LOGIN“Kenapa dia punya tentakel gurita?”
Ashton bertanya pada Bastian. Di tengah kencangnya angin, suara Ashton seperti tenggelam. Bastian tetap bisa mendengarnya dengan jelas.
“Gurita?”
Bastian memiringkan kepalanya, berpikir keras ketika mendengar ucapan Ashton. “Oh, bukan. Tentakel Kapten adalah tentakel dari Kraken.”
Mulut Ashton menganga. Apa dia bilang, Kraken? Di dunia ini ada makhluk legenda seperti itu?
Ashton melihat Bastian lagi. Dia teringat kaki Bastian bisa mengeluarkan gelombang angin yang membuat mereka seperti melompat di udara.
…tidak, pikiranku saja yang terlalu sempit. Dunia ini sangat berbeda dengan duniaku sebelumnya.
Ashton kembali diam. Dia memilih untuk menyimpan tenaganya. Karena kejaran monster babi hutan itu, rasa sakit sebelumnya muncul lagi.
Bastian membawa Ashton dengan kecepatan tinggi. Ashton tahu, Bastian sangat hati-hati dan perhitungannya sangat akurat. Dia tahu kapan mendarat dan melompati puing-puing, serta tahu kapan menggunakan gelombang—
“Hmm? Kenapa aku belum melihat rumah atau gedung lain? Kita sudah berjalan jauh, kenapa aku hanya melihat puing-puing?”
Ashton merasakan hawa di sekitar Bastian berubah. Bastian diam sejenak, lalu dia berbicara dengan pelan.
“…serangan monster—atau mungkin ini ulah teroris, menghancurkan distrik Orchid. Karena itu kami semua dikirim ke sini.”
Ashton bisa merasakan betapa berat hati Bastian ketika dia berbicara.
“… apa? Distrik Orchid?”
Tidak, tidak mungkin. Satu distrik di kota Erworne memiliki luas setidaknya 10 hektar! Serangan itu menghancurkan satu distrik?!
“Di mana orang-orang lain—”
Bastian tanpa ampun memotong kata-kata Ashton. “Tidak ada yang selamat kecuali dirimu.”
“Hah, apa? Tidak, itu—”
Ashton kehilangan kata-kata. Distrik Orchid adalah tempat tinggal sebagian besar mahasiswa dan staf akademis Universitas Erworne.
Ashton melihat sekelilingnya lagi. Hanya ada puing-puing. Dia tidak melihat satu pun manusia lain selain dirinya dan Bastian.
“Tidak, tidak mungkin…”
Hanya aku yang selamat? Ini, bagaimana ini bisa terjadi?! Bahkan ketika bencana pun masih ada kemungkinan korban hidup! Kenapa hanya aku yang selamat?!
“Pak Frank, Mark, Taylor, Ibu Sterlyn …“
Ashton menggumamkan nama orang-orang yang dia kenal satu persatu. Bastian hanya diam dan terus melompat.
Kenapa ini terjadi? Ketika aku baru sampai di sini, orang-orang yang kukenal di sini terkena bencana?
“… kami minta maaf. Seharusnya untuk kasus skala besar seperti ini, para peramal kami selalu waspada.”
Ashton yang bisa merasakan penyesalan pada suara Bastian hanya menggelengkan kepalanya.
Bastian diam sebentar. Dia tidak berusaha menghibur Ashton, tapi suaranya menenangkan.
“Setidaknya kau masih hidup. Florence, rekanku, bisa memulihkanmu.”
Ashton terdiam sesaat. Matanya masih melihat puing-puing yang sejauh mata memandang.
“Siapa, atau apa yang bisa melakukan hal seperti ini?”
“Mungkin ini adalah ulah kelompok,” Bastian menjawab dengan tidak pasti. “Tenang saja. Wolf Brigade akan menyelidiki hal ini.”
“… Wolf Brigade?”
Ashton belum pernah mendengar nama itu. Serigala adalah hewan yang dianggap sebagai tunggangan Dewi Kematian. Apa mereka ada hubungannya dengan Gereja Dewi Kematian?
“Jadi karena itu kalian bisa berubah menjadi serigala?”
Bastian menggelengkan kepalanya. “Tidak, ini adalah Dire Wolf. Kau bisa bilang itu semacam serigala juga.”
Ashton mengangguk. Pandangannya tertuju ke depan. Dari kejauhan, akhirnya dia bisa melihat bangunan yang masih utuh. Mereka menyalakan lilin dan lampu gas, yang membuat Ashton berpikir dia melihat lautan bintang.
“Akhirnya.” sahut Bastian sambil bernapas lega. “Kita hampir sampai di distrik—”
Mata Bastian tiba-tiba terbelalak. Dengan refleks secepat kilat, dia menghindar ke arah kiri.
BRAK!
Tiba-tiba saja ada datang menubruk mereka dari arah belakang. Ashton tidak sempat memproses informasi itu dan hanya bisa menganga.
…apa yang terjadi?
Kini di hadapan mereka ada sesosok besar dengan siluet yang familiar. Tapi Ashton bisa melihat kalau sosok ini lebih kecil dari yang dia lihat sebelumnya.
“…sial!”
Bastian menengok ke belakang dan menggigit bibirnya. Ashton bisa melihat keraguan di mata Bastian.
Ketika Bastian menghadap ke depan lagi, Ashton baru menyadari apa maksud tatapan itu.
…dia tidak bisa bertarung sambil melindungiku. Monster itu jelas mengincarku, jadi kalau dia membawaku lari pun, ada kemungkinan monster itu hanya akan mengejarku dan bukan Bastian.
Angin berhembus kencang ke arah Bastian dan Ashton. Bastian menghindar ke samping, tetapi dia kehilangan keseimbangan karena terserempet badan si babi hutan.
“Ugh!”
Dengan susah payah, Bastian memulihkan posisi tubuhnya dengan tetap memegangi Ashton. Ashton sendiri terombang-ambing di punggung Bastian.
Aku harus melakukan sesuatu! Bagaimana caraku menolong Bastian mengalahkan monster ini?!
“Grrrraw!”
Monster babi hutan di hadapan mereka lebih kecil dari monster yang dihentikan Kapten. Tetapi mereka nyaris sama cepat dan gesit dalam menyerang.
Monster itu melaju dan menyerang mereka kembali. Bastian berkonsentrasi penuh untuk menghindari serangan monster itu. Sementara itu, Ashton masih berpikir keras.
Ashton melihat monster di hadapannya dalam-dalam, sambil terus digendong oleh Bastian.
Pikir, Ashton, pikir! Bagaimana cara menghabisi monster ini sebelum kami terkena serudukannya?!
Tanpa sadar, Ashton berkonsentrasi penuh sambil melihat babi hutan itu. Semakin Bastian bergerak untuk menghindari serangan monster itu, konsentrasi Ashton semakin meningkat.
“Hmph!”
Kali ini, Bastian menendang ke arah samping dan berhasil melukai monster itu ketika menghindar. Monster itu hanya menggeram pelan, tapi ada darah yang keluar dari lukanya.
Tidak sengaja Ashton terciprat darah itu. Tiba-tiba saja muncul gejala aneh dalam penglihatan Ashton.
“…hah?!”
Ketika melihat monster babi hutan itu, Ashton melihat ada retakan merah di dekat bawah mata kiri monster itu. Di tengah retakan-retakan itu, ada sebuah titik merah kecil.
Apa itu?!
“Hm?! Hei, Ashton! Kenapa tubuhmu berbau pemakaman?! Apa yang terjadi?!”
Apa yang dia bicarakan? Aku tidak ada waktu, titik merah itu seolah memanggilku untuk menyerangnya!
“Serang di bawah mata kiri babi hutan itu!”
Ashton tidak peduli kalau terjadi sesuatu. Instingnya mengatakan kalau titik yang dia lihat adalah kelemahan dari si monster babi hutan!
“Hah, apa yang…”
Belum sempat Bastian melayangkan protesnya, mereka diserang lagi. Sekarang, posisi menghindar Bastian memungkinkannya untuk menyerang balik si monster babi hutan.
Karena keadaan dan terngiang-ngiang dengan perkataan Ashton, Bastian menjulurkan kaki kanannya ke bagian bawah mata si monster babi hutan.
Bastian memusatkan gelombang angin di kaki kanannya ke bawah mata monster babi hutan. Gelombang angin itu membentuk pedang dan menusuk targetnya.
“Grahhhh!”
Terdengar teriakan kesakitan dari si monster babi hutan. Tubuhnya tiba-tiba jatuh terjerembab ke tanah. Monster babi hutan itu masih menggeram kesakitan dengan lirih.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Bastian langsung menginjak kepala babi hutan itu dan menghancurkan otaknya dengan injakkannya.
Memastikan babi hutan itu sudah mati, Bastian menengok ke arah Ashton. Bastian terkejut setengah mati ketika melihat wajah Ashton yang kembali pucat pasi.
“Oh, hei! Bertahanlah!”
Bastian kembali berlari untuk keluar dari distrik. Ashton sendri merasakan matanya berkunang-kunang dan perutnya seperti ditusuk-tusuk. Dia nyaris tidak sadarkan diri.
Apakah ini efek samping kekuatan tadi?
Setelah beberapa saat, Bastian dan Ashton akhirnya tiba di penghujung distrik. Di situ terlihat berbagai macam orang pada kerumunan.
Bastian segera masuk pada sebuah gedung besar berlantai dua. Dia menidurkan Ashton pada sebuah sofa yang cukup besar. Anehnya, tidak ada gerombolan orang yang berusaha masuk atau melihat ke dalam gedung.
“Apa pasiennya masih hidup?”
Ashton mulai samar-samar mendengar suara.
Kesadarannya semakin menurun karena kelelahan. Sebelum tertidur, Ashton melihat jendela besar di sebelahnya. Langit malam terlihat jelas dari jendela itu.
“Bulannya…”
Ashton akhirnya melihat perbedaan dunia ini dengan dunia asalnya. Kedua bulan itu, satu terlihat sangat besar dan berwarna merah. Satu lagi lebih kecil, berwarna biru dan bersinar putih.
Entah kenapa Ashton merasa tenang melihat kedua bulan itu. Dia pun akhirnya memejamkan matanya dan tertidur.
Tidak terpengaruh oleh teriakan teroris itu, Kapten dan Bastian melompat dengan cepat ke depan. Mereka mengarahkan tangan mereka ke target masing-masing.“Akh!”Suara teriakan memenuhi koridor. Tiga orang teroris terluka terkena cakaran Kapten Arthur dan Bastian.Kapten dan Bastian tidak menunggu lama dan kembali menyerang. Deckard melompat ke belakang, menjaga jarak aman dari musuh.“Tenang, Ashton. Aku akan melindungimu.”“Uh, oke.”Sejujurnya, Ashton merasa takut dan gugup ketika diserang tadi. Tapi melihat gerakan anggota Wolf Brigade, dia merasakan sedikit ketenangan di hatinya.Ashton melihat ke depan, ke arah Kapten dan Bastian. Mereka menyerang para teroris satu persatu. Kapten sudah berubah ke bentuk manusia serigalanya, dengan bulu putih abu-abu.Darah di moncong Kapten terlihat jelas oleh Ashton. Sementara Bastian memiliki kaki yang lebih panjang, dan lebih banyak menggunakan tendangan sebagai serangan.“…hanya dua orang, tapi Kapten dan Bastian sangat kuat—”“Jangan senang
Malam ini, Ashton sudah kembali ke ruang tahanannya. Badannya sudah jauh lebih baik, tapi Kapten Arthur menyarankan untuk tetap beristirahat.Ashton hanya menyerap setengah dari obrolan mereka. Sekarang dia sedang duduk di kasur sambil membaca kitab Dewi Kematian.“Aku nyaris hafal setengah isi kitab ini. Tidak sia-sia Ashton, hehehe.”Ashton beberapa kali mencoba membuka kitab secara acak, dan dia dengan mudah menyambung isi dari awal kata atau kalimat yang dia pertama kali lihat di halaman itu.Sejak merasakan resonansi spiritual, Ashton mulai terobsesi dengan para Dewa di dunia ini.“Di dunia ini, berdoa atau melakukan ritual dengan sungguh-sungguh memungkinkan untuk merasakan kehadiran Dewa itu.”Sambil melihat pecahan ingatannya, Ashton tenggelam dalam risetnya.Dalam ingatannya nyaris tidak ada eksistensi orang yang tidak menyembah sesuatu. Di dunia tempat Relic dan para Dewa berada, penduduk sudah biasa melihat keajaiban sehari-hari.Dan dengan koneksi spiritual, orang-orang di
Ashton hanya bisa menghela napas panjang. Bastian yang melihat tingkah Ashton, bicara pelan kepadanya.“Ashton, kami ingin mengatakan sesuatu.”Ashton kembali mendongak, melihat ke arah Bastian. “Kami sudah menemukan dan mengidentifikasi jenazah Profesor Nicolaus beserta keluarganya. Setelah mengecek data dan registrasi, kami tidak menemukan anggota keluarga lain.”“Begitukah? Berarti kalian akan membawaku keluar untuk melakukan ritual?”Pikirannya masih getir. Selain karena masalah ritual, Ashton yang meliihat Bastian dan Deckard teringat kembali tulisan semalam.Ruangan itu hening beberapa saat. Kesunyian itu akhirnya dipecahkan oleh salah satu anggota Wolf Brigade.“Seperti yang Kapten katakan, ini adalah kompensasi yang bisa kami berikan. Apa kamu sudah siap?”Ashton terdiam sejenak.Aku merasa sedih mendengarnya. Jadi memang benar, dengan memiliki ingatan dan perasaan Ashton, aku juga mewarisi hubungan dan relasi dengan kolega Ashton. Aku baru sampai di dunia ini dan sudah kehila
Setelah para anggota Wolf Brigade pergi, Ashton mulai merenung.Universitas Erworne hancur dan Profesor Nicolaus meninggal. Ashton sudah tidak punya kerabat dan kenalan lagi. Ke mana lagi dia bisa berlindung?Pilihannya hanya ada pada Wolf Brigade. Selain karena “Ashton”, aku, adalah pengikut Dewi Kematian, mereka pada dasarnya adalah penolongku.Ashton sudah memperhatikan bagaimana perilaku Wolf Brigade terhadapnya. Setidaknya dia diperlakukan seperti manusia.“Mungkin mereka ingin menipuku. Mereka adalah serigala, licik dan cerdas.”Ashton tiba-tiba seperti tersadar akan sesuatu dan menggelengkan kepalanya.Aku terlalu paranoid. Bukankah Wolf Brigade sudah membantuku sejauh ini? Tanpa mereka aku bisa mati karena luka-lukaku.Ashton memikirkan lagi apa saja yang sudah terjadi pada dirinya. Transmigrasi, pertemuan dengan monster dan manusia super bernama Vessel, lalu keajaiban hingga dirinya bisa sembuh dari luka yang sangat parah.“Dunia ini benar-benar di luar nalar. Magis dan misti
Bastian membuat gestur menggenggam dengan tangan kanannya, lalu menyentuh kening dan dadanya.“Profesor sudah seperti ayahku sendiri. Selain pekerjaan, Profesor ingin membahas tentang, ugh…”Ashton merasakan pipinya basah.Ashton sejujurnya belum memikirkan tentang pernikahan. Dia tahu, sebagai yatim piatu yang biaya kuliahnya ditanggung beasiswa, dia sulit bersaing dengan orang-orang yang mempunya hak istimewa.Tapi Profesor Nicolaus bersikeras ingin membawanya ke dalam keluarganya. Profesor yang bahkan tidak pernah tersenyum ketika memberi pujian di kelas, selalu bersikap hangat ketika mereka berbicara secara pribadi.“Siapa saja yang ikut jamuan pada malam tadi?” Arthur tetap bertanya, seolah nasib Ashton tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.“Profesor, aku, istri profesor — Nyonya Harriet, dan putrinya, Nona Anna. Ada beberapa pelayan tapi aku tidak tahu berapa jumlah mereka.”Ashton berusaha menenangkan diri. Dia menangis dan protes pun, mereka tidak akan hidup kembali.“Tolo
Ketika Ashton membuka matanya, dia hanya melihat langit-langit yang gelap dan lembab. Tampilan itu membuatnya merasa seperti ada di ruang bawah tanah.Ashton mulai bisa merasakan udara yang pengap. Badannya masih sulit digerakkan, tetapi Ashton merasa jauh lebih baik.“Hei, kau akhirnya bangun.”Hmm, di mana aku pernah mendengar kata-kata itu?Ashton menengok ke arah suara itu berasal, di dekat nyala lampu gas.Pria berambut hitam kebiruan dan berhidung mancung sedang bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan. Dia memakai kemeja dan celana panjang hitam.“…”Bibir Ashton berkedut. Tingkah orang ini seperti tokoh utama pada novel percintaan. Aku tidak bertransmigrasi ke novel romansa atau BL atau sejenisnya kan…Bastian mengerutkan dahinya.“Aneh. Aku merasa kalau kau memikirkan hal yang tidak sopan.”“Kenapa tidak? Semua orang tahu kau itu bajingan.”Bastian merengut mendengarnya. Ashton menoleh ke arah suara itu.Ada seorang wanita dengan rambut pirang kehitaman yang dikuncir, k







