Masuk“Apa yang terjadi…?” gumam Tian Hei pelan.
Kejadian barusan jelas mengejutkannya. Namun hanya sesaat. Tak lama kemudian, ketenangannya kembali. Sebuah kemungkinan terlintas di benaknya—dan itu cukup untuk membuat pikirannya kembali stabil. Untungnya, ia telah membaca isi kitab itu berulang kali. Seluruh pola dan gambaran telah tercatat rapi di dalam ingatannya, meski ia belum sepenuhnya memahami maknanya. Tian Hei yakin, seiring berjalannya waktu, pemahaman itu akan terbuka dengan sendirinya. Ia masih duduk bersila di tengah ruang sunyi. Punggungnya tegak. Napasnya teratur, nyaris tanpa suara. Matanya setengah terpejam, namun kesadarannya sepenuhnya terjaga, menelusuri setiap aliran Qi yang beredar di dalam tubuhnya dengan ketelitian dingin. Tak satu pun denyut energi luput dari pengamatannya . “Hm… Ranah Nafas Awal puncak.” Suara Tian Hei rendah dan datar, seolah hanya berbicara pada dirinya sendiri. “Dengan pemahamanku saat ini, menembus Ranah Simpul Nadi seharusnya bukan masalah.” Namun tak ada sedikit pun rasa puas di wajahnya. Ia tahu betul—terobosan kultivasi bukan sekadar soal menumpuk energi. Terutama pada ranah dasar, dari Ranah Nafas Awal hingga Ranah Simpul Nadi, segalanya bergantung pada fondasi dan pemahaman. Tanpa dasar yang kokoh, energi sebesar apa pun hanya akan menjadi beban. Tubuh dan mental Tian Hei telah ditempa selama bertahun-tahun oleh gurunya. Ditambah lagi pertarungan hidup dan mati melawan binatang buas tingkat tinggi di hutan selama beberapa minggu terakhir—semua itu mengikis kelemahan, menyisakan ketenangan yang keras dan hampir kejam. Waktu berlalu tanpa ia sadari. Beberapa jam kemudian, perubahan mulai terjadi. Kabut hitam perlahan merembes keluar dari pori-pori tubuhnya, menyelimuti dirinya sepenuhnya. Itu bukan uap biasa, melainkan Qi hitam pekat yang terlepas dari tubuhnya. Meski tampak tipis, tekanan yang dipancarkannya membuat udara di sekitarnya terasa berat. Qi hitam itu berputar, mengeras, lalu membungkus tubuh Tian Hei seperti kepompong. Ia tetap tak bergerak. Setengah jam berlalu. Retakan halus muncul di permukaan kepompong hitam, menyerupai cangkang yang akan pecah. Detik berikutnya, kepompong itu hancur sepenuhnya. Kabut hitam berhamburan sesaat sebelum kembali memasuki tubuh Tian Hei, menyatu dengan setiap serat otot dan tulangnya. Tian Hei membuka mata. Tatapannya tajam, dingin, dan dalam. “Ranah Penempaan Raga,” ucapnya datar. Ia mengepalkan tangan perlahan. Otot-ototnya bergetar halus. Kekuatan baru mengalir stabil—tidak liar, tidak meledak-ledak, melainkan padat dan terkendali. “Jika ingin menerobos ke Ranah Simpul Nadi lebih jauh, tubuh ini harus ditempa hingga membentuk fondasi Raga Pelahap, seperti yang tercatat dalam Kitab Pelahap Semesta.” Di dalam kesadarannya, pola pembentukan Raga Pelahap tersusun satu per satu. “Qi harus langsung diarahkan ke tulang dan otot. Sedikit kesalahan saja, tubuh akan hancur… namun sebagai gantinya, raga akan melampaui kultivator biasa,” gumamnya dingin. “Huh… kalau tidak dicoba, mana mungkin tahu hasilnya.” Tak ada ketakutan. Tak ada keraguan. Sejak memilih jalan ini, Tian Hei tahu—tidak ada jalan mundur. Hanya ada satu arah: maju. Terus maju. Menghancurkan setiap penghalang hingga mencapai puncak kekuatan. Kesadarannya menyapu seluruh tubuh. Tiba-tiba, tubuhnya menegang. Kedua belas meridian utama… telah terbuka sepenuhnya? Ingatan lama muncul. Saat sebelum sang guru menendangnya ke dalam hutan, lelaki tua itu pernah menekan titik demi titik dengan presisi sempurna. Saat itu Tian Hei masih awam, namun jalur-jalur utama telah dibuka paksa tanpa satu pun kesalahan fatal. Kini ia menghela napas panjang. Membuka dua belas meridian utama adalah hal yang hampir mustahil bagi seorang pemula. Namun fondasi itu telah ada sejak lama—dan baru sekarang ia benar-benar menyadarinya. Ini adalah berkah dari gurunya. Dan sekaligus bukti bahwa kakek misterius yang bersamanya selama lima belas tahun terakhir itu bukanlah orang biasa. Seberapa besar kekuatan sang guru—Tian Hei belum tahu. Namun jelas, ia jauh melampaui apa yang bisa ia bayangkan saat ini. Dengan meridian utama terbuka, risiko menempa raga pun jauh berkurang. Tanpa ragu lagi, Tian Hei mulai menyalurkan Qi ke dalam tulang dan ototnya. Satu hari berlalu. Energi spiritual di sekelilingnya bergetar, memasuki tubuh melalui pori-pori, berputar melalui dua belas meridian utama. Sebagian Qi menyelimuti tulang dan ototnya. Dentuman halus terdengar dari dalam tubuhnya, tanda raga yang ditempa. “Hm…” Hari demi hari berlalu. Setengah bulan kemudian, Tian Hei membuka mata. “Heh …” Seringai tipis terbit di sudut bibirnya. “Fondasi jiwa spiritual telah kokoh. Raga telah ditempa. Selanjutnya… Ranah Simpul Nadi.” “Dan sebelum itu, aku akan membuka titik-titik cabang meridian. Pondasi ini harus sempurna.” Langkah pertamanya dimulai dari jalur Ginjal. Qi ditarik perlahan menuju telapak kaki—titik pertama. Rasa panas membakar menjalar dari tulang pinggang. Tubuhnya bergetar, namun Tian Hei tetap fokus. Setelah perjuangan panjang, aliran itu akhirnya stabil. Titik pertama terbuka. Cabang kedua jauh lebih berat. Qi terasa liar, sulit diarahkan. Rasa sakit menusuk hingga ke tulang. Tian Hei mengulang sirkulasi internal berkali-kali, memaksa energi mengikuti kehendaknya. Sedikit demi sedikit, titik kedua akhirnya menyerah. Cabang ketiga menjadi ujian terberat. Tekanan hebat menghantam punggung bawahnya. Qi berputar kacau, Rasa sakit seperti ribuan jarum panas yang menusuk sarafnya, nyaris menghancurkan keseimbangannya. namun Tian Hei tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Baginya, rasa sakit hanyalah bahan bakar untuk kekuatannya Keringat membasahi tubuhnya, namun Tian Hei tidak goyah. Setelah perjuangan panjang, titik ketiga terbuka. Ia terengah pelan. Setengah bulan—hanya untuk membuka tiga titik cabang. Namun ia tahu, ini adalah awal. Setiap titik yang terbuka memperkuat fondasi Qi primordialnya secara signifikan. Prestasi seperti ini, jika diketahui orang lain, cukup untuk membuat mereka muntah darah karena iri. Dengan tekad yang kian menguat, Tian Hei menutup mata sejenak, membiarkan energi yang baru terbuka menyatu dengan tubuhnya. “Membuka titik cabang memang jauh lebih sulit daripada membuka meridian utama…” “Tapi hasilnya sepadan.” Beberapa saat kemudian, ia berdiri perlahan. “Sudah waktunya… mencari jalan keluar dari hutan ini.”Keheningan di depan Paviliun Awan Tenang terasa begitu berat hingga suara tetesan darah Tian Hei yang jatuh ke lantai batu terdengar jelas. Xi Qianyue menopang tubuh Tian Hei yang terasa panas membara akibat aliran Qi yang mengamuk siap meledakkan tubuh Tian Hei. "Dasar gila," bisik Xi Qianyue, meskipun ada kilas kekaguman di matanya. "Untung saja kau memiliki tubuh yang kuat, kalau tidak kau pasti telah meledak sekarang." "Ambil semua harta mereka," bisik Tian Hei parau. Ia tidak menanggapi perkataan Xi Qianyue malah, ia malah menyuruh gadis itu memanen hasil pertarungan. Setelah itu perlahan-lahan pandangannya mengabur. Xi Qianyue tidak membantah, lagi pula tanpa Tian Hei perintah, ia tidak akan meloloskan semua harta-harta itu. Dengan lambaian tangan, ia mengambil cincin ruang Gu Tianhong dan tas penyimpanan dari sisa-sisa anggota Klan Gu yang tewas. Setelah itu, ia membawa Tian Hei masuk ke dalam paviliun, mengabaikan tatapan ngeri dari para saksi mata. “Gu Tianhong… benar
"Bocah iblis! Kau benar-benar mencari mati!" Gu Tianhong mengaum marah. Auranya sebagai kultivator Ranah Inti Sunyi Bintang Satu meledak sepenuhnya, membentuk tekanan berat yang menghantam area di depan Paviliun Awan Tenang. Batu-batu lantai retak, debu beterbangan, dan udara seolah membeku di bawah tekanan itu. “Bocah iblis!” teriak Gu Tianhong. “Hari ini aku akan mematahkan tulangmu satu per satu, lalu menguliti jiwamu!” Udara di sekitar Paviliun Awan Tenang kini terasa jauh lebih pekat. Bau amis darah yang menguap dari puluhan tubuh anggota Klan Gu bercampur dengan aroma hangus akibat gesekan Qi yang luar biasa. Tian Hei berdiri di tengah puing-puing, palu hitam di tangannya bergetar pelan. Bukan karena takut—melainkan karena Qi di dalam tubuhnya mulai bergejolak hebat, ditekan oleh perbedaan ranah yang begitu jauh. Ia tahu. Jika Gu Tianhong menyerang dengan kekuatan penuh, satu kesalahan saja cukup untuk membunuhnya. "Kau memiliki bakat, Bocah. Tapi bakat tanpa umur panjan
BOOM! "Siapa yang begitu berani menindas anakku di gerbang kota?!" Tekanan aura berat menghantam Paviliun Awan Tenang dari luar, membuat tirai jendela bergetar hebat. Xi Qianyue membuka matanya, sorotnya berubah tajam dan kejam. “Sudah datang,” gumamnya. Tian Hei yang berdiri di samping ranjang menoleh. "Siapa?" “Ayah Tuan Muda itu,” jawab Xi Qianyue dingin. "Itulah mengapa kukatakan padamu untuk memangkas musuh secepatnya. Melepaskan mereka hanya membuang-buang waktu kita." Bagi Xi Qianyue, musuh yang sudah menunjukkan taring seharusnya dipangkas saat itu juga. Langkah kaki terdengar di luar—banyak, teratur, dan penuh intimidasi. Aura puluhan kultivator mengunci area paviliun seperti jaring raksasa. Suara berat dan berwibawa menggema ke dalam bangunan. "Siapa orang yang begitu berani mencari masalah di depan Paviliun Awan Tenang-ku?!" Suara itu milik sang Manajer Paviliun yang langsung keluar menghadapi kerumunan. Di depan pintu, berdiri seorang pria paruh baya
“Apakah ada salah satu dari tanaman ini yang bisa menekan aura itu…?” Wanita itu membelalakkan mata saat melihat tumpukan tanaman spiritual yang dikeluarkan Tian Hei memenuhi lantai kamar. Aroma obat yang pekat menyebar ke segala arah, membuat udara terasa berat untuk dihirup. “Ini…” napasnya tercekat. “Bunga Salju Abadi? Rumput Pengikat Jiwa?” Ia menatap Tian Hei dengan sorot tak percaya. “Tanaman tingkat tinggi seperti ini… dari mana kau mendapatkannya?” Tian Hei tidak menjawab. Wajahnya tetap datar saat tangannya menyisir tumpukan herbal satu per satu, seolah yang ada di hadapannya hanyalah rumput liar biasa. “Jawab saja pertanyaanku,” ucapnya singkat. “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya.” “Ukhuk—ukhuk!” Sebelum wanita itu sempat berkata lebih jauh, batuk keras mengguncang tubuhnya. Dadanya bergetar hebat, dan seteguk darah gelap memercik dari bibirnya, membasahi cadar tipis yang dikenakannya. Tubuhnya menegang, lalu melemas di atas ranjang. Aura hitam di
Keheningan itu mencekik. Sang kusir, yang tadinya berteriak pongah, kini membeku dengan cambuk yang masih melayang di udara. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Sebagai kultivator Penempaan Raga puncak, ia memiliki insting yang lebih tajam dari majikannya, dan insting itu menjeritkan satu kata: lari. Tuan Muda di dalam kereta menelan ludah. Wajahnya yang tadi memerah karena marah kini pucat pasi. Ia ingin membalas cacian gadis misterius itu, namun lidahnya terasa kelu. Tatapan Tian Hei seolah sedang menelanjangi jiwanya, menimbang bagian tubuh mana yang akan dipatahkan lebih dulu. “Ja… jangan berlagak!” Tuan Muda itu akhirnya terbata, mencoba menyelamatkan harga dirinya di depan kerumunan yang menonton. “Paman Lin! Kenapa diam saja? Bereskan mereka!” Namun sebelum kusir itu sempat bergerak—atau bahkan memohon maaf—kaki Tian Hei bergerak sedikit, menghentak bumi dengan tekanan yang halus namun presisi. KRAK! Roda depan kereta kayu mewah itu hancur berkeping-keping
Ia melangkah menyusuri jalur sempit di antara pepohonan, langkahnya mantap dan nyaris tanpa suara meski membawa beban tambahan. Gadis itu terkejut bukan karena cara ia diangkat—melainkan karena keseimbangan Tian Hei sama sekali tak berubah, seolah tubuhnya memang tak terpengaruh oleh berat manusia lain. Beberapa saat berlalu dalam diam. “Turunkan aku,” ucap gadis itu akhirnya, suaranya rendah namun tegas. “Tidak,” jawab Tian Hei singkat. “Kondisimu tidak memungkinkan.” Gadis itu mengerutkan kening. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa nyeri segera menjalar, memaksanya berhenti. Napasnya sedikit tersengal. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku,” katanya dingin. “Cukup tahu kau tidak bisa berjalan,” balas Tian Hei tanpa menoleh. Langkah Tian Hei tiba-tiba melambat. Bukan karena kelelahan—melainkan karena sesuatu yang lain. Alisnya sedikit mengerut saat indra spiritualnya menangkap getaran asing di udara. Tipis, namun jelas. Satu… dua… lalu lebih banyak lagi. Aura-







