หน้าหลัก / Fantasi / Sang Kusir / Bab 43 Kampung Teritis

แชร์

Bab 43 Kampung Teritis

ผู้เขียน: Pujangga
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-15 19:33:30

“Ma-ma—maaf tuan putri, semalam anda yang …,” Plak!

Arga terkena tamparan keras dari putri Anandya, membuat Jantaka melebarkan mata menyaksikannya.

Tidak bisa menjelaskan apa-apa, Arga hanya dapat tertunduk lemas menerima kemarahan gadis itu.

“Jangan mentang-mentang telah beberapa kali menyelamatkanku kau bisa berbuat se-enaknya, dasar pemuda cabul!” teriak putri Anandya.

“Maaf tuan putri, itu bukan kesalahan Arga, semalam Anda sendiri yang memeluknya dan bahkan anda tidur di atas tubuh Arga ta
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sang Kusir   Bab 43 Kampung Teritis

    “Ma-ma—maaf tuan putri, semalam anda yang …,” Plak!Arga terkena tamparan keras dari putri Anandya, membuat Jantaka melebarkan mata menyaksikannya.Tidak bisa menjelaskan apa-apa, Arga hanya dapat tertunduk lemas menerima kemarahan gadis itu.“Jangan mentang-mentang telah beberapa kali menyelamatkanku kau bisa berbuat se-enaknya, dasar pemuda cabul!” teriak putri Anandya.“Maaf tuan putri, itu bukan kesalahan Arga, semalam Anda sendiri yang memeluknya dan bahkan anda tidur di atas tubuh Arga tanpa bisa di lepaskan,” jelas Jantaka tidak tega melihat temannya terus dimaki.“Kau juga sama saja tuan pendekar! Mana mungkin aku …,” teriakan putri Anandya terhenti saat samar-samar mengingat kejadian semalam.Bersamaan dengan itu wajahnya langsung memucat merasa malu karena telah menampar Arga.“Apa yang aku lakukan?” gumam putri Anandya di dalam hati.Beberapa kali dia mengumpati dirinya sendiri karena telah tega menampar orang yang menolongnya.Gadis itu kini masih menunduk tidak berani men

  • Sang Kusir   Bab 42 Perkara Posisi

    Malam di hutan kabut sangat lah dingin terlebih saat ini sedang musim bersalju membuat udara di sana dapat membekukan siapa pun yang berada di dalamnya.Tidak terkecuali pohon, ranting bahkan bebatuan pun ikut membeku terlapisi es, sementara dedaunan di atas pohon tertimbun butiran salju.hutan itu juga senantiasa di tutupi kabut tipis setiap waktu sehingga jarak pandang di sana sangat terbatas.Meski telah mengenakan selimut, tubuh putri Anandya menggigil di atas kereta, dia mengalami hipotermia berat akibat suhu yang terlalu ekstrem.Sementara Arga saat itu tengah membuat perapian di bawah pohon berukuran besar.“Apa sudah selesai Arga? Cepatlah! Tubuh tuan putri semakin memprihatinkan,” teriak Jantaka di atas kereta panik.Wajah putri Anandya memang telah memucat, bibir merahnya memutih serta terdapat banyak retakan.Jantaka terus mengalirkan energi tenaga dalam tetapi entah mengapa di tubuh sang putri energi itu seakan tidak berguna.“Sebentar lagi!” teriak Arga terburu-buru.“Sia

  • Sang Kusir   Bab 41 Aku Pendamping Kusir Kalian

    “Sama-sama, kau tidak usah sungkan,” jawab Arga sembari berlalu menuju tempat Liwa.Begitu pun dengan Jantaka, dia berlari menuju kereta kuda.Tetapi ketika pemuda itu akan naik ke atas kereta, tiba-tiba saja dirinya ingat bagaimana cara Arga bisa ke sana? Dan apa tujuannya? Bukankah tadi dia bilang hari ini baru saja dari kerajaan?Dipenuhi berbagai pertanyaan di kepalanya membuat Jantaka langsung kembali berbalik ke arah Arga.“Ar …? Ke mana dia?” gumam Jantaka heran mendapati Arga dan kuda putih sudah lenyap dari pandangan.“Dirimu mencari siapa teman?” tanya Arga yang tiba-tiba sudah berada di dekat kereta, sehingga Jantaka kembali membalikkan badan.“Bagaimana? Ah … sial, kau memang aneh layaknya hantu yang gentayangan,” umpat Jantaka tidak mengerti.Arga baginya memang sebuah misteri, selain sosoknya yang penuh tanda tanya, tingkat kanuragan pemuda itu juga berubah-ubah.Pertama Jantaka bertemu dengannya, Arga masih belum memiliki kanuragan sehingga dia menganggapnya hanya manus

  • Sang Kusir   Bab 40 Jurus Pedang Kebalikan

    Saat pria bungkuk melepaskan serangan energi golok hantu, Arga waktu itu tidak memiliki pilihan lain untuk menghindar selain mengeluarkan jurus pedang kebalikan tahap ke 2.Meski belum sempurna dan akan melukai dirinya sendiri, Arga tetap melakukannya karena terdesak keadaan.“Jurus pedang kebalikan tahap 2, pertukaran gelombang!” teriak Arga.Dia menyilangkan sarung tangan dewa perang sembari melesat ke depan menyambut serangan lawan.Membuat sinar energi merah dengan telak menghantamnya.Tetapi aneh sinar merah tersebut tidak beraksi apa -apa sehingga Arga masih berdiri tegak tanpa bergeser sedikit pun.Namun sesaat kemudian, terdengar teriakan melengking dari pria bungkuk yang hendak meregang nyawa.Aaaaaaa! Tidak mungkin! Bagaima …. Buum!Tubuh pria bungkuk meledak menjadi serpihan tanpa tahu siapa yang menyerangnya.“Aku berhasil menguasainya,” gumam Arga senang.Tetapi beberapa tarikan nafas berikutnya, Ukhuk! Arga memuntahkan darah segar terkena luka dalam karena memaksakan jur

  • Sang Kusir   Bab 39 Nasib Buruk Jantaka

    Sore hari di dalam hutan kabut.SRIING!“Celaka! Kita terkepung tuan putri,” Jantaka mencabut pedangnya.“Tetap di atas kereta! Aku akan melindungi anda,” teriak Jantaka seraya melompat menahan dua serangan musuh.Trang! Trang!Dua pedang berbenturan dengan pedang Jantaka, membuat musuh terpundur beberapa langkah, sementara Jantaka kembali mendarat di kereta.Ada sekitar 20 pria berpakaian hitam yang menghadangnya, mereka menggunakan penutup wajah dari kain yang juga berwarna hitam sehingga Jantaka tidak dapat memastikan entah siapa mereka.“Tuan pendekar,” putri Anandya gemetar ketakutan.“Tuan putri tenang saja, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu,” ujar Jantaka sembari menggenggam kuat gagang pedangnya.“Siapa kalian? Mengapa menghadang kami? Jika yang kalian cari adalah harta rampokan, maka mohon maaf, kami tidak membawanya,” teriak Jantaka ingin memastikan.“Hahaha, persetan dengan harta, yang aku butuhkan cuma gadis cantik yang kau bawa, serahkan dia maka dirimu akan

  • Sang Kusir   Bab 38 Pembunuh Bungkuk

    Kyah! Kyah! Khyah!Arga terus memacu kuda putih menuju hutan kabut, jejaknya tertinggal jelas di atas permukaan salju.Hihihik! Hihihik! Wueher!Liwa menghentakkan kaki depannya kuat ke tanah membuat tubuhnya merunduk menghindari lemparan pisau dari seseorang.“Siapa yang menyerang kita Liwa?” seru Arga sedikit panik.Beruntung dia sudah terbiasa berkuda dalam kecepatan tinggi sehingga Arga masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.Wueeheeer!Liwa berdehem sembari menggelengkan kepalanya.“Tunggu di sini Liwa, biar aku saja yang memastikan,” pinta Arga, dia segera turun dari atas punggung kuda dan mendarat mulus di atas permukaan salju.Tetapi baru saja Arga menginjakkan kaki-nya, lemparan pisau kedua datang hampir mengenai dada pemuda itu.Wuusss! Sleeep!Beruntung Arga sempat merasakan arah serangan sehingga tangannya secara refleks bergerak menangkap pisau lempar tersebut.“Siapa yang melempar pisau ini padaku? Cepat keluar?” seru Arga, “pengecut!” umpatnya kemudian.“Hihihihi, aku

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status