Home / Fantasi / Sang Penguasa Relic / 1. Langit Gelap

Share

Sang Penguasa Relic
Sang Penguasa Relic
Author: guis_dad

1. Langit Gelap

Author: guis_dad
last update publish date: 2026-08-10 11:46:48

Tommy hanya melihat kegelapan ketika sadar. Dia berusaha membuka matanya lebih lebar, tetapi rasanya kelopak matanya sangat berat untuk digerakkan.

…apa yang terjadi? Kenapa punggungku seperti ada di atas batu-batu?

Tommy merasa kalau dia terbaring di atas kumpulan batu-batu yang tidak beraturan bentuknya. Dari yang dirasakan oleh punggungnya, Tommy yakin kalau dia berada di atas puing-puing bangunan.

Merasa heran dengan kondisinya, Tommy mencoba menggerakkan tubuhnya.

Aneh. Kenapa badanku rasanya lemas sekali?

Tidak ada satu pun anggota tubuhnya yang bisa dia gerakkan.

Angin malam mengenai wajah Tommy. Tommy tiba-tiba saja merasa tenggorokannya gatal. Seketika dia batuk tanpa bisa mengontrol reaksi dari tubuhnya.

“Uhuk!”

Batuk Tommy mengeluarkan semacam cairan yang membasahi mulut dan dadanya. Perlahan-lahan, Tommy merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

“Ugh, uaghh …”

Tommy berusaha berbicara, tapi dia hanya bisa bergumam lirih. Dia merasa panik, khawatir kalau tubuhnya terluka parah.

Aku merasa sakit sekali! Apa yang terjadi semalam? Aku hanya ingat pergi tidur seperti biasa. Apa apartemenku runtuh saat aku tidur?!

Rasa sakit yang panjang dan berkelanjutan membuat Tommy sadar bahwa dirinya sedang sekarat. Dia bisa mati kapan saja.

*Apa aku akan mati begitu saja? Tidak, tidak!

Tommy merasa pikirannya semakin lemah. Tiba-tiba, Tommy mendengar suara yang tidak jauh dari dirinya.

“Pujian pada Dewi Kematian! Ada yang selamat!”

Tommy tidak bisa mendengar suara itu dengan jelas karena kesadarannya semakin menipis.

Siapa yang bicara itu? Malaikat maut? Apa dia datang menjemputku?

Tommy merasakan gerakan angin kecil di dekat tubuhnya. Ada yang mendekatinya dengan cepat.

Sosok itu adalah laki-laki berumur sekitar tiga puluh tahunan, dengan kumis coklat yang lebat. Dia memakai topi tinggi dan mantel besar berwarna hitam.

Tommy yang hampir kehilangan kesadarannya merasakan tenggorokannya gatal kembali. Dia kembali batuk dan mengeluarkan cairan merah.

“Sial!”

Sambil mengumpat, pria bertopi itu bergerak ke samping Tommy. Perlahan, dia memposisikan Tommy agar duduk.

Pria itu mengeluarkan sebuah tabung kecil dari sakunya dan meminumkan isinya yang berupa cairan biru pada Ashton. Tommy merasakan sensasi yang seakan membangunkannya dari tidur.

Akh, apa yang terjadi?

Tommy merasakan panas dan perih di kerongkongannya. Kesadaran Tommy perlahan-lahan kembali. Dia mulai berpikir jernih.

Cairan apa ini?! Rasanya panas dan sakit sekali!

Tommy ingin meronta-ronta. Tapi tubuhnya masih tidak bisa digerakkan. Dia hanya bisa mengerang dengan lemah.

“Ugh, agh ...”

Tommy memejamkannya lagi karena menahan sakit.

“Tahanlah sebentar, lukamu sangat parah.”

Tommy mulai merasakan kehangatan di perutnya. Rasa hangat itu mengalir perlahan ke tangan, kaki, pundak, dada, perut, dan kepalanya.

Tommy masih lemah, tapi rasa sakitnya berkurang. Pria bertopi itu bernapas lega. Sedetik kemudian, ada orang lain yang mendekat.

“Bagaimana kondisinya?” tanya pria yang baru datang itu.

Pria itu memakai setelan hitam yang mirip dengan pria bertopi itu. Rambutnya panjang sebahu—berwarna hitam sedikit kebiruan—bergerak seperti ditiup angin.

“Sangat beruntung. Dia nyaris tidak tertolong,” ujar si pria bertopi.

Tommy kini merasakan rasa kantuknya perlahan-lahan menghilang. Tommy lalu mencoba membuka matanya lagi. Pandangannya kabur, tetapi Tommy akhirnya bisa melihat sekeliling dengan menggerakkan matanya.

Kegelapan malam mengelilinginya, hanya terobati oleh terangnya sinar merah rembulan. Sesuai dugaannya tadi, dia berada pada puing-puing bangunan.

“…?”

*Di mana ini?

“Jangan bergerak,” ujar pria bertopi itu. “Lukamu belum sembuh sepenuhnya.”

Tommy hanya mengangguk pelan. Kondisinya belum pulih, tapi Tommy bisa berpikir dengan tenang lagi. Ketika dia melihat pria bertopi itu, Tommy merasa ada yang janggal.

Perawakannya seperti orang Eropa atau Amerika. Tapi kenapa aku tidak tahu dan tidak pernah mendengar bahasa apa yang dia gunakan? Dan kenapa aku bisa mengerti ucapannya?

“Bastian, bawa dia.”

Bastian dengan mudah mengangkat Tommy dan menggendongnya di punggungnya.

Bastian lalu berjalan hati-hati melewati puing-puing bangunan, sedangkan si pria bertopi mengikuti mereka dari belakang.

“Hei, kau tidak apa-apa?”

Bastian sedang berusaha mengajak Tommy bicara agar tetap sadar. Mendengar Bastian, Tommy ingin berbicara sambil menggelengkan kepalanya.

“Aku, aku tidak—uhuk!“

Tiba-tiba saja Tommy batuk dan mengeluarkan darah lagi.

“Uh oh! Bertahanlah!”

Bastian langsung mempercepat langkahnya begitu melihat kondisi Tommy. Tommy merasakan kepalanya sangat pening. Rasanya seperti ada yang memukul kepalanya dengan palu tanpa henti.

Dia melihat bagian-bagian ingatan yang bukan miliknya dalam pikirannya. Tommy seperti menjadi orang lain dan merasakan apa yang orang itu rasakan, melakukan apa yang orang itu lakukan.

Apa, apa ini?! Kenapa aku—

Kepala Tommy rasanya seperti dibuka paksa dan dituang dengan cairan yang sangat panas. Cairan itu membuat Tommy merasakan ingatannya sendiri bercampur dengan ingatan orang tersebut.

Setiap sel dalam tubuhnya berteriak. Perlahan-lahan, Tommy merasa seperti pemilik dari ingatan orang lain itu.

Sambil merasakan penglihatan yang berputar, Tommy akhirnya menerima ingatan baru itu sebagai ingatannya sendiri.

Aku mengerti! Aku sudah bertransmigrasi! Ini bukan bumi, ini bukan tubuh asliku! Ini adalah tubuh dari—

Ashton!”

Tubuhnya adalah milik Ashton Gray, seorang mahasiswa Universitas Erworne tahun ketiga. Ayahnya adalah seorang pekerja pabrik dan sudah meninggal tiga tahun lalu. Ibunya meninggal ketika Ashton baru bisa berjalan.

Tommy mengingat kejadian terakhir yang dilihat oleh tubuh Ashton. Malam ini, Profesor Nicolaus, orang yang sudah Ashton anggap seperti ayahnya sendiri, mengundangnya makan malam di kediamannya.

“Uh, aku—agh!”

Mendengar rintihan Ashton, Bastian berteriak pada si pria bertopi.

“Kapten!”

Kapten lalu mengamati wajah tubuh itu—Ashton, yang merintih kesakitan. Dia segera memerintahkan Bastian untuk bergerak lebih cepat.

“Keadaannya tidak bagus! Hei, ayo cepat—”

BRAK!

Tiba-tiba saja, ada suara keras dari belakang mereka. Bastian dan Kapten menengok ke belakang dan melihat debu yang berterbangan. Di tengahnya, ada sosok besar yang berlari kencang ke arah mereka.

“Lari!”

Kapten langsung mengeluarkan revolver perak dari saku mantelnya dan bersiap menembak. Tanpa basa-basi, Bastian berlari dengan liar. Dia melompati puing-puing di sekitarnya dengan lincah tanpa kehilangan keseimbangan.

DOR!

Kapten menembak sosok itu di kakinya. Sepertinya tidak berhasil, karena sosok itu tidak mengubah arahnya sedikitpun.

Tommy yang masih mencerna ingatan dan emosi baru di dalam dirinya, hanya bisa tertunduk lemah. Karena gerakan Bastian yang lebih kasar, kepalanya bergerak seperti bendera yang tertiup angin.

Sekelebatan, Tommy melihat sosok di belakang mereka itu.

Sosok itu—

Ingatan terakhir Ashton terngiang-ngiang kembali di pikiran Tommy. Malam ini, Ashton dan Profesor Nicolaus sedang berbicara di meja makan. Istrinya tersenyum selama jamuan. Putri Nicolaus terlihat malu-malu dan mencuri-curi pandang ke arah Ashton.

Ashton tiba-tiba saja mendengar suara keras. Tepat di hadapannya, ada sosok besar yang berlari ke arahnya. Ashton tidak bisa bergerak saking kagetnya.

Sosok yang menyerang mereka sangat besar. Semua orang di meja makan ditabrak oleh sosok itu. Ashton hanya ingat beberapa hal sebelum tidak sadarkan diri.

”Ashton!”

Profesor Nicolaus mendekati Ashton sambil berteriak, tapi sudah terlambat. Ashton merasakan hantaman yang keras.

Saat ini, Tommy melihat makhluk yang membuat Ashton luka parah.

Seekor babi hutan dengan ukuran sebesar gajah, bermata merah yang penuh kemarahan dengan tanduk yang besar dan melengkung. Kulitnya seperti dipenuhi duri, dan ada tulang yang menonjol dari punggungnya.

Sosok babi hutan yang menghancurkan rumah Profesor Nicolaus sekarang berlari dari belakang dengan sangat kencang!

Monster itu, dia kembali?!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Penguasa Relic   9. Konfrontasi

    Tidak terpengaruh oleh teriakan teroris itu, Kapten dan Bastian melompat dengan cepat ke depan. Mereka mengarahkan tangan mereka ke target masing-masing.“Akh!”Suara teriakan memenuhi koridor. Tiga orang teroris terluka terkena cakaran Kapten Arthur dan Bastian.Kapten dan Bastian tidak menunggu lama dan kembali menyerang. Deckard melompat ke belakang, menjaga jarak aman dari musuh.“Tenang, Ashton. Aku akan melindungimu.”“Uh, oke.”Sejujurnya, Ashton merasa takut dan gugup ketika diserang tadi. Tapi melihat gerakan anggota Wolf Brigade, dia merasakan sedikit ketenangan di hatinya.Ashton melihat ke depan, ke arah Kapten dan Bastian. Mereka menyerang para teroris satu persatu. Kapten sudah berubah ke bentuk manusia serigalanya, dengan bulu putih abu-abu.Darah di moncong Kapten terlihat jelas oleh Ashton. Sementara Bastian memiliki kaki yang lebih panjang, dan lebih banyak menggunakan tendangan sebagai serangan.“…hanya dua orang, tapi Kapten dan Bastian sangat kuat—”“Jangan senang

  • Sang Penguasa Relic   8. Serangan Kejutan

    Malam ini, Ashton sudah kembali ke ruang tahanannya. Badannya sudah jauh lebih baik, tapi Kapten Arthur menyarankan untuk tetap beristirahat.Ashton hanya menyerap setengah dari obrolan mereka. Sekarang dia sedang duduk di kasur sambil membaca kitab Dewi Kematian.“Aku nyaris hafal setengah isi kitab ini. Tidak sia-sia Ashton, hehehe.”Ashton beberapa kali mencoba membuka kitab secara acak, dan dia dengan mudah menyambung isi dari awal kata atau kalimat yang dia pertama kali lihat di halaman itu.Sejak merasakan resonansi spiritual, Ashton mulai terobsesi dengan para Dewa di dunia ini.“Di dunia ini, berdoa atau melakukan ritual dengan sungguh-sungguh memungkinkan untuk merasakan kehadiran Dewa itu.”Sambil melihat pecahan ingatannya, Ashton tenggelam dalam risetnya.Dalam ingatannya nyaris tidak ada eksistensi orang yang tidak menyembah sesuatu. Di dunia tempat Relic dan para Dewa berada, penduduk sudah biasa melihat keajaiban sehari-hari.Dan dengan koneksi spiritual, orang-orang di

  • Sang Penguasa Relic   7. Ritual

    Ashton hanya bisa menghela napas panjang. Bastian yang melihat tingkah Ashton, bicara pelan kepadanya.“Ashton, kami ingin mengatakan sesuatu.”Ashton kembali mendongak, melihat ke arah Bastian. “Kami sudah menemukan dan mengidentifikasi jenazah Profesor Nicolaus beserta keluarganya. Setelah mengecek data dan registrasi, kami tidak menemukan anggota keluarga lain.”“Begitukah? Berarti kalian akan membawaku keluar untuk melakukan ritual?”Pikirannya masih getir. Selain karena masalah ritual, Ashton yang meliihat Bastian dan Deckard teringat kembali tulisan semalam.Ruangan itu hening beberapa saat. Kesunyian itu akhirnya dipecahkan oleh salah satu anggota Wolf Brigade.“Seperti yang Kapten katakan, ini adalah kompensasi yang bisa kami berikan. Apa kamu sudah siap?”Ashton terdiam sejenak.Aku merasa sedih mendengarnya. Jadi memang benar, dengan memiliki ingatan dan perasaan Ashton, aku juga mewarisi hubungan dan relasi dengan kolega Ashton. Aku baru sampai di dunia ini dan sudah kehila

  • Sang Penguasa Relic   6. Tahanan

    Setelah para anggota Wolf Brigade pergi, Ashton mulai merenung.Universitas Erworne hancur dan Profesor Nicolaus meninggal. Ashton sudah tidak punya kerabat dan kenalan lagi. Ke mana lagi dia bisa berlindung?Pilihannya hanya ada pada Wolf Brigade. Selain karena “Ashton”, aku, adalah pengikut Dewi Kematian, mereka pada dasarnya adalah penolongku.Ashton sudah memperhatikan bagaimana perilaku Wolf Brigade terhadapnya. Setidaknya dia diperlakukan seperti manusia.“Mungkin mereka ingin menipuku. Mereka adalah serigala, licik dan cerdas.”Ashton tiba-tiba seperti tersadar akan sesuatu dan menggelengkan kepalanya.Aku terlalu paranoid. Bukankah Wolf Brigade sudah membantuku sejauh ini? Tanpa mereka aku bisa mati karena luka-lukaku.Ashton memikirkan lagi apa saja yang sudah terjadi pada dirinya. Transmigrasi, pertemuan dengan monster dan manusia super bernama Vessel, lalu keajaiban hingga dirinya bisa sembuh dari luka yang sangat parah.“Dunia ini benar-benar di luar nalar. Magis dan misti

  • Sang Penguasa Relic   5. Awal

    Bastian membuat gestur menggenggam dengan tangan kanannya, lalu menyentuh kening dan dadanya.“Profesor sudah seperti ayahku sendiri. Selain pekerjaan, Profesor ingin membahas tentang, ugh…”Ashton merasakan pipinya basah.Ashton sejujurnya belum memikirkan tentang pernikahan. Dia tahu, sebagai yatim piatu yang biaya kuliahnya ditanggung beasiswa, dia sulit bersaing dengan orang-orang yang mempunya hak istimewa.Tapi Profesor Nicolaus bersikeras ingin membawanya ke dalam keluarganya. Profesor yang bahkan tidak pernah tersenyum ketika memberi pujian di kelas, selalu bersikap hangat ketika mereka berbicara secara pribadi.“Siapa saja yang ikut jamuan pada malam tadi?” Arthur tetap bertanya, seolah nasib Ashton tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.“Profesor, aku, istri profesor — Nyonya Harriet, dan putrinya, Nona Anna. Ada beberapa pelayan tapi aku tidak tahu berapa jumlah mereka.”Ashton berusaha menenangkan diri. Dia menangis dan protes pun, mereka tidak akan hidup kembali.“Tolo

  • Sang Penguasa Relic   4. Interogasi

    Ketika Ashton membuka matanya, dia hanya melihat langit-langit yang gelap dan lembab. Tampilan itu membuatnya merasa seperti ada di ruang bawah tanah.Ashton mulai bisa merasakan udara yang pengap. Badannya masih sulit digerakkan, tetapi Ashton merasa jauh lebih baik.“Hei, kau akhirnya bangun.”Hmm, di mana aku pernah mendengar kata-kata itu?Ashton menengok ke arah suara itu berasal, di dekat nyala lampu gas.Pria berambut hitam kebiruan dan berhidung mancung sedang bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan. Dia memakai kemeja dan celana panjang hitam.“…”Bibir Ashton berkedut. Tingkah orang ini seperti tokoh utama pada novel percintaan. Aku tidak bertransmigrasi ke novel romansa atau BL atau sejenisnya kan…Bastian mengerutkan dahinya.“Aneh. Aku merasa kalau kau memikirkan hal yang tidak sopan.”“Kenapa tidak? Semua orang tahu kau itu bajingan.”Bastian merengut mendengarnya. Ashton menoleh ke arah suara itu.Ada seorang wanita dengan rambut pirang kehitaman yang dikuncir, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status