Share

Tekad Bulat

Penulis: Ayaya Malila
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-04 22:57:37
Di belakang batas set, Vivianne berdiri tenang dengan ipad di tangan. Namun, matanya tak lepas dari sosok pria yang satu jam lalu mengajaknya menikah.

Pria itu tampak begitu serius dengan adegan yang dilakoninya. Walaupun gerakannya sederhana, tapi setiap gerak-geriknya mampu menghipnotis siapapun yang melihat.

Dalam satu scene, Dylan hanya perlu memakai kacamata, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling padang rumput yang terbentang di belakang rumah utama Ranch.

Setelah itu, Rosie masuk dan mengalungkan kedua tangan di leher kokoh Dylan. Keduanya saling tatap, sorot lekat yang menunjukkan kemesraan tak dibuat-buat.

Vivianne hanya mampu diam dan menarik napas panjang. Mencoba untuk menetralkan perasaan dalam dada yang begitu bergemuruh. Apalagi saat melihat keduanya mendekatkan wajah.

Bibir Dylan sudah hampir menyentuh bibir merah Rosie, dan .... "Cut!" seru sang sutradara. "Luar biasa sekali! Aku suka chemistry kalian," pujinya.

Vivianne memejamkan mata sambil tanpa s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Malam Pertama

    Pernikahan kilat itu berlangsung tak sampai satu jam. Para saksi yang terdiri dari penata rias dan kostum kenalan Dylan juga sudah membubarkan diri sesaat setelah memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Kini, Vivianne dan Dylan sudah berada di dalam Bentley kesayangan sang aktor tampan itu. Sesekali, Vivianne melirik diam-diam ke arah pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Dylan tampak ceria. Dia tak hentinya bersiul seraya kedua tangannya sibuk memegang kemudi. Demikian pula dengan Vivianne. Padahal ini hanyalah pernikahan kontrak, tapi entah kenapa bibirnya tak henti-henti menyunggingkan senyum. Seolah khayalan masa remajanya terwujud sekarang. Dylan sang idola sekolah, bintang yang pernah menyinari hari-harinya, kini menjadi milik Vivianne seutuhnya. "Apa ada yang kau inginkan, Sayang?" tanya Dylan, memecah lamunan. "Gaun pengantin," jawab Vivianne tanpa sadar. "Apa?" Dylan menoleh seraya mengerutkan kening. "M-maksudku ... aku ingin suatu saat bisa memil

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Mr. and Mrs. Woods

    Liam tak bisa berkata-kata. Baginya, tingkah Dylan sudah di luar nalar. "Kenapa jadi begini? Bukan seperti ini rencana awal kita," protesnya. "Hidup ini dinamis, Liam. Perubahan itu perlu selama dibutuhkan," kilah Dylan enteng. "Ah, alasanmu basi!" geram Liam. "Aku yakin, kau mulai goyah dengan tujuanmu gara-gara Vivianne, kan? Sebesar itukah rasa cintamu padanya?" cibirnya tak suka. "Itu bukan urusanmu! Berhentilah bersikap cerewet, Liam. Kau hanya kutugaskan untuk menjadi mata-mata dan informan, bukan komentator hidupku. Jangan lupakan itu!" tegas Dylan. Tanpa menunggu tanggapan dari Liam, Dylan langsung masuk ke dalam trailer lalu mengunci pintunya. Dylan menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, demi menghilangkan emosi yang hampir membuatnya hilang kendali. Sungguh dia tak suka jika ada yang mengomentari Vivianne. Dylan menyandarkan kepala sejenak di daun pintu. Bicara tentang Vivianne, gadis itu sudah tertidur pulas di ranjangnya. Sambil mengendap-endap, Dylan

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Gereja Putih

    VIvianne membongkar isi ransel dan tas selempangnya. Memeriksa satu persatu barang bawaannya, lalu bernapas lega saat menemukan semuanya masih lengkap seperti semula. Di saat Vivianne sibuk dengan barang-barangnya, Dylan juga sibuk berkirim pesan dengan Liam. [Apa kau tahu siapa yang dibayar oleh Rosie untuk mencelakai Vivianne?] Demikian isi pesan yang Dylan kirimkan untuk mantan asisten pribadinya itu. Tak berselang lama, Liam membalasnya. [Empat orang penjaga keamanan yang bekerja di pos depan.] Dylan mengeratkan rahang saat membaca isi pesan Liam. Beberapa saat kemudian, dia mengetik sesuatu lagi, lalu menekan tombol kirim. Setelahnya, Dylan langsung berdiri sambil menyimpan ponselnya di saku celana, kemudian melangkah keluar trailer. "Kau mau kemana lagi, Dylan?" tanya Vivianne. "Aku hendak menemui Liam sebentar, Vi. Tidurlah dulu. Pakai saja ranjangku," tutur Dylan. "Ta-tapi ...." Vivianne tak sempat menyelesaikan kata-katanya, sebab Dylan lebih dulu menutup

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Selangkah Lagi

    Keterkejutan Dylan hanya berlangsung sesaat. Setelahnya, pria itu malah tersenyum lebar."Kau sepertinya senang melihatku hampir celaka," sindir Vivianne ketus."Tidak, bukan itu, Sayang. Aku senang karena akhirnya bisa mengumpulkan banyak bukti untuk mengancam Rosie," jelas Dylan."Setelah berhasil mengancamnya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Vivianne."Tentu saja menyingkirkannya," jawab Dylan enteng.Vivianne tertegun sejenak. Entah perasaannya saja, atau Dylan memang tampak menakutkan. "Kau berubah sekarang," gumam Vivianne tanpa sadar.Kalimat tersebut terdengar jelas di telinga Dylan. Namun, pria itu tak menanggapinya. Dia hanya menyunggingkan senyum lalu membelai pipi Vivianne. "Setiap orang pasti berubah, Vi," timpal Dylan."Sekarang berhentilah berpikir terlalu keras. Istirahatkan dirimu setelah melalui hari yang keras ini." Dylan mengecup sekilas dahi Vivianne, lalu menuntunnya masuk ke dalam trailer. "Tidurlah di ranjangku," suruhnya."Tapi, ranselku tertinggal di tenda

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Menyetujui Semua

    Tak hanya sang sutradara yang terkejut. Beberapa kru dan artis yang duduk di sekitar meja mereka pun demikian. Semua mata tertuju pada Rosie. Namun, hal itu tak membuat Rosie terganggu. Dia malah melanjutkan amarahnya. "Kukira kau wanita baik-baik. Ternyata kau tak berbeda dengan penggemar-penggemar gila Dylan di luar sana!" bentak Rosie. "Hentikan, Rose! Kau membuatku malu!" hardik Dylan. Aktor tampan itu berdiri, lalu menarik Vivianne agar berada di belakangnya. Satu tangannya terus menggenggam pergelangan Vivianne. Betapa sakitnya hati Rosie melihat Dylan pasang badan, menjadi tameng demi melindungi Vivianne. "Kau serius melakukan ini padaku, Dylan?" desis Rosie. Bibirnya bergetar menahan emosi yang semakin tak terbendung. "Aku melakukan yang seharusnya! Vivianne adalah teman masa kecilku. Saat kecil dulu, kami bertetangga dan ayah kami saling berteman!" beber Dylan. Dia sedikit menambahkan bumbu kebohongan, tentang kedua ayah mereka yang berteman. Pada kenyataannya, ayah Vivi

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Memancing Emosi

    Aroma menyengat memasuki indra penciuman Vivianne. Pusing mulai melanda akibat bau menusuk itu. Dalam posisi panik, dia berusaha melepaskan diri, menjauhkan wajahnya dari orang-orang misterius itu. Namun, rasa pening yang menyergap, membuat kekuatan Vivianne menghilang. Tenaganya seperti habis tersedot. Vivianne tak mempunyai pilihan selain pasrah. Beruntung, saat dirinya hendak menyerah, terdengar teriakan nyaring yang entah darimana asalnya. "Lepaskan dia, atau akan kutelepon polisi!" sentak suara yang Vivianne mengenalinya sebagai milik Liam. Beberapa pria tadi langsung membeku. Satu pria yang masih membungkam Vivianne dengan saputangan, segera melepaskan tangannya dan menjauh. Hampir saja Vivianne terjatuh jika saja Liam tidak sigap menangkapnya. "Vi, apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu khawatir. Vivianne menggeleng lemah. Sesaat kemudian, dia mengalihkan tatapannya ke arah pria-pria asing itu. "Apa mau kalian?" desisnya pelan. Pria-pria tersebut tak menjawab. Mereka ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status