LOGINTian Hei melangkah keluar dari tempat peristirahatan sementaranya tanpa membawa arah yang pasti. Hutan ini terlalu luas, terlalu asing, dan terlalu sunyi untuk mengandalkan logika semata. Ia tidak tahu di mana pintu keluar berada, maka ia memilih mempercayakan langkahnya pada satu-satunya hal yang tak pernah mengkhianatinya sejak kecil—insting.
Namun, insting yang sama justru menuntunnya semakin dalam. Semakin jauh ia melangkah, perubahan di sekelilingnya kian terasa nyata. Udara menjadi berat, seolah mengandung tekanan tak kasatmata yang menekan dada dan pikiran. Suara malam menghilang satu per satu. Serangga tak lagi bersuara, binatang kecil tak lagi berlarian. Bahkan angin pun enggan berhembus. Kanopi pepohonan raksasa menutup langit sepenuhnya. Cahaya bulan yang seharusnya menerangi malam kini hanya menetes dalam serpihan tipis, terpantul di sela dedaunan seperti sisa-sisa cahaya dari dunia lain. Pandangan menjadi terbatas. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan saksama. Dan pada saat itulah— Instingnya berteriak. Bukan peringatan biasa, melainkan jeritan naluri yang lahir dari pengalaman beberapa minggu ini bertahan hidup di antara kematian. Naluri itu menjerit jelas: tempat ini bukan wilayah yang seharusnya ia masuki. Namun justru karena itu, Tian Hei tidak berhenti. Ia tahu, jalan yang aman tidak akan pernah melahirkannya menjadi kuat. Beberapa saat kemudian, tanah di bawah telapak kakinya bergetar—pelan, nyaris tak terasa. Namun cukup untuk membuat Tian Hei berhenti seketika. Tubuhnya menegang, seluruh indra terangkat dalam kewaspadaan penuh. Dari balik kegelapan, terdengar suara napas berat. Dalam. Teratur. Seperti hembusan angin dari dada gunung purba. Cabang-cabang pohon di sekitarnya mulai bergetar, dedaunan berguguran perlahan satu per satu. Sesuatu bergerak di balik bayangan—besar, lambat, namun membawa tekanan yang menyesakkan. Setiap pergerakannya membuat tanah merespons dengan getaran dalam. Sesosok makhluk akhirnya keluar dari kegelapan. Tubuhnya masif, membentang hampir seratus meter. Sekilas menyerupai ular raksasa, namun tubuh panjang itu ditopang oleh kaki-kaki kokoh yang menghunjam tanah dengan kekuatan luar biasa. Kabut hitam pekat menyelimuti wujudnya, berputar perlahan seperti asap dari neraka. Namun di sela kabut itu, sisik gelap berkilau dingin, memantulkan cahaya redup dengan kilap mematikan. Sepasang mata menyala samar. Dingin. Tanpa emosi. Tatapan itu menembus tubuh Tian Hei seolah sedang menilai seekor serangga. Setiap langkah makhluk tersebut membuat tanah bergetar hebat, seakan hutan purba ini sendiri tunduk di bawah keberadaannya. Binatang buas tingkat delapan? Pikiran itu langsung ditepis. Tidak. Tekanan yang dipancarkan makhluk ini jauh melampaui batas itu. Ini bukan eksistensi yang seharusnya muncul di dunia ini, apalagi di hadapan seseorang yang baru saja menerobos ranah Simpul Nadi. Tekanan berat menghantam dada Tian Hei. Napasnya tertahan sejenak. Otot-ototnya menegang secara refleks, tulang-tulangnya berderak pelan di bawah tekanan itu. Ia tahu. Jika ia salah langkah—kematian bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian. Namun mundur bukanlah pilihan. Tian Hei menarik napas dalam-dalam, menenangkan denyut jantungnya yang mulai memanas. Tatapannya tetap tajam. Ia melangkah maju satu langkah. Makhluk itu menggeram rendah. Tanpa peringatan, serangan pun datang. Cakar raksasa menyapu udara dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukurannya. Hantaman itu menghantam tempat Tian Hei berdiri sesaat sebelumnya. Tanah meledak. Batu dan tanah beterbangan seperti hujan maut. Tian Hei melompat ke samping, tubuhnya berputar di udara. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung melancarkan serangan balik ke sisi makhluk itu. Clang! Suara benturan logam menggema nyaring. Namun yang tertinggal di sisik gelap itu hanyalah goresan dangkal. Terlalu keras. Makhluk itu segera berbalik. Ekor panjangnya menghantam udara seperti cambuk raksasa. Tian Hei mengangkat lengan untuk menangkis, namun benturan itu tetap menghantamnya dengan kekuatan brutal. Tubuhnya terlempar beberapa meter ke belakang, menghantam tanah dengan keras. Rasa nyeri menjalar hebat ke seluruh persendiannya untung saja dia memiliki kekuatan fisik yang kuat, kalau tidak sudah dipastikan tubuhnya akan meledak saat itu juga. Napasnya terengah, darah terasa mendidih di dalam dada. Perbedaan kekuatan terasa nyata. Ini bukan pertarungan yang bisa dimenangkan secara frontal. Pertarungan bagaikan seekor semut melawan seekor gajah. Tian Hei bangkit perlahan. Darah menetes dari sudut bibirnya, namun tatapannya tetap tenang—dingin, tajam, tanpa sedikit pun kepanikan. Ia mengubah ritme pergerakan. Tidak lagi mencari serangan penentu. Ia bertahan. Menghindar. Mengamati. Mencari celah sekecil apa pun. Waktu seakan melambat di tengah bentrokan itu. Benturan demi benturan kembali terjadi. Tubuhnya beberapa kali terpental, tulangnya berderak, darah mengalir. Namun setiap kali pula ia bangkit. Gerakannya semakin padat, semakin tajam, seolah tubuhnya dipaksa beradaptasi di ambang kehancuran. Ranah Simpul Nadi yang baru saja ia terobos—belum stabil—kini justru ditempa oleh pertarungan hidup dan mati ini. Ia menggunakan makhluk ini sebagai tungku. Sebagai palu. Sebagai ujian. Satu kesalahan berarti mati. Namun Tian Hei tidak mundur. Ketika ia akhirnya berhenti, dia mendapatkan celah kecil. “Saatnya menggunakan gerakan itu,” gumam Tian Hei pelan. Tangannya meraih besi hitam di punggungnya—sebuah batang besi panjang tanpa mata, sederhana, namun berat. Benda itu adalah pemberian gurunya. Satu-satunya saksi bisu dari latihan kejam yang telah ia jalani selama bertahun-tahun. Ia menggenggamnya seperti memegang gagang pedang. tubuhnya condong rendah. Qi di dalam tubuhnya melonjak deras. Tekanan udara di sekitarnya menguat, dedaunan berputar liar. Langkah Tian Hei maju bukan untuk menang. Melainkan untuk bertahan hidup. Qi hitam samar menyelimuti tubuhnya. Satu tarikan napas berlalu. Tubuh Tian Hei melesat maju. Bam! Hantaman keras mengguncang hutan. Tubuh raksasa itu terhuyung beberapa langkah kebelakang , menghancurkan pepohonan di lintasannya. Sebelum makhluk itu menyeimbangkan tubunya, Tian Hei sudah bergerak lagi—melancarkan serangan kedua dengan pola aneh, tak lazim, dan sulit ditebak. Serangan ketiga menyusul. Tiga gerakan aneh berturut-turut menghantam tubuh besar itu, setiap serangan memberikan dampak yang begitu besar ke tubuh makhlul itu serta gelombang besar meghancurkan hutan sekitar. Setelah serangan terakhir menghantam Tubuhnya, makhluk itu ambruk ke tanah dengan dentuman berat. Dan tidak bangkit lagi. Tian Hei mundur tertatih. Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar. Napasnya terengah, dadanya naik turun kasar. Namun matanya tetap terbuka. Tenang. Dan hidup. Tatapan makhluk itu kembali menyapu Tian Hei. Lalu suara berat menggema di udara. “Manusia kecil…” Tekanan mengerikan menyertai suara itu, membuat darah Tian Hei bergejolak. Tubuhnya terbenam ke tanah. Lututnya hampir menyerah, namun ia mengertakkan gigi, memaksa dirinya tetap berdiri dan menatap balik mata merah yang cahayanya mulai meredup. Kabut hitam perlahan menghilang. Menampakkan wujud seekor naga hitam. Tanpa ia sadari, saat menjalankan Teknik Pelahap Semesta untuk memulihkan energinya, kabut hitam yang sebelumnya menyelimuti tubuh naga hitam itu tidak benar-benar menghilang. Kabut tersebut justru bergetar pelan, lalu berubah menjadi benang-benang energi hitam pekat, halus seperti sutra namun sarat keganasan. Benang-benang itu mengalir perlahan, menembus udara, dan memasuki tubuh Tian Hei tanpa ia sadari. Keheningan kembali turun. Setelah merasa energi di dalam tubuhnya telah kembali stabil, langkah Tian Hei tanpa sadar membawanya mendekati tubuh naga hitam yang tergeletak tak bernyawa. Aura kematian masih kental menyelimuti bangkai makhluk itu. Saat ia berdiri tepat di hadapan kepala naga hitam, Tian Hei mengangkat tangannya dan menyentuh kepala besar bersisik hitam itu. Seketika— BOOM! Gelombang energi asing yang luar biasa kuat, ganas, dan mendominasi langsung menerobos masuk ke dalam tubuhnya melalui telapak yang menyentuh kepada naga. Energi itu bagaikan banjir besar yang menghantam bendungan rapuh, seolah hendak merobek meridian dan menghancurkan daging serta tulangnya dari dalam. Namun anehnya, Tian Hei tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan. Wajahnya tetap tenang. Tanpa menarik tangannya dari kepala naga hitam, Tian Hei segera duduk bersila di atas tanah. Napasnya perlahan menyesuaikan, pikirannya jernih seperti permukaan danau yang tak terusik. Langkah pertama yang ia lakukan adalah mengendalikan energi asing itu—energi yang setiap saat bisa saja meledakkan tubuhnya dari dalam. Jika ia lengah sedikit saja, kematian akan menjadi akhir yang pasti. Untungnya, energi Qi yang sebelumnya ia serap dari alam tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Sebaliknya, energi tersebut seakan memiliki kesadaran sendiri—tunduk, patuh, dan dengan sukarela menyatu dengan energi ganas itu. Dua energi berbeda, satu lembut dan satu buas, perlahan saling berbaur. Sedikit demi sedikit, dominasi energi asing mulai runtuh. Tak berselang lama, Tian Hei akhirnya berhasil sepenuhnya menundukkan energi tersebut, memurnikannya, dan menjadikannya bagian dari Qi miliknya sendiri. Saat itulah kesadarannya menangkap sesuatu. Tubuh naga hitam di hadapannya… belum kehabisan energi asing itu. Kilatan tajam melintas di mata Tian Hei. Sebuah ide gila muncul di benaknya. Alih-alih langsung menyerap energi itu ke dalam meridian, ia memilih jalan yang jauh lebih berbahaya—memasukkan energi ganas tersebut langsung ke tulang dan ototnya, membiarkannya menempa tubuh fisiknya secara brutal. Energi itu mengalir menembus daging, meresap ke tulang, menghantam setiap serat otot dengan kekuatan liar. “Walaupun berisiko… tapi jika berhasil, hasilnya akan sangat menguntungkan.” Alasan utama Tian Hei mengambil langkah gila ini hanyalah satu—memperkuat pondasi pembentukan jiwanya. Ia tahu betul energi ganas dan aura domain naga hitam ini mampu menghancurkan dirinya kapan saja. Namun jika energi tersebut digunakan sebagai dasar pembentukan jiwa dan ia berhasil melewatinya… Maka harga yang dibayar akan setimpal dengan hasilnya. Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Waktu berlalu tanpa terasa. Selama tiga hari penuh, Tian Hei terus menyerap dan memurnikan seluruh energi asing di dalam tubuh naga hitam—tanpa menyisakan sedikit pun. Tubuhnya ditempa tanpa henti, rasa sakit datang silih berganti, namun tekadnya tak pernah goyah. Keputusan gila yang ia ambil beberapa hari lalu terbukti menjadi pilihan terbaik. Pondasi pembentukan jiwanya kini jauh lebih kokoh. Tulang-tulangnya berevolusi—yang semula berwarna putih kini berubah menjadi hitam pekat, keras dan padat bagaikan baja. Otot-ototnya mengeras, menjadi lebih berat dan penuh kekuatan laten. Tak hanya itu, kultivasinya di Ranah Simpul Nadi kini sepenuhnya stabil, dengan pondasi yang nyaris sempurna. Namun kejutan belum berhenti di situ. Dua titik cabang meridian ginjal (Shan-Jin) kembali terbuka. Yang pertama adalah Dazhong, terletak di betis bagian dalam—jalur penting aliran Qi menuju tulang belakang, berfungsi menghubungkan energi ginjal ke tulang dan organ dalam. Yang kedua adalah Shenshu, terletak Punggung bawah, 1-2 jari di samping tulang belakang, sejajar pinggang. berfungsi Menghubungkan Qi Ginjal ke inti tubuh, meningkatkan regenerasi Lonjakan kekuatan yang datang bertubi-tubi membuat Tian Hei lengah. Saat ia akhirnya menarik tangannya dari kepala naga hitam, ia baru menyadari bahwa di telapak tangannya terdapat sebuah bola berwarna hitam pekat, seolah memadatkan seluruh keganasan naga hitam ke dalam satu titik, berukuran dua kali bola kasti. Namun sebelum sempat memperhatikan bola hitam itu, pandangan mata Tian Hei tertuju di kejauhan. Tanpa sadar, ia memasukkan bola hitam itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat. Saat bola itu melewati tenggorokannya, Tian Hei merasakan sensasi dingin dan berat yang menekan hingga ke jantungnya—namun perasaan itu lenyap secepat ia muncul. Di kejauhan sana, sekitar puluhan meter dari bangkai naga, terdapat sebuah cekungan sangat besar. Di tengah cekungan itu tampak sebuah benda bulat besar dengan permukaan keras dan halus. Matanya sedikit membelalak. “Telur…?” Ia menyipitkan mata, memastikan. “Apakah itu… telur…?”Keheningan di depan Paviliun Awan Tenang terasa begitu berat hingga suara tetesan darah Tian Hei yang jatuh ke lantai batu terdengar jelas. Xi Qianyue menopang tubuh Tian Hei yang terasa panas membara akibat aliran Qi yang mengamuk siap meledakkan tubuh Tian Hei. "Dasar gila," bisik Xi Qianyue, meskipun ada kilas kekaguman di matanya. "Untung saja kau memiliki tubuh yang kuat, kalau tidak kau pasti telah meledak sekarang." "Ambil semua harta mereka," bisik Tian Hei parau. Ia tidak menanggapi perkataan Xi Qianyue malah, ia malah menyuruh gadis itu memanen hasil pertarungan. Setelah itu perlahan-lahan pandangannya mengabur. Xi Qianyue tidak membantah, lagi pula tanpa Tian Hei perintah, ia tidak akan meloloskan semua harta-harta itu. Dengan lambaian tangan, ia mengambil cincin ruang Gu Tianhong dan tas penyimpanan dari sisa-sisa anggota Klan Gu yang tewas. Setelah itu, ia membawa Tian Hei masuk ke dalam paviliun, mengabaikan tatapan ngeri dari para saksi mata. “Gu Tianhong… benar
"Bocah iblis! Kau benar-benar mencari mati!" Gu Tianhong mengaum marah. Auranya sebagai kultivator Ranah Inti Sunyi Bintang Satu meledak sepenuhnya, membentuk tekanan berat yang menghantam area di depan Paviliun Awan Tenang. Batu-batu lantai retak, debu beterbangan, dan udara seolah membeku di bawah tekanan itu. “Bocah iblis!” teriak Gu Tianhong. “Hari ini aku akan mematahkan tulangmu satu per satu, lalu menguliti jiwamu!” Udara di sekitar Paviliun Awan Tenang kini terasa jauh lebih pekat. Bau amis darah yang menguap dari puluhan tubuh anggota Klan Gu bercampur dengan aroma hangus akibat gesekan Qi yang luar biasa. Tian Hei berdiri di tengah puing-puing, palu hitam di tangannya bergetar pelan. Bukan karena takut—melainkan karena Qi di dalam tubuhnya mulai bergejolak hebat, ditekan oleh perbedaan ranah yang begitu jauh. Ia tahu. Jika Gu Tianhong menyerang dengan kekuatan penuh, satu kesalahan saja cukup untuk membunuhnya. "Kau memiliki bakat, Bocah. Tapi bakat tanpa umur panjan
BOOM! "Siapa yang begitu berani menindas anakku di gerbang kota?!" Tekanan aura berat menghantam Paviliun Awan Tenang dari luar, membuat tirai jendela bergetar hebat. Xi Qianyue membuka matanya, sorotnya berubah tajam dan kejam. “Sudah datang,” gumamnya. Tian Hei yang berdiri di samping ranjang menoleh. "Siapa?" “Ayah Tuan Muda itu,” jawab Xi Qianyue dingin. "Itulah mengapa kukatakan padamu untuk memangkas musuh secepatnya. Melepaskan mereka hanya membuang-buang waktu kita." Bagi Xi Qianyue, musuh yang sudah menunjukkan taring seharusnya dipangkas saat itu juga. Langkah kaki terdengar di luar—banyak, teratur, dan penuh intimidasi. Aura puluhan kultivator mengunci area paviliun seperti jaring raksasa. Suara berat dan berwibawa menggema ke dalam bangunan. "Siapa orang yang begitu berani mencari masalah di depan Paviliun Awan Tenang-ku?!" Suara itu milik sang Manajer Paviliun yang langsung keluar menghadapi kerumunan. Di depan pintu, berdiri seorang pria paruh baya
“Apakah ada salah satu dari tanaman ini yang bisa menekan aura itu…?” Wanita itu membelalakkan mata saat melihat tumpukan tanaman spiritual yang dikeluarkan Tian Hei memenuhi lantai kamar. Aroma obat yang pekat menyebar ke segala arah, membuat udara terasa berat untuk dihirup. “Ini…” napasnya tercekat. “Bunga Salju Abadi? Rumput Pengikat Jiwa?” Ia menatap Tian Hei dengan sorot tak percaya. “Tanaman tingkat tinggi seperti ini… dari mana kau mendapatkannya?” Tian Hei tidak menjawab. Wajahnya tetap datar saat tangannya menyisir tumpukan herbal satu per satu, seolah yang ada di hadapannya hanyalah rumput liar biasa. “Jawab saja pertanyaanku,” ucapnya singkat. “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya.” “Ukhuk—ukhuk!” Sebelum wanita itu sempat berkata lebih jauh, batuk keras mengguncang tubuhnya. Dadanya bergetar hebat, dan seteguk darah gelap memercik dari bibirnya, membasahi cadar tipis yang dikenakannya. Tubuhnya menegang, lalu melemas di atas ranjang. Aura hitam di
Keheningan itu mencekik. Sang kusir, yang tadinya berteriak pongah, kini membeku dengan cambuk yang masih melayang di udara. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Sebagai kultivator Penempaan Raga puncak, ia memiliki insting yang lebih tajam dari majikannya, dan insting itu menjeritkan satu kata: lari. Tuan Muda di dalam kereta menelan ludah. Wajahnya yang tadi memerah karena marah kini pucat pasi. Ia ingin membalas cacian gadis misterius itu, namun lidahnya terasa kelu. Tatapan Tian Hei seolah sedang menelanjangi jiwanya, menimbang bagian tubuh mana yang akan dipatahkan lebih dulu. “Ja… jangan berlagak!” Tuan Muda itu akhirnya terbata, mencoba menyelamatkan harga dirinya di depan kerumunan yang menonton. “Paman Lin! Kenapa diam saja? Bereskan mereka!” Namun sebelum kusir itu sempat bergerak—atau bahkan memohon maaf—kaki Tian Hei bergerak sedikit, menghentak bumi dengan tekanan yang halus namun presisi. KRAK! Roda depan kereta kayu mewah itu hancur berkeping-keping
Ia melangkah menyusuri jalur sempit di antara pepohonan, langkahnya mantap dan nyaris tanpa suara meski membawa beban tambahan. Gadis itu terkejut bukan karena cara ia diangkat—melainkan karena keseimbangan Tian Hei sama sekali tak berubah, seolah tubuhnya memang tak terpengaruh oleh berat manusia lain. Beberapa saat berlalu dalam diam. “Turunkan aku,” ucap gadis itu akhirnya, suaranya rendah namun tegas. “Tidak,” jawab Tian Hei singkat. “Kondisimu tidak memungkinkan.” Gadis itu mengerutkan kening. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa nyeri segera menjalar, memaksanya berhenti. Napasnya sedikit tersengal. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku,” katanya dingin. “Cukup tahu kau tidak bisa berjalan,” balas Tian Hei tanpa menoleh. Langkah Tian Hei tiba-tiba melambat. Bukan karena kelelahan—melainkan karena sesuatu yang lain. Alisnya sedikit mengerut saat indra spiritualnya menangkap getaran asing di udara. Tipis, namun jelas. Satu… dua… lalu lebih banyak lagi. Aura-







