LOGINYuna menarik napas tajam. Emosinya sudah berada di ujung tanduk.“Tidak, Darren. Saya masih banyak kerjaan. Kalau ada yang penting, bilang saja lewat telepon.”Darren terdiam sebentar, lalu tiba-tiba suaranya sedikit naik.“Kalau begitu saya naik ke lantai kamu sekarang.”Yuna langsung panik. Bayangan Alya melihatnya bersama Darren, rekan kerja yang sedang memperhatikan, dan gosip yang akan menyebar membuat darahnya serasa surut.“Jangan!” potongnya cepat. “Baik, saya turun. Tunggu di parkiran saja. Jangan masuk ke lobi.”Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban Darren, lalu berjalan cepat menuju lift dengan jantung berdegup kencang.Beberapa menit kemudian, Yuna sampai di lantai lobi. Ia langsung menemukan mobil SUV hitam milik Darren yang diparkir di area parkiran tamu. Ia membuka pintu penumpang dan langsung masuk.Darren menyapa dengan hangat.“Yuna, yuk. Kita mak—”“Langsung ke
Yuna merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.Apa ia harus terus berbohong? Apa ia boleh menyakiti orang yang tulus seperti Alya hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri?Yuna menarik napas pelan sambil berusaha menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.“Eh? Enggak kok, Alya,” jawab Yuna cepat sambil berusaha terdengar ringan. “Saya juga heran kenapa dia jadi nanya-nanya soal saya. Padahal kita jarang banget ketemu, apalagi sampai dekat.”Alya tidak langsung mengangguk. Matanya masih menyipit penasaran seolah belum sepenuhnya percaya.“Beneran, Kak? Tapi… kok rasanya aneh. Dia sering nanya soal Kakak, tapi kalau nggak bahas Kakak, malah hampir nggak pernah chat aku.”Yuna merasa dadanya semakin sesak. Ironis sekali. Ia sendiri yang masuk ke dalam sandiwara ini, ia sendiri yang berbohong berkali-kali pada Alya, tapi sekarang justru berusaha mati-matian me
Yuna langsung merasa dadanya sesak. Tawaran itu seharusnya melegakan, tapi justru membuatnya panik. Bayangan ancaman Kai semalam langsung muncul—lisensi Firas yang bisa hilang dalam sekejap hanya karena terseret ke dalam hidupnya. “Tidak usah, Firas,” jawab Yuna cepat, nada suaranya sedikit terlalu tinggi. “Saya bisa urus sendiri. Terima kasih.” Firas terdiam sesaat di seberang sana. “Kenapa?” tanyanya pelan, ada kekhawatiran yang jelas. “Kamu tiba-tiba terdengar … tegang.” Yuna menelan ludah. Tangan kirinya mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Suara Kai yang dingin terus terngiang-ngiang dipikirannya mengenai Firas. “Nggak apa-apa,” jawabnya cepat dengan suara bergetar. “Benar-benar nggak apa-apa. Saya cuma … lagi banyak pikiran soal Ibu saya.” Firas diam lebih lama kali ini. Yuna bisa merasakan perubahan di nada suaranya ketika pria itu akhirnya berbicara. “Yuna … kamu lagi menghindar lagi ya seperti dulu? Seolah kamu takut terlalu dekat dengan saya.” Yuna m
Cahaya pagi menyusup lemah melalui tirai kamar utama Kai. Yuna terbangun dengan tubuh Kai yang masih memeluknya dari belakang. Lengan pria itu melingkar longgar di pinggangnya. Untuk sesaat ia hanya diam sambil merasakan hangat napas Kai di tengkuknya. Namun pikirannya tidak bisa ikut tenang. Ucapan Kai semalam kembali terngiang jelas memgenai keputusan yang harus ia berikan hari ini. Dada Yuna terasa sedikit sesak. Perlahan, ia melepaskan diri dengan hati-hati agar tidak membangunkan pria itu, lalu bangkit dari ranjang king-size tersebut. Dan seperti biasa, ia memilih mandi dan bersiap di kamar tamu. Setelah mandi cepat, Yuna mengenakan setelan kerja formalnya, lalu rambutnya diikat rapi, dan memoles wajah dengan makeup tipis. Yuna juga sudah ke dapur dan membuat sarapan sederhana untuk Kai. Saat Yuna sedang menuangkan kopi hitam ke cangkir, Kai keluar dari kamar utama. Pria itu hanya mengenakan celana chino hitam dan kemeja putih yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya
Lampu kamar utama sudah diredupkan. Hanya cahaya samar dari lampu tidur yang menyisakan kehangatan kuning lembut di dinding.Yuna berbaring miring di ranjang besar, punggungnya menghadap Kai. Selimut tipis menutupi tubuh mereka berdua. Udara malam terasa sejuk, meski hangat tubuh Kai di belakangnya tetap menyelimuti punggungnya.Kai tidak langsung tidur. Satu lengannya melingkar longgar di pinggang Yuna. Jarinya sesekali mengusap pelan kulit pinggang Yuna melalui kain tipis baju tidur.Hening cukup lama.Lalu Kai memanggil dengan suara rendah dan agak serak karena lelah.“Yuna.”“Hm?”Kai terdiam sejenak.“Kenapa belakangan ini kamu semakin emosional seperti makan malam tadi?”Pertanyaan itu datang pelan, tanpa nada menuduh. Hanya rasa ingin tahu yang jarang sekali muncul dari Kai.Yuna membeku. Napasnya tertahan sejenak.Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap kosong ke dinding ka
Kai tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Yuna dengan tatapan yang sulit dibaca, seolah sedang memprediksi reaksi gadis itu terhadap tawaran yang akan ia lontarkan.“Kamu pasti setuju, karena ini lebih baik daripada kamu harus capek bolak-balik setiap hari.”Yuna tercekat. Firasat buruk langsung menjalar di dadanya.“Setuju?” ulangnya pelan. “Saya nggak butuh solusi dari Anda, Kai. Tolong … cukup,” ujar Yuna dengan suara lebih kecil dan bergetar.Beberapa detik kemudian, Yuna tertawa getir. Beban hidup yang ia pikul selama ini seolah tidak pernah berhenti, terus berputar dan menekan tanpa jeda.Ia meletakkan sendok dan piringnya di meja sebelum ambruk di kursi. Bahunya bergetar pelan.“Kai, saya … benar-benar kewalahan dengan semua ini,” lanjutnya pelan, suaranya pecah di akhir kalimat. “Semua syarat Anda … semuanya terasa seperti saya nggak boleh hidup dengan cara saya sendiri.”Ia menarik napas menahan sesak.
Dunia seolah berhenti berputar. Napasnya tersendat, tangannya gemetar hebat hingga HP-nya hampir jatuh. Air mata langsung menggenang di pelupuknya, mengaburkan pandangan. ‘Tidak … tidak boleh …’ pikirnya dalam hati, panik yang membuncah seperti gelombang dingin. Sekejap, ingatannya langsung meny
Yuna melongo, mulutnya terbuka kecil tanpa suara. Otaknya berusaha memproses kata-kata itu, tapi tubuhnya masih terasa lemas, panas, dan kosong akibat penghentian mendadak tadi. Yang benar saja?! Setelah semua yang baru saja terjadi, Kai malah bicara soal makan malam di tengah kondisi seperti in
Dunia Yuna langsung jungkir balik, jantungnya berdegup kencang. Pria ini … sudah gila, ya?! “K–Kai, Anda serius …?” Kai melangkah mendekat. Ia meletakkan lingerie itu di tangan Yuna, lalu menatapnya dari dekat. “Kamu ingat janjimu tadi siang?” suaranya dingin, tapi ada nada yang hampir seperti b
Sesaat Yuna menelan ludah berat dengan jantungnya yang semakin berdegup kencang. Pandangannya refleks menatap Darren yang sedang memperhatikannya. “S–Saya … lagi sama temen lama di restoran, pak.” Yuna meringis dalam hati lantaran ia harus berbohong pada Kai, sambil berharap pria ini tak akan tahu







