LOGINPagi itu, udara di dalam area kantor pusat Shine Group terasa sangat dingin, namun kepala Satrio justru terasa panas. Baru saja ia menduduki kursi kerjanya dan menyalakan komputer, pintu ruangannya tiba-tiba didorong terbuka tanpa ketukan.Brak!Satrio mendongak dengan kening berkerut. Sosok Dokter Manda berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu. Wajah cantiknya yang biasa terias rapi kini tampak tegang oleh amarah yang tertahan. Tanpa memedulikan tatapan beberapa staf di luar, Manda melangkah masuk dan langsung membanting pintu di belakangnya hingga berdentum keras."Dokter? Ada apa ini? Ini kantor, jaga sikap Anda," kata Satrio tenang, meskipun matanya memancarkan sorot tidak suka. Ia meletakkan pulpennya di atas meja, lalu bersandat pada kursi.Manda tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah cepat mendekati meja kerja Satrio. Dengan gerakan kasar, ia merogoh tas tangannya dan melemparkan seikat foto cetakan ke atas meja, tepat di depan wajah Satrio.Plak!Foto-foto itu
Satrio memacu sedan hitamnya membelah jalanan Jakarta Barat yang mulai lengang. Angin malam yang masuk dari celah jendela mobil sedikit mengurangi rasa hampa di kepalanya. Pikirannya melayang kembali pada tangisan dan kepasrahan Ningrum di kasur lantai tadi. Ada rasa lega yang ganjil di hatinya karena malam ini ia bisa mengendalikan diri dari jerat liontin giok di lehernya.Bzzz... Bzzz...Ponsel yang ia letakkan di dasbor mobil bergetar. Satrio melirik sekilas, lalu meraih perangkat tersebut dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap memegang kemudi. Nama 'Bu Sisilia' tertera di layar.Satrio menekan tombol hijau, lalu memasang pelantang suara. "Selamat malam, Bu Sisilia.""Selamat malam, Satrio. Maaf mengganggu malam-malam begini," suara Sisilia terdengar sedikit lelah namun tetap menjaga nada elegannya. "Aku hanya ingin menanyakan tentang tindak lanjut kerja sama kita dengan pihak Trust Corp. Bagaimana perkembangannya?"Satrio menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu pertanyaan it
"R-Rio... kamu serius?" suara Ningrum bergetar. Ia langsung bergeser mendekat, berlutut tepat di samping Satrio dan mencengkeram lengan pemuda itu dengan erat. "Terima kasih, Rio... terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus membalas semua kebaikanmu dengan apa. Kamu sudah menyelamatkan hidupku, sekarang kamu bahkan memberiku masa depan.""Sudahlah, Ning. Yang penting kamu bekerja dengan baik nanti," jawab Satrio, mencoba menarik lengannya pelan, namun Ningrum justru mempererat dekapannya.Rasa syukur yang meluap-luap di dalam dada Ningrum mendadak berubah menjadi dorongan emosi yang lain. Ia menatap wajah tegas Satrio dari jarak dekat. Kehangatan tubuh pria itu mulai memengaruhi naluri kewanitaannya. Ningrum memajukan wajahnya, sengaja menggeser duduknya hingga tubuh mereka saling menempel erat. Dengan gerakan yang berani, ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Satrio, mencoba merayu pemuda yang dulu pernah ia campakkan itu."Rio... aku tahu aku pernah sangat jahat padamu dulu," bi
Malam mulai merayap di jalanan kota. Suara deru motor dan klakson kendaraan dari jalan raya terdengar menyusup di antara gang-gang sempit pemukiman padat. Satrio menghentikan sedan hitamnya agak jauh dari area kontrakan petakan tempat ia menyembunyikan Ningrum. Pikirannya kian hampa setelah berurusan dengan ambisi korporasi di Shine Group dan jerat bisnis dari Tanya. Di tengah kepalsuan kehidupan kota yang mengepungnya, sepulang dari kantor kaki Satrio justru menuntunnya kembali ke tempat pemukiman padat penduduk itu. Ia membutuhkan sesuatu yang nyata untuk menenangkan kepalanya yang terus berputar dengan urusan pekerjaan yang tiada henti.Satrio mengetuk pintu kayu kontrakan yang tampak kusam itu dengan suara pelan.Tok... tok.. tok....Hanya butuh beberapa detik sampai selongsong kunci di dalam terdengar berputar. Pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah pucat Ningrum yang langsung berubah cerah begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya."Rio?" bisik Ningrum, matanya berbinar.
Derap langkah Satrio menggema tenang di sepanjang lorong sunyi menuju klinik lantai tiga. Amarah yang sempat tebersit di dadanya kini telah berhasil ia tekan rapat-rapat, digantikan oleh topeng ketenangan yang dingin namun memikat. Bagi Satrio, kebebasan Ningrum adalah wilayah privasi yang tidak boleh diusik oleh siapa pun. Namun, ia tahu betul bahwa menghadapi wanita yang sedang terbakar cemburu seperti Dokter Manda dengan kekerasan hanya akan memicu ledakan masalah baru yang tidak perlu. Satrio mendorong pintu kaca klinik dengan gerakan perlahan. Suara dentingan lembut dari pintu membuat asisten perawat di meja depan mendongak. "Eh, Mas Satrio? Ada yang bisa dibantu?" tanya perawat itu ramah. "Saya ingin bertemu Dokter Manda sebentar," jawab Satrio, memberikan senyuman tipis yang langsung membuat perawat itu sedikit tersipu. "Silakan, Pak. Dokter Manda ada di ruang pemeriksaan utama." Satrio melangkah santai menuju pintu kayu di ujung ruangan. Ia mengetuknya dua kali dengan so
Di dunia bisnis, Tanya memiliki reputasi mengerikan: terkenal sering menggunakan pesona tubuh molek dan kecerdasannya untuk menjebak, memanipulasi, lalu menghancurkan lawan bisnisnya hingga tak bersisa."Jadi, dengan integrasi arsitektur jaringan yang baru ini, Shine Group tidak hanya mengunci celah kebocoran data, tetapi juga memotong biaya operasional server hingga empat puluh persen," ujar Satrio, menutup presentasi singkatnya dengan nada suara yang rendah, berat, dan penuh keyakinan.Ia mematikan kliker proyektor, lalu melangkah perlahan memutari meja. Gerak tubuhnya begitu tenang namun penuh perhitungan. Saat ia berdiri cukup dekat di samping kursi Tanya untuk meletakkan salinan dokumen fisik, liontin giok hijau di balik kemejanya mendadak berdenyut hangat, seolah mendeteksi adanya energi yang menantang dari wanita sosialita di hadapannya.Tanya tidak langsung memeriksa dokumen tersebut. Ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, melipat kakinya yang jenjang hingga memper
Ketika pintu darurat basemen dibuka, hawa pengap dan sunyi langsung menyambut kedatangan Selina. Matanya yang tajam segera menyapu ke seluruh sudut area parkir yang remang-remang, menyusuri deretan kendaraan yang tersisa.Langkah kaki Selina melambat, namun ketukannya tetap terdengar tegas di atas
Suasana di dalam sedan hitam itu semakin memanas, bertolak belakang dengan embusan AC yang berdesis dingin. Ciuman liar Maya yang menuntut kepastian fisik membuat gairah muda Satrio menyala hebat. Cengkeraman tangan Satrio pada pinggang ramping Maya semakin mengerat, mengangkat tubuh eksotis staf k
Napas Adirah semakin memburu ketika jemarinya meraba permukaan kain celana Satrio. Ia bisa merasakan ketegangan yang nyata dan berdenyut hebat di sana, sebuah bukti bahwa gairah muda Satrio telah terpancing sepenuhnya oleh keberaniannya. Di dalam pantry eksekutif yang sunyi itu, Sang Sekretaris tel
Saat sampai di lobi lantai 5, Rio berpapasan dengan Maya (staf keuangan) yang sedari tadi mondar-mandir seperti macan lapar. Begitu melihat Satrio keluar sendirian, Maya langsung menyergapnya."Rio! Kamu ke mana saja? Aku cari di pantry nggak ada, di ruang IT nggak ada. Mbak Adirah juga mukanya dite







