Share

Bab 6

Author: Skyy
last update publish date: 2026-02-16 00:36:14

“Mengemudi mobil untuk menjaga orang sedingin itu pasti melelahkan dan membosankan. Pernah berpikir untuk pindah kerja? Bersamaku, hidupmu tidak akan membosankan.”

Arka tetap diam.

Begitu kendaraan di depan bergerak, ia langsung melaju tanpa memberi respons. Namun BMW itu kembali menyusul, mengikuti hingga memasuki area parkir bawah tanah Grup Arta Vistara. Tepat sebelum mereka masuk, BMW itu berputar dengan manuver halus dan berhenti melintang di depan pintu masuk untuk menghalangi jalan.

TOT! TOT! TOT!

Beberapa suara klakson langsung terdengar dari belakang.

Pintu mobil terbuka, Mireya turun dengan langkah santai, sepatu haknya bergema di lantai beton. Ia berjalan langsung ke sisi pengemudi dan mengetuk jendela.

Arka menurunkannya perlahan.

Mireya sedikit menunduk, aroma parfumnya yang hangat masuk ke dalam mobil. Senyumnya percaya diri. “Tampan,” katanya pelan, cukup jelas untuk didengar Keira. “Ikut denganku. Denda pelanggaran kontrak bukan masalah. Lagi pula, aku jauh lebih menyenangkan dibandingkan gunung es di belakangmu.”

Udara di dalam mobil langsung membeku.

Pintu belakang terbuka keras.

Keira turun, tatapannya tajam seperti pisau. “Mireya Pradana,” ucapnya dingin. “Merekrut orang tepat di depan mobilku? Apa Grup Pradana sudah kehabisan cara sampai harus turun tangan sendiri?”

Mireya tidak marah, ia hanya menyibakkan rambutnya dengan santai, seolah komentar itu tidak berarti apa-apa. “Aku hanya tertarik pada sesuatu yang bagus,” katanya ringan, matanya tetap pada Arka. “Bukankah wajar memperjuangkan apa yang kita inginkan?”

Keheningan menegang di antara mereka.

Setelah menahan semuanya dari tadi, akhirnya Arka bergerak. Ia menoleh dan menatap Mireya secara langsung. Senyum tipis muncul di wajahnya, berbeda dari sikap dingin biasanya, lebih liar, lebih santai, seperti seseorang yang akhirnya memutuskan ikut bermain.

Gerakannya cepat.

Tangannya meraih pinggang Mireya dan menariknya sedikit mendekat melalui jendela mobil. Jarak mereka seketika menyempit, napas hampir bersentuhan.

Mireya terkejut sesaat, tatapan Arka dalam dan tenang, suaranya rendah. “Oh?” katanya pelan. “Kalau begitu, jelaskan padaku. Bagaimana caramu membuat hidup lebih menarik?”

Untuk sesaat, Mireya kehilangan ritmenya. Sentuhan itu tegas, tidak ragu, berbeda dari pria-pria yang biasa ia kendalikan. Detak jantungnya melonjak tanpa ia sadari. Namun hanya sesaat.

Senyum di wajahnya kembali muncul, lebih tajam dari sebelumnya. Alih-alih mundur, ia justru mendekat sedikit, tatapannya menantang.

“Mau tahu?” bisiknya lembut. “Kalau begitu, kau harus mencobanya sendiri.”

Ketegangan di udara berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan, campuran persaingan, provokasi, dan permainan kekuasaan yang berbahaya.

Di samping mobil, wajah Keira memucat. Tatapannya dingin, tetapi emosi yang bergejolak di baliknya jelas terasa.

Klakson dari kendaraan di belakang terus berbunyi, memecah suasana yang semakin panas.

Arka merasakan tubuh di dekatnya sengaja tidak menjauh. Di balik ketenangannya, detak jantungnya sedikit berubah. Senyum samar masih tertinggal di sudut bibirnya.

Provokasi Mireya yang terang-terangan, ditambah respons Arka yang santai dan nyaris bermain-main, menjadi percikan yang akhirnya menyulut emosi Keira. Dalam pandangannya, keduanya seolah melupakan keberadaannya. Orang yang memegang kendali, orang yang membayar, orang yang seharusnya berada di pusat situasi itu.

Rasa tersinggung dan kehilangan kendali mengalahkan logika. “Arka!” suara Keira tajam, tanpa sadar bergetar. “Lepaskan dia, kita pergi sekarang!”

Ia bahkan tidak lagi menanggapi Mireya. Pintu mobil dibanting keras saat ia masuk kembali ke kursi belakang, menutup dirinya dari pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak.

Senyum samar di wajah Arka langsung menghilang. Ekspresinya kembali tenang, seolah semua yang barusan terjadi hanyalah gangguan kecil. Ia melepaskan Mireya tanpa ragu.

Kehangatan yang tadi terasa mendadak menghilang, meninggalkan kekosongan aneh di hati Mireya. Namun ia tetap mempertahankan senyum percaya dirinya, meski sorot matanya berubah tipis, pria ini terlalu cepat menarik diri. Kendali emosinya membuatnya sulit ditebak.

Arka menutup jendela tanpa menoleh lagi. Dengan gerakan presisi, ia memutar setir dan membawa mobil itu masuk ke area parkir melalui sudut sempit, nyaris menyentuh bagian depan BMW yang menghalangi jalan. Mobil meluncur masuk, meninggalkan Mireya berdiri di tengah suara klakson yang bersahutan.

***

Sepanjang perjalanan menuju kantor, tak ada satu pun kata terucap.

Udara di dalam mobil terasa berat. Keira bersandar dengan mata terpejam, bibirnya terkatup rapat, menahan emosi yang masih bergejolak.

Lift pribadi membawa mereka langsung ke lantai teratas Grup Arta Vistara. Begitu pintu kantor tertutup, suara benturan keras menggema.

Keira berbalik tajam. “Arka Mahendra,” ucapnya dingin, setiap kata ditekan jelas. “Ingat posisimu, kau adalah pengawal yang kupekerjakan. Kita punya kontrak dan kau adalah orangku!”

Ia melangkah mendekat, auranya menekan meski tubuhnya lebih kecil. “Tugasmu melindungiku dan menjalankan perintahku. Bukan bermain-main dengan wanita lain, apalagi wanita seperti Mireya. Jika aku melihat hal seperti itu lagi, aku tidak akan ragu mengakhiri kontrak lebih awal. Dan kau akan membayar konsekuensinya.”

Kata-katanya tajam seperti es.

Arka mendengarkan tanpa menyela. Setelah Keira selesai, ia baru menjawab, suaranya tenang. “Nona Adhistya, jika saya benar-benar pergi bersamanya, menurut Anda apakah dia tidak akan membayar denda kontrak itu?”

Keira terdiam sesaat.

Tatapan Arka tetap lurus, gelap dan dalam. “Saya memang pengawal Anda. Tapi saya bukan pengganti siapa pun, dan bukan mesin. Saya harap Anda mengingat itu.”

Ia berhenti sejenak, suaranya tetap datar. “Dan saya juga tidak ingin kejadian semalam terulang lagi.”

Tanpa menunggu jawaban, Arka berbalik dan berjalan keluar. Sebelum pintu tertutup, ia menambahkan singkat, “Hubungi saya jika dibutuhkan.”

Keira berdiri terpaku di tengah ruangan. Ia tidak menyangka Arka akan membalas dengan sikap setegas itu. Ia merasa kehilangan kendali atas situasi. Tanpa sadar, bayangan Arka yang menarik Mireya dengan gerakan cepat tadi kembali muncul di benaknya. Agresif, percaya diri, dan sepenuhnya berbeda dari sikap dingin yang biasa ia tunjukkan.

Perasaan tidak nyaman itu tetap tertinggal.

***

Di kantor wakil presiden Grup Arta Vistara, Ravian Adhistya menatap layar ponselnya. Foto dan video dari kejadian di area parkir diputar berulang kali.

Senyum tipis muncul di wajahnya. “Arka Mahendra…” gumamnya pelan. “Adikku benar-benar menemukan orang yang menarik.”

Ia mengaduk anggur merah di gelasnya, mata menyipit. “Semakin menonjol seseorang, semakin cepat ia menjadi masalah.”

Ia mengangkat telepon internal. “Siapkan beberapa orang untuk mengujinya secara bersih. Aku ingin tahu seberapa jauh kemampuannya, dan sekalian mengingatkannya bahwa tidak semua tempat di keluarga Adhistya mudah dimasuki.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 345

    "Ini Zona Bayangan."Adhyaksa perlahan berdiri lalu menatap Arka, tidak ada air mata di wajahnya. Yang tersisa hanyalah ketenangan yang nyaris mati rasa, tetapi jauh di dalam matanya masih menyala bara yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama."Di tempat seperti ini, orang mati setiap hari. Kemarin giliran orang lain, hari ini adikku, dan besok mungkin aku atau bahkan kamu."Pandangannya kemudian beralih ke para anggota Keluarga Mahesa yang masih tersisa di dalam aula utama. Jumlah mereka bahkan tidak mencapai lima belas orang. Sebagian besar dipenuhi luka, sementara sorot mata mereka memuat campuran kesedihan, ketakutan, kelelahan, dan kebingungan karena berhasil lolos dari bencana yang hampir memusnahkan mereka.Namun beberapa detik kemudian, suara Adhyaksa tiba-tiba mengeras. "Tapi kita masih hidup."Kalimat itu tidak diucapkan keras, tetapi seluruh aula seketika terdiam."Selama kita masih hidup, kita harus terus bergerak maju. Kita harus menyelesaikan apa yang belum sel

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 344

    Arka perlahan mengangkat tubuhnya dari atas Vanessa. Debu dan pecahan kecil yang menempel di punggungnya berjatuhan ketika ia bergerak. Ia segera menunduk memeriksa wanita dalam pelukannya.Mata Vanessa masih terpejam, tetapi napasnya tetap stabil. Selain tubuhnya yang sedikit gemetar akibat gelombang ledakan, tidak terlihat luka serius pada dirinya."Kamu tidak apa-apa?" tanya Arka dengan suara serak.Vanessa membuka mata perlahan. Sorot matanya yang masih basah oleh air mata tampak berkilau di tengah kabut asap. Ia hanya menggeleng tanpa berkata apa-apa, lalu memeluk pinggang Arka lebih erat hingga buku-buku jarinya memucat.Arka dapat merasakan tubuh wanita itu masih bergetar. Ia tahu itu bukan luka fisik, melainkan reaksi setelah berhasil lolos dari kematian yang nyaris terjadi di depan mata. Setelah terdiam sesaat, ia akhirnya mengangkat tangan dan menepuk punggung Vanessa dengan lembut."Semuanya sudah lewat," ucapnya pelan. "Setidaknya untuk saat ini, aku masih baik-baik saja."

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 343

    Vanessa menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan nada yang bercampur antara kesal, lega, dan takut. "Kalau kali ini kamu berani mendorongku lagi..."Kalimatnya terhenti di tengah jalan.Meski matanya masih dipenuhi air mata, sorot ancaman yang khas darinya perlahan muncul kembali. "Aku akan menangis seharian di depanmu."Arka terdiam beberapa saat. Ia memandangi wajah Vanessa yang dipenuhi noda, air mata, dan kelelahan setelah melewati malam yang nyaris merenggut segalanya. Ketakutan yang selama ini disembunyikan gadis itu masih terlihat jelas di matanya, membuat Arka akhirnya hanya bisa menghembuskan napas pelan.Tangan kanannya yang tidak terluka perlahan terangkat. Dengan gerakan yang sedikit canggung namun sangat hati-hati, ia mengusap air mata yang mengalir di pipi Vanessa."Ini kotor." Arka melirik noda darah dan jelaga yang menempel di tangannya sebelum berbicara pelan."Kamu jauh lebih kotor." Vanessa langsung membalas tanpa ragu, lalu kembali menyandarkan wajahnya

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 342

    Refleks para penyerang langsung bekerja.Begitu mendengar peringatan itu, mereka serempak berpencar untuk menghindari ledakan. Namun justru itulah yang diinginkan Arka.BLAAR! BLAAAR!Kedua granat meledak saat masih berada di udara.Ledakan udara menghasilkan jangkauan serpihan yang jauh lebih mematikan dibanding ledakan di tanah. Pecahan logam menyapu area luas di depan aula utama hingga membuat tujuh atau delapan orang langsung tumbang, sementara sisanya mengalami luka dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.Di dalam aula utama, Adhyaksa langsung mengenali suara tersebut. Mata yang sebelumnya dipenuhi keputusasaan kembali memancarkan harapan.Sementara itu, Arka sudah melesat keluar dari perlindungan bahkan sebelum ledakan benar-benar mereda. Taring Baja segera menyusul dari belakang.Dor-Dor-Dor!Senapan mesin yang kembali terisi penuh memuntahkan hujan peluru tanpa henti, menekan para musuh yang berhasil selamat dari ledakan agar tidak sempat mengangkat kepala. Keduanya berger

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 341

    Di posisi terdepan berdiri Arka dengan senjata Vektor-21 di tangannya yang masih mengeluarkan asap tipis dari laras. Jelas dialah yang melempar granat tadi setelah mengambilnya dari salah satu anggota Klan Bulan Hitam yang tewas. Wajahnya terlihat lelah akibat perjalanan panjang dan pertempuran tanpa henti, tetapi sorot matanya tetap setajam bilah pisau yang baru diasah.Di sebelah kiri Arka, Taring Baja sudah berlutut dengan senapan mesin ringan mengarah ke seluruh area halaman. Di sebelah kanan, Arga berdiri dalam posisi tembak sempurna sambil mengunci target satu demi satu.Sementara itu, Kaivan berada sedikit di belakang mereka. Tangannya bergerak cepat mengganti magazen hingga nyaris hanya menyisakan bayangan. Mereka akhirnya tiba, dan kedatangan mereka terasa seperti hukuman mati yang turun dari langit."Serangan musuh!"Bagas meraung sambil berguling mencari perlindungan.Sayangnya, sebagian besar pasukan gabungan sudah kehilangan kemampuan bertarung. Granat tadi telah menewask

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 340

    Beberapa saat kemudian, Bagas menarik napas panjang dan sengaja memecah suasana yang menekan itu. "Baiklah, sekarang bukan saatnya membahas masalah ini."Ia menoleh ke arah pria berjubah hitam dengan sikap yang tampak sopan, meski nada suaranya menyiratkan desakan yang tidak bisa diabaikan."Prioritas kita saat ini adalah memusnahkan Keluarga Mahesa sampai tuntas. Selama mereka masih ada, stabilitas wilayah di Zona Selatan tidak akan pernah benar-benar terwujud."Kata-kata terakhirnya diucapkan dengan penekanan khusus, seolah menyembunyikan maksud lain di balik istilah stabilitas tersebut.Pria berjubah hitam itu perlahan mengalihkan pandangan ke arah aula utama yang masih bertahan di tengah kepungan."Memang sudah waktunya menyelesaikan masalah itu." Ia mengangkat tangan dan membuat isyarat sederhana. "Selesaikan secepatnya!"Perintah itu singkat, tetapi efeknya langsung terasa.Mata Bagas langsung berbinar. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu berteriak kepada seluruh pasukan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 30

    Menara Altura.Kesadaran Keira perlahan kembali. Rasa sakit menusuk di bagian belakang lehernya, ia mengerang pelan. Udara di sekitarnya lembap dan berbau debu semen. Bau karat dan kayu lapuk memenuhi hidungnya.Matanya terbuka perlahan. Pandangan pertama yang ia lihat adalah rangka jendela beton t

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 28

    “Sekarang…” Arka berdiri di depannya, tatapan matanya dingin. “Siapa yang tidak bisa keluar hidup-hidup?”Tubuh Bima gemetar, tidak ada lagi kesombongan yang tersisa di wajahnya.Tiba-tiba—KRING~Ponsel Arka berdering, ia melirik layar.Nomor terenkripsi.[Taring Bayangan.]Arka sedikit mengernyit

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 27

    Melihat itu, Bima meraung. “Habisi mereka!”Puluhan preman langsung menyerbu. Parang berkilat terjadi di bawah lampu arena. Tongkat besi terangkat tinggi.Namun detik berikutnya, Arka dan Garuda Hitam sudah bergerak.BUGH!Seorang preman yang paling depan bahkan belum sempat mengayunkan parang keti

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 25

    Sudut bibir Arka bergerak hampir tak terlihat.Namun sebelum ia menjawab, suara wanita terdengar dari samping. “Jelas salah.”Mireya muncul tanpa suara. Hari ini ia mengenakan pakaian kulit hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Ia berdiri di sisi Arka dengan santai.Lalu tersenyum pada Garu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status