MasukKantor Moon Light Agency, New York.
David membawa Sehan menemui Tante Zola. Sosok wanita dewasa pemilik dari Moon Light Agency.
"Wow, dadamu bidang dan wajahmu tampan juga."
Sehan berdiri tegak di depan seorang wanita yang tengah meraba semua aset yang dimiliki Sehan.
"Hm, temanmu ini boleh juga, David! Wajahnya tampan, dan bersih! Semua yang ada di tubuhnya aku suka. Baiklah, aku terima dia! Tapi, aku harus mencobanya terlebih dahulu sebelum menawarkannya pada pelanggan!" Tante Zola memeriksa setiap inchi tubuh Sehan di depan David-- teman kuliah Sehan.
"Sehan, kamu kuat berapa ronde, Sayang?" Tante Zola bertanya lagi pada Sehan yang berdiri mematung, malu untuk menjawab pertanyaan Tante Zola.
"Tante tidak perlu khawatir, pilihanku tentunya berkualitas dan aku bisa jamin kalau temanku itu bakal bikin Tante mendesah tidak karuan!" sahut David mewakili Sehan yang masih malu untuk menjawab.
"Diam kamu, David. Aku bertanya pada Sehan!" hardik Tante Zola tidak senang jika ada yang menyela dirinya.
David tertawa senang karena wanita yang menjadi majikannya itu terlihat tertarik dengan pilihannya. David melirik ke arah Sehan yang berdiri mematung dengan tubuh yang hanya memakai celana dalam saja. Sungguh hal yang paling memalukan bagi seorang Sehan sebagai pewaris tunggal Argantara Group.
"Shitt! Seumur hidup akan aku ingat penghinaan ini. Siapapun yang sudah membuatku berada di posisi saat ini, aku tidak akan memaafkannya!" Sehan memejamkan matanya. Lantas ia pun membuka mata dan menjawab pertanyaan Tante Zola. "Berapa ronde pun aku kuat, tante. yang penting aku minta pakai pengaman. Karena benihku tidak akan aku berikan pada sembarang wanita meski wanita itu membayarku mahal!"
Jawaban Sehanmmembuat tante Zola. Rasa percaya diri Sehan membuat tante Zola merasas senang. Tegas, percaya diri dan tidak lempeng saja. tante Zola tidak tahu jika di dalam hati Sehan saat ini engah mengutuk apa yang ia katakan tadi. Namun, demi misi yang saat ini tengah ia jalani maka Sehan berusaha untuk membuang semua rasa itu.
Tante Zola tersenyum. "Bagus, Sehan. Aku suka dengan jawabanmu. Untuk menjadi seorang idola, kita harus tampil percaya diri dan tidak setengah-setengah. Tapi, sebelum semua terlanjur, aku tanya apakah kamu sudah memikirkan semua konsekuensi menjadi seorang pria sewaan para tante-tante?"
Sehan mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya kasar. "Aku tetap pada keputusanku ini, Tante. Aku siap menanggung semua konsekuensinya," jawab Sehan tegas. Senyum tante Zola mengemban, lagi-lagi jawaban Sehan membuat dirinya puas.
"Bagus sekali, Sehan. Aku suka gayamu." Lagi-lagi tante Zola senang dengan jawaban Sehan. Sangat disayangkan jika sampai Sehan mengundurkan diri. Tidak hanya tampan Sehan memiliki semua yang membuat wanita takhluk padanya. Tentu saja agency tante Zola pasti ramai lagi.
"Perfect! Inilah yang aku inginkan darimu, Sehan! Sebelum kau resmi menjadi anggota kami, terlebih dahulu aku harus mengujimu secara langsung."
"A- Apa? Diuji!" pekik Sehan sedikit terkejut. Ia belum pernah dengar kalau ada ujian untuk bisa menjadi seorang pria sewaan.
Tante Zola tersenyum nakal, memang agency miliknya sangat jauh berbeda dengan agency yang lain. Dirinya harus merasakan sendiri pelayanan anak buahnya sebelum mereka melayani pelanggan.
"Tentu saja, Sehan. Pegawaiku ada 20 orang dan semuanya itu akulah orang yang pertama merasakan keperkasaan mereka di ranjang. Banyak yang mendaftar di agensiku ini. Namun hanya yang menarik hatiku lah yang aku terima. Untuk itu kau berusahalah membuatku puas!" tegas tante Zola dengan bangganya.
Sehan tersenyum kecut, demi bisa membalas semua sakit hatinya pada sang ibu tiri, terpaksa Sehan mendaftar menjadi pria panggilan.
"Baiklah, Tante." Sehan mengangguk pasrah, dia tidak berani membantah. Ia dengar jika Tante Zola orang yang tidak suka dibantah. Selain itu Sehan juga mendengar rumor kalau siapapun yang menjadi anak buah Tante Zola maka kehidupannya akan berubah total. Lebih kaya dan juga lebih terjamin tanpa harus bekerja keras.
"Bagus! Satu lagi, Sehan. Kau harus berganti nama, tidak ada yang boleh mengenalkan diri dengan nama asli. Aku beri nama kau Kenzi. Bagaimana apa kau setuju dengan nama itu?" Tante Zola menyalakan rokok lalu menghisapnya dan kepulan asap pun tercipta dari bibir merah miliknya.
"Baik, Tante." Sehan lagi-lagi hanya bisa pasrah. Yang penting dia dapat uang yang banyak. Tidak lagi hidup dalam kekurangan.
Semenjak tuan Arka-- ayah Sehan bangkrut dan sakit-sakitan, Sehan terpaksa harus menjadi tulang punggung keluarga. Sudah banyak perusahaan yang ia lamar. Namun, tidak ada satu pun yang memberikan pekerjaan pada Sehan.
Semua perusahaan sepertinya kompak tidak memberi kesempatan pada Sehan untuk bergabung. Alasan mereka hampir sama yakni Sehan tidak punya pengalaman kerja. Namun Sehan merasa yakin di balik semua pasti ada konspirasi. Sehan akan menguak semua setelah ia menjadi orang sukses.
"Gimana, David? Apa Tante Zola akan menerimaku?" tanya Sehan setengah berbisik pada David.
Sehan gelisah, takut jika tidak diterima. "Kamu tenang aja, Bro. Tante Zola pasti terima kamu kok. Yakin, dia itu kalau lihat laki-laki tampan dan tubuhnya kekar seperti kamu, pastilah langsung diterima. Tapi ...."
Kedua alis Sehan bertaut menjadi satu saat mendengar David menjeda ucapannya. "Tapi apa, Bro? Kau jangan bikin aku penasaran!" Sehan mendesak David untuk segera mengatakan apa yang terjeda tadi.
David melirik ke arah Tante Zola. Wanita itu sedang membalas pesan dari pelanggannya. David mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Sehan.
"Kamu harus dipakai dulu sama dia. Sebisa mungkin kamu harus bisa membuatnya puas, Bro!" jawab David dengan berbisik juga.
"Membuatnya puas?" Ulang Sehan sembari memakai bajunya kembali.
Bab Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut gadis itu. Seakan ia enggan menyebutkan siapa nama orang tuanya. Sehan pun memakluminya sebagai sebuah privasi yang tidak boleh orang tahu identitasnya. "Sudahlah tidak apa-apa jika kamu tidak ingin mengatakannya. Aku menghargaimu dan jug tidak ingin memaksamu. "Maaf, Tuan. Aku tidak tahu harus jawab karena aku bukan anak kandung dari orang tuaku saat ini. Aku hanya anak pungut yang diperintahkan menunggui ayah angkatku yang sedang sakit." Areta menjawab dengan menunduk. Dia bingung harus ayah yang mana yang ia sebutkan namanya. Menjadi anak yangtidak diharapkan keberadaannya memang sangat menyakitkan. Sehan ikut iba mendengar perkataan Areta. Ia bisa merasakan bagaimana di posisi Areta. Saat dulu ayahnya masih sehat dan baru memiliki istri baru, Sehan bisa merasakan tidak diharapkan keberadaannya oleh sang ayah. "Sudahlah tidak apa-apa, aku bisa memahaminya kok. Lagian kamu sudah menolongku saja, aku sudah berterima kasih. Ma
bab 171 Beberapa jam berlalu, Sehan baru siuman. Kini dia sudah terbaring di salah satu bed rumah sakit, tepatnya di kamar VIP dekat dengan kamar CXhellia. Akan tetapi sayangnya, hari ini adalah hari terakhir Chelia dirawat di rumah sakit yang sama dengan Sehan. Perlahan Sehan membuka matanya. Ia memegang kpalanya yang masih pusing. efek dari obat itu bagi orang normal adalah membuat kepala sakit. Untuk itu pihak rumah sakit dan kepolisian bertanggung jawab penuh pda Sehan. Sebagai permohonan maaf dan juga ucapan terima kasih pada Sehan. "Ssshh, kepalaku sakit! Kenapa penglihatanku menjadi kabur begini? Apa yang sedang terjadi? Ada apa dengan diriku ini?" ucap Sehan berbicara dengan dirinya sendiri. Ia sendiri bingung mengapa dirinya bisa ada di rumah sakit. Sekuat tenaga Sehan mencoba bangun dan duduk bersandar pada bantalnya. Namun, seketika badannya lemas dan kepalanya makin pusing. "Tuan, awas jatuh!" teriak sosok wanita yang kebetulan lewat depan kamar Sehan dan
Bab. Dor!Suara tembakan peringatan membuat beberapa pengunjung ketakutan. Inspektur Andika berharap kalau tembakan peringatan yang ia keluarkan akan membuat David berhenti. Namun, perkiraan Inspektur Andika Salah, David yang berlari sambil menyandera si perawat itu kini sudah sampai di halaman depan rumah sakit. "Berhenti, Tuan David! Jika tidak maka jangan salahkan kami jika kami bertindak!" teriak inspektur Andika lagi dari belakang. Mengikuti kemana saja David bergerak. Sedangkan Sehan bergerak dengan sembunyi-sembunyi dari arah yang berlawanan dengan David. Ia akan membekuk David dari arah yang sama sekali tidak akan dia duga. "Bagaimana bisa aku menyerahkan diri posisi sudah sulit begini. Sudah terlanjur basah. Maka aku akan mencoba peruntunganku kali, kalau aku mati ya sudah yang penting aku tidak melihat Sehan hidup bahagia di atas kebahagiaanku!" gumam Sehan memutuskan untuk melarikan diri, jikalau harus mati maka di sudah ikhlas. David memilih untuk mati karena
Bab. David tiba di ruang ganti lagi, ia bingung harus bagaimana. Apakah akan melanjutkan rencananya atau memilih kabur saja karena takut ketahuan oleh inspektur. Tidak ada yang bisa David lakukan saat ini selain kabur pergi dari rumah sakit. "Sudahlah, sebaiknya aku tidak usah ganti baju lagi karena sudah terlanjur ketahuan oleh inspektur sialan itu!" David mengeratkan kepalan tangannya, geram pada inspektur Andika yang sudah menghalangi rencananya. David heran mengapa inspektur Andika ada di rumah sakit, David yakin pasti ada yang sudah melaporkannya. David mengintip dari celah pintu, ia mencari keberadaan inspektur Andika. Dalam hati David berdoa agar inspektur Andika pergi dari tempat itu. Sementara itu di luar ruangan Sehan dan inspektur Andika sengaja bersembunyi agar David mau keluar. Setelah nanti keluar dan dia sudah di luar ruang ICU kedua orang itu akan langsung menangkap David. Tidak berapa lama kemudian, rencana inspektur menjebak David pun menunjukkan hasilnya
Sehan mengikuti saran dari dokter dan inspektur. Sehan memilih menunggu dan membiarkan inspektur yang bergerak menangkap David. Bukannya dia tidak mampu, akan tetapi dia harus mematuhi peraturan yang ada di rumah sakit. Salah sedikit saja maka pasien yang akan menjadi korbannya, terutama yang memiliki penyakit kronis dan juga berat. Nyawa mereka akan terancam jika sampai terjadi keributan di dalamnya. Dengan terus mengawasi pintu ruang perawat, Sehan duduk di antara keluarga pasien yang menuggu di luar ruang ICU. Sepuluh menit kemudian Seorang perawat dengan bentuk tubuh yang mencurigakan keluar dari ruangan itu. Sehan ingin berdiri hendak menangkap perawat itu, akan tetapi dicegah oleh inspektur muda itu. "Jangan, Tuan Sehan. Biar saya yang tangani, ingat apa yang dikatakan dokter tadi. Kita tidak boleh membuat keributan di rumah sakit ini," ucap si Inspektur mengingatkan Sehan akan kesepakatan yang sudah disetujuinya tadi. Dengan rasa kecewa dan tubuh yang menahan amarah,
bab. Usai mengetahui kondisi tante Zola baik-baik saja, Sehan pun menuju ke ruang administrasi untuk mengurus semua administrasi tante Zola. Hembusan napas berat terdengar dari mulut Sehan. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Dua orang wanita yang berusaha membantunya kini sama-sama terbaring di rumah sakit. "Hari ini adalah hari yang melelahkan, kenapa semua bisa barengan begini? David benar-benar kejam sekali. Wanita saja dia lawan, tidak tahu malu!" gumam Sehan merasa lelah karena siang sudah mengurus tante Raysa, malam ini harus mengurus tante Zola. Apalagi semuanya dirawat karena ulah si David. Saat hendak berjalan kembali ke IGD, Sehan sepintas melihat bayangan David. "Tunggu, bukankah itu David? Apa yang dia lakukan di sini? Astaga ... Dia menuju ke bangsal tante Raysa. Apa yang akan dia lakukan di sana? jangan-jangan dia akan menghabisi nyawa tante Raysa!" pekik Sehan tiba-tiba pikirannya mengarah pada keselamatan tante Raysa. Tante Raysa adalah







