Share

Bab 6

Author: Noona_im
last update publish date: 2024-09-25 17:51:56

"Apa yang kalian lakukan?"

"Ayah." Cicit Bima dengan mata yang membola. Lalu dengan tergesa-gesa Bima dan Diara merapikan pakaian masing-masing.

Sungguh demi apapun, sekarang Diara merasa takut sekali. Entah ke mana perginya keberanian yang tadi sempat singgah dalam benaknya. Keberanian itu malah menguap begitu saja bersamaan dengan puncak pelepasaan yang didapat.

"Apa yang kamu lakukan dengan pembantumu ini?" Kambali Endy--ayah dari Bima melayangkan pertanyaan yang sama seraya mengayunkan tungkai kakinya mendekati mereka.

Sontak saja Diara menunduk dan mengerut takut di belakang tubuh Bima, ketika melihat sorot mata pria tua itu yang menatapnya tajam.

"A-ku bisa jelaskan, Yah. I-ini semua--"

"Kamu berselingkuh dengan pembantumu?!" Endy langsung memotong ucapan anaknya.

Bima semerta-merta bersimpuh di kaki Endy. "Maafkan aku Yah, aku khilaf. Aku mohon jangan beritahu Nadia. Aku janji tidak akan melakukannya lagi."

Diara terkejut mendengar kalimat yang baru saja dikuapkan oleh Bima. Bagaimana tidak? Jika itu benar terjadi, itu artinya Bima tidak akan melakukan dengannya lagi dan hubungan mereka akan berakhir? Tidak! Diara tidak ingin hubungannya dengan Bima berakhir begitu saja. Meski tidak ada ikatan apapun diantara mereka tapi Diara tidak rela jika hubungan saling menguntungkan itu kandas.

Diara menggelengkan kepala kuat dan berucap tegas. "Mas!"

Namun bukan hanya Bima yang menoleh, justru Endy juga mengalihkan atensinya pada gadis itu dan melesatkan tatapan yang begitu mengerikan.

"Apa? Mas? Kamu memanggil anak saya dengan sebutan Mas?" Tanyanya. Diara semakin menunduk mendengar pertanyaan mengintimidasi itu.

'Aduh, bodoh! kenapa aku harus keceplosan memanggil Mas Bima dengan embel-embel Mas dalam situasi seperti ini sih? Membuat tambah runyam saja!'

"Jadi sudah sejauh itu hubungan kalian?" Endy bertanya lagi dan lidah Diara semakin kelu tidak bisa menjawab apapun.

"Tidak, Yah. Kami--"

"Tidak apa, ha? Kamu sudah jelas tertangkap basah Bima!"

Bima semakin bersimpuh di kaki ayahnya memohon agar Endy tidak memberitahukan hal ini pada Nadia. Sementara Diara tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa terdiam membisu seraya menundukkan kepala semakin dalam.

Dalam hati Diara terus merutuki dirinya sendiri. Semua ini terjadi memang karena salahnya, lebih tepatnya salah hormonnya yang tidak bisa diajak berkompromi. Andai saja tadi Diara bisa sedikit menahan dan mengajak Bima untuk pindah ke kamarnya terlebih dahulu. Semua ini pasti tidak akan pernah terjadi.

Huft ... namun nasi sudah menjadi basi, mau diapakan lagi? Sekarang Diara hanya tinggal menerima keputusan apa yang akan menimpanya. Yah semoga saja, dan Diara berharap Endy bisa diajak bernegosiasi, agar ia masih bisa tetap bekerja di sana.

"Yah, Bima mohon jangan beritahu Nadia. Bima tidak mau pisah dengan Nadia. Bima akan melakukan apa saja, yang penting Ayah rahasiakan masalah ini." Dengan posisi yang sama Bima terus memohon pada ayahnya.

Endy masih bergeming, belum melontarkan kalimatnya kembali. Namun terlihat dari ekor mata Diara, Endy seperti memehatikannya tapi dengan sorot mata yang berbeda dari yang sebelumnya.

Meski tidak begitu jelas, tapi Diara bisa pastikan bahwa ada maksud lain dari tatapanya itu.

"Ayah tidak akan mengadukannya pada Nadia." Ucapnya membuat Diara dan Bima seketika menoleh padanya dan rasa lega mulai merambat di benak keduanya. "Tapi dengan satu syarat." Lanjutnya lagi.

Bima lantas berdiri. "Apa syaratnya, Yah? Bima akan lakukan apapun itu." Ujarnya penuh keyakinan. Sepertinya Bima begitu tidak ingin berpisah dengan istrinya.

Kemudian Endy kembali memerhatikan Diara, bahkan bola matanya bergulir dari bawah sampai atas, membuat Diara jadi agak risih. Lalu ... Kalimat yang dilontarkan Endy selanjutnya sukses membuat Diara terkejut setengah mati, begitu pun dengan Bima. Sebab Diara maupun Bima tidak pernah memprediksikan kalimat tersebut akan ke luar dari belah bibir Endy.

"Ayah juga ingin mencicipi pembantumu ini."

Bima sontak menatap tak percaya pada ayahnya, namun kemudian Bima berganti menatap Diara.

"Mas.." Diara menggelengkan kepala pada Bima, bermaksud memberitahu bahwa ia tidak mau melakukan hal itu dengan Endy. Meski hormon Diara berlebih, tapi ia juga cukup pemilih. Diara tidak mau jika harus menyalurkan hasratnya dengan laki-laki tua seperti Endy.

Namun sayang, di sana Bima malah menanggapi permintaan ayahnya dengan kalimat yang tidak sesuai dengan apa yang Diara inginkan. "Baiklah Yah, jika Ayah ingin merasakan Diara juga, silakan. Asal Ayah janji, rahasiakan hal ini."

Diara sontak menatap Bima tidak percaya. "Tapi, Mas.. Aku--"

"Sudahlah Dira. "Potong Bima. "Ini demi kebaikanmu juga. Memangnya kamu mau dipecat dan tidak bisa bermain lagi denganku?"

Diara menggeleng lemah. Jelaslah ia tidak ingin hal itu terjadi.

"Ya sudah kalau begitu turuti saja." Kata Bima. "Lagi pula, kamu pasti akan dapat banyak dari Ayahku."

Dan akhirnya Diara hanya bisa mengangguk pasrah. Biarlah jika ia harus sedikit berkorban, yang terpenting ia masih bisa menjalin hubungan gelap dengan Bimw.

"Bagus.. " Endy terdengar kembali bersuara. "Kalau begitu Ayah ingin merasakannya sekarang juga."

Netra Diara seketika membelalak. 'Hah yang benar saja? Apa laki-laki tua ini tidak waras? Dia 'kan tahu kalau aku baru saja melakukannya dengan putranya. Seharusnya dia mengerti bahwa aku masih lelah.'

Sontak saja Diara melontarkan penolakan. "Tidak bisa sekarang, Pak. Saya baru saja melakukannya dengan anak Bapak. Saya sangat lelah."

'Huh mau seenaknya saja dia, memangnya aku ini apaan?'

"Oh ya sudah kalau kamu tidak mau, saya akan adukan hal ini pada Nadia sekarang juga!" Ancamnya sembari berbalik dan melangkah pergi. Namun dengan gesit Bima langsung menahannya.

"Jangan, Yah." Bima memegang tangan ayahnya yang membuat langkah laki-laki tua itu berhenti.

"Diara please.. Layani Ayahku sekarang juga."

"Tapi Mas aku lelah sekali. Kamu tahu 'kan bagaimana tadi kita bermain?"

"Iya aku tahu, tapi ini demi kita juga. Aku mohon." Pinta Bima.

Diara terdiam, mencoba menimbang-nimbang. Namun belum sempat ia menjawab, Endy kembali berucap.

"Terlalu lama! Sudah, biar Ayah beritahu Nadia sekarang saja!"

'Sial laki-laki tua ini!' Dalam hati Diara menggeram kesal.

Bima kembali menahan Ayahnya. "Yah, yah, tolong Yah. Jangan beritahu Nadia."

"Tapi jalangmu ini sangat lama. Ini sudah sangat malam!"

'Apa jalang? Dia memanggilku jalang? Benar-benar laki-laki tua kurang ajar!'

Meski Diara berhubungan dengan Bima di belakang. Tapi bukan berarti ia jalang. Asal kau tahu, selama ini Diara hanya pernah melakukannya dengan dua orang laki-laki saja; Herman dan Bima. Jadi Diara bukanlah jalang!

"Diara, aku mohon turuti keinginan Ayahku. Ini demi kita!" Lagi Bima memohon padanya.

Mau tak mau, dengan hati yang begitu berat, Diara kembali menganggukan kepala, membuat Endy tersenyum senang.

'Dasar laki-laki tua bangka, mesum, tak punya malu!' Batinnya mengumpat.

"Ya sudah kalian lakukanlah di kamarmu saja, Diara." Perintah Bima.

Diara tidak menjawab lagi ucapan Bima. Ia memilih langsung melenggang pergi ke kamarnya, dan tentunya di ikuti oleh laki-laki tua itu.

'Huft ... Tugas tambahan lagi.'

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   77. Keadaan berbalik

    Dugaan Diara salah, harapannya musnah, sudah. Dan hanya berakhir menjadi angan-angan saja. Diara kira malam itu menjadi awal mula untuk terus memadu kasih bersama Zaenal di depan Echa, ternyata itu menjadi momen pertama sekaligus yang terakhir. Diara pikir ketika Echa mengamuk dan menuntut bercerai, seperti biasa Zaenal hanya akan memberikan janji-janji palsu--hanya untuk membujuk saja, setelahnya akan ingkar seperti yang sudah-sudah. Namun Diara tak menyangka, Zaenal sungguh-sungguh menepati janjinya tersebut. Dan itu terbukti benar dengan penolakan tegas yang diberikan Zaenal acapkali Diara menggodanya untuk melakukan lagi. Agaknya laki-laki itu sangat mencintai istri pertamanya dan sangat takut kehilangan sehingga lebih memilih menahan diri dan mengabaikan istri keduanya. Pengabaian yang dilakukan Zaenal pada Diara nyatanya tidak hanya sampai di situ saja. Hal itu terus berlanjut dan semakin parah dari waktu ke waktu, sampai-sampai tidak sadar Zaenal telah mengabaikan Diara hi

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   76. Ditonton istri pertama (21+)

    "Dira. Kenapa kamu ada di sini?" Zaenal bersuara berbisik seraya sedikit mengangkat tubuhnya, ia melirik was-was ke arah Echa yang masih begitu terlelap di tempatnya. "Aku kangen kamu Mas. Aku udah gak tahan." Diara sengaja membuat suaranya begitu seksual sembari terus memijat dengan seduktif benda sensitif milik Zaenal yang ia favoritkan. Netra Zaenal terpejam, ia mendesis samar merasakan desiran gairah akibat ulah yang istri mudanya lakukan. Diara merasakan benda itu berkedut-kedut, mulai menegang. Ia tersenyum menyeringai karena berhasil memantik gairah suaminya tersebut. "A-ayo pindah. Uh! Pindah ke kamarmu." Susah payah Zaenal menyusun kalimatnya. Ia meminta Diara untuk pindah--melakukannya di kamar sang istri kedua. Namun jelas saja Diara memberikan gelengan kepala. Ia menginginkan berhubungan intim di kamar itu, dan di lihat oleh kakak madunya. Itu sudah menjadi keinginannya sejak awal. "Kenapa harus pindah? Di sini saja Mas. Bukannya Mas juga sudah gak tahan?" "J-jangan.

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   75. Di kamar echa

    Tujuan Diara untuk membuat Echa menangis telah berhasil, tapi kadar kebahagiaan yang ia rasakan sedikit kurang karena Echa tidak menuruti apa yang dikatakan suaminya atas dasar perintah Diara. wanita itu malah berlari pergi ke kamarnya dengan air mata yang bercucuran. Huh padahalkan Diara ingin sekali menunjukkan pada Kakak madunya itu betapa bersemangat dan bernafsunya Zaenal saat bersamanga. tapi sudahlah, lain kali Diara akan mencobanya lagi. Dan akan ia pastikan Echa melihatnya. Gila? Yah mungkin saja kata itu cocok untuk disematkan untuk Diara, sebab entah mengapa, dan sejak kapan wanita itu merasakan ada sebuah dorongan keinginan yang begitu besar dalam benak. Ia ingin Kakak madunya itu melihat percintaannya dengan suami meraka, ia ingin melihat Echa menangis tersakiti, dan Diara akan merasa senang jika itu terjadi. Diara tidak tahu sejak kapan ada perasaan aneh seperti itu muncul? Tapi kapanpun itu, agaknya Diara tidak peduli dan tidak ingin mencari tahu, sebab yang ia pikir

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   74

    "Susu yang dikasih mbak Echa gak enak, Mas." "Mas--" Zaenal kembali akan bersuara, namun Diara tidak mengizinkannya. Lantas cepat-cepat ia menukas. "Tapi aku punya susu yang lebih enak. Mas pasti suka, karena ini juga susu favorit Mas." Zaenal menautkan alisnya, mungkin ia belum paham dengan apa yang istri keduanya katakan. Diara melirik Echa, wanita itu juga masih belum memberikan reaksi apa-apa, selain menyorot dengan tatapan tidak suka. Diara tersenyum cengah. 'Tunggu sebentar lagi, aku jamin kamu akan mengamuk sekaligus menangis Echa! Mengalihkan lagi pandangan pada Zaenal, Diara merubah senyum menjadi sebuah senyuman manis, ia berucap. "Mas lebih pilih susu yang aku kasih 'kan?" Seraya membusungkan dada kehadapan wajahnya. Omong-omong sekarang ini Diara memakai kaus berwarna putih yang pas badan, dan kau tahu? Ia tidak memakai bra sehingga bagian kecilnya terlihat menonjol. Meski Diara sedang hamil, dan perutnya sudah mulai membuncit--karena usianya sudah masuk bulan ketiga,

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   73. Minum susu

    Tak terasa sudah sekitar dua pekan berlalu semenjak kejadian terakhir Diara dan Echa yang sama-sama marah pada suaminya. Hubungan Diara dengan Zaenal sudah membaik--tentu saja, hanya berselang beberapa saat setelah kejadian tersebut. Dengan segala cara Zaenal terus membujuk agar istri mudanya itu tidak marah lagi. Jelas saja Diara luluh, terlebih ia juga yang tidak bisa berlama-lama marah pada suaminya. Sementara hubungan Zaenal dengan Echa juga sudah membaik. walau agak sedikit berbeda karena Zaenal memerlukan waktu sedikit lebih lama. Memang jauh lebih sulit menjinakkan Echa dari pada Diara, sebab Echa yang memiliki watak keras seperti batu. Diara agak sedikit kecewa sebenarnya, karena jujur saja ia tidak menginginkan mereka berdamai, melainkan yang ia inginkan keduanya segera bercerai, tapi sepertinya Zaenal masih sangat mencintai Echa sehingga ia juga melakukan banyak cara agar hubungannya kembali membaik. Diara pasrah lagipula masih terlalu cepat apabila mereka bercerai s

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   72. ngambek

    "Mas .. kamu .. kamu memberikan bunga kesukaanku ke wanita murahan itu?" "Echa... Mas ..." Air wajah Zaenal yang tadi menyiratkan kebahagian, kini hilang sudah tergantikan oleh raut sendu menatap istri pertamanya. Kemungkinan ia merasa bersalah karena hal yang baru saya dilakukan pada istri kedua. Diara tersenyum sinis--dalam benaknya mempertanyakan, mengapa Zaenal harus merasa bersalah begitu? Memangnya salah jika seorang suami memberikan bunga pada istrinya? Apa istri pertama suaminya itu lupa kalau Diara juga istri suaminya? Seharusnya Echa tidak perlu membuat ekspresi wajah begitu, seolah-olah seperti orang yang terzolimi dan membuat Zaenal jadi serba salah dan tidak enak. Dasar berlebihan! Echa menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya juga sudah berkaca. Huh lebay sekali. "Kamu jahat sekali Mas. Itu 'kan bunga kusukaanku! Kenapa kamu memberikan bunga itu padanya?!" Setelah mengatakan kalimat tersebut, dengan cepat Echa melangkah mendekati Diara--ia berusaha ingin merebut bung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status