مشاركة

Bab 5

مؤلف: Skyy
last update تاريخ النشر: 2026-02-16 00:36:08

Rasa panas di pipinya masih tertinggal ketika Arka Mahendra tanpa sadar mempererat cengkeramannya pada pergelangan tangan Keira Adhistya. Tatapannya yang sebelumnya dipenuhi emosi rumit kini berubah dingin dan tajam. Ia bukan orang yang asing dengan rasa sakit, tetapi tamparan yang lahir dari kesalahpahaman itu terasa berbeda. Lebih seperti penghinaan terhadap harga dirinya daripada serangan fisik.

Teriakan Keira memecah keheningan ruang tamu. Rasa sakit di pergelangan tangannya, ditambah aura dingin yang memancar dari Arka, perlahan menyadarkannya dari kabut alkohol. Pandangannya yang semula kabur mulai jelas.

Pria di hadapannya bukan Reza Dirgantara. Tatapan itu terlalu dingin, ttajam dan tidak ada kelembutan yang ia ingat. Reza yang dikenalnya tidak pernah menatapnya seperti pemburu yang siap menerkam, apalagi membuatnya merasakan tekanan hingga hampir menyakitkan.

Kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa malu dan panik yang menusuk.

“Lepaskan aku!” Keira meronta, suaranya bergetar antara marah dan kehilangan kendali. “Arka! Aku sudah bilang pergi! Apa kau tidak dengar?!”

Arka menatapnya beberapa detik sebelum perlahan melepaskan tangannya. Gerakannya terkendali, seolah menahan sesuatu yang lebih besar di dalam dirinya. Keira segera mundur, berpegangan pada sandaran sofa, menjaga jarak seperti hewan kecil yang terpojok.

“Nona Adhistya,” kata Arka pelan. Suaranya tenang, tetapi datar. “Anda yang memanggil saya, dan Anda yang menyerang lebih dulu.”

Tidak ada nada menyalahkan, hanya pernyataan fakta. Justru itu yang membuat Keira semakin merasa dipermalukan.

Pandangan Keira jatuh pada botol minuman yang setengah kosong dan foto-foto lama di meja. Ingatan tentang apa yang baru saja terjadi kembali dengan jelas, ia menangis di pelukan pengawalnya sendiri, memanggil nama orang lain, lalu menamparnya.

Rasa malu itu hampir membuatnya sesak napas.

“Keluar!” Keira menunjuk ke arah pintu, napasnya naik turun tajam. Wajahnya kembali dingin, seperti topeng yang dipasang tergesa. “Sekarang juga! Jangan masuk ke rumah ini lagi tanpa izinku.”

Arka menatapnya lama. Tatapannya seolah menembus ketenangan yang dipaksakan itu, melihat kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan. Namun ia tidak mengatakan apa pun.

“Baik.”

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu, langkahnya mantap dan tanpa ragu. Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan pelan. Ia tidak pernah menoleh.

Keheningan yang tersisa terasa berat.

Begitu sendirian, kaki Keira kehilangan tenaga. Ia jatuh terduduk di lantai, dikelilingi ruangan yang berantakan. Air mata kembali mengalir, tetapi kali ini bukan karena masa lalu. Ada kemarahan pada dirinya sendiri, rasa lelah yang tak tertahankan, dan secercah penyesalan yang tidak ingin ia akui. Terutama ketika mengingat tatapan dingin Arka sebelum pergi.

Di apartemen sebelah, Arka berdiri di depan wastafel kamar mandi. Air dingin mengalir di wajahnya, menenangkan panas yang masih tersisa. Ia menatap bayangan dirinya di cermin, memperhatikan bekas merah samar di pipinya.

Pengganti.

Kata itu terasa pahit di benaknya.

Seorang mantan anggota Satuan Taring Garuda, orang yang pernah berdiri di garis depan Zona Bayangan, kini dipilih karena wajahnya menyerupai pria lain. Harga dirinya terasa terusik, tetapi kenyataan tetap tidak berubah. Biaya perawatan dan rehabilitasi kakeknya masih panjang, dan kontrak sudah berjalan.

Ia menutup mata, menarik napas panjang.

Ketika membukanya kembali, ekspresinya sudah kembali tenang. Emosi adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki sekarang. Tugasnya sederhana, menjalankan kontrak, melindungi majikannya, dan memastikan kakeknya sembuh.

Selebihnya bukan urusannya, namun dunia jarang membiarkan seseorang hidup dengan tenang.

***

Keesokan paginya, Arka bangun tepat waktu.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Suara Keira di ujung telepon kembali dingin dan profesional, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.

“Tunggu di garasi tiga puluh menit lagi, kita berangkat ke kantor.”

“Baik.”

Panggilan berakhir tanpa basa-basi.

Arka mengenakan setelan hitam yang telah disiapkan untuknya dan turun tepat waktu ke parkiran bawah tanah. Ketika Keira datang, ia membukakan pintu mobil tanpa berkata apa pun. Ia bisa merasakan jarak yang sengaja diciptakan wanita itu, lebih dingin dari sebelumnya.

Mobil itu melaju keluar dari kawasan perumahan dan masuk ke arus lalu lintas pagi Kota Mahatara. Seperti biasa, mata Arka terus mengamati sekitar. Kebiasaan lama yang tidak pernah hilang.

Saat berhenti di lampu merah, pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan sebuah mobil BMW yang berhenti di sisi belakang mereka.

Di kursi pengemudi, seorang wanita bergaun merah menopang dagunya dengan santai, menatap lurus ke arah mobil mereka. Senyumnya tipis, penuh rasa ingin tahu.

Mireya Pradana.

Tatapan mereka bertemu sejenak. Wanita itu tidak mengalihkan pandangan. Ia justru tersenyum lebih dalam dan menggerakkan bibirnya tanpa suara.

Pupil Arka menyempit, ia memahami kalimat itu dengan jelas.

[Aku sudah menemukanmu.]

Tiga kata tanpa suara itu meluncur melewati kaca mobil dan hiruk pikuk lalu lintas pagi.

Arka mengalihkan pandangannya tanpa ekspresi, seolah tidak melihat apa pun. Fokusnya kembali pada lampu lalu lintas di depan. Bagi seseorang yang pernah bertahan hidup di Zona Bayangan, rayuan semacam itu tidak lebih dari gangguan kecil. Ia tidak tertarik bermain dalam permainan yang jelas-jelas mengundang masalah.

Di kursi belakang, Keira menangkap perubahan halus itu. Sejak kejadian memalukan semalam, perasaannya menjadi jauh lebih sensitif. BMW yang terus mengikuti mereka, serta tatapan Mireya yang terlalu jelas tertuju pada kursi pengemudi, tidak mungkin luput dari perhatiannya.

Alis Keira sedikit berkerut. ‘Wanita itu lagi.’

Sejak masa kuliah, mereka sudah bersaing dalam segala hal. Prestasi, bisnis, bahkan pengaruh. Tidak berlebihan jika menyebut hubungan mereka sebagai permusuhan yang tak pernah benar-benar padam.

Lampu berubah hijau, Arka menjalankan mobil dengan halus. Namun BMW itu tetap mengikuti dari belakang, menjaga jarak beberapa mobil seperti bayangan yang enggan hilang.

Wajah Keira mengeras, ia mengirim pesan singkat melalui ponselnya, memerintahkan seseorang untuk menyelidiki pergerakan Mireya hari ini.

Perjalanan berikutnya berlangsung dalam keheningan yang tegang. Arka tetap fokus mengemudi, tetapi suhu dingin dari kursi belakang terasa hampir nyata. Saat berhenti di persimpangan berikutnya, ia melirik kaca spion. Keira menatap lurus ke depan dengan wajah tanpa ekspresi, sementara kilatan mobil BMW itu masih terlihat di belakang.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. ‘Menarik…’

Di jalan yang lebih padat, BMW itu akhirnya sejajar dengan mobil mereka. Jendela mobil diturunkan, dan Mireya menyandarkan lengannya dengan santai. Gaun merahnya menyala di bawah sinar matahari, menarik perhatian kendaraan di sekitarnya.

Ia sama sekali mengabaikan Keira. “Hei,” panggilnya ringan, senyumnya tajam. “Pengawal tampan di depan.”

Arka tidak menoleh.

Keira berbicara lebih dulu, suaranya dingin seperti es. “Nona Mireya, membuat keributan di jalan bukan kebiasaan yang baik.”

Mireya berpura-pura terkejut. “Oh? Nona Keira juga di sini?” Ia tersenyum tipis. “Maaf, saya terlalu fokus melihat sesuatu yang menarik.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 270

    Garda seperti baru tersadar dari lamunannya. Ia segera mengangguk hormat. “Tuan Mahendra, terima kasih atas bantuan Anda malam ini.”Namun setelah mengucapkannya, tatapannya kembali mengunci wajah Arka. Alisnya perlahan berkerut. Setelah ragu beberapa detik, ia akhirnya membuka suara lagi dengan nada penuh ketidakpastian.“Maaf kalau saya lancang… tapi rasanya kita pernah bertemu sebelumnya.”Tatapannya bergerak menelusuri wajah Arka dengan lebih saksama. Garis wajah tegas itu, sorot mata yang tenang namun tajam, serta aura dingin yang samar-samar tetap terasa meski sengaja ditekan, semuanya terasa terlalu familiar baginya. Semakin lama ia melihat, semakin kuat rasa tidak percaya yang muncul di dalam kepalanya.Arka membalas tatapannya dengan tenang. Lalu ia berkata santai, “Dulu mentalmu bagus, tapi cara bertempurmu masih terlalu kasar. Prajurit yang hanya mengandalkan keberanian biasanya mati paling cepat di medan perang.”Tubuh Garda langsung membeku. Matanya membelalak lebar. Napa

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 269

    Kaivan Adhiraja, pria yang lebih dikenal di dunia operasi bayangan dengan julukan Rajawali Senyap, merupakan salah satu kapten lapangan paling mematikan yang pernah dimiliki unit khusus itu.Ia tidak langsung menjawab, tangannya terangkat memberi isyarat agar seluruh anggota menghentikan pencarian dan meningkatkan kewaspadaan. Dalam sekejap, moncong senapan kembali mengarah ke berbagai sisi hutan yang gelap, sementara suasana di sekitar mereka berubah semakin tegang.Beberapa detik kemudian, Kaivan kembali mengalihkan pandangannya ke kedalaman hutan di depan sana. Meski wajahnya tertutup lapisan cat kamuflase, perubahan emosi di matanya tetap terlihat jelas.Ada tekanan dan kekhawatiran yang sulit disembunyikan, tetapi jauh di balik itu tersimpan secercah antusiasme yang perlahan muncul, seolah dia akhirnya menemukan jejak seseorang yang selama ini mereka cari tanpa hasil.***Cahaya pagi perlahan menembus kabut tipis di pegunungan, menyingkap sisa kehancuran setelah pertempuran semal

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 268

    Saat tim Arka menuruni gunung, sementara Keluarga Mahesa masih sibuk merawat korban luka, mengumpulkan jenazah, dan menghitung hasil rampasan pertempuran, beberapa kilometer di belakang rumah utama mereka terbentang sebuah area hutan yang hancur total akibat pertempuran sengit beberapa jam sebelumnya.Tempat itu merupakan lokasi penyergapan yang dilakukan pasukan Arka terhadap Darmajaya dan kekuatan utama Sindikat Taring Ular menggunakan bombardir artileri serta serangan penembak jitu jarak jauh.Kini area itu jatuh dalam kesunyian yang menyesakkan.Kawah hitam bekas ledakan tersebar di berbagai sisi tanah, sementara pohon-pohon besar tumbang dengan batang patah yang masih mengeluarkan asap tipis. Selongsong peluru berserakan di antara lumpur dan dedaunan basah, bercampur dengan serpihan senjata rusak serta noda darah menghitam yang mulai membeku di permukaan tanah.Beberapa mayat tergeletak dalam posisi mengenaskan di antara reruntuhan hutan, dan udara dipenuhi aroma logam darah, tan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 267

    Arka melanjutkan dengan raut wajah tenang. “Dulu… dalam rapat militer tingkat tinggi, Mahesa Wiradarma pernah menunjuk wilayah tenggara di peta dan berkata—”Langkahnya berhenti sesaat.Angin pegunungan bertiup melewati mereka, membawa aroma tanah basah bercampur sisa mesiu perang.Tatapan Arka perlahan menyipit. “Lebih baik memakai peluru artileri daripada terus berunding dengan bajingan-bajingan itu, hancurkan sampai tuntas! Taklukkan sepenuhnya!”“Kalau begitu perbatasan akan tenang dengan sendirinya.”Suasana langsung hening.Bahkan Arga tanpa sadar menahan napas.Namun Arka kembali melanjutkan dengan nada lebih pelan. “Tapi itu belum bagian paling gila, tepat sebelum rapat selesai, Jenderal tua itu memandangi peta cukup lama.”Sorot mata Arka sedikit berubah, ada kesan rumit di sana. Antara kagum dan sesuatu yang sulit dijelaskan. “Lalu dia berkata—”Arka menoleh ke arah dua rekannya, kata demi kata keluar perlahan. “Benar atau salah soal perluasan wilayah… biarkan generasi berik

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 266

    Tak lama kemudian, suara tembakan mulai mereda sedikit demi sedikit.Hingga akhirnya keheningan menyelimti hutan itu.Kabut asap bercampur aroma darah memenuhi seluruh hutan di bawah cahaya fajar pertama. Lereng pegunungan itu kini berubah menjadi neraka. Kawah ledakan, bekas hangus, pohon-pohon yang tumbang, senjata berserakan. Dan mayat-mayat yang hancur memenuhi tanah berlumpur.Beberapa anggota Keluarga Mahesa yang selamat langsung terduduk lemas. Ada yang menangis, ada yang tertawa putus asa, ada pula yang hanya memeluk anggota keluarga mereka tanpa suara. Mereka selamat, tetapi harga yang dibayar terlalu mahal.Didampingi Gavira, Adhyaksa berjalan perlahan menuju Garda.Begitu kedua pria itu saling berhadapan, Garda langsung menundukkan kepala tipis. “Kakak.”Adhyaksa terdiam beberapa detik.“HAHAHA!” Pria itu tiba-tiba tertawa keras meski matanya mulai memerah. “Bagus… Bagus sekali!”Tangannya langsung menepuk bahu Garda dengan kuat. “Kau datang tepat waktu!” Ia menghela napas

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 265

    Renald langsung memotong dingin. “Lakukan!”Tatapannya berubah setajam pisau. “Kalau kita terlambat mundur, semua orang di sini akan mati.”Ia melirik kembali ke arah pasukan markas Mahesa yang terus bergerak maju seperti mesin perang. “Sekarang klan inti mereka sudah turun tangan, dan mereka pasti bukan hanya mengirim satu gelombang pasukan.”Sorot matanya menyipit tipis. “Bala bantuan berikutnya mungkin sudah bergerak sekarang.”Suasana langsung hening beberapa detik.“Baik, Tuan Muda!”Kapten pengawal itu akhirnya menggertakkan gigi sebelum segera berbalik menyampaikan seluruh perintah penarikan.Setelah perintah Renald dikeluarkan, seluruh pasukan Keluarga Mahardika di medan perang langsung terpecah menjadi dua arus berbeda. Sebagian orang maju, sebagian lagi mundur. Dan mereka yang maju, jelas sudah bersiap mati.“SERANG—!”Beberapa prajurit Mahardika langsung meraung sambil menerobos keluar dari perlindungan. Granat dilempar tanpa henti, rentetan tembakan dilepaskan membabi buta

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 39

    Kelvin mencengkeram pipa baja dengan kedua tangan, matanya merah. Tanpa ragu ia mengayunkannya.WHUSH~Pipa baja berdesing menembus udara.Leonard menunduk cepat, tubuhnya bergerak liar seperti hewan yang terpojok. Dengan tangan yang tersisa, ia menusuk ke depan.CRACK!Belati itu menyayat lengan K

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 38

    Di saat yang sama, Mireya menjawab panggilannya. “Mireya! Kau baik-baik saja?!” Suara pria tua terdengar marah. “Kelvin pantas mati!”Mireya tersenyum tipis. “Dia belum mati. Kalau Ayah datang sedikit lebih lambat, mungkin sekarang Ayah sudah punya cucu dari pria bajingan itu!”Di ujung sana terden

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 37

    Di dalamnya, Garuda Hitam sudah membersihkan sebagian situasi. Kelvin dan Leonard tergeletak di lantai seperti dua anjing sekarat.Kelvin mengalami patah kaki. Sebuah parang yang sebelumnya dilempar Arka masih menancap di pergelangan tangannya.Garuda Hitam sudah menghentikan pendarahannya agar dia

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 36

    Melihat itu, Keira seperti tersambar petir. Tubuhnya kaku, wajahnya seketika pucat. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara keluar. Matanya menatap mobil yang bergoyang itu tanpa berkedip.Rasa sakit yang tajam menghantam dadanya.Ia datang ke sini membawa kekhawatiran. Dan mungkin sedikit

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status