Home / Fantasi / Sang Dewa Iblis Pembantai / bab 5: Tanpa jalan pulang

Share

bab 5: Tanpa jalan pulang

Author: Mr. Xenon
last update publish date: 2025-12-27 20:35:55

“Apa yang terjadi…?” gumam Tian Hei pelan.

Kejadian barusan jelas mengejutkannya. Namun hanya sesaat. Tak lama kemudian, ketenangannya kembali. Sebuah kemungkinan terlintas di benaknya—dan itu cukup untuk membuat pikirannya kembali stabil.

Untungnya, ia telah membaca isi kitab itu berulang kali. Seluruh pola dan gambaran telah tercatat rapi di dalam ingatannya, meski ia belum sepenuhnya memahami maknanya. Tian Hei yakin, seiring berjalannya waktu, pemahaman itu akan terbuka dengan sendirinya.

Ia masih duduk bersila di tengah ruang sunyi.

Punggungnya tegak. Napasnya teratur, nyaris tanpa suara. Matanya setengah terpejam, namun kesadarannya sepenuhnya terjaga, menelusuri setiap aliran Qi yang beredar di dalam tubuhnya dengan ketelitian dingin.

Tak satu pun denyut energi luput dari pengamatannya

.

“Hm… Ranah Nafas Awal puncak.”

Suara Tian Hei rendah dan datar, seolah hanya berbicara pada dirinya sendiri.

“Dengan pemahamanku saat ini, menembus Ranah Simpul Nadi seharusnya bukan masalah.”

Namun tak ada sedikit pun rasa puas di wajahnya.

Ia tahu betul—terobosan kultivasi bukan sekadar soal menumpuk energi. Terutama pada ranah dasar, dari Ranah Nafas Awal hingga Ranah Simpul Nadi, segalanya bergantung pada fondasi dan pemahaman. Tanpa dasar yang kokoh, energi sebesar apa pun hanya akan menjadi beban.

Tubuh dan mental Tian Hei telah ditempa selama bertahun-tahun oleh gurunya. Ditambah lagi pertarungan hidup dan mati melawan binatang buas tingkat tinggi di hutan selama beberapa minggu terakhir—semua itu mengikis kelemahan, menyisakan ketenangan yang keras dan hampir kejam.

Waktu berlalu tanpa ia sadari.

Beberapa jam kemudian, perubahan mulai terjadi.

Kabut hitam perlahan merembes keluar dari pori-pori tubuhnya, menyelimuti dirinya sepenuhnya. Itu bukan uap biasa, melainkan Qi hitam pekat yang terlepas dari tubuhnya. Meski tampak tipis, tekanan yang dipancarkannya membuat udara di sekitarnya terasa berat.

Qi hitam itu berputar, mengeras, lalu membungkus tubuh Tian Hei seperti kepompong.

Ia tetap tak bergerak.

Setengah jam berlalu.

Retakan halus muncul di permukaan kepompong hitam, menyerupai cangkang yang akan pecah. Detik berikutnya, kepompong itu hancur sepenuhnya. Kabut hitam berhamburan sesaat sebelum kembali memasuki tubuh Tian Hei, menyatu dengan setiap serat otot dan tulangnya.

Tian Hei membuka mata.

Tatapannya tajam, dingin, dan dalam.

“Ranah Penempaan Raga,” ucapnya datar.

Ia mengepalkan tangan perlahan. Otot-ototnya bergetar halus. Kekuatan baru mengalir stabil—tidak liar, tidak meledak-ledak, melainkan padat dan terkendali.

“Jika ingin menerobos ke Ranah Simpul Nadi lebih jauh, tubuh ini harus ditempa hingga membentuk fondasi Raga Pelahap, seperti yang tercatat dalam Kitab Pelahap Semesta.”

Di dalam kesadarannya, pola pembentukan Raga Pelahap tersusun satu per satu.

“Qi harus langsung diarahkan ke tulang dan otot. Sedikit kesalahan saja, tubuh akan hancur… namun sebagai gantinya, raga akan melampaui kultivator biasa,” gumamnya dingin.

“Huh… kalau tidak dicoba, mana mungkin tahu hasilnya.”

Tak ada ketakutan.

Tak ada keraguan.

Sejak memilih jalan ini, Tian Hei tahu—tidak ada jalan mundur. Hanya ada satu arah: maju. Terus maju. Menghancurkan setiap penghalang hingga mencapai puncak kekuatan.

Kesadarannya menyapu seluruh tubuh.

Tiba-tiba, tubuhnya menegang.

Kedua belas meridian utama… telah terbuka sepenuhnya?

Ingatan lama muncul. Saat sebelum sang guru menendangnya ke dalam hutan, lelaki tua itu pernah menekan titik demi titik dengan presisi sempurna. Saat itu Tian Hei masih awam, namun jalur-jalur utama telah dibuka paksa tanpa satu pun kesalahan fatal.

Kini ia menghela napas panjang.

Membuka dua belas meridian utama adalah hal yang hampir mustahil bagi seorang pemula. Namun fondasi itu telah ada sejak lama—dan baru sekarang ia benar-benar menyadarinya.

Ini adalah berkah dari gurunya.

Dan sekaligus bukti bahwa kakek misterius yang bersamanya selama lima belas tahun terakhir itu bukanlah orang biasa. Seberapa besar kekuatan sang guru—Tian Hei belum tahu. Namun jelas, ia jauh melampaui apa yang bisa ia bayangkan saat ini.

Dengan meridian utama terbuka, risiko menempa raga pun jauh berkurang.

Tanpa ragu lagi, Tian Hei mulai menyalurkan Qi ke dalam tulang dan ototnya.

Satu hari berlalu.

Energi spiritual di sekelilingnya bergetar, memasuki tubuh melalui pori-pori, berputar melalui dua belas meridian utama. Sebagian Qi menyelimuti tulang dan ototnya. Dentuman halus terdengar dari dalam tubuhnya, tanda raga yang ditempa.

“Hm…”

Hari demi hari berlalu.

Setengah bulan kemudian, Tian Hei membuka mata.

“Heh …”

Seringai tipis terbit di sudut bibirnya.

“Fondasi jiwa spiritual telah kokoh. Raga telah ditempa. Selanjutnya… Ranah Simpul Nadi.”

“Dan sebelum itu, aku akan membuka titik-titik cabang meridian. Pondasi ini harus sempurna.”

Langkah pertamanya dimulai dari jalur Ginjal.

Qi ditarik perlahan menuju telapak kaki—titik pertama. Rasa panas membakar menjalar dari tulang pinggang. Tubuhnya bergetar, namun Tian Hei tetap fokus. Setelah perjuangan panjang, aliran itu akhirnya stabil.

Titik pertama terbuka.

Cabang kedua jauh lebih berat. Qi terasa liar, sulit diarahkan. Rasa sakit menusuk hingga ke tulang. Tian Hei mengulang sirkulasi internal berkali-kali, memaksa energi mengikuti kehendaknya.

Sedikit demi sedikit, titik kedua akhirnya menyerah.

Cabang ketiga menjadi ujian terberat. Tekanan hebat menghantam punggung bawahnya. Qi berputar kacau, Rasa sakit seperti ribuan jarum panas yang menusuk sarafnya, nyaris menghancurkan keseimbangannya. namun Tian Hei tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Baginya, rasa sakit hanyalah bahan bakar untuk kekuatannya Keringat membasahi tubuhnya, namun Tian Hei tidak goyah.

Setelah perjuangan panjang, titik ketiga terbuka.

Ia terengah pelan.

Setengah bulan—hanya untuk membuka tiga titik cabang.

Namun ia tahu, ini adalah awal. Setiap titik yang terbuka memperkuat fondasi Qi primordialnya secara signifikan. Prestasi seperti ini, jika diketahui orang lain, cukup untuk membuat mereka muntah darah karena iri.

Dengan tekad yang kian menguat, Tian Hei menutup mata sejenak, membiarkan energi yang baru terbuka menyatu dengan tubuhnya.

“Membuka titik cabang memang jauh lebih sulit daripada membuka meridian utama…”

“Tapi hasilnya sepadan.”

Beberapa saat kemudian, ia berdiri perlahan.

“Sudah waktunya… mencari jalan keluar dari hutan ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 27

    Kabut Lembah Kematian tidak menipis setelah kematian Ular Rawa Bersayap Empat—ia justru menjadi lebih berat, lebih pekat, seolah alam menelan kembali darah penguasanya yang tumbang. Danau hitam itu kembali tenang, namun ketenangan tersebut bukan kedamaian, melainkan keheningan sebelum kelaparan berikutnya. Tian Hei duduk bersila di atas tulang-belulang di tepi danau. Tubuhnya nyaris tak lagi dapat disebut manusia. Bahu kirinya hancur, lengan kirinya tak merespons, dan setiap napas terasa seperti pisau yang menggores paru-parunya dari dalam. Namun auranya—auranya justru semakin mengerikan. Energi gelap berdenyut di sekelilingnya, berputar liar seperti badai yang kehilangan pusat. Xi Qianyue berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya pucat. Ia ingin mendekat, namun naluri spiritualnya menjerit agar berhenti. Energi dalam tubuh Tian Hei saat ini terlalu tidak stabil. Satu kesalahan kecil bisa membuatnya meledak dari dalam. Tian Hei membuka mata perlahan. Pandangannya buram, namun k

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 26

    Waktu seolah kehilangan maknanya di bawah kanopi ungu kehitaman Lembah Kematian. Satu bulan telah berlalu sejak Tian Hei melahap rombongan Sekte Angin Hijau, dan selama tiga puluh hari itu, ia bersama Xi Qianyue tidak pernah benar-benar memejamkan mata dengan tenang. Lembah ini adalah neraka yang terus memberi makan. Sepanjang perjalanan mereka dari pinggiran menuju pedalaman, keduanya telah dihadang oleh barisan binatang buas yang haus darah. Mulai dari Kera Lengan Besi tingkat 5 hingga Ular Sanca Bayangan tingkat 6 yang bisa menyatu dengan kegelapan. Tian Hei menghadapi mereka semua dengan keganasan yang sama. Pakaian hitamnya kini bukan lagi hitam karena pewarna, melainkan karena lapisan darah kering yang bertumpuk-tumpuk. Xi Qianyue, meski awalnya merasa ngeri, kini telah terbiasa dengan metode brutal Tian Hei. Namun, semua pertarungan sebulan terakhir hanyalah pemanasan bagi apa yang menanti mereka di bagian dalam lembah. Kehadiran Sang Penguasa Udara di bagian dalam Lemb

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 25

    Di tengah kabut pagi yang masih tebal, dua sosok berpakaian hitam melangkah keluar dari bayang-bayang tembok kota. Tian Hei berjalan dengan langkah mantap, palu Pemusnah Surga di punggungnya tampak lebih gelap di bawah cahaya temaram. Di sampingnya, Xi Qianyue bergerak dengan keanggunan yang sunyi, cadarnya berkibar lembut mengikuti embusan angin dingin. "Kau yakin ingin melewati jalur itu?" tanya Xi Qianyue pelan, matanya menatap ke arah jajaran pegunungan hitam yang menjulang di cakrawala utara. "Lembah kematian merupakan salah satu area terlarang yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan Hutan Abadi." Tian Hei tidak berhenti melangkah. Pandangannya lurus ke depan, menembus kabut. "hmm, kata bahaya hanyalah kedok untuk pelung besar bagi kultivator." Mereka meninggalkan jalan setapak utama dan mulai memasuki wilayah hutan tua yang semakin rapat. Semakin jauh mereka melangkah, suara kehidupan kota di belakang mereka perlahan memudar, digantikan oleh suara dahan yang berderi

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 24

    Matahari mulai tenggelam di cakrawala Kota Qing Yun, menyisakan semburat merah darah yang seolah meramalkan masa depan yang akan ditempuh Tian Hei. Alun-alun yang tadinya penuh dengan hiruk-pikuk perekrutan murid kini sunyi, hanya menyisakan bisikan-bisikan ketakutan dari orang-orang yang menyaksikan jatuhnya harga diri Sekte Gang Quan. Tian Hei tidak mempedulikan tatapan mata yang tertuju padanya. Di tangannya, ia menggenggam plakat hitam kemerahan pemberian Lie Cang. Logam itu terasa dingin di permukaan, namun ada denyut energi yang sangat panas di dalamnya—seperti petir yang terperangkap dalam botol kaca. "Ayo pergi," ucap Tian Hei datar kepada Xi Qianyue. Keduanya berjalan menjauh dari alun-alun, meninggalkan sisa-sisa reruntuhan batu dan harga diri sekte yang telah hancur. Mereka kembali ke penginapan, tempat yang kini terasa lebih seperti tempat pengintaian daripada tempat beristirahat. Setelah sampai di kamar mereka, Xi Qianyue segera mengunci pintu dan memasang segel iso

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 23: Benturan Dua Kehendak

    Tekanan dingin yang menyelimuti alun-alun belum sepenuhnya menghilang ketika Gang Zhen melangkah maju satu langkah. Langkah itu berat. Bukan karena luka fisik—melainkan karena tekanan eksistensi yang berdiri di hadapannya. Pria tua berjubah gelap itu melayang setengah inci di atas tanah, seolah hukum dunia tak sepenuhnya berlaku padanya. Rambut peraknya terurai bebas, wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam dan dingin seperti pedang tua yang telah meminum darah lebih banyak dari yang bisa dihitung waktu. Gang Zhen menggenggam tangannya perlahan. Qi di tubuhnya berputar, berat dan padat. Sebagai Tetua Agung Sekte Gang Quan, ia telah melewati puluhan tahun pertarungan hidup dan mati. Ia tidak asing dengan tekanan dari kultivator tingkat tinggi. Namun tekanan ini— Berbeda. Ini bukan sekadar perbedaan kekuatan. Ini adalah perbedaan tingkatan eksistensi. “Senior,” ucap Gang Zhen akhirnya, suaranya rendah namun stabil, “ini adalah wilayah Sekte Gang Quan. Perekrutan m

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 22

    Tekanan Qi brutal yang menyapu alun-alun perlahan mereda, namun suasana justru semakin mencekam. Tanah batu yang retak masih menghembuskan debu tipis, sementara tubuh-tubuh peserta yang tumbang tergeletak tanpa daya. Beberapa merintih kesakitan, yang lain pingsan dengan wajah pucat keabu-abuan. Pria bertubuh besar di atas panggung menurunkan kakinya perlahan. Sorot matanya menyapu mereka yang masih berdiri—jumlahnya kini tak sampai separuh dari semula. “Bagus,” ucapnya dingin, seolah apa yang terjadi barusan hanyalah pemanasan. “Setidaknya kalian belum sepenuhnya rapuh.” Beberapa peserta yang masih bertahan menggertakkan gigi. Keringat bercampur debu mengalir di wajah mereka. Tubuh gemetar, napas tersengal, namun tak seorang pun berani mundur. Tian Hei berdiri tenang di antara mereka. Napasnya telah kembali stabil, seolah tekanan barusan tak lebih dari angin kencang yang lewat. Di balik ketenangan itu, Pelahap Semesta bekerja dengan sangat halus, melahap sisa tekanan Qi yang

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 6: Energi yang tidak seharusnya dimiliki

    Tian Hei melangkah keluar dari tempat peristirahatan sementaranya tanpa membawa arah yang pasti. Hutan ini terlalu luas, terlalu asing, dan terlalu sunyi untuk mengandalkan logika semata. Ia tidak tahu di mana pintu keluar berada, maka ia memilih mempercayakan langkahnya pada satu-satunya hal yang

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 4: Teknik melawan hukum langit

    Hutan kembali tenggelam dalam kesunyian setelah kepergian wanita misterius itu. Sungai yang sebelumnya bergolak perlahan kembali tenang. Riak-riak air memudar, seolah menelan seluruh jejak benturan dahsyat yang baru saja terjadi. Permukaannya kembali jernih, memantulkan cahaya senja yang memer

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 3: Petemuan Awal

    Hutan tetap sunyi, kabut tipis merayap di atas tanah, menyelimuti pepohonan raksasa yang menjulang seperti menara gelap yang angkuh. Di tengah keheningan itu, Tian Hei berdiri tegak. Besi hitam di tangannya terasa seperti perpanjangan lengannya sendiri. Mata tajamnya menembus keremangan, menilai se

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 2: mendarat di lembah

    Tubuh Tian Hei membelah angkasa seperti meteor jatuh. Angin menghantam wajahnya dengan ganas, mencoba merobek kulitnya, namun ia bahkan tidak berkedip. Rambut hitamnya berkibar liar, dan jubahnya mengeluarkan suara kepakan keras tertiup badai yang diciptakan oleh kecepatannya sendiri. Di sekelilin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status