Share

Chapter 117.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-04-26 23:57:50
Yuna merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.

Apa ia harus terus berbohong? Apa ia boleh menyakiti orang yang tulus seperti Alya hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri?

Yuna menarik napas pelan sambil berusaha menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.

“Eh? Enggak kok, Alya,” jawab Yuna cepat sambil berusaha terdengar ringan. “Saya juga heran kenapa dia jadi nanya-nanya soal saya. Padahal kita jarang banget ketemu, apalagi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 118.

    Yuna menarik napas tajam. Emosinya sudah berada di ujung tanduk. “Tidak, Darren. Saya masih banyak kerjaan. Kalau ada yang penting, bilang saja lewat telepon.” Darren terdiam sebentar, lalu tiba-tiba suaranya sedikit naik. “Kalau begitu saya naik ke lantai kamu sekarang.” Yuna langsung panik. Bayangan Alya melihatnya bersama Darren, rekan kerja yang sedang memperhatikan, dan gosip yang akan menyebar membuat darahnya serasa surut. “Jangan!” potongnya cepat. “Baik, saya turun. Tunggu di parkiran saja. Jangan masuk ke lobi.” Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban Darren, lalu berjalan cepat menuju lift dengan jantung berdegup kencang. Beberapa menit kemudian, Yuna sampai di lantai lobi. Ia langsung menemukan mobil SUV hitam milik Darren yang diparkir di area parkiran tamu. Ia membuka pintu penumpang dan langsung masuk. Darren menyapa dengan hangat. “Yuna, yuk. Kita mak—” “Langsung ke intinya saja,” potong Yuna dingin. “Saya nggak mau pergi makan siang. Bicara di

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 117.

    Yuna merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam. Apa ia harus terus berbohong? Apa ia boleh menyakiti orang yang tulus seperti Alya hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri? Yuna menarik napas pelan sambil berusaha menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. “Eh? Enggak kok, Alya,” jawab Yuna cepat sambil berusaha terdengar ringan. “Saya juga heran kenapa dia jadi nanya-nanya soal saya. Padahal kita jarang banget ketemu, apalagi sampai dekat.” Alya tidak langsung mengangguk. Matanya masih menyipit penasaran seolah belum sepenuhnya percaya. “Beneran, Kak? Tapi… kok rasanya aneh. Dia sering nanya soal Kakak, tapi kalau nggak bahas Kakak, malah hampir nggak pernah chat aku.” Yuna merasa dadanya semakin sesak. Ironis sekali. Ia sendiri yang masuk ke dalam sandiwara ini, ia sendiri yang berbohong berkali-kali pada Alya, tapi sekarang justru berusaha mati-matian menjaga hubungan Alya dan Darren tetap utuh. Ia meng

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 116.

    Yuna langsung merasa dadanya sesak. Tawaran itu seharusnya melegakan, tapi justru membuatnya panik. Bayangan ancaman Kai semalam langsung muncul—lisensi Firas yang bisa hilang dalam sekejap hanya karena terseret ke dalam hidupnya. “Tidak usah, Firas,” jawab Yuna cepat, nada suaranya sedikit terlalu tinggi. “Saya bisa urus sendiri. Terima kasih.” Firas terdiam sesaat di seberang sana. “Kenapa?” tanyanya pelan, ada kekhawatiran yang jelas. “Kamu tiba-tiba terdengar … tegang.” Yuna menelan ludah. Tangan kirinya mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Suara Kai yang dingin terus terngiang-ngiang dipikirannya mengenai Firas. “Nggak apa-apa,” jawabnya cepat dengan suara bergetar. “Benar-benar nggak apa-apa. Saya cuma … lagi banyak pikiran soal Ibu saya.” Firas diam lebih lama kali ini. Yuna bisa merasakan perubahan di nada suaranya ketika pria itu akhirnya berbicara. “Yuna … kamu lagi menghindar lagi ya seperti dulu? Seolah kamu takut terlalu dekat dengan saya.” Yuna m

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 115.

    Cahaya pagi menyusup lemah melalui tirai kamar utama Kai. Yuna terbangun dengan tubuh Kai yang masih memeluknya dari belakang. Lengan pria itu melingkar longgar di pinggangnya. Untuk sesaat ia hanya diam sambil merasakan hangat napas Kai di tengkuknya. Namun pikirannya tidak bisa tenang. Ucapan Kai semalam terus terngiang jelas mengenai keputusan yang harus ia berikan hari ini. Dada Yuna terasa sedikit sesak. Perlahan, ia melepaskan diri dengan hati-hati agar tidak membangunkan pria itu, lalu bangkit dari ranjang king-size tersebut. Dan seperti biasa, ia memilih mandi dan bersiap di kamar tamu. Setelah mandi cepat, Yuna mengenakan setelan kerja formalnya, lalu rambutnya diikat rapi, dan memoles wajah dengan makeup tipis. Yuna juga sudah ke dapur dan membuat sarapan sederhana untuk Kai. Saat Yuna sedang menuangkan kopi hitam ke cangkir, Kai keluar dari kamar utama. Pria itu hanya mengenakan celana chino hitam dan kemeja putih yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih se

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 114.

    Lampu kamar utama sudah diredupkan. Hanya cahaya samar dari lampu tidur yang menyisakan kehangatan kuning lembut di dinding. Yuna berbaring miring di ranjang besar, punggungnya menghadap Kai. Selimut tipis menutupi tubuh mereka berdua. Udara malam terasa sejuk, meski hangat tubuh Kai di belakangnya tetap menyelimuti punggungnya. Kai tidak langsung tidur. Satu lengannya melingkar longgar di pinggang Yuna. Jarinya sesekali mengusap pelan kulit pinggang Yuna melalui kain tipis baju tidur. Hening cukup lama. Lalu Kai memanggil dengan suara rendah dan agak serak karena lelah. “Yuna.” “Hm?” Kai terdiam sejenak. “Kenapa belakangan ini kamu semakin emosional seperti makan malam tadi?” Pertanyaan itu datang pelan, tanpa nada menuduh. Hanya rasa ingin tahu yang jarang sekali muncul dari Kai. Yuna tidak langsung menjawab. Matanya menatap kosong ke dinding kamar yang samar. Dibenaknya yang paling dalam, ia lelah. Karena setiap hari ia merasa seperti sedang berjalan di tali yan

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 113.

    Kai tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Yuna dengan tatapan yang sulit dibaca, seolah sedang memprediksi reaksi gadis itu terhadap tawaran yang akan ia lontarkan. “Kamu pasti setuju, karena ini lebih baik daripada kamu harus capek bolak-balik setiap hari.” Yuna tercekat. Firasat buruk langsung menjalar di dadanya. “Setuju?” ulangnya pelan. “Saya nggak butuh solusi dari Anda, Kai. Tolong … cukup,” ujar Yuna dengan suara lebih kecil dan bergetar. Beberapa detik kemudian, Yuna tertawa getir. Beban hidup yang ia pikul selama ini seolah tidak pernah berhenti, terus berputar dan menekan tanpa jeda. Ia meletakkan sendok dan piringnya di meja sebelum ambruk di kursi. Bahunya bergetar pelan. “Kai, saya … benar-benar kewalahan dengan semua ini,” lanjutnya pelan, suaranya pecah di akhir kalimat. “Semua syarat maupun solusi Anda … semuanya terasa seperti saya nggak boleh hidup dengan cara saya sendiri.” Ia menarik napas menahan sesak. “Saya cuma pengen Ibu sembuh, Kai. Itu aja. Ken

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 51.

    Yuna menarik napas pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya kembali sesak.“Iya … baru saja dari ICU. Kondisinya sudah lebih stabil. Makasih udah nanyain.”Firas diam di sampingnya, menyesap kopi hitam dari botol di tangannya. Tatapannya sempat turun, tapi Yun

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 47.

    Yuna menunggu jawaban Kai dengan napas tertahan. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang semakin kencang. Kai terdiam lama. Matanya masih tertutup, tapi Yuna bisa merasakan bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Pikir Yuna, toh dalam cerita aslinya memang Kai akan

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 43.

    Yuna membeku. Pandangannya langsung tertuju pada Alya. Dan benar saja, gadis itu hanya diam, tapi Yuna bisa melihat bagaimana bahunya menegang pelan dan sorot matanya semakin sulit dibaca. Darren akhirnya membalas dengan nada yang masih terdengar santai tapi kali ini lebih sarkastik. “Baik, Bos b

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 41.

    Koridor rumah sakit yang semula sunyi mendadak terasa sempit. Yuna berdiri terpaku di tempatnya, napasnya tercekat saat pandangannya menangkap satu per satu sosok di hadapannya. Alya di sisi kanan dengan wajah penuh khawatir, Darren sedikit di depannya dengan tatapan tajam pada Kai, dan … Kai, berd

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status