Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 25 Perasaan Putri Anandya

Share

Bab 25 Perasaan Putri Anandya

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-31 19:26:54

“Pemenangnya Ariani dari padepokan Melati Sakti, dia berhak mendapatkan hadiah 1000 koin emas dari pihak kerajaan,” seru patih Taruma Jati mengumumkan.

Semua penonton termasuk raja Balwa pun langsung bertepuk tangan atas kemenangan Ariani.

Sementara Jantaka hanya menyeringai senang, tidak di sangka gadis yang semalam melakukan petualangan bersamanya ternyata memiliki jurus lain selain gugur bunga.

Jurus musim semi semerbak harum bunga adalah jurus terakhir dari padepokan Melati Sakti. Tetapi ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 46 Sosok Kakek Berjubah Merah

    “Hahaha, mampus kalian berengsek!” pemimpin pendekar berbaju hitam tertawa.Arga dan Jantaka sama-sama memuntahkan darah merah, tubuh keduanya terbaring lemas di atas tanah.Putri Anandya akan berlari menghampiri tubuh Arga, tetapi salah satu pendekar berbaju hitam menangkap dengan cepat.Begitu juga dengan Sulastri dan Julman, ketiganya meronta berusaha melepaskan diri.“Lepaskan! Kalian akan menyesal menangkapku,” teriak putri Anandya.“Hahaha, tentu saja kami akan menyesal. Menyesal tidak sempat menikmatimu, hahaha,” pria yang menangkapnya tertawa.“Arga!” Tarik putri Anandya.“Kakak Arga!” Julman juga ikut berteriak.“Kakak!” Sulastri terus meronta.Ke-tiganya saat ini menangis meratapi nasib, tanpa Arga dan Jantaka, kematian mereka hanya tinggal menunggu waktu.Kesadaran Arga mulai samar akan menghilang, sementara Jantaka sudah sedari tadi tidak sadarkan diri.Kini yang masih berjuang tinggal Liwa seorang, kuda putih itu terus melesat menyerang para pendekar berbaju hitam menggun

  • Sang Kusir   Bab 45 Serangan tak terduga

    “Dia tewas terkena anak panah beracun,” gumam Arga lirih di dalam hati.Setelah memastikan kondisi perempuan tersebut, Arga kemudian kembali menghampiri Julman dan Sulastri.“Ibu kalian benar-benar sedang sakit, sebaiknya ayo kita keluar, biarkan dia beristirahat dengan tenang,” ungkap Arga.Arga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena tidak tega melihat kondisi Julman dan Sulastri masih sangat kecil.“Apakah ibu akan sembuh kak? Benarkan, kak?” Sulastri bertanya dengan semangat.Mendapati itu Arga segera memalingkan wajah karena setetes air matanya terjatuh tidak mampu dibendung lagi.“Ibu Sulastri pasti akan sehat,” jawab Arga lirih.“Hore!” sang gadis kecil kembali melompat riang.Begitu juga dengan Julman, mereka berpelukan melompat-lompat kegirangan.Arga kemudian membawa mereka keluar kamar.“Bagaimana?” tanya putri Anandya.Arga tidak bisa menjawab dengan kata-kata, dia menggeleng dengan air mata menggenang menunjukkan kesedihan.Jantaka langsung menunduk mengerti apa yang

  • Sang Kusir   Bab 44 Kenyataan Memilukan

    “Itu kediamanku, kak Arga, aku ingin memperkenalkan kakak kepada ibu, mohon mampirlah,” pinta Julman.“Maaf adik kecil, kakak-kakak ini sedang dalam perjalanan menjalankan misi, jadi kami tidak bisa mampir,” ungkap putri Anandya menjawab pertanyaan Julman.Dia mengatakan itu karena dalam upacara kedewasaan tidak boleh singgah ke sembarang tempat sesuka hati, menyelesaikan upacara adalah tujuan utama.Mendengar itu Julman tentu saja sedih, padahal dia ingin mempertemukan teman satu-satunya yang telah menolong dia pada sang ibu.“Tidak apa Julman, kakak akan mampir,” potong Arga membuat Julman melompat senang.“Benarkah, benarkah?” anak kecil itu bertanya cepat.“Benar, bukankah ibumu tengah sakit?” Arga balik bertanya.“Benar kak Arga,” jawab Julman Lirih.“Baiklah, ayo pulang,” kata Arga sembari mengangkat bangkai rusa ke pundaknya.“Arga!” seru putri Anandya sedikit berbisik.“Ada apa tuan putri?” jawab Arga.“Dirimu tidak bisa berbuat seenaknya! Kita sedang dalam perjalanan menjalan

  • Sang Kusir   Bab 43 Kampung Teritis

    “Ma-ma—maaf tuan putri, semalam anda yang …,” Plak!Arga terkena tamparan keras dari putri Anandya, membuat Jantaka melebarkan mata menyaksikannya.Tidak bisa menjelaskan apa-apa, Arga hanya dapat tertunduk lemas menerima kemarahan gadis itu.“Jangan mentang-mentang telah beberapa kali menyelamatkanku kau bisa berbuat se-enaknya, dasar pemuda cabul!” teriak putri Anandya.“Maaf tuan putri, itu bukan kesalahan Arga, semalam Anda sendiri yang memeluknya dan bahkan anda tidur di atas tubuh Arga tanpa bisa di lepaskan,” jelas Jantaka tidak tega melihat temannya terus dimaki.“Kau juga sama saja tuan pendekar! Mana mungkin aku …,” teriakan putri Anandya terhenti saat samar-samar mengingat kejadian semalam.Bersamaan dengan itu wajahnya langsung memucat merasa malu karena telah menampar Arga.“Apa yang aku lakukan?” gumam putri Anandya di dalam hati.Beberapa kali dia mengumpati dirinya sendiri karena telah tega menampar orang yang menolongnya.Gadis itu kini masih menunduk tidak berani men

  • Sang Kusir   Bab 42 Perkara Posisi

    Malam di hutan kabut sangat lah dingin terlebih saat ini sedang musim bersalju membuat udara di sana dapat membekukan siapa pun yang berada di dalamnya.Tidak terkecuali pohon, ranting bahkan bebatuan pun ikut membeku terlapisi es, sementara dedaunan di atas pohon tertimbun butiran salju.hutan itu juga senantiasa di tutupi kabut tipis setiap waktu sehingga jarak pandang di sana sangat terbatas.Meski telah mengenakan selimut, tubuh putri Anandya menggigil di atas kereta, dia mengalami hipotermia berat akibat suhu yang terlalu ekstrem.Sementara Arga saat itu tengah membuat perapian di bawah pohon berukuran besar.“Apa sudah selesai Arga? Cepatlah! Tubuh tuan putri semakin memprihatinkan,” teriak Jantaka di atas kereta panik.Wajah putri Anandya memang telah memucat, bibir merahnya memutih serta terdapat banyak retakan.Jantaka terus mengalirkan energi tenaga dalam tetapi entah mengapa di tubuh sang putri energi itu seakan tidak berguna.“Sebentar lagi!” teriak Arga terburu-buru.“Sia

  • Sang Kusir   Bab 41 Aku Pendamping Kusir Kalian

    “Sama-sama, kau tidak usah sungkan,” jawab Arga sembari berlalu menuju tempat Liwa.Begitu pun dengan Jantaka, dia berlari menuju kereta kuda.Tetapi ketika pemuda itu akan naik ke atas kereta, tiba-tiba saja dirinya ingat bagaimana cara Arga bisa ke sana? Dan apa tujuannya? Bukankah tadi dia bilang hari ini baru saja dari kerajaan?Dipenuhi berbagai pertanyaan di kepalanya membuat Jantaka langsung kembali berbalik ke arah Arga.“Ar …? Ke mana dia?” gumam Jantaka heran mendapati Arga dan kuda putih sudah lenyap dari pandangan.“Dirimu mencari siapa teman?” tanya Arga yang tiba-tiba sudah berada di dekat kereta, sehingga Jantaka kembali membalikkan badan.“Bagaimana? Ah … sial, kau memang aneh layaknya hantu yang gentayangan,” umpat Jantaka tidak mengerti.Arga baginya memang sebuah misteri, selain sosoknya yang penuh tanda tanya, tingkat kanuragan pemuda itu juga berubah-ubah.Pertama Jantaka bertemu dengannya, Arga masih belum memiliki kanuragan sehingga dia menganggapnya hanya manus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status