LOGIN“Lari zigzag! Kita berpencar!”
Kapten memerintahkan Bastian sambil mengarahkan revolver peraknya ke arah babi hutan raksasa itu. Tanpa ragu, Kapten menembakkan revolvernya lagi.
DOR! DOR!
Pelurunya mengenai tanduk kiri dan hidung si babi hutan. Tanduknya sedikit retak, tapi tidak ada luka sedikitpun di hidungnya. Melihatnya, Kapten mengernyitkan alisnya.
“Hewan ini setidaknya Rank 2! Hati-hati, Bastian!”
Bastian berlari zigzag menuruti perintah Kapten. Sesekali dia melihat ke belakang untuk melihat jarak dengan babi hutan itu. Bastian tidak terlihat lelah meskipun berlari dengan menggotong orang dewasa di punggungnya.
Babi hutan itu sudah sangat dekat dengan Kapten. Menghindari terjangannya, Kapten melompat ke sebelah kiri.
Babi hutan itu tidak berhenti berlari. Dia terus mengejar Bastian. Bastian segera menyadari kalau si monster babi hutan itu mengejarnya, atau lebih tepatnya mengejar—
“…hoi! Dia mengejar orang ini?! Kenapa dia tidak mengejar Kapten?!”
Bastian merasa dikhianati. Bukankah dalam cerita-cerita, monster selalu menyerang orang yang paling belakang terlebih dahulu?!
Langkah Bastian semakin cepat. Dia melompati puing-puing dengan mudah, sementara Tommy yang dia gendong merasa sedikit mual. Tetapi Tommy ingin tahu kondisi di sekitarnya.
Tubuh Tommy masih lemah, tapi penglihatannya sudah kembali dan pikirannya kembali jernih. Tommy kini sedikit bisa melihat ke arah belakang.
“Monster…”
Dalam kepala Tommy, ada dua pikiran yang berkecamuk. Yang pertama adalah rasa takut karena monster itu mengincarnya.
Yang kedua adalah pikiran yang datang dari Ashton. Monster babi hutan itu baru saja membunuh Profesor Nicolaus dan keluarganya. Monster itu bahkan membunuh pemilik tubuh ini—Ashton.
Aku merasakan takut, tapi juga marah dan benci pada monster itu. Jadi begitu. Aku tidak sepenuhnya Tommy lagi. Aku merasa kalau aku juga adalah Ashton. Karena itu aku merasakan dua perasaan berbeda pada monster itu.
Bastian yang memperhatikan Tommy, membuka mulutnya untuk memastikan sesuatu.
“Hei, siapa namamu?”
“Uh, namaku—“
Dia ingin menjawab Tommy, tetapi seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya. Secara otomatis, bibirnya mengeluarkan sebuah nama.
“Ash, uh, Ashton …”
Bastian mengangguk. “Oke. Kau tahu kenapa babi itu mengejar—ups!”
Bastian tiba-tiba berbelok ke arah kiri. Babi hutan itu hampir saja mengenai Bastian dan Ashton. Bahkan banyaknya puing-puing bangunan tidak menghambat gerakan monster babi hutan itu.
“Kapten, di mana kau?! Tolong kami!”
Di belakang Bastian dan monster itu, Kapten yang tadinya jaraknya masih jauh karena berhenti, mulai menyusul mereka. Kecepatannya jauh melebihi manusia biasa.
Babi hutan itu seperti menyadari sesuatu dan berbalik ke arah belakang. Babi hutan itu kini berhadapan dengan Kapten, yang penampilan ataupun gerakannya terlihat tidak seperti manusia.
Ashton melihat Kapten dengan mata terbelalak.
Apa-apaan itu?! Apa yang terjadi dengan Kapten?!
Penampilan Kapten yang berlari kencang jauh berbeda dengan tadi. Dia tidak lagi memegang revolvernya. Kapten berlari dengan empat kaki, dengan tubuh yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
“Grrrr!” Ashton mendengar geraman yang keluar dari mulut Kapten, meski posisi mereka agak berjauhan.
Seluruh kakinya berbulu lebat, berwarna abu-abu dan putih. Kedua kaki depan Kapten adalah tangan, tetapi telapak tangannya jauh lebih lebar dari tangan normalnya.
Wajah Kapten tidak lagi seorang pria elegan berkumis coklat. Kepalanya seperti serigala berbulu abu-abu dan putih, dengan moncong panjang dan taring-taring yang tajam. Badannya sangat kekar, hingga mantelnya seperti tidak sanggup bertahan untuk robek.
Kapten masih memakai topi tinggi hitam miliknya. Ashton nyaris tidak bisa berkata apa-apa ketika melihatnya.
“Kenapa si topi berubah menjadi monster?!”
“Oh?” Bastian yang masih berlari, berhenti sejenak. “Kau tidak tahu Vessel?”
“Ves—apa? Apa maksudmu?”
“Vessel. Nama pengguna Relic,” ujar Bastian sambil berlari lagi.
Ashton masih terlihat kebingungan.
Pengguna Relic? Apa lagi—tunggu, Relic? Tadi Profesor membicarakannya denganku!
Ashton mengingat-ingat apa yang dikatakan Profesor Nicolaus ketika sedang makan malam.
“Ashton, ada berita gembira. Haha, mungkin aku terdengar mengada-ada, tapi pekerjaan ini berhubungan dengan kekaisaran legendaris itu!”
Ashton hanya mengangguk. Profesor Nicolaus tidak pernah berbohong padanya. Bagi Nicolaus, Ashton adalah mahasiswa terbaiknya, yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.
“Sebagai akademisi teologi dan sejarah, kita sudah sering mendengar tentang mitos bernama kekaisaran itu. Sayangnya, informasi untuk publik dikontrol oleh pihak kerajaan. Mungkin juga karena ini menyangkut soal Relic.”
“Relic?” Ashton baru pertama kali mendengar istilah itu.
“Betul. Kamu belum tahu kan? Relic adalah—”
“Whups!”
Bastian menghindar ke kanan. Sekarang Ashton bisa merasakan ada yang bergesekan dengan punggungnya. Babi hutan itu menyerang lagi!
Ashton bergidik. Babi hutan itu memilih tidak menghadapi Kapten, tapi dengan sengaja mengincarnya. Dia baru saja bertransmigrasi, tubuhnya masih lemah karena luka parah.
Sekarang dia harus langsung berhadapan dengan monster seperti ini?
“Grrr!”
Kapten bergerak sangat cepat ketika melewati Bastian dan Ashton. Matanya yang berwarna kuning emas menyala dengan ganas. Pandangannya hanya tertuju pada monster babi hutan itu.
“Ahhhh! Kapten, hati-hati! Jangan serang kami!”
Bastian lalu menoleh ke arah Ashton dengan tatapan penuh harap.
“Tolong jangan mati, aku akan berlari sekuat tenagaku!”
Bastian memegang erat-erat bawah kaki Ashton. Ashton tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang berubah. Dia merasa lebih tinggi dari sebelumnya. Kenapa ini?
Ashton melihat ke bawah, ke arah kaki Bastian. Kaki Bastian sudah berubah, yang tadinya memakai sepatu kulit hitam, sekarang seperti kaki hewan buas. Kakinya berbulu putih seperti serigala, panjang dan dengan telapak kaki yang jauh lebih lebar.
“Kau… “
Ashton terdiam ketika Bastian menengok ke belakang. Mata Bastian sekarang berwarna kuning keemasan, dengan rambutnya yang hitam kebiruan berubah warna menjadi putih dan biru.
Mulutnya penuh dengan taring, tapi wajahnya tidak berubah menjadi serigala. Hanya ada bulu putih di dekat telinga dan pipinya.
“Grr, tenanglah, aku hanya bisa merubah kaki dan tanganku. Ayo pergi!”
Bastian lalu mengambil ancang-ancang dan melompat sangat tinggi. Ashton terkesiap.
Kalau mendarat dari ketinggian ini, apa aku akan mati dengan lukaku?
Tapi Bastian tidak mendarat. Dia mengarahkan kakinya ke belakang. Gerakannya hanya berlangsung sepersekian detik. Ashton merasakan adanya gelombang angin yang terbentuk di belakang mereka.
BOOM!
Suara angin yang memecah langit terdengar membahana.
Dengan gelombang angin itu, Bastian melompat ke depan. Ketika dia kehilangan momentum, dia mengarahkan kakinya ke belakang lagi. Dan Ashton merasakan gelombang yang membawa mereka ke depan lagi.
…haha. Luar biasa! Jadi ini kekuatan pengguna Relic? Apa ini kemampuan yang sama dengan dipakai Kapten menyusul kami?
“Grawwww!”
Ashton tersentak dari lamunannya. Ketika Ashton menengok ke belakang, dia melihat babi hutan itu masih berusaha mengejar Bastian dan Ashton. Tapi dia sepertinya terhenti.
“Kerja bagus, Kapten!”
Bastian berteriak sambil melompat dengan gelombang angin. Ashton yang masih melihat ke belakang, menyipitkan matanya.
Jarak antara monster itu dan Kapten cukup jauh. Bagaimana bisa dia menghentikannya?
Kemudian Ashton melihat sesuatu yang membuat mulutnya menganga. Di leher babi hutan itu ada sesuatu yang melilit. Sesuatu itu panjang, besar, dan memiliki kawah seperti bulan. Sesuatu itu datang dari tangan Kapten.
Tidak, mungkin itu salah. Sesuatu itu adalah tangan Kapten. Bahkan ketika malam ini hanya diterangi cahaya bulan, Ashton dengan mudah mengenali sesuatu itu.
Tentakel gurita?! Apa-apaan?! Kapten, bukankah imejmu adalah serigala?! Kenapa tanganmu menjadi tentakel gurita?!
Tidak terpengaruh oleh teriakan teroris itu, Kapten dan Bastian melompat dengan cepat ke depan. Mereka mengarahkan tangan mereka ke target masing-masing.“Akh!”Suara teriakan memenuhi koridor. Tiga orang teroris terluka terkena cakaran Kapten Arthur dan Bastian.Kapten dan Bastian tidak menunggu lama dan kembali menyerang. Deckard melompat ke belakang, menjaga jarak aman dari musuh.“Tenang, Ashton. Aku akan melindungimu.”“Uh, oke.”Sejujurnya, Ashton merasa takut dan gugup ketika diserang tadi. Tapi melihat gerakan anggota Wolf Brigade, dia merasakan sedikit ketenangan di hatinya.Ashton melihat ke depan, ke arah Kapten dan Bastian. Mereka menyerang para teroris satu persatu. Kapten sudah berubah ke bentuk manusia serigalanya, dengan bulu putih abu-abu.Darah di moncong Kapten terlihat jelas oleh Ashton. Sementara Bastian memiliki kaki yang lebih panjang, dan lebih banyak menggunakan tendangan sebagai serangan.“…hanya dua orang, tapi Kapten dan Bastian sangat kuat—”“Jangan senang
Malam ini, Ashton sudah kembali ke ruang tahanannya. Badannya sudah jauh lebih baik, tapi Kapten Arthur menyarankan untuk tetap beristirahat.Ashton hanya menyerap setengah dari obrolan mereka. Sekarang dia sedang duduk di kasur sambil membaca kitab Dewi Kematian.“Aku nyaris hafal setengah isi kitab ini. Tidak sia-sia Ashton, hehehe.”Ashton beberapa kali mencoba membuka kitab secara acak, dan dia dengan mudah menyambung isi dari awal kata atau kalimat yang dia pertama kali lihat di halaman itu.Sejak merasakan resonansi spiritual, Ashton mulai terobsesi dengan para Dewa di dunia ini.“Di dunia ini, berdoa atau melakukan ritual dengan sungguh-sungguh memungkinkan untuk merasakan kehadiran Dewa itu.”Sambil melihat pecahan ingatannya, Ashton tenggelam dalam risetnya.Dalam ingatannya nyaris tidak ada eksistensi orang yang tidak menyembah sesuatu. Di dunia tempat Relic dan para Dewa berada, penduduk sudah biasa melihat keajaiban sehari-hari.Dan dengan koneksi spiritual, orang-orang di
Ashton hanya bisa menghela napas panjang. Bastian yang melihat tingkah Ashton, bicara pelan kepadanya.“Ashton, kami ingin mengatakan sesuatu.”Ashton kembali mendongak, melihat ke arah Bastian. “Kami sudah menemukan dan mengidentifikasi jenazah Profesor Nicolaus beserta keluarganya. Setelah mengecek data dan registrasi, kami tidak menemukan anggota keluarga lain.”“Begitukah? Berarti kalian akan membawaku keluar untuk melakukan ritual?”Pikirannya masih getir. Selain karena masalah ritual, Ashton yang meliihat Bastian dan Deckard teringat kembali tulisan semalam.Ruangan itu hening beberapa saat. Kesunyian itu akhirnya dipecahkan oleh salah satu anggota Wolf Brigade.“Seperti yang Kapten katakan, ini adalah kompensasi yang bisa kami berikan. Apa kamu sudah siap?”Ashton terdiam sejenak.Aku merasa sedih mendengarnya. Jadi memang benar, dengan memiliki ingatan dan perasaan Ashton, aku juga mewarisi hubungan dan relasi dengan kolega Ashton. Aku baru sampai di dunia ini dan sudah kehila
Setelah para anggota Wolf Brigade pergi, Ashton mulai merenung.Universitas Erworne hancur dan Profesor Nicolaus meninggal. Ashton sudah tidak punya kerabat dan kenalan lagi. Ke mana lagi dia bisa berlindung?Pilihannya hanya ada pada Wolf Brigade. Selain karena “Ashton”, aku, adalah pengikut Dewi Kematian, mereka pada dasarnya adalah penolongku.Ashton sudah memperhatikan bagaimana perilaku Wolf Brigade terhadapnya. Setidaknya dia diperlakukan seperti manusia.“Mungkin mereka ingin menipuku. Mereka adalah serigala, licik dan cerdas.”Ashton tiba-tiba seperti tersadar akan sesuatu dan menggelengkan kepalanya.Aku terlalu paranoid. Bukankah Wolf Brigade sudah membantuku sejauh ini? Tanpa mereka aku bisa mati karena luka-lukaku.Ashton memikirkan lagi apa saja yang sudah terjadi pada dirinya. Transmigrasi, pertemuan dengan monster dan manusia super bernama Vessel, lalu keajaiban hingga dirinya bisa sembuh dari luka yang sangat parah.“Dunia ini benar-benar di luar nalar. Magis dan misti
Bastian membuat gestur menggenggam dengan tangan kanannya, lalu menyentuh kening dan dadanya.“Profesor sudah seperti ayahku sendiri. Selain pekerjaan, Profesor ingin membahas tentang, ugh…”Ashton merasakan pipinya basah.Ashton sejujurnya belum memikirkan tentang pernikahan. Dia tahu, sebagai yatim piatu yang biaya kuliahnya ditanggung beasiswa, dia sulit bersaing dengan orang-orang yang mempunya hak istimewa.Tapi Profesor Nicolaus bersikeras ingin membawanya ke dalam keluarganya. Profesor yang bahkan tidak pernah tersenyum ketika memberi pujian di kelas, selalu bersikap hangat ketika mereka berbicara secara pribadi.“Siapa saja yang ikut jamuan pada malam tadi?” Arthur tetap bertanya, seolah nasib Ashton tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.“Profesor, aku, istri profesor — Nyonya Harriet, dan putrinya, Nona Anna. Ada beberapa pelayan tapi aku tidak tahu berapa jumlah mereka.”Ashton berusaha menenangkan diri. Dia menangis dan protes pun, mereka tidak akan hidup kembali.“Tolo
Ketika Ashton membuka matanya, dia hanya melihat langit-langit yang gelap dan lembab. Tampilan itu membuatnya merasa seperti ada di ruang bawah tanah.Ashton mulai bisa merasakan udara yang pengap. Badannya masih sulit digerakkan, tetapi Ashton merasa jauh lebih baik.“Hei, kau akhirnya bangun.”Hmm, di mana aku pernah mendengar kata-kata itu?Ashton menengok ke arah suara itu berasal, di dekat nyala lampu gas.Pria berambut hitam kebiruan dan berhidung mancung sedang bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan. Dia memakai kemeja dan celana panjang hitam.“…”Bibir Ashton berkedut. Tingkah orang ini seperti tokoh utama pada novel percintaan. Aku tidak bertransmigrasi ke novel romansa atau BL atau sejenisnya kan…Bastian mengerutkan dahinya.“Aneh. Aku merasa kalau kau memikirkan hal yang tidak sopan.”“Kenapa tidak? Semua orang tahu kau itu bajingan.”Bastian merengut mendengarnya. Ashton menoleh ke arah suara itu.Ada seorang wanita dengan rambut pirang kehitaman yang dikuncir, k







