로그인“Mengemudi mobil untuk menjaga orang sedingin itu pasti melelahkan dan membosankan. Pernah berpikir untuk pindah kerja? Bersamaku, hidupmu tidak akan membosankan.”
Arka tetap diam.
Begitu kendaraan di depan bergerak, ia langsung melaju tanpa memberi respons. Namun BMW itu kembali menyusul, mengikuti hingga memasuki area parkir bawah tanah Grup Arta Vistara. Tepat sebelum mereka masuk, BMW itu berputar dengan manuver halus dan berhenti melintang di depan pintu masuk untuk menghalangi jalan.
TOT! TOT! TOT!
Beberapa suara klakson langsung terdengar dari belakang.
Pintu mobil terbuka, Mireya turun dengan langkah santai, sepatu haknya bergema di lantai beton. Ia berjalan langsung ke sisi pengemudi dan mengetuk jendela.
Arka menurunkannya perlahan.
Mireya sedikit menunduk, aroma parfumnya yang hangat masuk ke dalam mobil. Senyumnya percaya diri. “Tampan,” katanya pelan, cukup jelas untuk didengar Keira. “Ikut denganku. Denda pelanggaran kontrak bukan masalah. Lagi pula, aku jauh lebih menyenangkan dibandingkan gunung es di belakangmu.”
Udara di dalam mobil langsung membeku.
Pintu belakang terbuka keras.
Keira turun, tatapannya tajam seperti pisau. “Mireya Pradana,” ucapnya dingin. “Merekrut orang tepat di depan mobilku? Apa Grup Pradana sudah kehabisan cara sampai harus turun tangan sendiri?”
Mireya tidak marah, ia hanya menyibakkan rambutnya dengan santai, seolah komentar itu tidak berarti apa-apa. “Aku hanya tertarik pada sesuatu yang bagus,” katanya ringan, matanya tetap pada Arka. “Bukankah wajar memperjuangkan apa yang kita inginkan?”
Keheningan menegang di antara mereka.
Setelah menahan semuanya dari tadi, akhirnya Arka bergerak. Ia menoleh dan menatap Mireya secara langsung. Senyum tipis muncul di wajahnya, berbeda dari sikap dingin biasanya, lebih liar, lebih santai, seperti seseorang yang akhirnya memutuskan ikut bermain.
Gerakannya cepat.
Tangannya meraih pinggang Mireya dan menariknya sedikit mendekat melalui jendela mobil. Jarak mereka seketika menyempit, napas hampir bersentuhan.
Mireya terkejut sesaat, tatapan Arka dalam dan tenang, suaranya rendah. “Oh?” katanya pelan. “Kalau begitu, jelaskan padaku. Bagaimana caramu membuat hidup lebih menarik?”
Untuk sesaat, Mireya kehilangan ritmenya. Sentuhan itu tegas, tidak ragu, berbeda dari pria-pria yang biasa ia kendalikan. Detak jantungnya melonjak tanpa ia sadari. Namun hanya sesaat.
Senyum di wajahnya kembali muncul, lebih tajam dari sebelumnya. Alih-alih mundur, ia justru mendekat sedikit, tatapannya menantang.
“Mau tahu?” bisiknya lembut. “Kalau begitu, kau harus mencobanya sendiri.”
Ketegangan di udara berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan, campuran persaingan, provokasi, dan permainan kekuasaan yang berbahaya.
Di samping mobil, wajah Keira memucat. Tatapannya dingin, tetapi emosi yang bergejolak di baliknya jelas terasa.
Klakson dari kendaraan di belakang terus berbunyi, memecah suasana yang semakin panas.
Arka merasakan tubuh di dekatnya sengaja tidak menjauh. Di balik ketenangannya, detak jantungnya sedikit berubah. Senyum samar masih tertinggal di sudut bibirnya.
Provokasi Mireya yang terang-terangan, ditambah respons Arka yang santai dan nyaris bermain-main, menjadi percikan yang akhirnya menyulut emosi Keira. Dalam pandangannya, keduanya seolah melupakan keberadaannya. Orang yang memegang kendali, orang yang membayar, orang yang seharusnya berada di pusat situasi itu.
Rasa tersinggung dan kehilangan kendali mengalahkan logika. “Arka!” suara Keira tajam, tanpa sadar bergetar. “Lepaskan dia, kita pergi sekarang!”
Ia bahkan tidak lagi menanggapi Mireya. Pintu mobil dibanting keras saat ia masuk kembali ke kursi belakang, menutup dirinya dari pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak.
Senyum samar di wajah Arka langsung menghilang. Ekspresinya kembali tenang, seolah semua yang barusan terjadi hanyalah gangguan kecil. Ia melepaskan Mireya tanpa ragu.
Kehangatan yang tadi terasa mendadak menghilang, meninggalkan kekosongan aneh di hati Mireya. Namun ia tetap mempertahankan senyum percaya dirinya, meski sorot matanya berubah tipis, pria ini terlalu cepat menarik diri. Kendali emosinya membuatnya sulit ditebak.
Arka menutup jendela tanpa menoleh lagi. Dengan gerakan presisi, ia memutar setir dan membawa mobil itu masuk ke area parkir melalui sudut sempit, nyaris menyentuh bagian depan BMW yang menghalangi jalan. Mobil meluncur masuk, meninggalkan Mireya berdiri di tengah suara klakson yang bersahutan.
***
Sepanjang perjalanan menuju kantor, tak ada satu pun kata terucap.
Udara di dalam mobil terasa berat. Keira bersandar dengan mata terpejam, bibirnya terkatup rapat, menahan emosi yang masih bergejolak.
Lift pribadi membawa mereka langsung ke lantai teratas Grup Arta Vistara. Begitu pintu kantor tertutup, suara benturan keras menggema.
Keira berbalik tajam. “Arka Mahendra,” ucapnya dingin, setiap kata ditekan jelas. “Ingat posisimu, kau adalah pengawal yang kupekerjakan. Kita punya kontrak dan kau adalah orangku!”
Ia melangkah mendekat, auranya menekan meski tubuhnya lebih kecil. “Tugasmu melindungiku dan menjalankan perintahku. Bukan bermain-main dengan wanita lain, apalagi wanita seperti Mireya. Jika aku melihat hal seperti itu lagi, aku tidak akan ragu mengakhiri kontrak lebih awal. Dan kau akan membayar konsekuensinya.”
Kata-katanya tajam seperti es.
Arka mendengarkan tanpa menyela. Setelah Keira selesai, ia baru menjawab, suaranya tenang. “Nona Adhistya, jika saya benar-benar pergi bersamanya, menurut Anda apakah dia tidak akan membayar denda kontrak itu?”
Keira terdiam sesaat.
Tatapan Arka tetap lurus, gelap dan dalam. “Saya memang pengawal Anda. Tapi saya bukan pengganti siapa pun, dan bukan mesin. Saya harap Anda mengingat itu.”
Ia berhenti sejenak, suaranya tetap datar. “Dan saya juga tidak ingin kejadian semalam terulang lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Arka berbalik dan berjalan keluar. Sebelum pintu tertutup, ia menambahkan singkat, “Hubungi saya jika dibutuhkan.”
Keira berdiri terpaku di tengah ruangan. Ia tidak menyangka Arka akan membalas dengan sikap setegas itu. Ia merasa kehilangan kendali atas situasi. Tanpa sadar, bayangan Arka yang menarik Mireya dengan gerakan cepat tadi kembali muncul di benaknya. Agresif, percaya diri, dan sepenuhnya berbeda dari sikap dingin yang biasa ia tunjukkan.
Perasaan tidak nyaman itu tetap tertinggal.
***
Di kantor wakil presiden Grup Arta Vistara, Ravian Adhistya menatap layar ponselnya. Foto dan video dari kejadian di area parkir diputar berulang kali.
Senyum tipis muncul di wajahnya. “Arka Mahendra…” gumamnya pelan. “Adikku benar-benar menemukan orang yang menarik.”
Ia mengaduk anggur merah di gelasnya, mata menyipit. “Semakin menonjol seseorang, semakin cepat ia menjadi masalah.”
Ia mengangkat telepon internal. “Siapkan beberapa orang untuk mengujinya secara bersih. Aku ingin tahu seberapa jauh kemampuannya, dan sekalian mengingatkannya bahwa tidak semua tempat di keluarga Adhistya mudah dimasuki.”
Keberadaan Siluman Garuda akhirnya mulai terungkap. Meski masih diselimuti banyak misteri, setidaknya kini ada kepastian bahwa wanita itu pernah muncul dan sempat jatuh ke tangan sebuah kekuatan gelap yang sangat kuat. Dan pemimpin Sindikat Noctis, sosok yang dikenal sebagai pemimpin Sindikat Noctis, jelas merupakan salah satu tokoh kunci dalam kejadian tersebut.Lalu, di mana pemimpin Sindikat Noctis itu sekarang?Terlebih lagi, melihat kemampuan Siluman Garuda, sulit dipercaya wanita itu bisa ditangkap tanpa perlawanan berarti.Seberapa kuat lawan yang mampu mengalahkannya dalam satu gerakan?Semua pertanyaan itu terus berputar di benak Arka. Tekanan yang tiba-tiba membesar membuatnya menghembuskan napas perlahan."Musang, panggil Arga dan Garuda Hitam. Setelah itu, kita bertemu di ruang konferensi." Arka Mahendra mempercepat langkahnya. "Kita akan menemui penguasa baru Keluarga Wijaksana."Udara di Zona Bayangan masih sarat bau mesiu dan ketegangan, tetapi jauh di dalam benteng Kel
Nocthar tampak kebingungan. Justru kondisi wanita itulah yang menurutnya paling aneh dari seluruh kejadian tersebut. "Dia... terlihat baik-baik saja. Setidaknya selama aku melihatnya sampai membawanya ke markas dan menahannya di sana, tidak ada luka yang terlihat jelas di tubuhnya. Tidak ada bekas pemukulan atau penyiksaan. Pakaiannya memang kotor dan sedikit berantakan, tetapi masih utuh."Nocthar berhenti sebentar untuk memperhatikan wajah Arka sebelum kembali melanjutkan. "Selain itu, Bos... Sindikat Noctis memberikan perintah yang sangat tegas. Tak seorang pun dari kami boleh menyentuh wanita itu, bahkan sehelai rambutnya sekalipun. Kami juga dilarang menghinanya dengan ucapan apa pun. Katanya... siapa pun yang berani menyentuhnya dan melanggar aturan itu akan mati. Waktu itu kami semua merasa aneh. Sindikat Noctis sudah lama merajalela di Zona Selatan, kapan kami pernah takut kepada siapa pun? Tapi tak ada seorang pun yang berani menentang perintah Bos."Tak boleh menyentuhnya? B
Udara di dalam sel yang remang-remang terasa dingin dan lembap. Bau darah yang samar bercampur dengan aroma disinfektan memenuhi ruangan, sebuah lampu tunggal yang menggantung dari langit-langit menerangi kursi besi yang tertanam kuat di lantai.Di sanalah Nocthar duduk terikat, tubuhnya dibalut perban, wajahnya pucat, dan sorot matanya kosong. Sosok itu sudah jauh berbeda dari keganasan dan kesombongan yang dulu melekat pada seorang anggota Sindikat Noctis.Berhari-hari menderita karena luka dan siksaan telah menghancurkan pertahanan mental Nocthar. Terlebih lagi, ia masih dihantui adegan ketika Arka mengeksekusi Uryu dengan kejam hingga kepalanya hancur berkeping-keping.Begitu Arka memasuki ruangan, tubuh Nocthar langsung gemetar hebat seperti daun yang diterpa angin dingin. Tatapannya dipenuhi ketakutan, pikirannya kembali pada tanah berlumuran darah di luar gua, seolah-olah ia masih bisa melihat genangan merah dan putih yang mengerikan di hadapannya.Itulah otak dan serpihan teng
Gerakannya begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Belati pendek berwarna hitam tiba-tiba muncul di tangannya dan langsung melesat menuju tenggorokan Bramantyo."Kau—!"Bramantyo hanya sempat mengeluarkan suara pendek sebelum bilah itu menembus lehernya. Rasa sakit dan sesak langsung menyergap, tetapi tangan Dipta yang lain telah mencengkram bahunya dan menahannya kuat di kursi. Darah mengalir deras membasahi meja, lantai, dan pakaian Dipta.Mata Bramantyo membelalak. Ia tidak pernah membayangkan kematiannya akan datang dari orang yang selama puluhan tahun dianggapnya sebagai saudara sendiri.Dipta tetap tenang, ia hanya memperhatikan tatapan Bramantyo yang perlahan kehilangan cahaya hingga tubuhnya benar-benar lemas.Setelah memastikan targetnya tewas, Dipta melepaskan cengkramannya. Ia menyeka darah dari belati dan wajahnya menggunakan kain putih, lalu menyentuh alat komunikasi kecil yang tersembunyi di balik kerah."Target pertama telah dieliminasi."Kalimat itu menjadi tanda dimu
Adelina masih berdiri diam dengan alat komunikasi di tangannya. Cahaya lampu ruang komando menerangi wajahnya yang pucat, memperlihatkan kelelahan, kecemasan, dan ketakutan yang belum sepenuhnya menghilang.Beberapa saat kemudian, ia menurunkan alat komunikasi itu dan menghembuskan napas panjang. "Sampaikan perintahku."Adelina berbalik menghadap para perwira staf. "Seluruh pasukan, personel logistik, dan staf administrasi yang telah memasuki bekas wilayah Keluarga Montara harus ditarik kembali ke garis kendali semula dalam waktu tiga hari. Jangan menunda dan jangan membawa peralatan berat maupun persediaan yang tidak bisa dipindahkan dengan cepat."Tatapannya mengeras. "Utamakan keselamatan personel. Siapa pun yang berani melanggar akan dikenai hukum militer."Perintah itu seketika memicu kegaduhan di pusat komando. Namun, begitu melihat wajah Adelina yang serius dan pucat, tak seorang pun berani mempertanyakan keputusan tersebut.Adelina tidak memberikan penjelasan apa pun. Ia hanya
"Oh? Berita apa?" Nada Arka terdengar sedikit tertarik, tetapi tetap tenang.Adelina menggenggam alat komunikasinya lebih erat. "Wiranata telah meninggal."Ia sengaja mengucapkannya perlahan sambil memasang seluruh perhatiannya pada suara di seberang. Ia ingin menangkap sekecil apa pun perubahan dari lawan bicaranya, entah jeda napas, perubahan intonasi, atau keterkejutan.Hening selama dua detik.Kemudian suara Arka terdengar kembali. "Aku tahu."Ucaoan sederhana itu membuat dada Adelina terasa sesak.Arka tidak terkejut, tidak bertanya bagaimana ia bisa mati. Bahkan tidak berusaha menyembunyikan bahwa dirinya sudah mengetahui kabar tersebut.Bagaimana mungkin?Bahkan Keluarga Mahardika yang memiliki jaringan informasi kuat baru saja menerima berita itu, sementara Arka sudah mengetahuinya lebih dahulu.Tenggorokan Adelina terasa kering. Ia menahan debar jantungnya sebelum mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya."Tuan Arka... Anda tahu siapa pelakunya?" Ia menahan
Lorenzo akhirnya membuka suara. “Ceritakan semuanya.”Nada bicaranya pelan dan tenang, namun setiap kata terasa seperti es tajam yang menghantam lantai. “Apa yang sebenarnya terjadi di Bar Mahkota? Bagaimana putraku bisa mati?”Tok. Tok. Tok.Jemarinya mengetuk-ngetuk ringan sandaran kursi.“Jelask
Arka muncul di ambang pintu dengan ekspresi setenang biasanya. Hanya ada sedikit garis lelah samar di wajahnya setelah seluruh kekacauan malam tadi, tetapi itu sama sekali tidak mengurangi tekanan dingin yang masih melekat di tubuhnya.Namun perhatian semua orang langsung tertuju pada sosok wanita
Tepat setelah kalimat itu selesai—KLANG!Suara benturan logam terdengar samar dari arah menara air, diikuti erangan pendek yang langsung terputus. Senyum dingin langsung muncul di wajah Levino. Baginya, hasil pertarungan itu sudah jelas.Maganta tidak pernah gagal. Dan sekarang, penembak jitu mist
Pasukan elit Keluarga Montara yang dibawanya masih bersiaga di sekitar area gelap jalanan, tinggal menunggu perintah untuk bergerak.Namun Levino tidak langsung menjawab, jari-jarinya mengetuk pelan lututnya. Tatapannya tetap mengarah ke menara di kejauhan.Awalnya semuanya berjalan sesuai rencana.







