تسجيل الدخولRasa panas di pipinya masih tertinggal ketika Arka Mahendra tanpa sadar mempererat cengkeramannya pada pergelangan tangan Keira Adhistya. Tatapannya yang sebelumnya dipenuhi emosi rumit kini berubah dingin dan tajam. Ia bukan orang yang asing dengan rasa sakit, tetapi tamparan yang lahir dari kesalahpahaman itu terasa berbeda. Lebih seperti penghinaan terhadap harga dirinya daripada serangan fisik.
Teriakan Keira memecah keheningan ruang tamu. Rasa sakit di pergelangan tangannya, ditambah aura dingin yang memancar dari Arka, perlahan menyadarkannya dari kabut alkohol. Pandangannya yang semula kabur mulai jelas.
Pria di hadapannya bukan Reza Dirgantara. Tatapan itu terlalu dingin, ttajam dan tidak ada kelembutan yang ia ingat. Reza yang dikenalnya tidak pernah menatapnya seperti pemburu yang siap menerkam, apalagi membuatnya merasakan tekanan hingga hampir menyakitkan.
Kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa malu dan panik yang menusuk.
“Lepaskan aku!” Keira meronta, suaranya bergetar antara marah dan kehilangan kendali. “Arka! Aku sudah bilang pergi! Apa kau tidak dengar?!”
Arka menatapnya beberapa detik sebelum perlahan melepaskan tangannya. Gerakannya terkendali, seolah menahan sesuatu yang lebih besar di dalam dirinya. Keira segera mundur, berpegangan pada sandaran sofa, menjaga jarak seperti hewan kecil yang terpojok.
“Nona Adhistya,” kata Arka pelan. Suaranya tenang, tetapi datar. “Anda yang memanggil saya, dan Anda yang menyerang lebih dulu.”
Tidak ada nada menyalahkan, hanya pernyataan fakta. Justru itu yang membuat Keira semakin merasa dipermalukan.
Pandangan Keira jatuh pada botol minuman yang setengah kosong dan foto-foto lama di meja. Ingatan tentang apa yang baru saja terjadi kembali dengan jelas, ia menangis di pelukan pengawalnya sendiri, memanggil nama orang lain, lalu menamparnya.
Rasa malu itu hampir membuatnya sesak napas.
“Keluar!” Keira menunjuk ke arah pintu, napasnya naik turun tajam. Wajahnya kembali dingin, seperti topeng yang dipasang tergesa. “Sekarang juga! Jangan masuk ke rumah ini lagi tanpa izinku.”
Arka menatapnya lama. Tatapannya seolah menembus ketenangan yang dipaksakan itu, melihat kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan. Namun ia tidak mengatakan apa pun.
“Baik.”
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu, langkahnya mantap dan tanpa ragu. Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan pelan. Ia tidak pernah menoleh.
Keheningan yang tersisa terasa berat.
Begitu sendirian, kaki Keira kehilangan tenaga. Ia jatuh terduduk di lantai, dikelilingi ruangan yang berantakan. Air mata kembali mengalir, tetapi kali ini bukan karena masa lalu. Ada kemarahan pada dirinya sendiri, rasa lelah yang tak tertahankan, dan secercah penyesalan yang tidak ingin ia akui. Terutama ketika mengingat tatapan dingin Arka sebelum pergi.
Di apartemen sebelah, Arka berdiri di depan wastafel kamar mandi. Air dingin mengalir di wajahnya, menenangkan panas yang masih tersisa. Ia menatap bayangan dirinya di cermin, memperhatikan bekas merah samar di pipinya.
Pengganti.
Kata itu terasa pahit di benaknya.
Seorang mantan anggota Satuan Taring Garuda, orang yang pernah berdiri di garis depan Zona Bayangan, kini dipilih karena wajahnya menyerupai pria lain. Harga dirinya terasa terusik, tetapi kenyataan tetap tidak berubah. Biaya perawatan dan rehabilitasi kakeknya masih panjang, dan kontrak sudah berjalan.
Ia menutup mata, menarik napas panjang.
Ketika membukanya kembali, ekspresinya sudah kembali tenang. Emosi adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki sekarang. Tugasnya sederhana, menjalankan kontrak, melindungi majikannya, dan memastikan kakeknya sembuh.
Selebihnya bukan urusannya, namun dunia jarang membiarkan seseorang hidup dengan tenang.
***
Keesokan paginya, Arka bangun tepat waktu.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Suara Keira di ujung telepon kembali dingin dan profesional, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
“Tunggu di garasi tiga puluh menit lagi, kita berangkat ke kantor.”
“Baik.”
Panggilan berakhir tanpa basa-basi.
Arka mengenakan setelan hitam yang telah disiapkan untuknya dan turun tepat waktu ke parkiran bawah tanah. Ketika Keira datang, ia membukakan pintu mobil tanpa berkata apa pun. Ia bisa merasakan jarak yang sengaja diciptakan wanita itu, lebih dingin dari sebelumnya.
Mobil itu melaju keluar dari kawasan perumahan dan masuk ke arus lalu lintas pagi Kota Mahatara. Seperti biasa, mata Arka terus mengamati sekitar. Kebiasaan lama yang tidak pernah hilang.
Saat berhenti di lampu merah, pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan sebuah mobil BMW yang berhenti di sisi belakang mereka.
Di kursi pengemudi, seorang wanita bergaun merah menopang dagunya dengan santai, menatap lurus ke arah mobil mereka. Senyumnya tipis, penuh rasa ingin tahu.
Mireya Pradana.
Tatapan mereka bertemu sejenak. Wanita itu tidak mengalihkan pandangan. Ia justru tersenyum lebih dalam dan menggerakkan bibirnya tanpa suara.
Pupil Arka menyempit, ia memahami kalimat itu dengan jelas.
[Aku sudah menemukanmu.]
Tiga kata tanpa suara itu meluncur melewati kaca mobil dan hiruk pikuk lalu lintas pagi.
Arka mengalihkan pandangannya tanpa ekspresi, seolah tidak melihat apa pun. Fokusnya kembali pada lampu lalu lintas di depan. Bagi seseorang yang pernah bertahan hidup di Zona Bayangan, rayuan semacam itu tidak lebih dari gangguan kecil. Ia tidak tertarik bermain dalam permainan yang jelas-jelas mengundang masalah.
Di kursi belakang, Keira menangkap perubahan halus itu. Sejak kejadian memalukan semalam, perasaannya menjadi jauh lebih sensitif. BMW yang terus mengikuti mereka, serta tatapan Mireya yang terlalu jelas tertuju pada kursi pengemudi, tidak mungkin luput dari perhatiannya.
Alis Keira sedikit berkerut. ‘Wanita itu lagi.’
Sejak masa kuliah, mereka sudah bersaing dalam segala hal. Prestasi, bisnis, bahkan pengaruh. Tidak berlebihan jika menyebut hubungan mereka sebagai permusuhan yang tak pernah benar-benar padam.
Lampu berubah hijau, Arka menjalankan mobil dengan halus. Namun BMW itu tetap mengikuti dari belakang, menjaga jarak beberapa mobil seperti bayangan yang enggan hilang.
Wajah Keira mengeras, ia mengirim pesan singkat melalui ponselnya, memerintahkan seseorang untuk menyelidiki pergerakan Mireya hari ini.
Perjalanan berikutnya berlangsung dalam keheningan yang tegang. Arka tetap fokus mengemudi, tetapi suhu dingin dari kursi belakang terasa hampir nyata. Saat berhenti di persimpangan berikutnya, ia melirik kaca spion. Keira menatap lurus ke depan dengan wajah tanpa ekspresi, sementara kilatan mobil BMW itu masih terlihat di belakang.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. ‘Menarik…’
Di jalan yang lebih padat, BMW itu akhirnya sejajar dengan mobil mereka. Jendela mobil diturunkan, dan Mireya menyandarkan lengannya dengan santai. Gaun merahnya menyala di bawah sinar matahari, menarik perhatian kendaraan di sekitarnya.
Ia sama sekali mengabaikan Keira. “Hei,” panggilnya ringan, senyumnya tajam. “Pengawal tampan di depan.”
Arka tidak menoleh.
Keira berbicara lebih dulu, suaranya dingin seperti es. “Nona Mireya, membuat keributan di jalan bukan kebiasaan yang baik.”
Mireya berpura-pura terkejut. “Oh? Nona Keira juga di sini?” Ia tersenyum tipis. “Maaf, saya terlalu fokus melihat sesuatu yang menarik.”
Arka tetap memeluk Serena yang perlahan mendingin tanpa bergerak sedikit pun. Hanya kedua tangannya yang terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menunjukkan betapa besar rasa sakit dan amarah yang sedang bergejolak di dalam dirinya.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Setelah itu, Arka perlahan membaringkan tubuh Serena di tanah, melepas mantelnya, lalu menutupi tubuh wanita itu dengan hati-hati hingga wajah pucat dan luka berdarah di dadanya tak lagi terlihat.Kemudian Arka berdiri, gerakannya begitu tenang hingga justru terasa mengerikan. Tidak ada ledakan emosi di wajahnya, hanya ketenangan pekat yang menyimpan amarah seperti gunung berapi yang siap memuntahkan kehancuran.Ia berbalik dan mengarahkan pandangan kepada Uryu dan Nocthar yang tergeletak tak jauh darinya. Tatapan Arka kini terasa seperti dua bilah pedang yang baru ditempa, dingin, tajam, dan tanpa sedikit pun belas kasihan.Aura yang memancar dari tubuhnya telah berubah sepenuhnya. I
"Serena! Aku di sini…"Suara Arka terdengar serak. Tangannya terulur hendak menyentuh Serena, tetapi berhenti di udara karena takut sentuhan sekecil apa pun justru memperparah lukanya. Jari-jarinya gemetar saat ia menatap wanita itu yang semakin kehilangan warna di wajahnya.Serena berusaha tersenyum. Sudut bibirnya bergerak sedikit, tetapi yang keluar justru darah dan busa tipis. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia bertanya, "Arka... aku terlihat jelek sekarang?"Arka langsung menggeleng, matanya memerah. "Jangan bicara begitu, kau tetap cantik. Kau pasti akan baik-baik saja, kau dengar? Dokter! Di mana dokternya?!"Ia menggenggam tangan Serena yang mulai terasa dingin, lalu menoleh panik ke sekeliling. Niko, Arga, dan Garda yang baru tiba segera ikut mendekat, tetapi dalam kekacauan itu Arka seolah kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Ia tahu pertolongan pertama, tahu apa yang harus dilakukan, tetapi rasa takut kehilangan Serena membuat semua pengetahuan itu seakan men
DOR!Peluru melesat menembus udara dengan kecepatan mengerikan.KLANG!Pistol di tangan Uryu dihantam tepat di bagian tengah. Logamnya langsung remuk, pecahannya berhamburan, sementara hentakan peluru membuat tangan Uryu robek dan lengannya mati rasa. Sisa gagang pistol terlepas dari genggamannya.Tembakan itu berasal dari Garuda Hitam yang sedang mengambil posisi di kejauhan.Gerakan Uryu terlalu cepat, sementara keputusannya untuk menembak datang tanpa peringatan. Garuda Hitam hanya sempat mengoreksi arah bidikannya pada detik terakhir, tetapi sepersekian detik itu tetap tidak cukup untuk menghentikan peluru pertama yang sudah dilepaskan Uryu.Namun, ia tidak berhenti. Tangannya bergerak cepat menarik baut, mengeluarkan selongsong, memasukkan amunisi baru, mengangkat senjata, lalu kembali membidik. Seluruh rangkaian itu selesai dalam waktu kurang dari satu detik, begitu cepat dan lancar hingga nyaris seperti satu gerakan tanpa jeda.Tembakan kedua menyusul hampir tanpa jeda.DOR!Da
Uryu yang sejak tadi menunduk tiba-tiba mengangkat kepala. Tatapan yang sebelumnya tampak lemah dan lesu berubah tajam dalam sekejap, dingin seperti bilah pisau. Tidak ada sedikit pun sisa kelemahan di wajahnya.Tubuhnya melesat seperti pegas yang dilepaskan. Meski kedua tangannya masih terborgol di belakang punggung, Uryu tetap menjatuhkan tubuh ke depan, memutar kedua tangan melalui celah di bawah tubuh hingga berpindah ke depan, lalu meraih pistol yang tergeletak di tanah.Begitu senjata berada di tangannya, moncongnya langsung terangkat.DOR! DOR!Dua tembakan meledak hampir bersamaan. Peluru menembus punggung kedua penjaga Keluarga Mahesa yang masih sibuk melawan kawanan gagak. Keduanya terhenti di tempat, lalu terhuyung dan jatuh tanpa sempat bereaksi, sementara burung-burung yang tadi mengerubungi mereka segera beterbangan dan berputar di udara.Uryu memiringkan kepala, lalu melirik orang-orang yang berdiri terpaku di belakangnya. Mereka baru saja lolos dari ledakan dan kini me
Di atas gua, gumpalan besar yang menyerupai awan gelap telah berkumpul tanpa disadarinya. Namun, beberapa detik kemudian Arka menyadari bahwa itu sama sekali bukan awan.Ratusan gagak hitam berputar rendah di atas gua, bergerak seolah dikendalikan oleh kekuatan tak terlihat hingga membentuk pusaran hitam yang mengerikan. Kepakan sayap mereka menghasilkan dengungan berat yang menutupi cahaya dan melemparkan bayangan besar ke seluruh area.Namun, yang paling mengejutkan Arka adalah benda-benda kecil berbentuk silinder yang ternyata dicengkeram oleh masing-masing gagak dengan cakarnya.Begitu Arka dan Nocthar mendongak, sebagian kawanan gagak tiba-tiba mengubah arah. Mereka menukik menuju pintu masuk gua dan lereng di sekitarnya seperti pesawat pengebom mini, lalu melepaskan benda-benda silinder yang mereka cengkeram saat mencapai ketinggian tertentu.Satu, dua, sepuluh, lalu puluhan hingga ratusan benda jatuh beruntun seperti hujan hitam yang deras. Namun itu bukan hujan, melainkan gran
Arka yang masih mencengkram kerah Nocthar dan hendak menyeretnya pergi mendadak berhenti. Pertanyaan itu sebenarnya sudah berulang kali muncul di benaknya. Benteng gua ini tersembunyi dengan sangat baik.Jadi, bagaimana mungkin Sindikat Noctis bisa menemukan lokasinya dengan begitu akurat dalam waktu sesingkat itu?Lalu mengerahkan pasukan sebesar ini untuk melancarkan serangan mendadak?“Gah... gaak...!”Suara serak seekor gagak tiba-tiba memecah keheningan hutan. Begitu mendengarnya, senyum Nocthar melebar dengan cara yang membuat bulu kuduk meremang. Ia mengangkat kelopak matanya yang bengkak dan menatap Arka, seolah sedang menikmati detik-detik terakhir mangsanya sebelum jebakan benar-benar menutup.Detik berikutnya, ledakan dahsyat mengguncang hutan.DUAAAR!Dentumannya datang dari arah kamp utama dan begitu keras hingga getarannya terasa sampai ke tanah.Wajah Arka seketika berubah pucat karena ia langsung mengenali lokasi ledakan itu. Tempat tersebut adalah area gua tempat Vane
Kaivan menggertakkan rahangnya begitu keras hingga urat di sepanjang lehernya menegang. Sebagai seorang kapten yang telah mendampingi Arka di belasan pertempuran maut, dia tahu persis bahwa berdebat di titik ini hanya akan membuang detik-detik berharga yang mereka miliki. Dengan satu anggukan berat
Lima ribu orang, dan semuanya bukan sekadar preman bersenjata atau kelompok bayaran murahan. Mereka adalah personel yang dibentuk melalui seleksi ketat, pelatihan intensif, serta disiplin militer yang nyaris sempurna. Di balik kedok perusahaan keamanan sipil, sebuah kekuatan paramiliter besar seben
Lima sosok di belakangnya mengangguk tanpa suara.SWOSHH!Seketika, tubuh mereka melesat masuk ke dalam kegelapan seperti bayangan hantu. Namun, mereka tidak menyadari di balik setiap titik buta yang terlihat kosong, mata-mata dingin sebenarnya sedang mengawasi mereka. Di dalam rumah besar itu send
Sorot mata Yudhist dipenuhi cahaya menyeramkan. Ambisi, ketakutan, sekaligus kegilaan bercampur menjadi satu. Dia tahu, jika berhasil malam ini, posisinya di Keluarga Nirvana akan melonjak drastis. Namun jika gagal, tubuhnya mungkin bahkan tidak akan ditemukan utuh.Wiranata terdiam beberapa detik.







