, heran melihat juniornya hanya terdiam terpaku.

Zea menelan ludah. Benaknya sibuk menerka-nerka kejadian selanjutnya. Akan canggungkah? Apakah kerja sama ini akan tetap dilanjutkan? Atau dia akan digantikan? Berisik sekali suara mengisi kepalanya

Ia memaksa kakinya melangkah, mendekat dengan senyum tipis yang terasa asing di wajah sendiri.

“Maaf telat,” ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar, ia mengangguk kecil pada Arkan, dan lelaki itu membalasnya.

Zea mengerjap. Bukan itu respon yang diduganya. Dan itu..., mengganggunya.

Riyanti langsung mengambil map dari tangan Zea. Sementara Zea duduk di sebelahnya, berusaha mengatur napas dan detak jantung yang tak mau tenang.

Ia membuka laptop, pura-pura sibuk, menundukkan wajah agar kegugupannya tak terbaca.

“Nah ini, Mas. Bisa dilihat dulu,” ujar Riyanti.

Arkan mengangguk, menerima map itu. Gerakannya tenang. Sama seperti dulu. Seolah tidak ada apa pun yang mengusik pikirannya.

“Untuk konsep kafenya, Mas, lebih ke industrial atau warm minimal?” lanjut Riyanti.

“Warm minimal,” jawab Arkan. Suara itu membuat dada Zea berdetak makin hebat. “Saya sudah ada bayangan, tapi belum yakin.”

“Oh, baik. Sambil Mas lihat-lihat, izin kami jelaskan detail teknisnya ya. Silakan, Ze.”

Zea berdehem. Ia menarik napas dalam sebelum mulai bicara.

“Perusahaan kami menyediakan beberapa opsi furniture dan peralatan dapur yang bisa disesuaikan dengan kapasitas dan konsep ruang,” jelasnya, mata terpaku pada layar. “Untuk mesin kopi, kami merekomendasikan tipe semi-automatic agar barista tetap punya kontrol rasa.”

“Bagaimana dengan perawatannya?” tanya Arkan.

Zea terdiam sepersekian detik. Bukan karena tak tahu jawabannya, tapi karena suara itu masih punya kuasa yang kuat atasnya. Ia menelan ludahnya.

“Maintenance-nya relatif ringan,” jawabnya akhirnya. “Kami menyediakan servis berkala setiap tiga bulan.”

Arkan menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau ke depannya berkembang, bisa upgrade tanpa ganti semua unit?”

“Bisa,” jawab Zea cepat, lalu memperlambat nada suaranya. “Sistemnya modular, jadi penyesuaian bisa dilakukan bertahap.”

Riyanti tersenyum puas. “Nah, itu keunggulan kita.”

Sepanjang rapat, Zea berusaha menjaga jarak. Tangannya sibuk mencatat, menggulir slide, seolah itu hal penting yang harus ia lakukan. Ia hanya mengangkat wajah jika benar-benar perlu.

Dan setiap kali mata mereka hampir bertemu, Zea selalu lebih dulu menunduk.

Arkan benar-benar tak menunjukkan apa pun. Tak ada keterkejutan. Tak ada jeda canggung. Tak ada tanda bahwa ia mengenali Zea lebih dari sekadar staf perusahaan. Sikapnya betul betul profesional. Datar.

Dan itu, justru membuat Zea semakin gusar.

Rapat pun berakhir.

“Terima kasih atas penjelasannya,” ujar Arkan sambil berdiri. “Saya tunggu penawaran finalnya.”

Saat berjabat tangan, Zea menahan napas. Sentuhan singkat itu cukup untuk membuat kenangan lama berdesakan di kepalanya. Namun Arkan segera melepaskan, lalu melangkah pergi.

Zea memandangi punggung tegap itu hingga menghilang di balik pintu kafe.

Enam tahun.

Harusnya cukup untuk sembuh, bukan?

Namun nyatanya, luka lama masih terasa perih, sementara Arkan tampak hidup baik-baik saja.

“Ganteng ya, Ze,” bisik Riyanti sambil terkikik, mendekatkan wajahnya. “Kelihatan mapan lagi.”

Zea mengedip, kembali ke realita.

“Tapi sayang,” lanjut Riyanti, nada suaranya menggoda.

“Sayang kenapa, Kak?” tanya Zea pelan.

Riyanti tersenyum miring.

“Sayang, udah laku.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (6)
goodnovel comment avatar
VHIN ANANTA
bagus banget ...
goodnovel comment avatar
Zetha Salvatore
Ahhhh apakah itu fakta, Riyanti? Zea sudah sesak napas tuh haha
goodnovel comment avatar
Sweety
aaa ketemu ex ya ini
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 140 - Berlabuh

    BAB 140 Pagi bahkan belum sepenuhnya meninggi, tetapi kafe di puncak bukit itu sudah tampak hidup dengan dekorasi cantik yang menyatu manis dengan alam di sekitarnya.Di atas hamparan rumput hijau yang membentang, berdiri satu set meja dan kursi bernuansa putih gading, dihiasi lengkungan-lengkungan elegan serta rangkaian bunga kecil yang tersusun lembut di tiap sisi.Kain-kain putih menjuntai dari atas kanopi, bergerak perlahan tertiup angin pagi, membuat suasana terasa hangat tanpa kesan berlebihan. Di belakangnya, pelaminan berdiri anggun menyatu dengan alam sekitar, memberi kesan mewah yang tetap tenang dan tidak kaku.Alunan musik lembut mengisi udara yang masih sejuk, sementara aroma mentega panggang menguar hangat ke berbagai penjuru, menggoda siapa pun yang tengah sibuk hilir mudik mempersiapkan acara hari itu.Tak jauh dari sana, di dalam kamar utama rumah bergaya hangat nan asri itu, Zea berdiri di depan cermin be

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 139 - Di Bawah Pohon Rindang

    BAB 139Di dalam perjalanan pulang, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil SUV keluaran Eropa milik Ibra. Zea tampak terdiam, melemparkan tatapan kosong ke luar jendela, memandangi lalu lalang kendaraan yang bergerak cepat di balik kaca.Benaknya riuh, dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa dilakukan oleh orang tua Naya terhadap dirinya maupun keluarganya di kampung halaman.Ancaman terselubung di restoran tadi bukan sekadar gertak sambal. Mereka punya uang, koneksi, dan kuasa untuk membalikkan fakta hukum. Kini, kubah perlindungan dari Ibra berupa pernikahan mendadak terdengar sangat masuk akal.Namun, jauh di lubuk hatinya, Zea tetap berharap ada jalan keluar lain. Sebuah celah alternatif selain dua penawaran ekstrem yang disodorkan kepadanya. Membiarkan Naya bebas setelah semua kejahatan yang dilakukannya kepada Zea atau menyerahkan seluruh hidupnya dalam ikatan pernikahan bisnis bersa

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 138 - Dua Tawaran

    BAB 138Ibra menolak mentah-mentah pengaturan pertemuan yang diajukan kedua orang tua Naya.Lelaki itu entah bagaimana caranya berhasil mengambil alih kendali, merubah waktu dan tempat pertemuan ke keesokan harinya, pada jam makan siang, di sebuah ruang VIP restoran hotel bintang lima.Zea yang memang sudah pasrah, memilih mempercayai dan mengikuti keputusan lelaki itu.Satu yang pasti, Ibra tidak datang untuk bernegosiasi dengan tangan kosong.Saat pintu ruang VIP itu dibuka, kedua orang tua Naya yang sudah duduk di dalam tampak terkejut, ketika mereka tak hanya melihat Zea dan Ibra, melainkan juga tiga orang pria bersetelan necis dengan tas kerja premium di belakang keduanya. Mereka adalah tim pengacara korporat terbaik yang disewa langsung oleh Ibra."Selamat siang, Tuan dan Nyonya," sapa Ibra, suaranya terdengar dingin meski dilengkapi bibir yang melengkungkan senyuman datar. Ia menarikkan kursi untuk

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 137 - Sang Utusan

    BAB 137Lengkingan teriakan Naya-lah yang menyadarkan Arkan. Menariknya dari kegelapan pekat. Gelora emosi wanita itu menyentuh jiwanya yang tertidur. Menggapai kesadarannya yang telah berhari-hari mati rasa.Ketika akhirnya hal itu perlahan mencapainya, kelopak matanya yang terasa berat perlahan bergetar. Hal pertama yang ditangkap oleh rungunya adalah suara lembut seseorang yang sangat ia rindukan.Zea.Suara gadis itu terdengar begitu dekat, nyata, dan hangat. Jantung Arkan berdenyut liar, memberikan pasokan energi instan yang memicu otaknya untuk bekerja kembali.Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sepersekian detik.Lamat-lamat, sebuah suara bariton menimpali ucapan Zea. Nadanya tegas, namun tenang, dan sarat akan keintiman. Seakan pemiliknya begitu dekat, begitu akrab dengan Zea. Rasa tidak suka mendadak membakar dada Arkan, sebuah sengatan cemburu yang lebih menyakitkan daripada luka robek di bahunya.

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 135 - Selalu Dijaga

    BAB 136“Nggak! Kalian salah orang!! Zea!! Ini pasti kerjaan kamu, kan!! Kamu ngejebak aku!! Dasar brengsek kamu!! Murahaaan!!!Mas Arkan!! Mas Arkan!! Tolong aku, Mas!! MAS TOLOOONG!!”Naya menjerit, mencoba menggapai brankar Arkan, namun petugas dengan cepat menghadang tubuhnya dan menggiringnya keluar dari kamar rawat. Ibra berdiri maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Zea. Sebuah gestur protektif.Suara jeritan dan langkah kaki Naya yang terseret perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang damai di dalam ruangan.Zea mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar. Ia menatap telapak tangannya yang masih terasa sedikit panas akibat tamparan tadi.Ibra menatap telapak yang memerah itu, dan segera menyadari apa yang telah terjadi. Perlahan, ia membimbing Zea menuju sofa. Lelaki itu kemudian berjongkok di hadapan Zea.Keduanya terdiam sejenak sambil memandang telapak tang

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 135 - Di Penghujung

    BAB 135Zea tertegun. Ia bisa merasakan ketulusan lelaki dengan iris mata madu ini. Pria ini selalu menawarkan keamanan, kestabilan, dan perlindungan. Sungguh, Zea memahami ketakutan dan kekhawatiran Ibra. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang telah bergeser sejak truk itu menghantam mobil Arkan. Rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh keberanian yang lahir dari rasa sakit.“Aku tau Mas, aku tau kalo Naya itu berbahaya.” jawab Zea, suaranya terdengar jauh lebih tegar dari sebelumnya, “Itulah sebabnya aku setuju pergi ke Pulau ini, aku memilih menyingkir. Menjauh. Tapi bahkan setelah aku memilih pergi dan mengalah, Naya masih terus ngejar aku. Sampe-sampe dia ngedeketin orang kayak Sandra buat ngebantuin dia ngejatuhin aku. Segitu niatnya dia buat bikin aku celaka. Tapi kali ini…,” Zea menggelengkan kepalanya pelan, “Aku nggak akan lari lagi. Aku nggak mau ngumpet lagi. Aku mau nyelesain semuanya. Dan aku rasa, sekaranglah

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 104 - Keputusan

    BAB 104Zea menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku taman yang dingin. Matanya terpaku pada gerombolan anak kecil yang berlarian mengejar gelembung sabun sambil berteriak riuh rendah di taman kota tak jauh dari kosannya.Kepalanya disibukkan oleh satu tawaran besar ya

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 103 - Antara Benci Dan Cinta

    BAB 103Angin sore di atap gedung perkantoran itu berembus cukup kencang. Zea memutar tubuhnya perlahan dan membeku. Di dekat jejeran tangki air raksasa, sesosok pria duduk di kursi lipat kecil. Pak Wira. Bosnya itu tidak mengenakan jasnya. Ia hanya mengenakan kemeja batik

  • Sampai Kau Ingat Aku   Bab 7 - Interaksi

    Malam ini adalah malam peresmian Kafe. Bukan, bukan kafe Arkan, tapi kafe milik Nadya, sahabat Zea. “Jadi sekarang kita punya tempat nongkrong resmi nih.” Ujar Vivid.“Yep, lebih tepatnya satu tempat lagi, selain warung bakso Mang Usep,” tukas Nadya sambil terkekeh.“S

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 6 - Z dan Emot Hati

    Naya sudah duduk hampir dua jam di meja di dekat pintu masuk. Tempat yang saat ini paling nyaman di kafe yang belum terbentuk sempurna itu, sembari mengawasi para pekerja.Tidak betul-betul mengawasi sih, karena sudah ada penanggung jawab untuk itu. Jadi dia hanya dia menatap, tanpa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status