LOGINDi tengah tanah yang berubah menjadi medan kematian itu, tidak ada waktu untuk sumpah setia atau kata-kata besar. Makna hidup dan mati bersama justru terlihat dari tindakan mereka.Yang terluka ditopang, dan yang masih kuat menggendong rekannya. Mereka saling menarik, saling menjaga, dan terus bergerak meskipun artileri bisa kembali menghantam kapan saja. Tujuan mereka hanya untuk membawa semua saudara mereka pulang.Kelompok itu akhirnya berkumpul kembali. Kondisi mereka mengenaskan dan jumlahnya kini bahkan tidak mencapai selusin orang, selain Arka dan beberapa anggota timnya, hampir semuanya mengalami luka.Arka, Garuda Hitam, Niko, dan Arga masing-masing menopang atau menggendong dua orang yang sudah tidak mampu berjalan sendiri. Mereka bergerak secepat mungkin menuju satu-satunya celah sempit yang bisa digunakan sebagai tempat berlindung."Lebih cepat! Masuk!" Arka membantu mendorong Revan turun lebih dulu ke lubang ventilasi.Arga sudah menunggu di bawah untuk menerimanya.Damar
Arka melihat Damar menopang tubuh Revan bersama seorang anggota lainnya ketika mereka berusaha keluar dari lumpur.Lengan kiri Revan tertekuk dengan sudut yang jelas tidak normal. Darah mengalir dari wajahnya dan bercampur dengan abu yang menempel di kulit. Namun ketika pandangan mereka bertemu, mata Revan tiba-tiba membesar.Ada banyak hal yang muncul dalam tatapannya sekaligus. Lega karena masih hidup setelah melewati bombardir, rasa bersalah karena gagal menyelesaikan tugas, dan yang paling kuat, keterkejutan sekaligus kekhawatiran melihat Arka muncul sendirian di tengah medan kehancuran itu."Bos...?"Suara Revan keluar dengan serak dan berat, seperti tenggorokan yang dipenuhi asap. Tatapannya masih menyimpan ketidakpercayaan ketika melihat Arka berdiri di hadapannya.Arka tidak menjawab. Ia langsung turun ke dasar kawah, membuat lumpur panas segera mencapai lututnya, lalu meraih lengan Revan yang masih bisa digerakkan. Bersama Damar, ia menarik tubuh Revan keluar dari lumpur sedi
Kali ini, ledakannya jatuh jauh lebih rapat. Titik-titik hantaman langsung menyapu kawasan tempat Revan dan para rekannya berlindung, seolah penembaknya telah menemukan posisi mereka dan berniat menghabisi seluruh kelompok itu sekaligus."Revan! Damar! Berlindung!" Arka berteriak sekuat tenaga."BERLINDUNG SEKARANG!"Raungannya menembus kepulan asap dan sela-sela pepohonan, tetapi segera ditelan oleh suara dentuman artileri yang mengguncang hutan. Matanya memerah.Dari lubang sempit itu, ia menyaksikan sendiri akibat serangan yang dilakukan Topeng Algojo. Saudara-saudaranya dibantai tanpa ampun, dan musuh terus menghujani kawasan tersebut dengan tembakan yang tidak memberi sedikit pun kesempatan untuk melarikan diri.Jarak mereka sebenarnya tidak sampai dua ratus meter. Namun bagi Arka, hamparan tanah di antara mereka terasa seperti jurang yang mustahil diseberangi.Tangannya mencengkeram tepian lubang ventilasi dengan kuat. Ia hanya bisa menyaksikan ketika ledakan kembali menghantam
Arka menatapnya tajam. "Kita harus bergerak sekarang!"Nocthar bergidik melihat sorot mata Arka. Ia memaksa ingatannya bekerja, lalu beberapa detik kemudian menunjuk ke bagian lorong yang hampir tertutup sarang laba-laba dan lumut tebal."Ada... ada satu." Ia menunjuk dengan tangan gemetar. "Di sana terdapat lubang ventilasi tua. Ada celah di antara batu yang menuju ke permukaan, tepat di tepi Hutan Belantara. Tapi jalur itu hampir tidak bisa disebut jalan keluar. Sudah terlalu lama terbengkalai, kondisinya rusak, dan mungkin sudah tertutup.""Antarkan aku." Arka langsung bergerak.Rusak atau tertutup bukan masalah. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah jalur tercepat menuju sumber ledakan agar bisa mengetahui keadaan Revan dan pasukannya.Rombongan segera berbalik. Arga maju lebih dulu dan membersihkan tumpukan sarang laba-laba serta lumut tebal dengan belatinya. Di balik penghalang itu ternyata terdapat lubang gelap yang menanjak menuju permukaan, diameternya tidak lebih dari empat pul
Vila Keluarga Montara.Di dalam ruangan utama, Topeng Algojo mendengarkan laporan bawahannya melalui celah sempit pada topeng yang menutupi wajahnya. Bombardir yang baru saja menghantam kompleks memang menyebabkan kerusakan, tetapi bagi dirinya kerugian tersebut masih berada dalam batas yang dapat diterima.etelah laporan berakhir, sosok bertopeng itu bangkit perlahan dari tempat duduknya. Suaranya terdengar dingin tanpa emosi saat berkata. "Kerahkan artileri dan hancurkan hutan itu.""Mereka suka bermain dengan meriam, bukan?" Ia menatap ke arah luar. "Kalau begitu, biarkan mereka merasakan sendiri akibatnya."Perintah itu segera dijalankan.Di bagian dalam kompleks Keluarga Wijaksana, beberapa posisi artileri permanen yang selama ini tersembunyi mulai dibuka. Mortir berat dan meriam ringan yang terawat baik perlahan mengangkat laras, para pengamat menghitung ulang titik sasaran dan mengirimkan koreksi. Tak lama kemudian, para awak meriam memasukkan peluru ke dalam sungsang.DUAAAR!
"Dimengerti! Unit Talon, belok kiri!" Damar langsung mengubah arah sesuai instruksi.Pasukan itu kembali menerobos maju, meninggalkan jejak darah di sepanjang perjalanan. Mereka bergerak seperti ujung pisau yang dipaksa menembus kepungan dari segala sisi, tetapi jumlah mereka terus berkurang.Seorang prajurit elit menjatuhkan tubuhnya di atas granat yang dilemparkan musuh untuk melindungi rekan-rekannya. Tidak jauh dari sana, seorang prajurit artileri yang sedang menggendong rekannya yang terluka terkena peluru penembak runduk dari samping. Keduanya kehilangan keseimbangan dan terguling bersama menuruni lereng.Darah terus menodai rerumputan dan bebatuan yang mereka lewati.Para pengejar tidak memberi mereka kesempatan untuk bernapas. Mereka terus mengikuti dari belakang seperti lintah yang menempel dan tidak mau melepaskan mangsanya. Semakin dekat mereka dengan kompleks Keluarga Wijaksana, semakin sering mereka menemukan kelompok penjaga dan titik pertahanan yang muncul secara sporad
Arka berhenti di depan meja itu. Tatapannya turun perlahan, menekan tanpa suara.“Aku harus memanggilmu apa?” ucapnya ringan, namun dingin.Sedikit jeda, lalu sudut bibirnya bergerak tipis. “Atau… cukup ‘Bayangan Rawa’?”Pria yang disebut Arka sebagai Bayangan Rawa duduk sendirian di sudut paling g
Ia berhenti sejenak, sengaja memberi ruang bagi rasa penasaran. “Mungkin di sana kita bisa membicarakan alasan kalian datang ke Kota Vantara...”Sudut bibirnya terangkat samar. “Kota yang terkenal suka menelan orang hidup-hidup.”Matanya kembali pada Arka, kali ini lebih tajam. “Terakhir kali aku m
Di sana duduk seorang wanita yang jelas berbeda dari atmosfer liar tempat itu.Ia mengenakan jaket berburu gelap yang pas di tubuh, berbahan mahal dan terawat. Rambut panjang bergelombang jatuh di bahunya, memantulkan warna cokelat gelap saat tersapu lampu redup. Wajahnya cantik dengan struktur teg
Air mata jatuh membasahi kemeja Arka. “Mungkin saat racun itu kambuh lagi... yang dia harapkan bukan transfusi darah yang dingin.”Ia menarik napas gemetar. “Mungkin yang dia inginkan hanyalah... kau berada di sisinya.”Kalimat itu menembus pertahanan terakhir Arka, pria yang barusan memutuskan eks







