Terdapat kehidupan lain selain di bumi. Jai mengira dirinya akan mati setelah didorong ke sungai oleh pacar mantannya. Ajaibnya, Jai selamat dan terbangun di dunia asing yang memiliki dua bulan kembar. Suatu malam, seorang arwah muncul di mimpi Jai dan menyuruhnya untuk membunuh Naga Putih yang telah melakukan pembunuhan massal di masa lalu. Bukan hanya itu, Jai tiba-tiba saja mempunyai kemampuan untuk mengendalikan elemen petir. Saat Miria, gadis cantik yang membiarkan Jai tinggal di rumahnya, tiba-tiba jatuh sakit, Jai pun mengikuti sebuah turnamen di kerajaan Aeronvein demi menyembuhkan Miria. Bisakah Jai memenangkan turnamen dan mendapatkan obat untuk menyembuhkan Miria? Bagaimana caranya Jai bisa bertahan di dunia barunya?
View MoreSejak pertemuan untuk urusan pekerjaan dan makan malam, itu menjadi awal mula kedekatan Ryn dengan Karan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, makan malam, makan siang dan bahkan Karan sering menginap di kamar kos Ryn tanpa seizin Eliza.
Ia merasa bahwa Ryn lebih memahami dirinya daripada kekasihnya sendiri. Ryn tidak keberatan memberikan dirinya kepada Karan, keduanya menikmati cinta terlarang mereka.
Tidak jarang Karan mengeluhkan sikap cemburu Eliza yang kelewat batas. Sebagai kekasih kedua, Ryn hanya memberikan nasehat-nasehat agar Karan sabar menghadapi Eliza. Apalagi keduanya akan segera menikah.
Hingga sore itu, sepulang dari tempat kerja. Saat Alya mengantar Ryn pulang, kedekatan keduanya mulai dicurigai oleh Alya, teman Ryn.
“Ryn, akhir-akhir ini aku lihat kamu akrab dengan atasan kita? Ada urusan apa?“ tanya Alya siang itu sepulang kerja.
Seperti biasa, Alya mengantar Ryn ke kosan dengan mobil kesayangannya.
“Urusan pekerjaan sih seringnya, atau hanya sekadar mengobrol biasa. Dia sering curhat masalah kekasih kepadaku.“
Ryn menjawab dengan santai seolah memang tidak terjadi apa pun padanya dengan Karan.
Alya terkejut, “Hah!! Sampai sedekat itu,“ ujarnya sambil menatap mata Ryn.
“Idih, biasa aja kali. Gak ada apa-apa, hanya sebatas rekan kerja saja dan teman biasa. Kenapa kamu jadi panik begitu?“
“Kamu harus berhati-hati, jangan terlalu dekat, loh! Karan itu sudah memiliki calon istri.“
Ryn tertawa memperlihatkan gigi putihnya yang tertata rapi, “Haha! Lalu memangnya kalau Karan sudah memiliki calon? Itu bukan urusanku.“
“Kamu gak takut disebut pelakor nanti? Apa kata orang tentang kamu.“
“Perebut lelaki orang? Hah, kenapa harus takut? Karena memang aku tidak merebut siapa pun. Lagi pula baru calon, belum menjadi istri sesungguhnya.“
“Aku perhatikan, Karan itu suka sama kamu. Dia memperlakukan kamu berbeda dengan karyawan yang lain.“
Ryn menaikan sebelah alisnya, seolah tidak peduli dengan kecurigaan Alya padanya. Entah ada ataupun tidak ada hubungan special antara dirinya dengan Karan, itu juga bukan urusan Alya. Lagi pula, Karan belum menikah. Masih menjadi milik siapa pun sebelum ada yang memiliki seutuhnya.
“Hah! Masa sih? Itu gak mungkin. Menurutku itu biasa saja, tidak ada yang istimewa.“
“Terserah kamu deh, yang penting kamu harus berhati-hati dengannya. Aku sudah mengingatkan kamu,“ ujar Alya sambil kembali menyetir mobilnya.
“Iya, Alya sayang. Takut banget sih kamu, aku juga tidak ada berniat akan merebut calon suami orang lain. Ya, walaupun Khan memang tampan dan menarik, impian semua gadis.“
Alya melihat ketertarikan Ryn kepada Karan, meski gadis itu berusaha untuk menutupinya. Akan tetapi, tingkah Ryn menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan Ryn darinya. Hanya saja, dia tidak ingin membuat praduga yang justru menimbulkan retaknya hubungan pertemanan.
Namun, apa pun pilihan Ryn itu bukan urusan Alya. Dia hanya tidak ingin temannya terjemus pada masalah yang nanti akan menghancurkan hidup Ryn. Sebab cinta sesaat itu hanya indah diawal dan menyakitkan pada akhirnya.
“Aku takut temanku jatuh cinta pada suami orang lain, apalagi menjadi perusak rumah tangga orang lain.“
“Ya, enggaklah. Aku tahu batas-batas dalam berteman, kecuali kalau Karan sendiri yang suka sama aku dan memilih aku.“
“Eh, kok kamu bilang begitu? Jangan-jangan, kamu dan Karan memang ada hubungan istimewa lagi.“
“Enggak kok, aku cuma bercanda aja tadi.“
Hampir saja Ryn membongkar hubungan antara dirinya dengan Karan. Itu akan membuat Alya menjauh darinya dan membuat Eliza marah pada Karan. Ryn juga sangat mengenal Eliza dan cukup dekat.
Bukan hanya itu saja, keputusan Ryn menggantikan Eliza di kantor juga atas permintaan Eliza. Sebab Karan tidak ingin Eliza terlalu sibuk dan lelah sebelum hari pernikahannya.
“Uppstt, hampir saja aku membongkar rahasiaku sendiri,“ batin Hureem sambil menepuk jidatnya.
“Eh, arah kosmu belok kanan ya? Aku lupa, banyak banget belokannya.“
“Hmm, padahal sudah beberapa kali ke sini masih lupa. Iya, belok kanan sedikit.“
“Belok kanan ada pagar warna hitam. Nah, di depan itu kosan aku.“
Alya mengikuti arahan dari Ryn, sudah lama memang tidak mampir. Alya sangat pelupa, sehingga tidak dapat mengingat dengan baik arah kos Ryn. Mungkin sudah waktunya gadis itu menikah, agar pelupanya hilang.
“Sampai juga, sudah lama banget aku gak main. Maklum, jam kerja kamu sudah padat banget. Kamu jadi gak ada waktu untukku, lagi pula aku juga sering lembur.“
“Jadi, mau mampir juga sekalian?“
“Kayaknya belum bisa, aku mau jemput adikku yang masih kuliah. Dia suka kelayapan kalau gak dijemput, aku khawatir dia salah pergaulan kalau terlalu dibebaskan.“
“Oke, deh. Hati-hati, sampai ketemu besok di kantor.“
Alya berlalu dengan mobilnya, Ryn melambaikan tangan. Lalu masuk melalui gerbang kos. Ia merogoh tas mengambil kunci kamar kosnya, lalu membuka pintu kamar. Akan tetapi, saat hendak membuka engsel, tangannya dicekal oleh seseorang yang sudah bisa ditebak kedatangannya melalui aroma parfum khas pria.
“Karan!!“
Ryn setengah terkejut sambil mengelus dadanya. Dia melihat kesekeliling, berharap Alya tidak melihat Karan di sana. Sebab, dia sudah berupaya meyakinkan Alya bahwa tidak ada hubungan apa pun antara dirinya dengan Karan.
Alya tentu saja akan sangat marah jika mengetahui mengenai hubugan gelapnya bersama Karan. Apalagi, satu kantor sudah mengetahui bahwa Karan menikah dengan Eliza.
“Ha! sayang,“ ujar Karan sambil mengecup bibir Ryn.
“Ada apa lagi, Karan? Jam segini sudah muncul saja di kamar kos.“
“Aku kangen sama kamu, tadi di kantor kamu sibuk kerja.“
“Kamu punya calon isttri, tapi kalau ada keperluan malah datang menemui aku,“ ujar Ryn sambil masuk kamar kos diikuti oleh Karan.
“Sayang, Eliza itu sangat polos. Dia tidak ingin memberikan miliknya kepadaku sebelum pernikahan, sementara aku bisa mendapatkan itu dari tubuhmu yang menggoda ini. Kamu bukan hanya pandai merayuku, tapi mampu membuat adik kecilku ini merasakan kenikmatan dari dua bibir atas dan bawahmu.”
Karan memeluk Ryn dari belakang, mencium aroma tubuh Ryn yang mampu membangunkan gairah serta hasrat untuk terus saling menempelkan tubuh di atas ranjang. Entah berapa kali, Karan sudah menggoyangkan ranjang kamar Ryn dan membuatnya merasakana surga dunia.
Setelah mengenal Ryn, dia seperti menemukan wanita yang jauh lebih baik daripada Eliza. Baik secara fisik maupun goyangan di atas ranjang. Hal itu menjadi candu dan membuatnya tidak bisa melepaskan Ryn.
Sayang sekali, pernikahannya dengan Eliza tinggal menghitung pekan. Karan tidak dapat membatlkan pernikahan, Ryn juga tidak keberatan menjadi simpanan Karan. Meskipun nanti, Karan sudah menikah dengan Eliza.
“Jangan bicara lagi, aku tidak mau mendengar nama Eliza. Kamu selalu saja datang padaku saat kesal padanya.“
“Mau gimana lagi, aku hanya punya kamu untuk membagikan keluh kesahku.“
Ryn menarik dasi Karan, hingga Karan jatuh dalam pelukannya. Ia menatap lelaki di hadapannya dengan tatapan menggoda. Sejurus kemudian, Ryn sudah menenggelamkan bibirnya di dalam mulut Karan.
“Kamu datang ke sini tidak hanya untuk menceritakan Eliza bukan?“
Tanpa jawaban, Karan mengangguk pelan. Ryn menenggelamkan kepala Karan menuju lehernya, tentu saja Karan mengerti maksud kekasihnya.
Ryn mendesah, “Kamu sangat liar, Karan,“ pekik Ryn merasakan kenikmatan yang menggetarkan tubuhnya.
“Kamu yang memulai,“ ujar Karan sambil melumat leher Ryn dan sesekali menekan rambutnya.
Keduanya terbuai kenikmatan, keringat membanjir membasahi kemeja putih Ryn memperlihatkan bagian paling sensitif. Karan yang sudah terbuai dahaga dan nafsu yang semakin memuncak. Ia tak kuasa melihat pemandangan indah di hadapannya. Dalam hitungan detik, tubuh Ryn terlihat sangat jelas tanpa sehelai kain.
Amarah, kekesalan dan nafsu yang memuncak itu bersatu dalam kenikmatan meneteskan peluh. Tanpa aba-aba lagi, ranjang mini malis itu bergoyang mengikuti irama napas mereka. Mereka melupakan rasa waras dan status masing-masing untuk sampai pada puncak kenikmatan yang ingin dicapai keduanya.
Karan mengakhiri dengan derapan napas yang tersengal, ia menjatuhkan tubuhnya di samping Ryn yang berbaring lemas. Ryn mulai mengontrol laju derap napasnya, seiring dengan getaran hebat setelah pertempuran liar keduanya.
Ryn bangkit, “Karan, hubungan ini tidak benar.“
Sejurus kemudian, Ryn menyadari kesalahannya. Dengan tubuh yang terbalut selimut, Ryn menunduk lemas. Ia menyesali perbuatannya, sambil menyibak rambut acak-acakan akibat permainan erotisnya.
“Lupakan saja, kita sudah melakukannya.“
Karan bangkit meninggalkan Ryn.
“Kamu jahat, Karan.“
Ryn menangis mengutuk dirinya, memukulkan genggaman tangan ke atas ranjangnya.
"Kenapa aku begitu sangat bodoh," pekik Ryn sekali lagi diikuti oleh tangis sesenggukan.
“Bagaimana jika nanti, aku...”
Bila saja Jai percaya lebih awal kalau para pengguna elemen yang disebut dengan Elemer itu benar-benar ada. Tentunya Jai akan menanyakan sedetail mungkin pada Miria agar keadaan tidak seburuk saat ini. Ya, Jai terlihat seperti orang bodoh saat melihat apa yang dilakukan oleh lawannya tepat di hadapannya sendiri.Baik Usha maupun Jai refleks terkejut saat melihat salah satu pria bertubuh besar menghentakkan kakinya di tanah hingga segumpal tanah seukuran kelapa tiba-tiba melayang tepat di sampingnya. Bagi Jai, apa yang dia lihat saat ini bagaikan sebuah omong kosong yang membuatnya terlihat menyedihkan. Namun, untung saja Usha mengalihkan perhatian semua orang dari Jai. Reaksi anak kucing yang sedang tersentak diikuti raungan dan desisan terlihat sangat menggemaskan bagi semua orang yang memandangnya.‘Bagaimana bisa dia melakukannya? Apakah dia seorang wibu yang begitu fanatik dengan animasi sihir seperti Korra?’ Batin Jai bertanya-tanya. Apakah ini yang di
Jai dan Miria berjalan berdampingan menuju pasar. Usha kecil ada di antara mereka, berjalan dengan begitu anggunnya seperti pemilik jalan. Sudah beberapa kali Usha melewati pergelangan kaki Miria seolah-olah memang bermaksud melakukan hal itu. Tindakannya itu mengejutkan dan menarik perhatian Miria setiap saat. Meski begitu, Miria tidak merasa terganggu, dia bahkan menganggap apa yang dilakukan oleh Usha sebagai tindakan yang menggemaskan.Jai bersyukur dengan apa yang dilakukan oleh Usha. Setidaknya hal itu bisa mengalihkan perhatian Miria darinya dan Jai bisa lebih memikirkan lagi tentang mimpinya semalam.Jai tidak salah ingat. Dia bermimpi tentang api biru dan putih, dengan api putih mendominasi warna biru. Ada juga beberapa bayangan orang. Sebagian bayangan itu bisa Jai kira sebagai pihak militer, dan sebagian lain adalah orang-orang yang berstatus lebih rendah, mungkin lebih tepatnya penduduk biasa. Suasananya terlihat seperti medan perang, tetapi tidak terlalu b
Kekecewaan.Amarah.Kesedihan.Jai masih tidak percaya pacarnya telah memutuskan hubungan mereka hanya karena dia miskin. Ya, itu artinya Meghan tidak layak untuk Jai. Wanita itu tidak pantas menerima semua hal yang telah Jai berikan untuknya. Tabungannya... Uang yang Jai dapatkan selama ini...Seandainya saja Jai bisa putus lebih cepat. Itu adalah hal yang paling Jai sesali dalam hubungannya dengan Meghan.“Kamu miskin.”Suara Megan menggelegar di ruang gelap tak terhingga tempat Jai berada saat ini.Intensitas rasa sinis dalam suaranya membuat Jai kesal bukan main. Dia berharap tidak pernah melihat perempuan itu lagi. Kalau nanti dirinya sudah kembali ke kota, Jai akan memastikan kalau Meghan atau Chen atau apa pun itu, tidak akan ada yang bisa menghancurkan kehidupan Jai di hari esok dan sisa hidupnya di masa depan. Ah, Jai bahkan tidak akan tanggung untuk pergi ke Jerman kalau memungkinkan.Tidak berselang lama suara lain muncul. Sebuah suara yang terdengar seperti letusan kecil.
Barun mengarahkan Jai melewati gerbang. Mereka melewati beberapa rumah kecil dan juga beberapa gudang lumbung. Setelah itu mereka sampai di sebuah halaman kecil dengan sumur batu di tengahnya.Jai melihat seorang gadis sedang duduk di tepi sumur, wajahnya menunduk ke bawah. Jai menyadari kalau gadis itu mengerutkan kening saat mereka berjalan mendekat. Tidak berapa lama, Barun yang ada di belakangnya memanggil, "Miria!"Gadis itu mendongak dan ekspresinya langsung berubah menjadi sangat gembira."Kakek!" seru Miria. Dia pun lekas berlari ke arah Jai dan Barun dengan gembira."Apa yang kamu lakukan di sini, cucuku? Kenapa memakai pakaian seperti itu?” tanya Barun, nada khawatir terselip di suaranya.“A-Aku menunggumu, kakek… aku khawatir…” Miria membela dirinya. Dia tersenyum meminta maaf kepada sang kakek.Sekarang gadis itu hanya berjarak dua kaki dari Jai, dia bisa melihatnya dengan lebih baik. Gadis itu mem
Jai dengan santai menarik gerobak yang ada di belakangnya. Dia berjalan dengan penuh semangat, seolah-olah Jai tidak baru saja melawan delapan pria yang mencoba merampok seorang kakek tua. Batin sang kakek yang saat ini sedang duduk di gerobak yang sedang Jai tarik, menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Di pangkuannya ada seekor anak kucing putih yang sedang tertidur tanpa peduli dengan dunia sekitarnya.Mereka sudah berjalan selama hampir satu jam lamanya dan Jai pun telah berusaha mengobrol dengan sang kakek. Jai dengan hati-hati bertanya siapa dia, bagaimana perasaan sang kakek tua itu saat ini, apa yang ada di gerobak, atau siapa orang-orang yang telah menyerangnya itu. Hal-hal semacam itu.Kakek tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Barun. Dia memiliki seorang cucu perempuan bernama Miria, dan mereka tinggal di sebuah desa bernama Letush. Letush adalah desa kecil yang terletak di barat daya Kerajaan Aeronvein.
Kepala Jai berdenyut-denyut seperti orang gila, dan dia seharusnya mengatasinya terlebih dahulu daripada berlari ke sumber teriakan dari seseorang yang tidak dikenal. Dia melihat bulan terbelah menjadi dua! Tunggu, itu terdengar salah. Masa bodo!Jai mendengar kucing seputih salju itu mengeong, dia pun segera memeluknya dengan erat ke dada sebelum mempercepat langkahnya. Melewati berbagai pohon-pohon mati di sisinya, dia pun tiba di jalan setapak yang membentang ke samping. Tanahnya kini berbeda, karena berwarna abu-abu dan tampak lebih kokoh ketimbang tanah merah yang dia tapaki sebelumnya. Jai sedikit mengerucutkan bibirnya.'Ke mana sekarang?' Pikirnya.Tidak lama kemudian Jai mendengar tawa samar dari sebelah kanannya. Suara itu terdengar cukup jauh. Dia pun berlari ke kanannya.Tidak butuh waktu lama bagi Jai untuk tiba di tempat kejadian. Dia bisa melihat beberapa pria bersenjata mengelilingi seorang pria tua di tanah tanpa senjata, dan di sebelah k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments