Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 24 Jurus Pedang Musim Semi

Share

Bab 24 Jurus Pedang Musim Semi

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-30 19:17:53

Meski sedang dalam kecepatan tinggi di atas punggung kuda kerdil, Arga masih dapat mendengar suara kecil dengan sangat jelas.

Dia menghentikan laju kudanya karena suara tersebut membahas sesuatu yang aneh.

“Jika yang ini berhasil, maka pionir tidak lama lagi akan naik menggantikannya.” ungkap Senopati Rajo.

“Tetaplah berhati-hati karena segala kemungkinan bisa saja terjadi,” tanggap pria misterius yang mengenakan topeng caping.

Arga tidak bisa melihat jelas wajahnya, tetapi dari nada suara yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 53 Kuil AGung Gunung Lawu

    Dua malam telah terlewati, rombongan Arga kini hanya berjarak setengah hari lagi mencapai kuil Agung di puncak gunung Lawu.“Jadi apa yang akan kita lakukan di sana tuan putri?” tanya Arga.“Aku harus menanam biji bunga teratai di danau kuil Agung, jika biji itu berhasil tumbuh dengan baik, maka upacara kedewasaan ini telah selesai,” jawab putri Anandya menjelaskan.“Baiklah jika begitu, ayo Jantaka, percepat perjalanan! Kita akan menanam bunga,” teriak Arga senang.“Haisss! Aku tidak mengerti mengapa dia menjadi ceria seperti itu,” gumam Jantaka.Khyaah! Khyaaah!Jantaka dua kali menghentakan tali kekang membuat dua kuda perang melesat melewati Liwa.“Oak?” tanya Liwa.“Hahaha, tidak perlu Liwa, tugas kita adalah menjaga rombongan, jadi tetap ikuti mereka,” jawab Arga.Di kuil Agung saat ini sudah terdapat putri Damayanti dan putri Kanaya.Mereka tiba lebih dulu karena tidak mendapat hambatan di perjalanan.Alih-alih mendapatkan hambatan, kedua putri raja itu malah dengan sengaja ber

  • Sang Kusir   Bab 52 Longsoran Salju

    Arga terus berlari meninggalkan Senopati Suta dan panglima Kunta dengan hati gelisah.Beberapa pohon pinus tumbang tertubruk tubuh pemuda itu yang melesat ke sembarang arah.Kedua tangan memegang kuat kepalanya yang terasa amat sakit, sementara pedang kebalikan tersilang di belakang punggung.Aaaaaaaa! BUMM! BUMM! BUMMM!Arga berteriak keras meluapkan segala emosinya, membuat sebagian wilayah hutan pinus sirna terkena ledakan.Asap hitam membumbung tinggi ke langit menarik perhatian pasukan pendekar berbaju hitam untuk datang ke sana.Tidak hanya kelompok itu saja, tetapi beberapa makhluk lelembut dan hewan siluman juga turut berdatangan.“Cepat periksa, aku yakin suara ledakan itu berasal dari rombongan putri raja, bunuh kelompok mereka,” seru Genta memberi perintah.“Baik, tuan,” seru 200 pendekar golongan hitam serentak.Ternyata benar, selama ini yang memberi perintah kepada kelompok tersebut untuk memburu putri Anandya itu adalah Genta.Pendekar sakti yang tempo hari memberikan r

  • Sang Kusir   Bab 51 Putra Mahkota

    “Aku titipkan Liwa bersama kalian!” seru Arga.“Dasar pemuda gemblung, mengapa dia suka sekali mengurusi urusan orang lain,” umpat Jantaka.“Apa ini tidak apa-apa tuan pendekar? Bagaimana dengan Arga?” tanya putri Anandya khawatir.“Tenang saja putri, aku percaya Arga akan baik-baik saja,” jawab Jantaka.“Heyy Liwa, ayo kita pergi, tuanmu nanti akan menyusul,” teriak Jantaka kepada Liwa.Selanjutnya mereka pun mulai melesat meninggalkan pinggiran sungai, sementara bangkai rusa Arga taruh di depan gerobak kereta di samping kursi kusir.Liwa tidak banyak bersuara, dia hanya mengikuti kereta dari belakang sembari mengawasi keadaan.Khyaahh! Khyaah!Jantaka dua kali menghentakan tali kekang agar kuda perang melaju lebih cepat.Kebetulan jalan yang mereka lalui sekarang sedikit menanjak membuat kereta kuda berjalan lambat.Setelah tali kekang dihentakan, kereta mulai kembali melaju dengan kecepatan tinggi.“Tuan pendekar, sepertinya kita sudah cukup jauh dari tempat semula, apa tidak sebai

  • Sang Kusir   Bab 50 Perterungan tak berimbang

    “Hahaha, aku selalu yakin dengan putra mahkota, waktu itu dia hanya belum dewasa saja,” panglima Kunta tertawa.“Bukankah ini adalah kaki gunung Lawu yang masuk pada wilayah kerajaan kecil Bunisora?” tanya Senopati Suta memastikan.“Benar, mengapa anda baru bertanya sekarang?” jawab panglima Kunta.“Hahaha, aku hanya heran saja mengapa dirimu memilih ke arah sini,” sembari Suta tertawa.“Hahaha, entahlah, aku hanya mengikuti kata hati saja,” panglima Kunta ikut tertawa.“Meski kukira pikiranmu bodoh, tapi tidak apalah, kita nikmati saja pengembaraan ini,” Senopati Suta menggeleng.“Hahaha, bukankah sudah kubilang dari dulu, nikmati saja,” panglima Kunta kembali tertawa.“Benar, hahaha. Tapi apakah mungkin putra mahkota ada di tempat seperti ini? Bukankah dia pemuda yang manja?” tanya Senopati Suta.“Hahaha, aku tidak tahu, tapi jika anda yang lari dari rumah, ke mana kira-kira tempat yang akan dituju? Tanpa uang? Tanpa simbol identitas? Bahkan tanpa ada orang yang menemani?” tutur pan

  • Sang Kusir   Bab 49 Dua Orang Asing

    Selepas kembalinya Arga dari dalam alam jiwa, rombongan putri Anandya-pun melanjutkan perjalanan.Beruntung kereta kuda mereka berada di lokasi hutan bekas perkampungan Teritis sehingga tidak terkena dampak ledakan dari pertarungan Arga.Khyaaah! Khyaah!Arga dan Liwa melesat berlari di samping kereta, mereka kini sudah melalui hutan kabut dan mulai memasuki hutan pinus dikaki gunung Lawu.Setelah kejadian di kampung Teritis hatinya selalu berdebar tidak ingin jauh dari pemuda itu.Putri Anandya terus saja mencuri pandang menatap wajah Arga dari kereta, entah mengapa itu.“Arga, apa pedang kebalikan adalah senjata pusaka? Mengapa aku tidak bisa mengangkatnya, dan kenapa nama pedang itu terdengar jelek sekali?” tanya Jantaka penasaran.Kemarin, setelah Arga baru saja terbangun, perhatian Jantaka teralihkan pada sebuah benda besar yang menancap di tanah.Dia kira awalnya itu adalah batu sedang berdiri karena berwarna hitam dan berukuran besar, tetapi setelah di dekati, Jantaka terkejut

  • Sang Kusir   Bab 48 Alam Jiwa

    Matahari telah condong ke arah barat pertanda senja akan segera datang, tetapi seorang pemuda berpakaian lusuh masih terbaring di atas tanah bersalju.Di sisinya tertancap sebuah pedang sangat besar bergagang merah dengan seluruh permukaan badan pedang berwarna hitam legam.Sementara jauh dari tubuh sang pemuda, tepatnya di bawah bukit terdapat se-ekor kuda putih dan sepasang muda-mudi yang juga tengah terbaring, tetapi di tubuh mereka terdapat banyak balutan kain.“Arga! Arga! Arga …?” putri Anandya berteriak-teriak memanggil nama Arga membuat pemuda dan kuda putih di sampingnya langsung tersentak kaget terbangun.“Putri, ada apa?” Jantaka terkejut segera menghampiri putri Anandya yang kini masih terbaring, tetapi kedua tangannya terus meronta seperti sedang terjebak dalam mimpi buruk.Hihihik! Hihihik! Wueheer! Liwa meringkik.“Aisss, sepertinya dia hanya bermimpi,” Jantaka menggeleng, lalu dengan sopan dia mengguncangkan tubuh gadis itu agar terbangun.“Argaaaa ........!” putri Ana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status