LOGIN
Ze! Di mana?”
“Otewe kaa… bentar lagi sampai.” “Aduuh, gimana yaa…” Zea mendengus kecil. Dari nada suara di seberang sana, ia sudah bisa menebak akan ada permintaan tambahan. “Kenapa, Kak? Jadi kan meeting-nya?” “Jadi. Bukan itu. Yang kemarin sore dikasih Pak Sanusi, produk-produk baru itu belum sempat di-upload. Ketinggalan di meja aku.” Zea memejamkan mata sesaat. Tangannya refleks mencengkeram setang motor lebih kuat. “Terus…?” “Iya, ambilin dulu ya, Ze.” “Aaa…, aku udah dikit lagi, Kak,” rengek Zea, berharap ada sedikit belas kasihan. Namun seperti biasa, junior tetaplah junior. Zea akhirnya putar balik, mengambil map yang dimaksud, lalu kembali melaju ke arah kafe tempat meeting berlangsung. Waktu terus berjalan, dan jarum jam seolah mengejarnya tanpa ampun. Ia tidak boleh terlambat. Bonus tim bulan ini taruhannya. Begitu sampai, Zea langsung memarkir motor dan melangkah cepat masuk ke dalam kafe. Nafasnya sedikit tersengal, pashmina yang dikenakan sudah tak lagi serapi pagi tadi. Tak ada waktu untuk bercermin. Meeting seharusnya sudah berjalan hampir sepuluh menit. Ia mengedarkan pandangan, hingga menemukan Riyanti duduk di meja dekat jendela besar yang memisahkan area indoor dan outdoor. Zea mempercepat langkah, sambil berusaha merapikan pashminanya lewat pantulan kaca. Riyanti duduk berhadapan dengan seorang lelaki yang membelakangi Zea. Zea mengangkat tangan, memberi isyarat kecil. Riyanti menoleh, lalu mengangguk sambil mengatakan sesuatu pada klien mereka. Lelaki itu ikut menoleh. Dan dunia Zea seolah berhenti berputar. Map di tangannya nyaris terlepas. Arkan! Bagaimana bisa? Wajah itu, meski lebih matang, lebih tegas, tetap tak asing. Rahang yang dulu sering ia perhatikan diam-diam. Alis yang selalu tampak serius saat berpikir. Tatapan hangat yang dulu pernah menjadi sumber kehangatan dan ketenangannya. “Zea! Cepat,” tegur Riyanti, heran melihat juniornya hanya terdiam terpaku. Zea menelan ludah. Benaknya sibuk menerka-nerka kejadian selanjutnya. Akan canggungkah? Apakah kerja sama ini akan tetap dilanjutkan? Atau dia akan digantikan? Berisik sekali suara mengisi kepalanya Ia memaksa kakinya melangkah, mendekat dengan senyum tipis yang terasa asing di wajah sendiri. “Maaf telat,” ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar, ia mengangguk kecil pada Arkan, dan lelaki itu membalasnya. Zea mengerjap. Bukan itu respon yang diduganya. Dan itu..., mengganggunya. Riyanti langsung mengambil map dari tangan Zea. Sementara Zea duduk di sebelahnya, berusaha mengatur napas dan detak jantung yang tak mau tenang. Ia membuka laptop, pura-pura sibuk, menundukkan wajah agar kegugupannya tak terbaca. “Nah ini, Mas. Bisa dilihat dulu,” ujar Riyanti. Arkan mengangguk, menerima map itu. Gerakannya tenang. Sama seperti dulu. Seolah tidak ada apa pun yang mengusik pikirannya. “Untuk konsep kafenya, Mas, lebih ke industrial atau warm minimal?” lanjut Riyanti. “Warm minimal,” jawab Arkan. Suara itu membuat dada Zea berdetak makin hebat. “Saya sudah ada bayangan, tapi belum yakin.” “Oh, baik. Sambil Mas lihat-lihat, izin kami jelaskan detail teknisnya ya. Silakan, Ze.” Zea berdehem. Ia menarik napas dalam sebelum mulai bicara. “Perusahaan kami menyediakan beberapa opsi furniture dan peralatan dapur yang bisa disesuaikan dengan kapasitas dan konsep ruang,” jelasnya, mata terpaku pada layar. “Untuk mesin kopi, kami merekomendasikan tipe semi-automatic agar barista tetap punya kontrol rasa.” “Bagaimana dengan perawatannya?” tanya Arkan. Zea terdiam sepersekian detik. Bukan karena tak tahu jawabannya, tapi karena suara itu masih punya kuasa yang kuat atasnya. Ia menelan ludahnya. “Maintenance-nya relatif ringan,” jawabnya akhirnya. “Kami menyediakan servis berkala setiap tiga bulan.” Arkan menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau ke depannya berkembang, bisa upgrade tanpa ganti semua unit?” “Bisa,” jawab Zea cepat, lalu memperlambat nada suaranya. “Sistemnya modular, jadi penyesuaian bisa dilakukan bertahap.” Riyanti tersenyum puas. “Nah, itu keunggulan kita.” Sepanjang rapat, Zea berusaha menjaga jarak. Tangannya sibuk mencatat, menggulir slide, seolah itu hal penting yang harus ia lakukan. Ia hanya mengangkat wajah jika benar-benar perlu. Dan setiap kali mata mereka hampir bertemu, Zea selalu lebih dulu menunduk. Arkan benar-benar tak menunjukkan apa pun. Tak ada keterkejutan. Tak ada jeda canggung. Tak ada tanda bahwa ia mengenali Zea lebih dari sekadar staf perusahaan. Sikapnya betul betul profesional. Datar. Dan itu, justru membuat Zea semakin gusar. Rapat pun berakhir. “Terima kasih atas penjelasannya,” ujar Arkan sambil berdiri. “Saya tunggu penawaran finalnya.” Saat berjabat tangan, Zea menahan napas. Sentuhan singkat itu cukup untuk membuat kenangan lama berdesakan di kepalanya. Namun Arkan segera melepaskan, lalu melangkah pergi. Zea memandangi punggung tegap itu hingga menghilang di balik pintu kafe. Enam tahun. Harusnya cukup untuk sembuh, bukan? Namun nyatanya, luka lama masih terasa perih, sementara Arkan tampak hidup baik-baik saja. “Ganteng ya, Ze,” bisik Riyanti sambil terkikik, mendekatkan wajahnya. “Kelihatan mapan lagi.” Zea mengedip, kembali ke realita. “Tapi sayang,” lanjut Riyanti, nada suaranya menggoda. “Sayang kenapa, Kak?” tanya Zea pelan. Riyanti tersenyum miring. “Sayang, udah laku.”BAB 125Matahari di pesisir utara Pulau B terasa seperti oven yang dinyalakan ke suhu maksimal. Bersama yang lain, Zea melangkah turun dari mobil, merasakan pasir halus menyusup ke sela sepatunya. Di depannya, bangunan megah *Royal Grand Resort & Spa* berdiri cantik dan elegan secara bersamaan.Cukup kontras dengan suasana di sekitarnya, di area proyek yang tampak kacau. Beberapa truk pengangkut terlihat parkir di sana sini. Beberapa orang juga terdengar saling berteriak memberikan instruksi entah apa, karena saling tumpang tindih.Sandra melangkah di depan rombongan kecil mereka dengan gerakan anggun yang terlihat dibuat-buat di mata Zea. Perempuan itu mengenakan kacamata hitam besar, seakan menyembunyikan tatapan predatornya di balik lensa gelap. Di belakangnya, Zea, Reni, dan Beni mengekor seperti ajudan yang sedang mengiringi ke medan perang."Ingat, Zea," Sandra berbisik tanpa m
BAB 124Zea menelan ludahnya kembali. Ia sungguh-sungguh tidak mengetahui perihal ini. Meski akun yang mengeluarkan perintah tersebut adalah akunnya, tapi Zea merasa yakin kalau bukan dia yang melakukan hal itu.“Dibatalkan? Dan spesifikasinya diubah? Pak, saya sungguh tidak mengetahui perihal ini. Saya baru saja membuka sistem pagi ini dan melihat notifikasi merah itu. Saya… saya bahkan berencana melaporkannya pada Bapak sesegera mungkin.”“Apa mksud kamu? Kamu nggak tahu?” Pak Hendra memajukan tubuhnya, menatap Zea dengan penuh intimidasi.Zea menggeleng lemah namun tegas. “Meski yang melakukan perubahan itu tercatat atas nama akun saya, tapi saya bersumpah Pak, .bukan saya yang melakukannya. Kemarin sore saya fokus mempelajari company profile vendor bersama Reni dan Beni.”“Sistem tidak bohong, Zea! Instruksi perubahan spesifikasi itu keluar dari akun milik kamu. Kamu pikir karena kamu orang pusat, kamu bisa seenaknya menguba
BAB 123Cahaya matahari pagi pulau B masuk menembus jajaran jendela di lantai dua gedung tempat Zea berkantor. Sinarnya terasa lebih tajam dari yang biasa Zea temui di kota tempat tinggalnya dulu. Gadis itu berdiri di pantry kecil, sambil mengaduk kopinya perlahan. Aroma kafein yang kuat beradu dengan sisa-sisa aroma laut, yang entah bagaimana berhasil menyusup masuk melalui kisi-kisi pendingin ruangan, benar-benar sukses membangun mood baiknya.Sisa percakapan dengan Ibra semalam masih membekas di kepalanya. Hatinya benar-benar tersentuh oleh semua perlakuan lelaki itu padanya. Ucapannya dan… kiriman makanannya.Ketenangan yang menyelimuti dadanya itulah yang membuat tidurnya terasa lebih nyenyak, meski ia berada di tempat yang sama sekali baru.Zea melangkah menuju meja kerjanya. Kantor masih sepi, hanya ada beberapa orang ditemani dengung pendingin ruangan dan suara mesin fotokopi yang baru dipanaskan di sudut ruangan.
BAB 122Zea berguling ke kiri dan kanan, berusaha menyamankan dirinya ke posisi uwenak. Sekaligus untuk meredakan pegal yang merambat di sekujur punggungnya. Kamar ini kecil, dindingnya putih bersih tanpa hiasan, dan hanya ada suara putaran kipas angin yang membelah keheningan malam di Pulau B. Namun, bagi Zea, kesunyian ini adalah kemewahan setelah seharian telinganya "dicuci" oleh suara tajam Sandra.Selain dari Ibra, juga ada pesan dari kedua sahabatnya. Melihat nama mereka membuat Zea merasakan setetes rasa rindu mendadak merembes di sudut hati. Ia merasa sangat jauh. Dengan sedikit emosional, yang membalas pesan keduanya di grup chat pribadi mereka. Meluapkan kekesalannya pada Sandra juga penyesalannya karena telah menyulitkan Anton, hanya demi ego mencari kenyamanan pribadi.Lalu, jarinya terhenti sejenak. Ada satu hal lagi yang mengganjal di benaknya.“Tadi aku ketemu Arkan di bandara,” tulisnya perlahan.Z
BAB 121“Ini pasti soal kecil buat kamu, kan? Gimana pun juga kamu karyawan pilihan Pak Wira, jadi pastinya kamu sekompeten itu.” tambah wanita itu lagi.Zea meringis. Ucapan sarkas diiringi tatapan merendahkan itu mengingatkannya pada seseorang. Salah satu alasan ia berada di tempatnya sekarang. Naya. Ia mendengus pelan. Tak menyadari kedua tangannya mengepal kuat.“Gimana Ze? Bisa, kan?” Tanya Sandra lagi sambil tersenyum miring.“Siap, Ka.” jawab Zea, suaranya terdengar lantang dan tegas. "Aku akan berusaha semaksimal mungkin.” Meski menjawab dengan tingkat keyakinan tinggi, sebenarnya rasa takut dan keraguan mulai merayapi benak Zea. Ia belum pernah menangani proyek sebesar ini sendirian, apalagi di lingkungan yang begitu asing dan kompetitif. Ia merasa seperti dilemparkan ke tengah laut tanpa pelampung.Namun, di tengah keputusasaan itu, ia mengingat betapa kerasnya ia bekerja untuk sampai di titik ini, Zea tahu ia tak
BAB 120Zea meneguk ludahnya kasar. Matanya membulat. Ia betul-betul terkejut dengan respon dingin Sandra. Ungkapan kerendahan hati yang baru saja ia ucapkan, mengenai bimbingan, hanyalah basa-basi profesional semata, standard kesopanan antar rekan kerja. Tentu saja Pak Wira tidak mungkin mengirim seseorang yang tidak kompeten, apalagi untuk menduduki posisi krusial, sebagai team leader. Sikap kaku Sandra membakar rasa yakin dalam diri Zea. Atmosfer kompetisi yang tajam, yang dirasakannya sewaktu ia memasuki gedung tadi, jelas bukan sekadar imajinasinya sendiri. Itu nyata, sedingin pendingin ruangan di kantor ini.Zea memilih untuk mengangguk sopan, berusaha tidak mengoreksi tuduhan dan memperpanjang masalah dengan Sandra. Terlebih perempuan ini merupakan atasannya. Dalam hati ia berjanji tak akan membiarkan rasa tersinggung ini merusak harinya. Bisa saja Sandra sebenarnya memiliki kepribadian yang lebih hangat dari yang







