LOGINMata Adhyaksa memerah hingga urat-urat di bagian putih matanya tampak jelas. Ia terus menarik pelatuk pistol di tangannya tanpa henti, dan hampir setiap tembakan berhasil merobohkan musuh yang berada di barisan terdepan.Namun jumlah lawan terlalu banyak. Setiap satu orang yang tumbang segera digantikan oleh dua orang lainnya. Sementara gelombang berikutnya terus berdatangan tanpa memberi kesempatan bagi pertahanan Celah Mahesa untuk bernapas."Kakak! Kita sudah tidak bisa bertahan lagi!"Bramanta mundur dari arah pertahanan timur sambil menyeret seorang penjaga muda yang tertembak di bagian perut. Luka di bahu kanannya kembali terbuka akibat pertempuran sengit, membuat darah membasahi hampir separuh tubuhnya, tetapi ia tetap memaksa diri untuk bergerak."Masuk ke aula utama! Kita harus menggunakan lorong rahasia sekarang!"Adhyaksa menyapu medan perang dengan tatapan berat.Kurang dari dua puluh penjaga yang masih mampu berdiri, dan semuanya berada dalam kondisi terluka dengan amunis
Adhyaksa mengalihkan pandangan ke area desa di belakang benteng. Pos medis darurat yang didirikan di sana telah dipenuhi korban luka. Sementara suara rintihan dan tangisan bercampur dengan dentuman pertempuran yang terus bergema dari segala arah.Dari seluruh pasukan yang tersisa, jumlah petarung yang masih mampu mengangkat senjata bahkan tidak mencapai empat puluh orang, dan hampir semuanya berada dalam kondisi terluka dengan persediaan amunisi yang semakin menipis."Berapa lama lagi kita bisa bertahan?" tanya Adhyaksa dengan nada tenang yang justru terasa semakin menekan.Bramanta melirik arloji di pergelangan tangannya. Kacanya telah pecah akibat pertempuran, tetapi jarumnya masih bergerak. "Paling lama satu jam. Kalau mereka melancarkan serangan penuh sekali lagi, kita..." ucapnya sebelum terdiam karena tidak sanggup menyelesaikan kalimat tersebut.Adhyaksa tidak meminta penjelasan lebih lanjut karena ia sudah memahami maksudnya. Ia menarik napas panjang yang dipenuhi aroma mesiu,
Pada saat yang sama, di Celah Mahesa, benteng yang berdiri di lereng pegunungan itu sedang menghadapi serangan paling dahsyat sejak pertama kali dibangun. Rentetan tembakan menggema tanpa henti seperti hujan badai yang menyapu seluruh area, sementara ledakan demi ledakan terus memercikkan cahaya di tengah kegelapan menjelang fajar hingga tebing yang semula gelap tampak seterang siang hari.Adhyaksa berdiri di atas tembok pertahanan sambil menopang tubuhnya pada senapan yang larasnya telah memanas akibat tembakan beruntun. Wajah pria itu dipenuhi debu mesiu dan bercak darah, tetapi sorot matanya masih tajam dan waspada. Pakaian panjang yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian, sedangkan luka di lengan kirinya hanya dibalut perban darurat yang kini hampir sepenuhnya berubah merah karena darah yang terus merembes keluar."Pertahanan sisi timur ditembus! Tutup celahnya dengan karung pasir sekarang juga!" teriak Adhyaksa melalui radio dengan suara serak yang hampir pecah akibat ter
Garda menarik napas panjang dan berusaha mengendalikan dirinya. Sayangnya, getaran dalam suaranya tetap tidak bisa disembunyikan."Keluarga Mahardika, Sindikat Taring Ular, dan pasukan Prajurit Kage bergerak bersama. Mereka baru saja melancarkan serangan mendadak ke Celah Mahesa. Mereka berhasil menerobos tiga lapis pos penjagaan dan langsung menghantam gerbang utama."Taring Baja yang berada di samping segera mengangkat kepala."Celah Mahesa punya posisi geografis yang sangat menguntungkan. Tempat itu mudah dipertahankan dan sulit ditembus. Kalau kita bergerak sekarang dan kembali secepat mungkin, seharusnya masih ada waktu untuk memperkuat pertahanan."Krrt—Garda menggertakkan rahangnya keras-keras. Matanya memerah, dipenuhi amarah sekaligus kecemasan."Ayah memimpin pasukan yang tersisa untuk bertahan. Untuk sementara mereka masih mampu menahan serangan, tapi persediaan amunisi terkuras terlalu cepat. Korban luka juga terus bertambah."Ia berhenti sejenak, seolah kalimat berikutny
Arka memimpin pencarian itu secara langsung. Setelah luka di bahunya dibalut secara sederhana, ia kembali bergerak menyusuri medan hutan dengan kecepatan yang mengingatkan orang pada predator pemburu. Hanya Arga yang berjalan paling dekat dengannya yang menyadari bahwa otot bahu kirinya sesekali berkedut akibat luka yang masih belum stabil.Penyisiran berlangsung hampir empat puluh menit."Tuan Arka!"Sebuah panggilan pelan tiba-tiba terdengar dari arah tenggara.Arka segera bergerak menuju sumber suara bersama yang lain. Lokasi yang ditemukan berada di sisi teduh sebuah bukit kecil yang tertutup semak dan tanaman rambat lebat. Sekilas tempat itu tampak biasa saja, tetapi anggota Keluarga Mahesa yang menemukan lokasi tersebut langsung menunjuk ke arah tanah.Di bawah tumpukan dedaunan kering terlihat cekungan samar berbentuk posisi berlutut yang digunakan dalam waktu lama. Beberapa cabang semak di depannya juga sengaja dibengkokkan sehingga membentuk celah pengamatan alami.Arka berjo
Arka kemudian mengalihkan pandangan kepadanya. Tekanan dingin yang terpancar dari sorot matanya membuat suasana di sekitar mereka terasa semakin berat. "Kaivan, setelah kembali nanti, laporkan kepada atasanmu bahwa ada mata-mata di pihak kita. Masalah ini harus diselidiki sampai ke akar-akarnya."Arga yang sedang menjahit luka itu langsung menghentikan gerakannya sesaat sebelum mengangkat kepala. "Mata-mata?" tanyanya dengan nada terkejut. "Apa Bos yakin?""Aku yakin." Jawaban Arka keluar tanpa keraguan sedikit pun. "Levino tahu identitas Kaivan dan timnya."Semua orang langsung menegang.Arka melanjutkan dengan suara rendah yang dipenuhi tekanan. "Bukan sekadar tahu. Dia memahami identitas mereka dengan sangat jelas."Ekspresi seluruh anggota tim langsung berubah suram.Kaivan menarik napas panjang sebelum mengangguk pelan. "Sebenarnya aku juga sudah mencurigai hal yang sama." Ia mengepalkan tangan ketika mengingat kejadian itu. "Kurang dari dua jam setelah tim kami masuk ke hutan da
Para preman yang sebelumnya agresif tiba-tiba ragu.Tatapan Arka sekarang seperti iblis yang keluar dari neraka. “Kalian harus mati.”Arka bergerak, kecepatannya tiba-tiba meningkat drastis.Preman yang memukul Keira baru saja mengangkat tongkatnya, namun Arka sudah berada di depannya.Tangan pria
Malam semakin larut.Lampu neon Kota Mahatara melintas cepat di luar kaca mobil, menciptakan garis-garis cahaya yang bergerak tanpa henti.Di dalam mobil, suasana terasa canggung.Keira fokus mengemudi, sementara Arka Mahendra duduk di kursi penumpang, menatap jalanan yang membentang di depan. Insi
“Nona Keira…” Arka berkata datar. “Jangan berlebihan. Percaya atau tidak, kalau kepalamu terbentur kaca mobil di sana, mungkin mobilnya yang akan pecah.”“Tidak! Tidak!” Keira langsung panik. “Turunkan aku! Aku tidak akan mencubitmu lagi.”Suara Keira tiba-tiba berubah sangat patuh.Mireya yang men
Namun ia tetap diam.“Dan misi terakhir itu,” Suara Garuda Hitam menjadi lebih berat. “Semakin kupikirkan, semakin jelas ada yang salah. Informasi intelijen itu keliru! Kita mungkin dikhianati oleh orang sendiri. Kematian saudara-saudara kita tidak boleh sia-sia!”Kata-kata itu menghantam Arka sepe







