Mag-log in"Lo boleh pake baju yang mana aja. pilih suka-suka lo pokoknya." Kata Rianti. Gadis itu membuka lemari dan menunjukkan koleksi pakaiannya pada Diara.
Lemari di kamar kost Rianti, memang tidak sama dengan lemari pakaian yang ada di kamar kost Diara. Tentu saja. Hal tersebut dikarenakan tipe kamar mereka yang berbeda, dan jelas harganya pun berbeda.Harga sewa kamar Diara hanya sekitar tujuh ratus ribu rupiah sementara harga sewa kamar Rianti satu juta empat ratus ribu rupiahSudah tiga hari Zaenal pergi, dan penurut perhitungan hari ini lelaki itu dan istri pertamanya pulang. Seharusnya Diara senang karena tidak akan kesepian lagi, tapi justru sekarang malah sebaliknya. Perempuan itu malah berharap suaminya tidak pulang saja sekalian agar Diara bisa keluar rumah dengan leluasa. Huh memangnya lelaki itu saja yang bisa bersenang-senang dengan istrinya! Diara juga bisa mencari kesenangannya sendiri. Iya, benar, Diara sudah mendapat kesenangannya sendiri. Kau pasti tahu kan apa yang Diara maksud? Diara senang karena sekarang sudah memiliki incaran baru, Roni--suaminya Raya. Ada sebuah dorongan besar yang membuat Diara bersemangat untuk memiliki lelaki itu. Saking besarnya ia sudah tidak peduli pada suaminya sendiri. Acapkali lelaki itu menghubungi--menanyakan kabar, Diara selalu mengabaikannya. Bukan hanya karena marah, tapi ia memang sudah tidak peduli pada pernikahannya. Sekarang ini, ia lebih mementingkan untuk mengejar Roni saja. Namun Diara mempunya
Sampai selesai mencuci piring, Raya belum juga pulang. Hal tersebut tentu saja membuat Diara senang. itu keuntungan baginya, ia merasa semesta merestui keinginannya untuk berduaan dengan Roni. Dalam hati Diara mengucapkan terima kasih pada Raya. Raya betul-betul sahabat terbaik. Diara rasa sekalipun ia meminta berbagi Roni, Raya pasti tidak akan keberatan. Diara sangat yakin itu. Mengelap tangan terlebih dulu agar sisa-sisa air sehabis mencuci piring kering, Diara lalu menghirup napas dalam-dalam sebelum membawa langkahnya menghampiri suami sang sahabat. Tak lupa ia menyempatkan untuk berdoa agar niatnya mendekati Roni dapat berjalan dengan mulus. Yah meski ia sendiri tidak yakin jika doanya akan di dengar. Tapi tidak mengapa ia tetap berdoa saja, sebagai formalitas. Hahaha.. Diara lantas mendudukkan diri begitu sampai di ruang tengah. Mengambil tempat duduk di dekat Roni dengan hanya memberi jarak tidak lebih dari setengah meter saja. "Sudah selesai?" Tanya Roni. wanita ha
"Makan yang banyak. Kasian itu anak kamu pasti kelaperan banget dari tadi." Tidak hanya menawari dan mengajak makan saja, Roni juga menaruhkan beraneka makanan yang tersaji di meja itu ke atas piring Diara. Apakah selama ini Diara kurang peka? atau memang sikap Roni padanya kali ini yang memang berbeda? Sungguh Diara benar-benar baru menyadari kalau ternyata Roni seperhatian ini. Diara tahu tentang kepedulian Roni padanya, tentang lelaki itu yang selalu membantu dan mensupportnya ketika ia kehilangan Seno dan ketika ia hampir keguguran. Namun, entah mengapa apa yang Roni lakukan dulu dengan yang dilakukan kali ini, Diara merasa ada perbedaan. Diara tidak tahu apakah hanya perasaannya saja, atau memang benar seperti itu. Namun apapun itu, ia sangat senang di perhatikan seperti ini. Salah tidak sih jika ia merasa senang mendapat perhatian dari suami sahabatnya sendiri? Ah sepertinya tidak ya? Dan Diara rasa Raya juga tidak akan keberatan karena mereka bersahabat. Raya pasti senan
Siapa sih yang tidak sakit hati jika diperlukan seperti itu oleh suami sendiri? Apalagi dalam keadaan hamil. Zaenal sudah benar-benar keterlaluan, lelaki itu sudah tidak menghargai Diara lagi sebagai istrinya. Diara sungguh penasaran, sebenarnya apa sih yang sudah dilakukan Echa sehingga membuat Zaenal dengan waktu singkat bisa berubah begitu? Tidak mungkin wanita itu tidak melakukan apa-apa 'kan? mengingat hubungan Diara dan Zaenal yang baik-baik saja sebelumnya. Arghh ... Diara meremas rambut dengan kasar--frustasi. Seharusnya yang pernikahannya memburuk itu Echa bukannya malah dirinya! Agaknya Diara harus memikirkan sesuatu agar keadaannya berbalik lagi. Tapi bagaimana caranya? Arghh ... Kembali wanita hamil itu meremas rambutnya gemas. Kepalanya pusing sekali memikirkan hal ini. Belum lagi perutnya yang mulai keroncongan minta di isi. Sejak bangun tidur sampai waktu menunjukkan pukul sepuluh, sama sekali Diara belum memasukan apapun ke dalam mulutnya. Kakak madunya itu tida
Dugaan Diara salah, harapannya musnah, sudah. Dan hanya berakhir menjadi angan-angan saja. Diara kira malam itu menjadi awal mula untuk terus memadu kasih bersama Zaenal di depan Echa, ternyata itu menjadi momen pertama sekaligus yang terakhir. Diara pikir ketika Echa mengamuk dan menuntut bercerai, seperti biasa Zaenal hanya akan memberikan janji-janji palsu--hanya untuk membujuk saja, setelahnya akan ingkar seperti yang sudah-sudah. Namun Diara tak menyangka, Zaenal sungguh-sungguh menepati janjinya tersebut. Dan itu terbukti benar dengan penolakan tegas yang diberikan Zaenal acapkali Diara menggodanya untuk melakukan lagi. Agaknya laki-laki itu sangat mencintai istri pertamanya dan sangat takut kehilangan sehingga lebih memilih menahan diri dan mengabaikan istri keduanya. Pengabaian yang dilakukan Zaenal pada Diara nyatanya tidak hanya sampai di situ saja. Hal itu terus berlanjut dan semakin parah dari waktu ke waktu, sampai-sampai tidak sadar Zaenal telah mengabaikan Diara hi
"Dira. Kenapa kamu ada di sini?" Zaenal bersuara berbisik seraya sedikit mengangkat tubuhnya, ia melirik was-was ke arah Echa yang masih begitu terlelap di tempatnya. "Aku kangen kamu Mas. Aku udah gak tahan." Diara sengaja membuat suaranya begitu seksual sembari terus memijat dengan seduktif benda sensitif milik Zaenal yang ia favoritkan. Netra Zaenal terpejam, ia mendesis samar merasakan desiran gairah akibat ulah yang istri mudanya lakukan. Diara merasakan benda itu berkedut-kedut, mulai menegang. Ia tersenyum menyeringai karena berhasil memantik gairah suaminya tersebut. "A-ayo pindah. Uh! Pindah ke kamarmu." Susah payah Zaenal menyusun kalimatnya. Ia meminta Diara untuk pindah--melakukannya di kamar sang istri kedua. Namun jelas saja Diara memberikan gelengan kepala. Ia menginginkan berhubungan intim di kamar itu, dan di lihat oleh kakak madunya. Itu sudah menjadi keinginannya sejak awal. "Kenapa harus pindah? Di sini saja Mas. Bukannya Mas juga sudah gak tahan?" "J-jangan.
Semenjak malam itu, pekerjaan Diara menjadi bertambah lagi. Bagaimana tidak? Endy jadi sering berkunjung ke rumah Bima. Bisa satu bulan sekali, kadang dua minggu sekali. Padahal tempat tinggalnya cukup jauh dan berbeda kota. Dulu sebelum mempunyai hubungan dengan Diara, lelaki tua itu hanya akan
"Apa yang kalian lakukan?""Ayah." Cicit Bima dengan mata yang membola. Lalu dengan tergesa-gesa Bima dan Diara merapikan pakaian masing-masing. Sungguh demi apapun, sekarang Diara merasa takut sekali. Entah ke mana perginya keberanian yang tadi sempat singgah dalam benaknya. Keberanian itu malah
Sudah tiga bulan lebih, hubungan gelap Diara dan Bima terjalin. Dan selama itu pula Nadia tidak pernah curiga atau mengendus gelagat mereka sedikitpun.Diara dan Bina memang sangat berhati-hati sekali. Bagaimanapun juga mereka ingin bermain aman. Mereka tidak ingin, jika hubungannya terbongkar dan
Rasa kantuk jelas masih Diara rasakan sebab ia hanya tidur sekitar setengah jam saja. Tadi malam, Bima benar-benar menggempurnya habis-habisan. Sampai rasanya Diara sudah tidak sanggup lagi. Laki-laki itu seperti aji mumpung sampai melakukannya hingga berkali-kali dan tidak ragu lagi untuk menumpa







