공유

BAB 2

last update 게시일: 2026-02-06 23:44:31

"Kau, bangsat!" Kevin menunjuk wajah Satria dengan jari telunjuk yang gemetar karena gugup.

Satria maju satu langkah pelan tapi terasa berat menekan mental Kevin. Kevin refleks mundur dua langkah hingga kakinya goyah hampir terpeleset lagi. Dia menatap Laras sekilas dengan tatapan penuh dendam.

"Awas lo ya, Laras!" desis Kevin dengan suara bergetar menahan emosi. "Lo pikir ini selesai? Lo udah bikin gue malu di depan kacung ini! Gue bakal bikin lo nyesel seumur hidup!"

Kevin berbalik badan dan lari terbirit-birit keluar dari toilet sempit itu. Dia menabrak kusen pintu saking paniknya lalu menghilang di lorong kafe tanpa menoleh lagi. Satria ingin sekali mengejar bajingan itu untuk memberinya pelajaran fisik. Namun, erangan kesakitan Laras menahannya di tempat dan mengalihkan fokusnya seketika.

"Sakit, tolong kaki aku, Mas," isak Laras sambil memegangi pergelangan kakinya.

Tubuh gadis itu menggigil hebat di atas lantai keramik yang basah. Satria menghela napas panjang dan menekan amarahnya demi menolong korban. Dia segera berlutut di samping Laras dan menatap gadis itu lekat-lekat. Pemandangan di depannya benar-benar menguji mata dan iman laki-laki normal.

Blus sutra mahal Laras robek parah di bagian bahu kiri hingga dadanya terekspos bebas. Tali bra hitam berenda menempel ketat di kulit putih susunya yang sangat kontras. Kulit mulus di area leher dan bahu itu kini memerah bekas cengkeraman kasar Kevin.

Rok Laras tersingkap tinggi, memperlihatkan paha bagian dalamnya yang putih mulus dan padat berisi.

"Tenang, Mbak, jangan banyak gerak dulu kakinya," ucap Satria pelan sambil memeriksa visual cedera itu.

"Sakit banget, aku nggak bisa berdiri, Mas," Laras menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan nyeri.

"Maaf ya, Mbak, permisi aku gendong sebentar ke ruang istirahat karyawan. Di sini dingin dan kotor, nggak bagus buat luka Mbak," izin Satria sopan tapi tegas.

Satria mengangkat tubuh mungil Laras ala bridal style dengan satu tarikan napas mantap. Laras terkesiap kaget saat merasakan tubuhnya melayang ringan dari lantai basah. Secara insting, lengannya melingkar ke leher Satria untuk berpegangan erat agar tidak jatuh.

Dada Laras yang membusung karena posisi gendongan menempel telak di dada bidang Satria.

Satria bisa merasakan tekstur kenyal dan padat dari dua gundukan itu menekan otot dadanya. 'Si Pusaka' di dalam celana bahan Satria langsung bereaksi keras menerima rangsangan tiba-tiba ini. Satria menahan napas agar tidak mendesah nikmat di depan korban yang sedang kesakitan.

Tepat saat Satria berbelok di koridor, dia hampir bertabrakan dengan seseorang. Dinda muncul tiba-tiba dengan wajah penasaran karena Satria menghilang dari pantry.

"Satria, astaga, ini siapa? Ngapain lo gendong cewek?!" pekik Dinda kaget dengan nada tinggi yang melengking.

Mata Dinda menatap tajam ke arah dada Laras yang menempel di dada Satria. Satria tidak berhenti melangkah dan menatap Dinda dengan wajah serius mendesak.

"Din, minggir dulu! Mbak ini korban kekerasan pelanggan bejat tadi di toilet. Kakinya cedera parah, harus segera diobati sekarang juga," perintah Satria tegas.

"Lo lari ke depan, ambil kotak P3K sama es batu di kulkas! Bawa ke ruang istirahat karyawan sekarang juga, buruan, Din!"

Melihat keseriusan Satria dan kondisi Laras yang baju robeknya memperlihatkan tali bra membuat Dinda terdiam. Dia melihat dada Laras yang terekspos menempel di dada Satria dengan rasa iri. Dinda berbalik badan dan berlari menuju meja kasir depan mengambil peralatan medis.

Satria membawa Laras masuk ke ruang istirahat karyawan yang sempit dan pengap.

Rok Laras kembali tersingkap lebar saat dia dibaringkan, memperlihatkan paha putihnya semakin jelas. Satria menelan ludah kasar melihat pemandangan daging putih mulus yang terpampang di depannya. Dia menarik kursi kecil dan duduk di ujung sofa, tepat di depan kaki Laras yang menjuntai.

"Tahan sebentar ya, Mbak, aku cek cederanya sambil nunggu Dinda," ucap Satria serius berusaha profesional.

Satria mengangkat sedikit kaki kanan Laras yang cedera parah dengan hati-hati. Dia menggulung ujung celana bahan Laras sampai sebatas betis atas. Pemandangan itu memperlihatkan kulit betis dan pergelangan kaki yang putih mulus seputih pualam.

"Aw, sshhh!" Laras mendesis kaget saat jari kasar Satria menyentuh titik lebamnya.

"Rileks, Mbak, lemesin aja ototnya biar nggak makin sakit," instruksi Satria sambil menahan gejolak.

Satria diam-diam menyalurkan hawa murni tenaga dalamnya melalui pori-pori telapak tangannya yang panas.

Laras merasakan sensasi panas yang aneh menjalar dari kakinya yang disentuh Satria. Pijatan itu membuat aliran darahnya berdesir naik ke pangkal paha dengan cepat. Rasa sakit di kakinya perlahan berganti menjadi rasa geli yang nikmat.

"Sshhh, ahhh," desis Laras panjang dengan mata terpejam.

Jari-jari kaki Laras refleks menekuk dan mencengkeram ujung bajunya karena kenikmatan pijatan itu. Tangan Satria perlahan naik menyusuri kaki gadis itu ke atas. Dia mencengkeram tumit Laras dengan tangan kiri yang kuat dan dominan.

Tangan kanan Satria mulai memijat area urat besar di belakang pergelangan kaki. Dari sana jari-jari Satria merambat naik menyusuri betis Laras yang putih mulus. Dia merasakan otot betis gadis itu mengeras dan kencang dalam genggamannya.

"Mhh, angh, enak, Mas," desahan panjang lolos dari bibir Laras yang terbuka sedikit.

Tubuh Laras mulai bereaksi liar terhadap pijatan tangan Satria yang mengandung tenaga dalam. Laras menggeliat di atas sofa tua itu dengan gerakan pinggul yang tak sadar. Punggungnya melenting ke belakang membuat dadanya membusung tinggi hingga tali branya semakin terlihat jelas.

"Di situ, Mas, iya, di situ enak," rintih Laras dengan mata terpejam rapat.

Napas Laras memburu pendek-pendek seirama dengan gerakan tangan Satria yang semakin intens dan cepat. Wajah cantiknya memerah padam dan keringat tipis membasahi leher jenjangnya. Satria menatap leher basah itu dengan tatapan lapar yang sulit disembunyikan.

Aroma minyak kayu putih bercampur keringat manis dan parfum Laras menguar kuat di ruangan sempit itu. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipis Satria karena menahan nafsu. 'Si Pusaka' di dalam celananya berkedut liar dan menegang maksimal merespon desahan Laras yang semakin menjadi-jadi.

Pintu ruang istirahat tiba-tiba didorong terbuka kasar dari luar. Dinda berdiri di ambang pintu dengan napas ngos-ngosan memeluk kotak P3K. Pemandangan di dalam ruangan itu membuat mata Dinda membelalak kaget.

Laras terbaring di sofa dengan wajah merah padam dan mendesah pelan seperti orang bercinta. Celana Laras digulung tinggi memperlihatkan betis putihnya yang mengkilap minyak dan basah. Satria duduk mengangkang di antara kedua kaki gadis itu sambil memegang paha bawahnya dengan erat.

"HEH! Kalian ngapain?!" pekik Dinda histeris dengan wajah merah padam.

Satria dan Laras tersentak kaget mendengar teriakan cemburu itu. Satria menoleh cepat tapi tangannya masih refleks memegang betis Laras yang licin dan berminyak. Dinda melangkah masuk dan membanting pintu di belakangnya dengan kaki sekuat tenaga.

"Wah, gila ya kamu, Sat! Aku lari-larian malah asik-asikan di sini!" sembur Dinda galak sambil mendekat. "Orang sakit kok malah dibikin mendesah gitu, posisi macam apa itu, hah?!"

"Din, jangan mikir jorok dulu, woi!" potong Satria panik sambil melepas tangannya dari kaki Laras. "Kakinya Mbak ini bengkak parah sampai ungu begini, lihat sendiri! Aku cuma lagi lurusin uratnya biar nggak cacat seumur hidup!"

Dinda mendengus kasar sambil menatap paha putih Laras dengan tatapan menilai dan iri. Dia cemburu berat melihat betapa mulusnya kulit kaki Laras yang dipegang Satria.

Dinda meletakkan kotak P3K dengan kasar di meja kecil hingga berbunyi keras. Dia mengambil botol minyak urut dari dalamnya dengan kasar.

"Nih, pakai ini minyak urut beneran!" Dinda menyodorkan botol itu ke dada Satria dengan paksa. "Jangan pakai tangan kosong doang, modus banget, sih, jadi cowok! Awas minggir dikit!"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Satria Idaman Wanita   BAB 122

    Satria keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut yang sudah basah oleh air keran. Segarnya air lumayan membantu mendinginkan kepalanya yang sempat mendidih gara-gara panggilan 'suami' dari Dinda barusan.Dia berjalan menghampiri karpet dan duduk bersila tepat di depan Dinda. Bungkusan daun pisang berisi nasi uduk yang masih mengepul itu sudah terbuka lebar, menampakkan lauk telur dadar iris, tempe orek, dan sambal kacang yang menggugah selera. Di depannya, Dinda juga sudah siap dengan porsinya sendiri."Makan, Sat. Gak usah sungkan. Anggap aja rumah sendiri," ucap Dinda santai sambil mulai menyuap nasi uduknya pakai tangan.Satria mengangguk pelan. "Iya, makasih ya, Din. Ngerepotin lu terus gue dari semalam."Suasana kamar kos itu sempat hening selama beberapa menit. Keduanya sibuk menikmati sarapan pagi ala anak kosan yang sederhana tapi nikmat luar biasa. Suara kunyahan dan decakan pedas dari sambal kacang menjadi satu-satunya sumber keributan.Di sela-sela suapannya, Satria m

  • Satria Idaman Wanita   BAB 121

    Cahaya matahari pagi mulai masuk menembus celah ventilasi kamar kos. Udara Jakarta masih terasa lumayan sejuk. Setelah semalaman dibuat was was dan tidak bisa tidur dengan tenang, Satria akhirnya tertidur pulas menjelang subuh. Posisi tidurnya sekarang tengkurap sambil memeluk guling dengan erat. Guling beneran kali ini, bukan Dinda.Tanpa Satria sadari, teman satu kamarnya itu ternyata sudah bangun sejak tadi.Dinda terlihat sangat santai pagi ini. Perempuan itu baru saja pulang dari depan gang. Dia tidak lagi memakai baju tidur sutra atau baju kerja yang rapi, melainkan cuma memakai daster katun selutut berwarna biru dengan motif bunga kecil. Rambut panjangnya diikat cepol asal asalan ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang mulus. Penampilannya benar benar seperti ibu rumah tangga muda yang baru selesai belanja ke pasar.Dinda meletakkan dua bungkus daun pisang berisi nasi uduk hangat di atas karpet. Wangi nasi uduk campur bawang goreng dan sambal kacang itu langsung menyebar mem

  • Satria Idaman Wanita   BAB 120

    Satu detik. Dua detik. Tiga detik.Tiba-tiba, bahu Dinda mulai bergetar. Dan sedetik kemudian, tawa perempuan itu meledak sangat keras dan nyaring memenuhi ruangan."BWAHAHAHA! Ya ampun, Satria!" Dinda tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya dan terguling di atas kasur. Air mata sampai keluar dari sudut matanya saking kerasnya dia tertawa. Kakinya menendang-nendang udara kegirangan.Satria melongo. Dia menatap Dinda dengan wajah bingung bercampur kesal. Ini orang diceritain tragedi penyanderaan harga diri malah ketawa kesurupan."Lu kesurupan ya, Din?! Apanya yang lucu anjir?!" protes Satria sewot.Dinda berusaha duduk tegak, mengatur napasnya yang putus-putus karena terlalu banyak tertawa. Dia menunjuk wajah Satria yang sedang cemberut."Lu itu... aduh, sakit perut gue," Dinda mengusap air mata di sudut matanya. "Satria, Satria. Lu itu dikasih rejeki nomplok malah ngeluh panjang lebar! Adik bos lu itu cantik, kaya raya, masih muda, bening, kulitnya mulus, dan dia nawar

  • Satria Idaman Wanita   BAB 119

    "Jujur aja sama gue," Dinda mencondongkan badannya ke depan, menatap tepat ke manik mata Satria. "Pipi lu yang merah itu pasti ditampar sama Nona Vera kan? Bos lu marah besar karena lu ketahuan berbuat macam macam di rumahnya. Lu godain pembantu di sana ya? Atau... lu nekat godain Nona Vera sendiri terus dia nampar lu?!"Mendengar rentetan tuduhan itu, mata Satria langsung melotot. Harga dirinya jelas tersinggung kalau dituduh menggoda perempuan duluan."Sembarangan lu kalau ngomong! Laras itu asisten rumah tangga yang pakai kursi roda, mana mungkin gue godain dia! Apalagi godain Nona Vera, yang ada gue langsung dibacok pakai berkas kontrak miliaran!" bantah Satria cepat dengan nada tinggi.Dinda tersenyum penuh kemenangan. Umpannya berhasil dimakan."Oh, jadi bukan Laras, dan bukan Nona Vera," gumam Dinda pelan sambil mengangguk angguk mengerti. Matanya menyipit, menatap Satria dengan seringai penuh teka teki."Terus kalau bukan pembantu dan bukan bos lu... di rumah mewah itu ada sia

  • Satria Idaman Wanita   BAB 118

    Namun, di tengah kepanikan Satria menahan iman, sebuah bencana yang jauh lebih besar sedang mengintai.Saat Dinda menggesekkan wajahnya mencari posisi yang lebih pas, ujung hidungnya tanpa sengaja menyentuh kerah kaus oblong hitam yang dipakai Satria. Kain kaus itu sedikit tertarik ke bawah, mengekspos bagian kanan leher Satria yang sedikit ke bawah.Dinda yang tadinya memejamkan mata karena nyaman, perlahan membuka kelopak matanya saat merasakan ada tekstur kulit yang sedikit berbeda di sana.Pandangan Dinda yang awalnya sayu mengantuk, mendadak berubah fokus. Jarak matanya hanya beberapa sentimeter dari kulit leher Satria. Di sana, tercetak dengan sangat jelas sebuah noda merah kebiruan seukuran koin yang bentuknya sangat familiar bagi orang dewasa mana pun.Tubuh Dinda yang tadinya menempel rileks mendadak kaku.Pelan-pelan, Dinda menarik wajahnya dari ceruk leher Satria. Dia mengangkat kepalanya dan menopang tubuhnya dengan satu siku, menatap lurus ke arah leher pemuda itu dengan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 117

    Lima belas menit berlalu, tapi bagi Satria rasanya seperti lima belas tahun. Matanya terpejam sangat rapat, tapi otaknya malah berputar seratus kilometer per jam. Bagaimana mau tidur nyenyak kalau di sebelahnya ada perempuan cantik yang aroma vanillanya terus menerus menyiksa hidung?Satria mencoba mengatur napasnya sepelan mungkin supaya kelihatan sudah tidur pulas. Dada bidangnya naik turun dengan ritme yang sengaja dibuat sangat teratur. Tapi dia lupa satu hal penting. Dinda itu bukan anak kemarin sore yang gampang dibohongi pakai trik receh.Dinda yang masih berbaring miring menatap wajah Satria dengan senyum tertahan. Dia bisa melihat jelas kelopak mata Satria yang sedikit berkedut kedut menahan gugup. Belum lagi rahang pemuda itu yang sesekali mengeras."Sok sokan pules lu, Sat," batin Dinda geli. "Napas lu aja masih kaku gitu."Dinda memutuskan kalau godaannya siang ini harus dituntaskan sampai level maksimal. Tanpa aba aba sama sekali, Dinda langsung memajukan tubuhnya.Hap!K

  • Satria Idaman Wanita   BAB 8

    "Ehem," deham Kiki keras. "Sudah, dong, dramanya. Lihat,tuh, es batunya sampai mencair gara-gara suasananya panas banget."Laras tersentak kaget. Dia buru-buru melepaskan tangan Satria danmenegakkan duduknya di kursi roda. Wajahnya merah padam karena malu ketahuanbermanja-manja di depan adiknya.

    last update최신 업데이트 : 2026-03-17
  • Satria Idaman Wanita   BAB 70

    Satria mendengus geli mendengar alasan konyol itu. Dia mencondongkan badannya sedikit ke depan, menatap lurus ke mata si gondrong."Bastian nyuruh kalian ngapain aja malam ini? Gue tahu dia nyuruh kalian bikin gue cacat. Tapi masa bayar preman sebanyak ini cuma buat ngurusin satu asisten kayak gue?

    last update최신 업데이트 : 2026-04-02
  • Satria Idaman Wanita   BAB 68

    Teriakan marah menggema di halaman pabrik tua itu. Puluhan preman beringas langsung berhamburan maju layaknya kawanan anjing lapar yang siap mencabik mangsa. Debu beterbangan dari kerikil yang dipijak sepatu bot mereka.Si botak bertato naga berada di barisan paling depan. Dia mengayunkan pipa besi

    last update최신 업데이트 : 2026-04-01
  • Satria Idaman Wanita   BAB 53

    Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang nggak kalah panas.Bastian banting pintu mobilnya dengan keras pas sampai di parkiran depan rumah gedongannya. Wajahnya merah padam, penuh amarah, dendam, dan rasa malu yang nggak bisa ilang gitu aja dari otaknya. Gimana nggak? Malam itu harga dirinya diinja

    last update최신 업데이트 : 2026-03-28
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status