Share

Bab 3

Penulis: Noona_im
last update Tanggal publikasi: 2024-09-06 20:11:04

Sedari tadi senyuman yang terpatri di bibir Diara tidak mengendur sama sekali. Apalagi saat matanya memandang tumpukan belanjaan yang ia beli siang tadi di pasar.

Rasa-rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. Mungkin jika ingat-ingat terakhir kali ia merasakanya ketika keluarganya masih utuh. Sebelum datangnya wanita muda yang merebut ayahnya hingga menyebabkan ibunya depresi dan memilih bunuh diri.

Teringat kembali kejadian kelam itu, membuat senyuman yang tersemat di bibir Diara mendadak memudar dan menghilang begitu saja.

Sebenarnya sempat terbesit dalam benak Diara untuk mencari keberadaan si pelakor dan membalaskan dendam. Namun niat itu langsung terhempas begitu saja sebelum terealisasi. Sebab Diara tidak tahu harus mencari wanita itu ke mana? Diara tidak punya informasi apapun mengenai wanita tersebut, bahkan namanya saja ia tidak tahu. Bagaimana ia bisa mencarinya? Jika yang ia ingat hanya wajahnya saja?

"Ah sudahlah sebaiknya aku lupain

aja tentang pelakor itu, mengingatnya cuman bikin luka yang sudah susah payah aku kubur jadi terbuka lagi."

Diara mengalihkan kembali pikirannya pada belanjaan. Ia lantas membongkar dan melihat-lihat lagi apa saja yang tadi ia beli di pasar.

Oya sebelum itu, saat di pasar Diara juga sempat bertemu dengan Rosidah. Ia sempat membelikan beberapa potong gamis. Wanita renta berhati malaikat itu terlihat senang sekali menerima pemberian dari Diara membuat si gadis jadi ikut senang karena melihatnya bahagia.

Namun lebih dari pada itu, yang membuat Diara berkali-kali lipat merasakan bahagia ketika rungunya mendengar ucapan tulus dari belah bibir wanita yang sudah Diara anggap seperti ibunya sendiri; Rosidah berkata bahwa ia senang melihat kehidupan Diara sekarang, wanita tua itu juga mendo'akan agar Diara selalu sehat serta selalu diselimuti kebahagiaan yang luar biasa.

Ah wanita itu memang benar-benar merupakan jelmaan malaikat tak bersayap.

Okay, kembali pada keadaan sekarang. Saat ini Diara mulai membuka satu demi satu kantung plastik belanjaannya. Cukup banyak yang ia beli; mulai dari beralatan mandi, handbody, makeup, skincare. Yah meski Diara hanya membeli skincare local, bukan Skincare dengan brand terkenal dan berharga mahal, tapi ia sudah merasa cukup. Lagipula Diara sudah cantik alami, jadi tidak perlu melakukan perawatan yang berlebihan. Cukup merawatnya saja agar tidak terlalu kusam. Diara juga membeli beberapa potong baju untuk dikenakan sehari-hari. Dan tak lupa, pastinya ia membeli beberapa pasang pakaian tembus pandang atau nama kerennya lingerie. Diara mengetahui bahasa itu dari karyawan yang bekerja di toko baju tidur di pasar.

Diara kepikiran membeli pakaian tembus pandang tersebut karena ia menyadari bahwa kini dirinya mempunyai tugas tambahan untuk melayani majikannya. Lagipula Bima sudah berbaik hati padanya, dengan memberikan ia uang sebanyak itu. Jadi tidak salah 'kan jika Diara ingin membalas kebaikannya dengan cara memberikan yang terbaik juga untuk lelaki itu?

Ada sekitar tiga lingerie yang Diara beli. Semuanya hampir memiliki model yang sama tapi dengan warna yang berbeda-beda. Hitam, peace dan yang tengah ia pegang dan diangkat ke udara sekarang adalah lingerie berwarna merah menyala.

Diara memerhatikannya dengan senyum yang kembali mengembang. Sungguh indah sekali pakaian menerawang ini, seumur-umur baru kali ini Diara bisa membeli pakaian yang dulu hanya bisa ia pandangi saja ketika masih menjadi kuli pengangkat belanjaan orang di pasar.

"Pak Bima pasti senang melihat aku menggunakan pakaian ini." Gumamnya dengan hati gembira.

Kemudian ia menilik jam yang menggantung ditembok kamar, di sana waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Ah pas sekali. Sebaiknya sekalian saja ku pakai lingerie ini. Siapa tahu 'kan malam ini Pak Bima datang ke kamarku."

Setelah merapikan kembali belanjaannya dan menaruhnya ke dalam lemari. Diara lantas mengganti pakaiannya dengan lingerie merah tadi. Dan waw ia terlihat seksi dan menawan sekali. Dadanya mencuat, sebab pakaian itu memiliki model dada yang sangat rendah. Bagian-bagian tubuhnya juga terekspos dengan begitu nyata karena pakaian itu tidak mampu menutupnya dengan sempurna.

Namun justru itu yang ia mau, dan ia pastikan Bima pasti akan lebih tergoda melihatnya. Rasanya Diara sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Bima ketika melihat penampilannya sekarang.

Entah mengapa ia begitu yakin bahwa Bima akan mendatanginya malam ini. Maka untuk menambah agar lebih berkesan dan bisa membuat Bima semakin betah. Gadis itu mulai memoleskan makeup kepermukaan wajah, pokoknya ia harus berdandan secantik dan semenarik mungkin.

Setelah segala ritual mempercantik diri sudah ia lakukan, sekarang waktunya ia membaringkan tubuh di atas ranjang--menunggu Bima yang kemungkinan besar memang akan datang.

Dan ... Benar saja, tepat jarum jam menunjukan angka pukul satu malam. Derap langkah kaki disusul oleh suara pintu yang dibuka perlahan terdengar oleh indra pendengar.

'Ah tidak sia-sia aku berdandan dan menunggunya.' Ucapnya membatin.

Bima melangkah menghampiri Diara setelah menutup pintu dan menguncinya. Lelaki itu terlihat meneguk saliva dengan kasar lalu menjilat bibir bawahnya ketika melihat Diara yang berbaring di atas ranjang dengan menggunakan pakaian seksi. Sangat menantang.

"Rupanya kamu sudah bersiap dan menungguku?" Ucapnya. Bima naik ke atas ranjang.

Masih dengan posisi yang sama Diara mengulas senyum manis yang terkesan menggoda. "Apa Bapak suka dengan penampilanku?" Tanya Diara memancing.

Laki-laki itu memerhatikan tubuh Diara dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa berketip sedikitpun. Ia mengangguk lalu membalas. "Suka, kamu terlihat lebih cantik dan ... Seksi sekali."

Pipi Diara terasa menghangat mendengar kalimat pujian dari lelaki itu. Ia hanya mampu mengulas senyum sebagai tanggapan. Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka, sebab Bima sudah menindih tubuhnya dan mendaratkan ciuman panas yang tergesa pada bibir si wanita.

'Ah kayanya malam ini aku akan kerja lembur.'

Bersambung..

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   77. Keadaan berbalik

    Dugaan Diara salah, harapannya musnah, sudah. Dan hanya berakhir menjadi angan-angan saja. Diara kira malam itu menjadi awal mula untuk terus memadu kasih bersama Zaenal di depan Echa, ternyata itu menjadi momen pertama sekaligus yang terakhir. Diara pikir ketika Echa mengamuk dan menuntut bercerai, seperti biasa Zaenal hanya akan memberikan janji-janji palsu--hanya untuk membujuk saja, setelahnya akan ingkar seperti yang sudah-sudah. Namun Diara tak menyangka, Zaenal sungguh-sungguh menepati janjinya tersebut. Dan itu terbukti benar dengan penolakan tegas yang diberikan Zaenal acapkali Diara menggodanya untuk melakukan lagi. Agaknya laki-laki itu sangat mencintai istri pertamanya dan sangat takut kehilangan sehingga lebih memilih menahan diri dan mengabaikan istri keduanya. Pengabaian yang dilakukan Zaenal pada Diara nyatanya tidak hanya sampai di situ saja. Hal itu terus berlanjut dan semakin parah dari waktu ke waktu, sampai-sampai tidak sadar Zaenal telah mengabaikan Diara hi

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   76. Ditonton istri pertama (21+)

    "Dira. Kenapa kamu ada di sini?" Zaenal bersuara berbisik seraya sedikit mengangkat tubuhnya, ia melirik was-was ke arah Echa yang masih begitu terlelap di tempatnya. "Aku kangen kamu Mas. Aku udah gak tahan." Diara sengaja membuat suaranya begitu seksual sembari terus memijat dengan seduktif benda sensitif milik Zaenal yang ia favoritkan. Netra Zaenal terpejam, ia mendesis samar merasakan desiran gairah akibat ulah yang istri mudanya lakukan. Diara merasakan benda itu berkedut-kedut, mulai menegang. Ia tersenyum menyeringai karena berhasil memantik gairah suaminya tersebut. "A-ayo pindah. Uh! Pindah ke kamarmu." Susah payah Zaenal menyusun kalimatnya. Ia meminta Diara untuk pindah--melakukannya di kamar sang istri kedua. Namun jelas saja Diara memberikan gelengan kepala. Ia menginginkan berhubungan intim di kamar itu, dan di lihat oleh kakak madunya. Itu sudah menjadi keinginannya sejak awal. "Kenapa harus pindah? Di sini saja Mas. Bukannya Mas juga sudah gak tahan?" "J-jangan.

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   75. Di kamar echa

    Tujuan Diara untuk membuat Echa menangis telah berhasil, tapi kadar kebahagiaan yang ia rasakan sedikit kurang karena Echa tidak menuruti apa yang dikatakan suaminya atas dasar perintah Diara. wanita itu malah berlari pergi ke kamarnya dengan air mata yang bercucuran. Huh padahalkan Diara ingin sekali menunjukkan pada Kakak madunya itu betapa bersemangat dan bernafsunya Zaenal saat bersamanga. tapi sudahlah, lain kali Diara akan mencobanya lagi. Dan akan ia pastikan Echa melihatnya. Gila? Yah mungkin saja kata itu cocok untuk disematkan untuk Diara, sebab entah mengapa, dan sejak kapan wanita itu merasakan ada sebuah dorongan keinginan yang begitu besar dalam benak. Ia ingin Kakak madunya itu melihat percintaannya dengan suami meraka, ia ingin melihat Echa menangis tersakiti, dan Diara akan merasa senang jika itu terjadi. Diara tidak tahu sejak kapan ada perasaan aneh seperti itu muncul? Tapi kapanpun itu, agaknya Diara tidak peduli dan tidak ingin mencari tahu, sebab yang ia pikir

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   74

    "Susu yang dikasih mbak Echa gak enak, Mas." "Mas--" Zaenal kembali akan bersuara, namun Diara tidak mengizinkannya. Lantas cepat-cepat ia menukas. "Tapi aku punya susu yang lebih enak. Mas pasti suka, karena ini juga susu favorit Mas." Zaenal menautkan alisnya, mungkin ia belum paham dengan apa yang istri keduanya katakan. Diara melirik Echa, wanita itu juga masih belum memberikan reaksi apa-apa, selain menyorot dengan tatapan tidak suka. Diara tersenyum cengah. 'Tunggu sebentar lagi, aku jamin kamu akan mengamuk sekaligus menangis Echa! Mengalihkan lagi pandangan pada Zaenal, Diara merubah senyum menjadi sebuah senyuman manis, ia berucap. "Mas lebih pilih susu yang aku kasih 'kan?" Seraya membusungkan dada kehadapan wajahnya. Omong-omong sekarang ini Diara memakai kaus berwarna putih yang pas badan, dan kau tahu? Ia tidak memakai bra sehingga bagian kecilnya terlihat menonjol. Meski Diara sedang hamil, dan perutnya sudah mulai membuncit--karena usianya sudah masuk bulan ketiga,

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   73. Minum susu

    Tak terasa sudah sekitar dua pekan berlalu semenjak kejadian terakhir Diara dan Echa yang sama-sama marah pada suaminya. Hubungan Diara dengan Zaenal sudah membaik--tentu saja, hanya berselang beberapa saat setelah kejadian tersebut. Dengan segala cara Zaenal terus membujuk agar istri mudanya itu tidak marah lagi. Jelas saja Diara luluh, terlebih ia juga yang tidak bisa berlama-lama marah pada suaminya. Sementara hubungan Zaenal dengan Echa juga sudah membaik. walau agak sedikit berbeda karena Zaenal memerlukan waktu sedikit lebih lama. Memang jauh lebih sulit menjinakkan Echa dari pada Diara, sebab Echa yang memiliki watak keras seperti batu. Diara agak sedikit kecewa sebenarnya, karena jujur saja ia tidak menginginkan mereka berdamai, melainkan yang ia inginkan keduanya segera bercerai, tapi sepertinya Zaenal masih sangat mencintai Echa sehingga ia juga melakukan banyak cara agar hubungannya kembali membaik. Diara pasrah lagipula masih terlalu cepat apabila mereka bercerai s

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   72. ngambek

    "Mas .. kamu .. kamu memberikan bunga kesukaanku ke wanita murahan itu?" "Echa... Mas ..." Air wajah Zaenal yang tadi menyiratkan kebahagian, kini hilang sudah tergantikan oleh raut sendu menatap istri pertamanya. Kemungkinan ia merasa bersalah karena hal yang baru saya dilakukan pada istri kedua. Diara tersenyum sinis--dalam benaknya mempertanyakan, mengapa Zaenal harus merasa bersalah begitu? Memangnya salah jika seorang suami memberikan bunga pada istrinya? Apa istri pertama suaminya itu lupa kalau Diara juga istri suaminya? Seharusnya Echa tidak perlu membuat ekspresi wajah begitu, seolah-olah seperti orang yang terzolimi dan membuat Zaenal jadi serba salah dan tidak enak. Dasar berlebihan! Echa menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya juga sudah berkaca. Huh lebay sekali. "Kamu jahat sekali Mas. Itu 'kan bunga kusukaanku! Kenapa kamu memberikan bunga itu padanya?!" Setelah mengatakan kalimat tersebut, dengan cepat Echa melangkah mendekati Diara--ia berusaha ingin merebut bung

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   Bab 7

    Semenjak malam itu, pekerjaan Diara menjadi bertambah lagi. Bagaimana tidak? Endy jadi sering berkunjung ke rumah Bima. Bisa satu bulan sekali, kadang dua minggu sekali. Padahal tempat tinggalnya cukup jauh dan berbeda kota. Dulu sebelum mempunyai hubungan dengan Diara, lelaki tua itu hanya akan

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   Bab 6

    "Apa yang kalian lakukan?""Ayah." Cicit Bima dengan mata yang membola. Lalu dengan tergesa-gesa Bima dan Diara merapikan pakaian masing-masing. Sungguh demi apapun, sekarang Diara merasa takut sekali. Entah ke mana perginya keberanian yang tadi sempat singgah dalam benaknya. Keberanian itu malah

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   Bab 5

    Sudah tiga bulan lebih, hubungan gelap Diara dan Bima terjalin. Dan selama itu pula Nadia tidak pernah curiga atau mengendus gelagat mereka sedikitpun.Diara dan Bina memang sangat berhati-hati sekali. Bagaimanapun juga mereka ingin bermain aman. Mereka tidak ingin, jika hubungannya terbongkar dan

  • Sang Perebut Suami Orang (21+)   Bab 4

    Rasa kantuk jelas masih Diara rasakan sebab ia hanya tidur sekitar setengah jam saja. Tadi malam, Bima benar-benar menggempurnya habis-habisan. Sampai rasanya Diara sudah tidak sanggup lagi. Laki-laki itu seperti aji mumpung sampai melakukannya hingga berkali-kali dan tidak ragu lagi untuk menumpa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status