Masuk"Kau, bangsat!" Kevin menunjuk wajah Satria dengan jari telunjuk yang gemetar karena gugup.
Satria maju satu langkah pelan tapi terasa berat menekan mental Kevin. Kevin refleks mundur dua langkah hingga kakinya goyah hampir terpeleset lagi. Dia menatap Laras sekilas dengan tatapan penuh dendam.
"Awas lo ya, Laras!" desis Kevin dengan suara bergetar menahan emosi. "Lo pikir ini selesai? Lo udah bikin gue malu di depan kacung ini! Gue bakal bikin lo nyesel seumur hidup!"
Kevin berbalik badan dan lari terbirit-birit keluar dari toilet sempit itu. Dia menabrak kusen pintu saking paniknya lalu menghilang di lorong kafe tanpa menoleh lagi. Satria ingin sekali mengejar bajingan itu untuk memberinya pelajaran fisik. Namun, erangan kesakitan Laras menahannya di tempat dan mengalihkan fokusnya seketika.
"Sakit, tolong kaki aku, Mas," isak Laras sambil memegangi pergelangan kakinya.
Tubuh gadis itu menggigil hebat di atas lantai keramik yang basah. Satria menghela napas panjang dan menekan amarahnya demi menolong korban. Dia segera berlutut di samping Laras dan menatap gadis itu lekat-lekat. Pemandangan di depannya benar-benar menguji mata dan iman laki-laki normal.
Blus sutra mahal Laras robek parah di bagian bahu kiri hingga dadanya terekspos bebas. Tali bra hitam berenda menempel ketat di kulit putih susunya yang sangat kontras. Kulit mulus di area leher dan bahu itu kini memerah bekas cengkeraman kasar Kevin.
Rok Laras tersingkap tinggi, memperlihatkan paha bagian dalamnya yang putih mulus dan padat berisi.
"Tenang, Mbak, jangan banyak gerak dulu kakinya," ucap Satria pelan sambil memeriksa visual cedera itu.
"Sakit banget, aku nggak bisa berdiri, Mas," Laras menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan nyeri.
"Maaf ya, Mbak, permisi aku gendong sebentar ke ruang istirahat karyawan. Di sini dingin dan kotor, nggak bagus buat luka Mbak," izin Satria sopan tapi tegas.
Satria mengangkat tubuh mungil Laras ala bridal style dengan satu tarikan napas mantap. Laras terkesiap kaget saat merasakan tubuhnya melayang ringan dari lantai basah. Secara insting, lengannya melingkar ke leher Satria untuk berpegangan erat agar tidak jatuh.
Dada Laras yang membusung karena posisi gendongan menempel telak di dada bidang Satria.
Satria bisa merasakan tekstur kenyal dan padat dari dua gundukan itu menekan otot dadanya. 'Si Pusaka' di dalam celana bahan Satria langsung bereaksi keras menerima rangsangan tiba-tiba ini. Satria menahan napas agar tidak mendesah nikmat di depan korban yang sedang kesakitan.
Tepat saat Satria berbelok di koridor, dia hampir bertabrakan dengan seseorang. Dinda muncul tiba-tiba dengan wajah penasaran karena Satria menghilang dari pantry.
"Satria, astaga, ini siapa? Ngapain lo gendong cewek?!" pekik Dinda kaget dengan nada tinggi yang melengking.
Mata Dinda menatap tajam ke arah dada Laras yang menempel di dada Satria. Satria tidak berhenti melangkah dan menatap Dinda dengan wajah serius mendesak.
"Din, minggir dulu! Mbak ini korban kekerasan pelanggan bejat tadi di toilet. Kakinya cedera parah, harus segera diobati sekarang juga," perintah Satria tegas.
"Lo lari ke depan, ambil kotak P3K sama es batu di kulkas! Bawa ke ruang istirahat karyawan sekarang juga, buruan, Din!"
Melihat keseriusan Satria dan kondisi Laras yang baju robeknya memperlihatkan tali bra membuat Dinda terdiam. Dia melihat dada Laras yang terekspos menempel di dada Satria dengan rasa iri. Dinda berbalik badan dan berlari menuju meja kasir depan mengambil peralatan medis.
Satria membawa Laras masuk ke ruang istirahat karyawan yang sempit dan pengap.
Rok Laras kembali tersingkap lebar saat dia dibaringkan, memperlihatkan paha putihnya semakin jelas. Satria menelan ludah kasar melihat pemandangan daging putih mulus yang terpampang di depannya. Dia menarik kursi kecil dan duduk di ujung sofa, tepat di depan kaki Laras yang menjuntai.
"Tahan sebentar ya, Mbak, aku cek cederanya sambil nunggu Dinda," ucap Satria serius berusaha profesional.
Satria mengangkat sedikit kaki kanan Laras yang cedera parah dengan hati-hati. Dia menggulung ujung celana bahan Laras sampai sebatas betis atas. Pemandangan itu memperlihatkan kulit betis dan pergelangan kaki yang putih mulus seputih pualam.
"Aw, sshhh!" Laras mendesis kaget saat jari kasar Satria menyentuh titik lebamnya.
"Rileks, Mbak, lemesin aja ototnya biar nggak makin sakit," instruksi Satria sambil menahan gejolak.
Satria diam-diam menyalurkan hawa murni tenaga dalamnya melalui pori-pori telapak tangannya yang panas.
Laras merasakan sensasi panas yang aneh menjalar dari kakinya yang disentuh Satria. Pijatan itu membuat aliran darahnya berdesir naik ke pangkal paha dengan cepat. Rasa sakit di kakinya perlahan berganti menjadi rasa geli yang nikmat.
"Sshhh, ahhh," desis Laras panjang dengan mata terpejam.
Jari-jari kaki Laras refleks menekuk dan mencengkeram ujung bajunya karena kenikmatan pijatan itu. Tangan Satria perlahan naik menyusuri kaki gadis itu ke atas. Dia mencengkeram tumit Laras dengan tangan kiri yang kuat dan dominan.
Tangan kanan Satria mulai memijat area urat besar di belakang pergelangan kaki. Dari sana jari-jari Satria merambat naik menyusuri betis Laras yang putih mulus. Dia merasakan otot betis gadis itu mengeras dan kencang dalam genggamannya.
"Mhh, angh, enak, Mas," desahan panjang lolos dari bibir Laras yang terbuka sedikit.
Tubuh Laras mulai bereaksi liar terhadap pijatan tangan Satria yang mengandung tenaga dalam. Laras menggeliat di atas sofa tua itu dengan gerakan pinggul yang tak sadar. Punggungnya melenting ke belakang membuat dadanya membusung tinggi hingga tali branya semakin terlihat jelas.
"Di situ, Mas, iya, di situ enak," rintih Laras dengan mata terpejam rapat.
Napas Laras memburu pendek-pendek seirama dengan gerakan tangan Satria yang semakin intens dan cepat. Wajah cantiknya memerah padam dan keringat tipis membasahi leher jenjangnya. Satria menatap leher basah itu dengan tatapan lapar yang sulit disembunyikan.
Aroma minyak kayu putih bercampur keringat manis dan parfum Laras menguar kuat di ruangan sempit itu. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipis Satria karena menahan nafsu. 'Si Pusaka' di dalam celananya berkedut liar dan menegang maksimal merespon desahan Laras yang semakin menjadi-jadi.
Pintu ruang istirahat tiba-tiba didorong terbuka kasar dari luar. Dinda berdiri di ambang pintu dengan napas ngos-ngosan memeluk kotak P3K. Pemandangan di dalam ruangan itu membuat mata Dinda membelalak kaget.
Laras terbaring di sofa dengan wajah merah padam dan mendesah pelan seperti orang bercinta. Celana Laras digulung tinggi memperlihatkan betis putihnya yang mengkilap minyak dan basah. Satria duduk mengangkang di antara kedua kaki gadis itu sambil memegang paha bawahnya dengan erat.
"HEH! Kalian ngapain?!" pekik Dinda histeris dengan wajah merah padam.
Satria dan Laras tersentak kaget mendengar teriakan cemburu itu. Satria menoleh cepat tapi tangannya masih refleks memegang betis Laras yang licin dan berminyak. Dinda melangkah masuk dan membanting pintu di belakangnya dengan kaki sekuat tenaga.
"Wah, gila ya kamu, Sat! Aku lari-larian malah asik-asikan di sini!" sembur Dinda galak sambil mendekat. "Orang sakit kok malah dibikin mendesah gitu, posisi macam apa itu, hah?!"
"Din, jangan mikir jorok dulu, woi!" potong Satria panik sambil melepas tangannya dari kaki Laras. "Kakinya Mbak ini bengkak parah sampai ungu begini, lihat sendiri! Aku cuma lagi lurusin uratnya biar nggak cacat seumur hidup!"
Dinda mendengus kasar sambil menatap paha putih Laras dengan tatapan menilai dan iri. Dia cemburu berat melihat betapa mulusnya kulit kaki Laras yang dipegang Satria.
Dinda meletakkan kotak P3K dengan kasar di meja kecil hingga berbunyi keras. Dia mengambil botol minyak urut dari dalamnya dengan kasar.
"Nih, pakai ini minyak urut beneran!" Dinda menyodorkan botol itu ke dada Satria dengan paksa. "Jangan pakai tangan kosong doang, modus banget, sih, jadi cowok! Awas minggir dikit!"
Satria melangkah melewati pemimpin preman yang sudah terkencing-kencing ketakutan tanpa perlu melayangkan pukulan lagi. Orang itu sudah kehilangan seluruh nyalinya setelah melihat semua anak buahnya tumbang dengan tragis. Fokus Satria kini kembali pada target utama, yaitu Baskoro.Pria tambun itu masih terduduk di atas tanah yang berdebu, memegangi rahang kirinya yang bengkak dan berdarah akibat pukulan salah sasaran dari anak buahnya sendiri tadi.Melihat Satria berjalan mendekat dengan langkah yang santai namun penuh intimidasi, Baskoro langsung berusaha mundur dengan cara menyeret pantatnya di tanah. Wajahnya pucat pasi seperti mayat. Di sekelilingnya, belasan preman sewaan yang dia bawa dengan penuh keangkuhan kini hanya bisa mengerang kesakitan. Perlindungan yang dia banggakan sudah hancur total dalam waktu beberapa menit saja.Satria berhenti tepat di depan Baskoro, lalu berjongkok agar wajah mereka sejajar. Tatapan mata Satria yang sangat dingin membuat Baskoro merasa seperti s
Belasan preman itu merangsek maju secara bersamaan dengan teriakan riuh, mencoba mengintimidasi Satria lewat keunggulan jumlah. Namun, di mata Satria yang sudah terlatih menghadapi situasi yang jauh lebih ekstrem, gerakan mereka semua tampak sangat lambat dan penuh dengan celah.Preman berambut cepak yang memegang pisau lipat tadi menjadi yang paling depan. Dengan wajah sangar, dia mengayunkan senjatanya secara membabi buta, mencoba menusuk perut Satria.Satria tidak bergeser dari tempatnya berdiri. Dia hanya sedikit memiringkan pinggulnya untuk menghindari mata pisau yang lewat beberapa sentimeter di depan bajunya. Di saat yang sama, tangan kanan Satria bergerak secepat kilat, menyambar ke depan sebelum pria cepak itu sempat menarik kembali tangannya.Plak!Sebuah tamparan terbuka yang sangat bertenaga mendarat telak di pipi preman cepak tersebut. Saking kerasnya hantaman itu, tubuh pria berbadan tegap itu sempat berputar setengah lingkaran di udara sebelum akhirnya ambruk ke tanah.
Melihat gertakannya sama sekali tidak dihiraukan, preman berbadan besar itu langsung kehilangan kesabaran. Dengan memanfaatkan posisi Satria yang sedang membelakanginya, dia mengambil ancang-ancang dari belakang dan melayangkan sebuah pukulan mentah yang sangat keras ke arah kepala Satria."Mati kamu!" teriak preman itu penuh percaya diri.Namun, mengandalkan serangan mengendap-endap dari belakang kepada seorang Satria adalah sebuah kesalahan besar. Insting bertarung Satria yang sudah terlatih melampaui manusia biasa langsung menangkap pergerakan angin dan deru langkah kaki di punggungnya.Bukannya panik, sudut bibir Satria justru terangkat membentuk senyuman tipis.Tanpa melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Baskoro, Satria memutar tubuhnya dengan sangat cepat dan lincah, membalikkan posisi mereka dalam sekejap mata. Gerakan berputar itu begitu mulus, membuat tubuh tambun Baskoro bergeser dan kini tepat berada di posisi yang sebelumnya ditempati oleh Satria.Bugh!Suara hantaman
Mendengar janji tegas dari Vera, warga sekitar yang tadinya diam mulai bergerak maju. Mereka mengabaikan gertakan para preman berbaju hitam dan langsung mengarahkan tuntutan mereka kepada Baskoro yang masih memegangi pipinya yang memerah."Dengar itu, Baskoro! Bu Vera saja sudah bilang kalau uang kami dikorupsi! Sekarang kembalikan sisa pembayaran kami sesuai kesepakatan awal!" teriak perwakilan warga paruh baya itu dengan penuh emosi."Iya, bayar sekarang! Jangan cuma bisa memperkaya diri sendiri dari tanah kami!" sahut warga lainnya bersahutan.Bukannya panik atau merasa bersalah karena kedoknya sudah terbongkar, Baskoro justru mundur dua langkah ke tengah-tengah barisan preman sewaannya. Pria tambun itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya terdengar sangat nyaring dan penuh dengan nada penghinaan."Hahaha! Bayar? Kalian minta saya bayar sekarang?" ejek Baskoro sambil menatap warga dengan pandangan meremehkan. "Kalian itu cuma orang desa pinggiran sungai, jangan mimpi ket
Tepat tiga puluh menit kemudian, suasana sunyi di sekitar bantaran sungai terusik oleh suara deru langkah kaki yang tergesa-gesa. Dari arah jalan masuk utama proyek, sosok Pak Baskoro akhirnya muncul. Pria paruh baya bertubuh tambun itu berlari kecil dengan napas yang terengah-engah, wajahnya tampak memerah karena kelelahan sekaligus panik.Namun, dia tidak datang sendirian. Di belakang Baskoro, berjalan beriringan sekitar belasan pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam. Tatapan mata orang-orang berbaju hitam itu tampak sangar, dengan gestur tubuh yang sengaja dibuat intimidatif seolah siap menghajar siapa saja yang berani mendekati bos mereka.Melihat kedatangan rombongan tersebut, Satria yang sejak tadi bersandar santai di dekat posko langsung menegakkan tubuhnya. Pandangan matanya menyipit, membaca situasi dengan sangat cepat."Cih, cari perlindungan," gumam Satria pelan dengan nada mencibir.Vera juga langsung menyadari kehadiran gerombolan berbaju hitam itu. Kedua tanganny
Vera langsung memalingkan wajahnya dari kerumunan warga. Matanya menyapu ke sekeliling area posko dengan tatapan yang sangat tajam, mencari seseorang yang seharusnya berdiri di barisan paling depan untuk menjelaskan kekacauan ini.Sejak awal tiba di lokasi, Vera menyadari ada yang aneh. Sosok penanggung jawab utama proyek pengolahan limbah di wilayah ini sama sekali tidak kelihatan hidungnya.Vera kemudian menatap kepala tim lapangan yang wajahnya sudah pucat pasi."Di mana Pak Baskoro? Kenapa dari tadi saya tidak melihat dia di lokasi?" tanya Vera dengan nada suara yang bergetar menahan amarah."Anu, Bu Vera... Pak Baskoro tadi katanya sedang ada urusan penting di luar kota. Beliau bilang saya yang harus menghandle kedatangan Ibu hari ini," jawab kepala tim lapangan itu terbata-bata, keringat dingin makin deras mengucur di pelipisnya."Urusan luar kota? Di saat warga sedang mengepung tempat ini karena ulah kalian?" cetus Vera dengan sinis.Vera tidak mau membuang waktu lagi mendengar







