Share

Bab 4

Author: Skyy
last update publish date: 2026-02-13 22:37:12

Rumah Sakit Medika Mahatara.

Dua ratus juta segera masuk ke rekening rumah sakit, dan ruang operasi kembali dipenuhi cahaya yang tak pernah padam.

Waktu berjalan lambat di luar pintu operasi. Arka Mahendra berdiri tanpa bergerak, menatap lampu merah yang terus menyala. Hingga akhirnya pintu terbuka dan kepala ahli bedah keluar sambil melepas masker.

“Operasinya berhasil.”

Kalimat sederhana itu membuat dunia yang sempat kehilangan warna kembali terasa nyata.

Ia berdiri di luar ruang perawatan intensif, memandang melalui kaca. Tubuh kakeknya dipenuhi selang dan alat medis, tetapi napasnya sudah stabil. Kepalan tangan Arka Mahendra perlahan mengendur. Bekas tekanan kuku meninggalkan luka berbentuk bulan sabit di telapak tangannya.

Kesepakatan itu sepadan.

Namun ketika satu beban terangkat, beban lain muncul. Dua tahun hidupnya kini sepenuhnya terikat pada orang lain. Bagi seseorang yang terbiasa menentukan arah sendiri, kesepakan ini terasa bagaikan batasan yang sulit diterima. Meski begitu, ia tidak memiliki pilihan lain. Kata-kata kakeknya tentang tidak menjadi beban bagi negara memadamkan semua kemungkinan untuk mencari bantuan lama dari militer.

Setelah memastikan kondisi Mahendra Wiratma stabil, Arka Mahendra meninggalkan rumah sakit. Sekarang ia harus kembali menjalankan kewajibannya.

***

Sementara itu, kabar tentang pertarungan di pusat pelatihan Grup Arta Vistara menyebar cepat di kalangan tertentu di Mahatara.

Satu orang mengalahkan lebih dari dua puluh petarung dalam hitungan menit.

Nama Arka Mahendra mulai muncul di kedai teh, klub bela diri, hingga ruang pertemuan pribadi. Cerita tentang pertarungan itu terus dilebih-lebihkan, tetapi satu hal tetap sama, Grup Arta Vistara kini memiliki seseorang yang sulit disentuh.

Angin kencang itu akhirnya sampai ke Grup Pradana.

Di kantor presiden yang luas, Mireya Pradana bersandar santai di kursinya, membaca laporan tipis di tangannya. Gaun beludru merah tua membuat sosoknya tampak anggun sekaligus berbahaya. Senyum tipis muncul di bibirnya saat membaca nama yang tertulis di sana.

“Arka Mahendra…”

Ia mengucapkannya perlahan, seolah mencicipi sesuatu yang menarik.

Laporan itu hampir kosong. Hanya dugaan latar belakang militer yang menonjol, justru membuatnya semakin mencurigakan.

“Keira benar-benar mendapat keberuntungan,” gumamnya pelan.

Ia berdiri di depan jendela besar, memandang ke arah gedung Grup Arta Vistara di kejauhan. Di matanya, ancaman dan rasa ingin tahu bercampur menjadi satu.

“Selidiki lebih dalam,” perintahnya singkat. “Aku ingin tahu semuanya.”

Senyum tipis kembali muncul.

“Dan atur kesempatan. Aku ingin melihat sendiri orang yang membuat Keira mengubah keputusannya itu.”

Seorang pria kuat dengan latar belakang misterius bisa menjadi masalah, atau peluang.

***

Malam itu, Arka Mahendra kembali ke apartemen yang disiapkan untuknya, tempat yang akan menjadi kediamannya selama dua tahun ke depan. Ia baru saja merapikan dapur ketika ponselnya berdering.

Keira Adhistya.

“Datang ke rumahku,” suara di seberang terdengar samar dan sedikit berat.

“Baik.”

Rumah mereka berdekatan. Dalam beberapa menit, ia sudah berdiri di depan pintu vila Keira Adhistya.

“Masuk saja, tidak dikunci.”

Begitu pintu terbuka, aroma alkohol langsung menyambutnya, bercampur dengan wangi lembut yang familiar. Lampu ruang tamu redup, hanya beberapa cahaya kuning hangat yang menyala, membuat rumah yang biasanya dingin terasa asing.

Keira Adhistya bersandar di sofa. Rambutnya berantakan, jas kerjanya sudah dilepas, hanya tersisa blus putih dengan kancing atas terbuka. Wajahnya memerah, matanya kehilangan ketajaman biasa, tertutup kabut mabuk.

Di meja terdapat botol wiski setengah kosong dan beberapa foto.

Arka Mahendra berhenti beberapa langkah darinya. “Nona Adhistya, Anda memanggil saya?”

Suara tenangnya memecah keheningan.

Keira Adhistya menatapnya lama. Pandangannya perlahan berubah, fokusnya kabur, lalu melembut dengan emosi yang tidak seharusnya ada. Wajah di hadapannya perlahan bertumpuk dengan bayangan dari masa lalu.

“Reza…” bisiknya.

Arka Mahendra terdiam sesaat. Ketika ia melihat foto di meja, semuanya langsung jelas. Kemiripan wajah itu bukan kebetulan, itulah alasan ia dipilih.

Perasaan tidak nyaman muncul dalam dadanya. Ia sadar dirinya hanyalah pengganti.

Keira Adhistya mencoba berdiri, tetapi tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia jatuh ke depan. Secara refleks, Arka Mahendra menangkapnya sebelum ia menyentuh lantai. Tubuh wanita itu panas, napasnya beraroma alkohol.

Tanpa sadar, Keira Adhistya memeluknya erat, seolah takut kehilangan sesuatu yang baru saja ditemukan kembali. Air mata mengalir tanpa peringatan. “Reza… kau tahu berapa lama aku menunggumu?”

Arka Mahendra tidak menjawab. Ia berdiri kaku, membiarkan wanita itu menangis di bahunya. Ia tahu jelas bahwa orang yang dipanggil bukan dirinya. Keluhan dan kelelahan yang selama ini tersembunyi mulai keluar dalam kata-kata yang terputus-putus. Tentang tekanan perusahaan, tentang kesepian, tentang seseorang yang pergi tanpa kembali.

Setelah melihat sikap dinginnya di perusahaan, sekarang ia melihat sisi rapuh di balik sosok dingin itu. Ada rasa mengerti, sedikit simpati, tetapi ia menahannya. Ia hanyalah seseorang yang dibayar untuk bekerja, bukan untuk masuk ke dalam kehidupan pribadi majikannya.

“Nona Adhistya,” katanya pelan, mencoba melepaskan diri. “Anda salah orang, saya Arka Mahendra.”

“Tidak…” Keira Adhistya menggeleng keras, memeluk lebih erat. “Jangan pergi lagi…”

Wajahnya tersembunyi di dada Arka Mahendra, air mata membasahi bajunya. Tubuh Arka Mahendra menegang. Ia terbiasa menghadapi bahaya, bukan emosi yang begitu terbuka. Tangannya sempat terangkat ragu, lalu akhirnya hanya menepuk punggungnya dengan kaku, sebuah penghiburan yang canggung.

Tangisan itu perlahan mereda.

PLAKK!

Namun tiba-tiba Keira Adhistya mendorong dirinya menjauh, lalu menamparnya. “Aku membencimu! Kenapa kau pergi tanpa mengatakan apa pun?!”

Arka Mahendra terkejut, tetapi tidak bergerak. Ketika tangan itu kembali terangkat, ia menangkap pergelangannya dengan tenang.

“Tenang.”

Tekanan ringan itu membuat kesadaran Keira Adhistya sedikit kembali. Ia menatap situasi di depannya. Jarak yang terlalu dekat, pelukan yang baru saja terjadi, dan wajahnya berubah.

“Keluar,” katanya tajam.

Suara itu semakin keras.

“Keluar! Siapa yang menyuruhmu masuk? Siapa yang mengizinkanmu menyentuhku? Keluar!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 528

    Beberapa waktu kemudian, Arka tiba di tempat Vanessa dirawat.Kondisinya masih belum membaik. Racun Hasrat telah membuat tubuh Vanessa semakin lemah, dan waktu yang tersisa tidak banyak.Ketika Arka masuk sambil membawa obat tersebut, semua orang langsung menatapnya.“Arka...?”Arka tidak menjawab panjang. Ia menyerahkan obat itu kepada orang yang bertanggung jawab merawat Vanessa.“Berikan ini kepadanya.”Waktu terasa berjalan sangat lambat.Vanessa sempat mengalami reaksi keras. Tubuhnya menggigil, wajahnya memucat, dan napasnya menjadi tidak teratur.Arka tetap berdiri di sampingnya.Beberapa menit kemudian, napas Vanessa perlahan kembali stabil. Warna wajahnya mulai kembali. Detak jantungnya juga semakin teratur.Racun Hasrat akhirnya berhasil disembuhkan.Dokter yang memeriksa kondisinya menarik napas lega. “Dia selamat.”Arka menutup mata sejenak. Beban yang selama ini menekan dadanya akhirnya terlepas.Vanessa perlahan membuka mata, pandangan mereka bertemu. “Kau... benar-benar

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 527

    Pintu belakang baru saja tertutup ketika Arka muncul dari kegelapan.“Topeng Algojo!”Mobil itu berhenti mendadak.Pintu terbuka, dan beberapa penjaga langsung turun untuk menghadang. Arka tidak memberi mereka kesempatan. Dalam waktu singkat, semua penghalang yang mencoba menghentikannya telah tumbang.Kemudian sosok bertopeng itu keluar dari dalam kendaraan.Untuk pertama kalinya, mereka berdiri saling berhadapan tanpa pasukan yang memisahkan.Topeng Algojo menatap Arka cukup lama sebelum tertawa pelan. “Jadi kau benar-benar berhasil keluar.”Arka mengangkat senjatanya, tetapi kemudian menurunkannya perlahan. “Aku tidak datang untuk menembakmu dari jauh.” Tatapan keduanya bertemu. “Aku datang untuk menyelesaikan ini dengan tanganku sendiri.”Topeng Algojo melepaskan mantel luarnya. “Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang pantas berdiri sampai akhir.”Pertarungan pun pecah. Kali ini tidak ada jebakan, penyergapan, ataupun anak buah yang bisa mengalihkan perhatian mereka. Di ruang se

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 526

    BANG! BANG! BANG!Ledakan demi ledakan mengguncang seluruh kompleks. Jumlahnya semakin banyak dan jaraknya semakin rapat, seolah-olah deretan bahan peledak dinyalakan secara berantai dari berbagai arah. Bahkan tanah di bawah kaki mereka ikut bergetar hebat.Gelombang suara menerjang seperti tsunami. Dinding ruang penyimpanan berderit menahan tekanan, sementara debu dan serpihan terus berjatuhan dari langit-langit. Lantai berguncang dan bergelombang begitu keras hingga mustahil bagi siapa pun untuk berdiri tegak.“Merunduk! Jangan jauh dari lantai! Cari perlindungan yang paling kuat!” Arka berteriak sekuat tenaga.Ia langsung menjatuhkan tubuh dan menarik Niko yang terluka ke bawah bersamanya, kemudian menggunakan tubuhnya untuk melindungi kepala rekannya. Di sudut lain, Arga meringkuk serapat mungkin sambil menahan rasa sakit dari kaki dan lengannya.Namun, tempat berlindung mereka ternyata tidak cukup kuat untuk menghadapi kehancuran sebesar ini.DUAAAAR—!Dentuman berikutnya jauh le

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 525

    Di sisi lain, Niko mengeluarkan geraman keras. Tubuhnya yang besar bergerak jauh lebih lincah daripada yang seharusnya, menerobos ke balik lemari arsip di dekatnya dan menjadikannya sebagai perlindungan. Dari sana, ia mengangkat senapan mesin ringan dan menghujani kelompok penyergap dengan rentetan peluru yang brutal.Arga tidak memiliki ruang untuk banyak bergerak karena cedera di kakinya. Ia tetap bertahan di posisi semula, menahan rasa sakit sambil mengangkat pistol dan melepaskan tembakan berulang kali ke arah bayangan musuh yang samar di balik asap dan debu.Baku tembak itu berlangsung liar.Tidak ada kesempatan untuk berpikir panjang. Setiap detik dipenuhi letusan senjata, desingan peluru, dan benturan benda yang hancur. Waktu seakan kehilangan bentuk karena adrenalin mengalir deras, membuat jantung berdegup begitu kencang hingga terasa hendak merobek tulang dada.Pandangan Arka terus berpindah mengikuti kilatan moncong senjata dan bayangan yang bergerak di balik asap. Telingany

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 524

    Topeng Algojo sedikit memalingkan kepala. Perintah berikutnya ditujukan kepada bawahannya yang masih berlutut, pengemudi, serta para penjaga di barisan depan. “Aktifkan rencana B.”Suasana di dalam mobil seketika berubah.“Ledakkan seluruh bahan peledak yang sudah ditanam di kompleks Keluarga Wijaksana pada titik-titik peledakan yang telah ditentukan. Setelah itu, perintahkan unit artileri di luar untuk mengubah koordinat dan lakukan bombardir menyeluruh ke seluruh area inti kompleks.”Nada suaranya tetap tenang saat mengucapkan kalimat terakhir, seolah-olah keputusan yang hendak diambilnya sama sekali bukan sesuatu yang besar. “Aku ingin tempat ini lenyap dari peta.” Tatapannya menembus hujan yang turun deras. “Termasuk semua orang yang masih bernapas di dalamnya.”Perintah itu membuat seluruh isi mobil seakan membeku. Bawahan yang masih berlutut mendadak mengangkat kepala, kedua matanya membesar di balik topeng logam.“Tuan, tidak bisa! Masih ada banyak penjaga kita di dalam komplek

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 523

    BRAK!Panel pintu melengkung ke dalam dan mekanisme penguncinya patah. Tanpa membuang waktu, Arka, Niko, dan Arga menerobos masuk ke koridor sempit di belakang aula.Suasana di dalam koridor jauh lebih gelap dan ruang geraknya terbatas. Rentetan tembakan masih terdengar dari aula utama, tetapi dinding tebal untuk sementara menahan sebagian besar suara dan memberi mereka kesempatan untuk menjauh dari kepungan.Sayangnya, mereka belum sempat memulihkan napas ketika suara langkah kaki terdengar dari balik tikungan.Para penjaga lain sedang menuju ke arah mereka.“Lewat sini!” Arka segera melihat sebuah pintu yang terbuka sedikit di sisi koridor. Dari celahnya, ia bisa melihat bagian dalam yang menyerupai ruang penyimpanan.Ketiganya langsung masuk. Arka menutup pintu perlahan, lalu mereka bertiga merapat ke dinding sambil mengatur napas yang memburu. Tidak ada seorang pun yang berbicara karena langkah para penjaga di luar terdengar semakin dekat.Arka sempat mengira mereka telah mendapat

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 318

    Kaivan menggertakkan rahangnya begitu keras hingga urat di sepanjang lehernya menegang. Sebagai seorang kapten yang telah mendampingi Arka di belasan pertempuran maut, dia tahu persis bahwa berdebat di titik ini hanya akan membuang detik-detik berharga yang mereka miliki. Dengan satu anggukan berat

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 283

    Lima ribu orang, dan semuanya bukan sekadar preman bersenjata atau kelompok bayaran murahan. Mereka adalah personel yang dibentuk melalui seleksi ketat, pelatihan intensif, serta disiplin militer yang nyaris sempurna. Di balik kedok perusahaan keamanan sipil, sebuah kekuatan paramiliter besar seben

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 2

    Rumah Sakit Medika Mahatara.Setelah menanyakan nomor bangsal, Arka Mahendra berjalan cepat menyusuri koridor. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok di ranjang dekat jendela.Mahendra Wiratma.Tubuh lelaki tua itu tampak jauh lebih kurus dari yang ia ingat. Wajahnya pucat,

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 1

    Stasiun Kota Mahatara.Peluit panjang terdengar saat kereta perlahan memasuki peron. Suara roda besi bergesekan dengan rel menggema di seluruh stasiun, diikuti deru langkah kaki kerumunan yang mulai bergerak menuju pintu keluar.Pintu kereta terbuka.Penumpang berdesakan turun, membawa koper dan ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status