LOGINRumah Sakit Medika Mahatara.
Dua ratus juta segera masuk ke rekening rumah sakit, dan ruang operasi kembali dipenuhi cahaya yang tak pernah padam.
Waktu berjalan lambat di luar pintu operasi. Arka Mahendra berdiri tanpa bergerak, menatap lampu merah yang terus menyala. Hingga akhirnya pintu terbuka dan kepala ahli bedah keluar sambil melepas masker.
“Operasinya berhasil.”
Kalimat sederhana itu membuat dunia yang sempat kehilangan warna kembali terasa nyata.
Ia berdiri di luar ruang perawatan intensif, memandang melalui kaca. Tubuh kakeknya dipenuhi selang dan alat medis, tetapi napasnya sudah stabil. Kepalan tangan Arka Mahendra perlahan mengendur. Bekas tekanan kuku meninggalkan luka berbentuk bulan sabit di telapak tangannya.
Kesepakatan itu sepadan.
Namun ketika satu beban terangkat, beban lain muncul. Dua tahun hidupnya kini sepenuhnya terikat pada orang lain. Bagi seseorang yang terbiasa menentukan arah sendiri, kesepakan ini terasa bagaikan batasan yang sulit diterima. Meski begitu, ia tidak memiliki pilihan lain. Kata-kata kakeknya tentang tidak menjadi beban bagi negara memadamkan semua kemungkinan untuk mencari bantuan lama dari militer.
Setelah memastikan kondisi Mahendra Wiratma stabil, Arka Mahendra meninggalkan rumah sakit. Sekarang ia harus kembali menjalankan kewajibannya.
***
Sementara itu, kabar tentang pertarungan di pusat pelatihan Grup Arta Vistara menyebar cepat di kalangan tertentu di Mahatara.
Satu orang mengalahkan lebih dari dua puluh petarung dalam hitungan menit.
Nama Arka Mahendra mulai muncul di kedai teh, klub bela diri, hingga ruang pertemuan pribadi. Cerita tentang pertarungan itu terus dilebih-lebihkan, tetapi satu hal tetap sama, Grup Arta Vistara kini memiliki seseorang yang sulit disentuh.
Angin kencang itu akhirnya sampai ke Grup Pradana.
Di kantor presiden yang luas, Mireya Pradana bersandar santai di kursinya, membaca laporan tipis di tangannya. Gaun beludru merah tua membuat sosoknya tampak anggun sekaligus berbahaya. Senyum tipis muncul di bibirnya saat membaca nama yang tertulis di sana.
“Arka Mahendra…”
Ia mengucapkannya perlahan, seolah mencicipi sesuatu yang menarik.
Laporan itu hampir kosong. Hanya dugaan latar belakang militer yang menonjol, justru membuatnya semakin mencurigakan.
“Keira benar-benar mendapat keberuntungan,” gumamnya pelan.
Ia berdiri di depan jendela besar, memandang ke arah gedung Grup Arta Vistara di kejauhan. Di matanya, ancaman dan rasa ingin tahu bercampur menjadi satu.
“Selidiki lebih dalam,” perintahnya singkat. “Aku ingin tahu semuanya.”
Senyum tipis kembali muncul.
“Dan atur kesempatan. Aku ingin melihat sendiri orang yang membuat Keira mengubah keputusannya itu.”
Seorang pria kuat dengan latar belakang misterius bisa menjadi masalah, atau peluang.
***
Malam itu, Arka Mahendra kembali ke apartemen yang disiapkan untuknya, tempat yang akan menjadi kediamannya selama dua tahun ke depan. Ia baru saja merapikan dapur ketika ponselnya berdering.
Keira Adhistya.
“Datang ke rumahku,” suara di seberang terdengar samar dan sedikit berat.
“Baik.”
Rumah mereka berdekatan. Dalam beberapa menit, ia sudah berdiri di depan pintu vila Keira Adhistya.
“Masuk saja, tidak dikunci.”
Begitu pintu terbuka, aroma alkohol langsung menyambutnya, bercampur dengan wangi lembut yang familiar. Lampu ruang tamu redup, hanya beberapa cahaya kuning hangat yang menyala, membuat rumah yang biasanya dingin terasa asing.
Keira Adhistya bersandar di sofa. Rambutnya berantakan, jas kerjanya sudah dilepas, hanya tersisa blus putih dengan kancing atas terbuka. Wajahnya memerah, matanya kehilangan ketajaman biasa, tertutup kabut mabuk.
Di meja terdapat botol wiski setengah kosong dan beberapa foto.
Arka Mahendra berhenti beberapa langkah darinya. “Nona Adhistya, Anda memanggil saya?”
Suara tenangnya memecah keheningan.
Keira Adhistya menatapnya lama. Pandangannya perlahan berubah, fokusnya kabur, lalu melembut dengan emosi yang tidak seharusnya ada. Wajah di hadapannya perlahan bertumpuk dengan bayangan dari masa lalu.
“Reza…” bisiknya.
Arka Mahendra terdiam sesaat. Ketika ia melihat foto di meja, semuanya langsung jelas. Kemiripan wajah itu bukan kebetulan, itulah alasan ia dipilih.
Perasaan tidak nyaman muncul dalam dadanya. Ia sadar dirinya hanyalah pengganti.
Keira Adhistya mencoba berdiri, tetapi tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia jatuh ke depan. Secara refleks, Arka Mahendra menangkapnya sebelum ia menyentuh lantai. Tubuh wanita itu panas, napasnya beraroma alkohol.
Tanpa sadar, Keira Adhistya memeluknya erat, seolah takut kehilangan sesuatu yang baru saja ditemukan kembali. Air mata mengalir tanpa peringatan. “Reza… kau tahu berapa lama aku menunggumu?”
Arka Mahendra tidak menjawab. Ia berdiri kaku, membiarkan wanita itu menangis di bahunya. Ia tahu jelas bahwa orang yang dipanggil bukan dirinya. Keluhan dan kelelahan yang selama ini tersembunyi mulai keluar dalam kata-kata yang terputus-putus. Tentang tekanan perusahaan, tentang kesepian, tentang seseorang yang pergi tanpa kembali.
Setelah melihat sikap dinginnya di perusahaan, sekarang ia melihat sisi rapuh di balik sosok dingin itu. Ada rasa mengerti, sedikit simpati, tetapi ia menahannya. Ia hanyalah seseorang yang dibayar untuk bekerja, bukan untuk masuk ke dalam kehidupan pribadi majikannya.
“Nona Adhistya,” katanya pelan, mencoba melepaskan diri. “Anda salah orang, saya Arka Mahendra.”
“Tidak…” Keira Adhistya menggeleng keras, memeluk lebih erat. “Jangan pergi lagi…”
Wajahnya tersembunyi di dada Arka Mahendra, air mata membasahi bajunya. Tubuh Arka Mahendra menegang. Ia terbiasa menghadapi bahaya, bukan emosi yang begitu terbuka. Tangannya sempat terangkat ragu, lalu akhirnya hanya menepuk punggungnya dengan kaku, sebuah penghiburan yang canggung.
Tangisan itu perlahan mereda.
PLAKK!
Namun tiba-tiba Keira Adhistya mendorong dirinya menjauh, lalu menamparnya. “Aku membencimu! Kenapa kau pergi tanpa mengatakan apa pun?!”
Arka Mahendra terkejut, tetapi tidak bergerak. Ketika tangan itu kembali terangkat, ia menangkap pergelangannya dengan tenang.
“Tenang.”
Tekanan ringan itu membuat kesadaran Keira Adhistya sedikit kembali. Ia menatap situasi di depannya. Jarak yang terlalu dekat, pelukan yang baru saja terjadi, dan wajahnya berubah.
“Keluar,” katanya tajam.
Suara itu semakin keras.
“Keluar! Siapa yang menyuruhmu masuk? Siapa yang mengizinkanmu menyentuhku? Keluar!”
Pemandangan di luar jendela bergerak cepat. Kobaran api yang menandai kekalahan dan kekacauan perlahan tertinggal di belakang, di dalam kendaraan hanya terdengar dengungan mesin dan bunyi radio yang sesekali berbunyi.Wiranata tetap memejamkan mata tanpa ekspresi. Seperti seseorang yang terpaksa memotong lengannya sendiri demi menyelamatkan nyawa, Wiranata sang rubah tua yang sepanjang hidupnya mengandalkan perhitungan dan intrik, akhirnya mengambil keputusan paling pahit yang pernah dibuatnya.Ia meninggalkan para prajurit yang masih bertempur di garis depan, bahkan melepaskan sebagian perwira menengah dan petinggi keluarganya, lalu diam-diam membawa dirinya kembali ke wilayah inti Keluarga Nirvana.Namun, ada satu hal yang tidak diketahuinya. Bahkan dalam pelariannya, seseorang masih mengawasinya dari balik bayangan.***Matahari sore menyinari Zona Bayangan melalui celah awan tipis, menghadirkan pemandangan yang terasa ironis di tengah medan perang yang masih berlumuran darah. Angi
Mendengar seruan itu, Para staf langsung panik."Patriark, jangan!""Garis depan terlalu berbahaya! Situasinya sudah kacau dan peluru nyasar bisa datang dari mana saja!""Mohon tetap di pusat komando. Anda harus mengendalikan situasi dari sini!"Wiranata tidak bergeming. "Aku sudah memutuskan."Ia mengambil pistol dari meja dan memasukkannya ke sarung, lalu meraih pedang komando bergagang gading yang sudah lama tergantung di dinding. "Kalian tetap di sini, pertahankan garis pertahanan kedua sampai titik darah terakhir sesuai rencana. Aku akan memimpin langsung di garis depan."Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Laksanakan!"Tanpa memberi kesempatan untuk membantah, Wiranata berbalik dan berjalan menuju pintu. Para pengawal elitnya segera mengikuti dari belakang.Langkah kaki mereka perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan pos komando dalam keheningan tegang sebelum suara bisikan dan diskusi cemas kembali memenuhi ruangan.Mereka segera menaiki kendaraan off-road lapis baja dan
BRAKK!Untuk ketiga kalinya, pintu pos komando terbuka keras hingga membentur dinding. Suara itu membuat seluruh perwira yang berada di dalam ruangan tersentak.Perwira kepercayaan yang sama kembali berlari masuk. Wajahnya pucat, tubuhnya basah oleh keringat, dan bibirnya gemetar hingga nyaris tak mampu berbicara. Ia hanya menunjuk ke arah pintu dengan tatapan penuh ketakutan."Patriark... ini... ini buruk—"Klik!Suara logam yang tajam langsung memotong ucapannya.Wiranata berbalik dengan gerakan cepat. Wajahnya begitu muram, sementara sisa kewarasan di matanya seakan telah terkikis oleh rentetan kabar buruk. Ia menarik pistol dari pinggang dan mengokang senjata itu sebelum mengarahkannya tepat ke perwira di hadapannya."Sialan!" Suaranya serak dan penuh amarah. "Kalau laporanmu kali ini tidak memuaskanku, aku akan menembakmu. Katakan, apa lagi yang terjadi?!"Laras pistol itu sedikit bergetar, tetapi tidak seorang pun meragukan keseriusannya. Kaki sang perwira langsung lemas, namun
Pos komando langsung berubah kacau. Telepon berdering tanpa henti, para petugas komunikasi berteriak menerima laporan dari garis depan, para perwira staf berusaha memperbarui peta secepat mungkin. Namun, laju kekalahan Keluarga Wijaksana dan pengejaran Keluarga Mahardika membuat situasi berubah lebih cepat daripada yang mampu mereka petakan.Seorang perwira senior mendekat dengan wajah pucat. "Patriark, apa yang harus kita lakukan? Jumlah mereka terlalu besar dan serangannya terlalu cepat. Pasukan kita bahkan tidak sempat membentuk pertahanan sebelum mereka menerobos!"Ia menelan ludah. "Haruskah kita mundur, atau...""Mundur? Kita harus mundur ke mana?"Begitu garis depan dihantam gelombang pasukan Keluarga Wijaksana yang melarikan diri, garis pertahanan kedua dan ketiga juga akan ikut terseret. Seluruh posisi Keluarga Nirvana bisa runtuh, Keluarga Mahardika yang mengejar dari belakang pasti memanfaatkan kekacauan untuk menerobos masuk.Namun, bertahan juga bukan pilihan mudah. Berte
Wiranata menutup telepon dengan Bramantyo tanpa menunjukkan emosi. Tidak ada simpati terhadap keadaan Bramantyo, tetapi juga tidak ada kepuasan atas keberhasilan rencananya. Ia hanya berjalan tenang kembali ke meja dan mengamati posisi pasukan yang ditandai di atas peta.Keluarga Mahardika sedang melancarkan serangan balik, sementara Arka terus menghantam dari belakang. Bramantyo kini sudah berada dalam keadaan panik."Sampaikan perintah." Suaranya tidak keras, tetapi langsung membuat para perwira yang sejak tadi memperhatikan menjadi tegang. "Perintahkan pasukan di tebing untuk segera mundur."Jarinya berpindah ke wilayah pertahanan timur Keluarga Mahardika. "Setelah itu, tekan sayap timur mereka. Tidak perlu serangan penuh. Cukup buat mereka tidak berani menarik pasukan untuk membantu garis depan."Senyum tipis muncul di wajahnya. "Arka sudah menyerahkan tebing. Tidak ada alasan bagi kita terus berebut tempat itu."Tatapan Wiranata menyapu seluruh ruangan sebelum ia melanjutkan. "Ba
Pos Pengamatan Garis Depan Keluarga Wijaksana.Bramantyo telah memecahkan gelas air ketiganya. Matanya merah dan bengkak ketika melihat pasukan lapis baja yang menjadi kebanggaannya terjebak dalam kekacauan melalui teropong.Serangan mereka bukan hanya berhenti, tetapi di beberapa sektor bahkan mulai dipukul mundur oleh serangan balik Keluarga Mahardika. Dari belakang, laporan buruk terus berdatangan: pos komando jatuh, jalur suplai terputus, dan posisi artileri hancur."Tidak berguna! Kalian semua tidak berguna!"Ia berteriak melalui walkie-talkie, tetapi yang menjawab hanya suara statis bercampur dentuman ledakan dari kejauhan. Keunggulan yang selama ini menjadi sumber kepercayaan dirinya perlahan runtuh, begitu pula keyakinan pasukannya terhadap kemenangan.Kepanikan menyebar di antara pasukan Keluarga Wijaksana. Kali ini bukan sekadar ketidaksiapan menghadapi serangan balik, melainkan ketakutan karena mereka mulai merasa terisolasi dan tidak berdaya menghadapi musuh yang tidak ter
Tepat setelah kalimat itu selesai—KLANG!Suara benturan logam terdengar samar dari arah menara air, diikuti erangan pendek yang langsung terputus. Senyum dingin langsung muncul di wajah Levino. Baginya, hasil pertarungan itu sudah jelas.Maganta tidak pernah gagal. Dan sekarang, penembak jitu mist
Pasukan elit Keluarga Montara yang dibawanya masih bersiaga di sekitar area gelap jalanan, tinggal menunggu perintah untuk bergerak.Namun Levino tidak langsung menjawab, jari-jarinya mengetuk pelan lututnya. Tatapannya tetap mengarah ke menara di kejauhan.Awalnya semuanya berjalan sesuai rencana.
BANGGGGG!Letusan kedua kembali mengguncang malam.DUAAAR!Ledakan lain langsung menyapu jalan. Pikap kedua meledak lebih brutal dari sebelumnya. Api membubung tinggi ke udara, sementara kendaraan itu hancur berkeping-keping bersama orang-orang di dalamnya. Beberapa tubuh bahkan terlempar hingga me
Peter dan anak buahnya masih menembak membabi buta dari atas. Kilatan moncong senjata terus bermunculan dari balik pagar lantai dua seperti hujan api.Pada saat yang sama, tiga mobil Jeep milik Adhyaksa akhirnya tiba di depan kawasan bar. Pintu kendaraan terbuka keras. Para pengawal elit keluarga M







