LOGINMalam merayap semakin kelam, menyisakan sunyi yang menggantung di bangunan sederhana kosan tempat Satrio tinggal. Jam di dinding digital miliknya sudah menunjuk ke angka satu dini hari. Satrio baru saja melangkah masuk ke dalam kamarnya setelah melewati malam yang luar biasa panjang dan menguras energi di Penthouse Suite bersama NyonyaTanya. Ia melepas jam tangannya, meletakkannya di atas meja kecil, lalu duduk di tepi kasur lantai yang tipis sembari memijat tengkuknya yang terasa kaku.Pikirannya melayang pada peta bisnis raksasa yang baru saja ia kuasai dari Trust Corp, juga keliaran Sang Nyonya Besar yang masih menyisakan aroma parfum floral di jas biru dongker yang kini tergantung di balik pintu. Di tengah keheningan itu, ia merasa dunianya bergerak terlalu cepat. Panggungnya kini bukan lagi gang-gang sempit, melainkan meja bundar para konglomerat.Tok... Tok... Tok...Ketukan pelan namun beruntun di pintu kayu kamarnya memecah kesunyian. Satrio menoleh, alisnya bertaut. Siapa y
Tanya masih terduduk di lantai karpet tebal, tepat di bawah kaki Satrio. Sorot matanya tampak sedikit bingung dan linglung, kontras dengan citra wanita pebisnis tangguh yang biasa ia tampilkan. Pengaruh magis dari liontin giok pemikat di dada Satrio telah mengaburkan dinding kesadaran logisnya, menyisakan naluri murni yang sepenuhnya tunduk pada pemuda di hadapannya.Satrio menundukkan kepala, menatap lurus ke dalam manik mata Tanya yang setengah berkabut. "Apakah kamu menginginkan aku, Nyonya?" tanya Satrio dengan nada rendah yang sarat akan otoritas mutlak.Tanya terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan dengan gerakan patah-patah. "Ya... aku menginginkanmu, Satrio," bisiknya pelan, seolah digerakkan oleh dorongan gaib yang tak bisa ia bendung.Sembari mendongak pasrah, seulas senyuman manis yang penuh gairah mulai terukir di bibir berlipstik merahnya. Perlahan, kedua tangan Tanya yang lentik mulai bergerak maju. Jemarinya merayap naik dari pergelangan kaki Satrio, menyusuri kain celan
Sisa hari itu di kantor pusat Shine Group berjalan lambat bagi Satrio. Pikirannya terbagi antara draf kontrak yang berantakan di kepalanya dan bayang-bayang kejengkelan akibat ulah Manda tadi pagi. Namun, sebagai seorang pria yang merangkak naik di kerasnya ibu kota, ia tahu cara menyembunyikan emosi di balik wajah datarnya. Tepat pukul lima sore, Satrio merapikan jasnya, meraih tas kerja kulitnya, dan melangkah keluar menuju basement. Malam ini adalah panggungnya yang sebenarnya.Sebelum menuju lokasi pertemuan, Satrio menyempatkan diri untuk berganti pakaian. Malam ini ia mendatangi pertemuan dengan Nyonya Tanya dengan setelan jas mahal yang dirancang khusus oleh Sisilia. Bahan kain premium berwarna biru dongker gelap itu melekat sempurna di tubuh tegapnya, memberikan kesan jantan, berkuasa, sekaligus sangat berkelas. Satrio berkaca sejenak di spion tengah mobilnya, merapikan letak kerah kemeja, lalu memakai kembali kacamata berbingkai hitam yang biasa ia gunakan untuk menyembunyik
Pagi itu, udara di dalam area kantor pusat Shine Group terasa sangat dingin, namun kepala Satrio justru terasa panas. Baru saja ia menduduki kursi kerjanya dan menyalakan komputer, pintu ruangannya tiba-tiba didorong terbuka tanpa ketukan.Brak!Satrio mendongak dengan kening berkerut. Sosok Dokter Manda berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu. Wajah cantiknya yang biasa terias rapi kini tampak tegang oleh amarah yang tertahan. Tanpa memedulikan tatapan beberapa staf di luar, Manda melangkah masuk dan langsung membanting pintu di belakangnya hingga berdentum keras."Dokter? Ada apa ini? Ini kantor, jaga sikap Anda," kata Satrio tenang, meskipun matanya memancarkan sorot tidak suka. Ia meletakkan pulpennya di atas meja, lalu bersandat pada kursi.Manda tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah cepat mendekati meja kerja Satrio. Dengan gerakan kasar, ia merogoh tas tangannya dan melemparkan seikat foto cetakan ke atas meja, tepat di depan wajah Satrio.Plak!Foto-foto itu b
Satrio memacu sedan hitamnya membelah jalanan Jakarta Barat yang mulai lengang. Angin malam yang masuk dari celah jendela mobil sedikit mengurangi rasa hampa di kepalanya. Pikirannya melayang kembali pada tangisan dan kepasrahan Ningrum di kasur lantai tadi. Ada rasa lega yang ganjil di hatinya karena malam ini ia bisa mengendalikan diri dari jerat liontin giok di lehernya.Bzzz... Bzzz...Ponsel yang ia letakkan di dasbor mobil bergetar. Satrio melirik sekilas, lalu meraih perangkat tersebut dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap memegang kemudi. Nama 'Bu Sisilia' tertera di layar.Satrio menekan tombol hijau, lalu memasang pelantang suara. "Selamat malam, Bu Sisilia.""Selamat malam, Satrio. Maaf mengganggu malam-malam begini," suara Sisilia terdengar sedikit lelah namun tetap menjaga nada elegannya. "Aku hanya ingin menanyakan tentang tindak lanjut kerja sama kita dengan pihak Trust Corp. Bagaimana perkembangannya?"Satrio menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu pertanyaan it
"R-Rio... kamu serius?" suara Ningrum bergetar. Ia langsung bergeser mendekat, berlutut tepat di samping Satrio dan mencengkeram lengan pemuda itu dengan erat. "Terima kasih, Rio... terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus membalas semua kebaikanmu dengan apa. Kamu sudah menyelamatkan hidupku, sekarang kamu bahkan memberiku masa depan.""Sudahlah, Ning. Yang penting kamu bekerja dengan baik nanti," jawab Satrio, mencoba menarik lengannya pelan, namun Ningrum justru mempererat dekapannya.Rasa syukur yang meluap-luap di dalam dada Ningrum mendadak berubah menjadi dorongan emosi yang lain. Ia menatap wajah tegas Satrio dari jarak dekat. Kehangatan tubuh pria itu mulai memengaruhi naluri kewanitaannya. Ningrum memajukan wajahnya, sengaja menggeser duduknya hingga tubuh mereka saling menempel erat. Dengan gerakan yang berani, ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Satrio, mencoba merayu pemuda yang dulu pernah ia campakkan itu."Rio... aku tahu aku pernah sangat jahat padamu dulu," bi
Saat sampai di lobi lantai 5, Rio berpapasan dengan Maya (staf keuangan) yang sedari tadi mondar-mandir seperti macan lapar. Begitu melihat Satrio keluar sendirian, Maya langsung menyergapnya."Rio! Kamu ke mana saja? Aku cari di pantry nggak ada, di ruang IT nggak ada. Mbak Adirah juga mukanya dite
Di kantor Shine, Satrio melangkah masuk ke ruangan Pak Aizar dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut soal pekerjaan, tapi karena rahasia besar yang ia simpan sejak terbangun pagi tadi.Pak Aizar sedang menyesap kopi hitamnya saat Satrio duduk di hadapannya. Sang
"Luar biasa... Rio, kamu..." Tante Inet seolah kehilangan kata-kata. Ia berlutut di depan Satrio, tangannya yang dingin perlahan meraih dan menggenggam milik Satrio. Ia belum pernah melihat milik lelaki yang begitu gagah dan menegang kuat seperti milik Satrio, apalagi dalam jarak sedekat ini. Getar
Setelah membersihkan kipas prosesor dan memastikan komputer Debby menyala dengan normal, Satrio merapikan peralatannya. Ia bisa merasakan tatapan Debby yang tak lepas dari punggungnya, tatapan yang penuh dengan rasa penasaran dan kekaguman yang tertahan."Sudah beres, Deb. Cobain dulu, harusnya ngg