로그인Perjalanan menuju ibu kota berakhir di sebuah kawasan perumahan elite yang dijaga ketat oleh petugas keamanan 24 jam. Mobil sport merah milik Satrio melaju mulus melintasi jalanan aspal sehalus cermin, lalu membelok masuk ke sebuah pekarangan luas. Di sana, sebuah rumah mewah bergaya modern tropis dengan pilar-pilar kokoh dan dinding kaca besar berdiri dengan megah.Satrio mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke arah kedua orang tuanya yang sejak memasuki gerbang kompleks perumahan hanya bisa terdiam dengan mata membelalak tak percaya."Bapak, Ibu... kita sudah sampai. Ini rumah baru kita," ucap Satrio lembut, memecah keheningan di dalam kabin mobil.Ibunya, dengan tangan yang gemetar, membuka pintu mobil perlahan. Begitu kakinya menapak di lantai teras yang terbuat dari marmer mengkilap, air matanya menetes. Sang ayah berjalan di sampingnya, memandangi pancuran air di taman depan dengan tatapan kosong karena terlalu takjub."Astaga, Satrio... Rumah ini besar sekali, Nak. Apa ini benar-b
Di sudut pekarangan rumah, dekat dengan pohon mangga yang rindang, sekelompok pemuda desa tampak berkerumun. Mereka adalah teman-teman sebaya Satrio yang dulu sering nongkrong di pos ronda. Tono, Supri, Dimas, dan beberapa pemuda lainnya hanya bisa berdiri di kejauhan dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.Mereka ingat betul bagaimana dulu mereka sering mengejek Satrio yang selalu membawa buku tebal. Mereka bahkan pernah terbahak-bahak sambil menepuk pundak Satrio, mengajaknya menyerah saja dari bangku kuliah untuk menjadi buruh kasar pengangkut barang di pelabuhan kota."Lihat itu... mobilnya saja mungkin seharga seluruh rumah di desa kita," bisik Tono dengan suara bergetar, matanya tidak berkedip menatap bodi berkilau mobil sport merah milik Satrio.Dimas menghela napas panjang, menendang kerikil di dekat kakinya dengan lesu. "Dulu kita selalu mengejeknya si kutu buku miskin. Sekarang... melihatnya berdiri di sana saja aku sudah merasa tidak pantas."Satrio yang sedang menunggu ib
Pagi itu, garasi rumah mewah Satrio diterangi oleh kilauan merah menyala dari sebuah mobil sport keluaran terbaru yang baru saja ia dapatkan. Di tangannya, Satrio menggenggam erat kunci mobil mewah itu beserta map kulit berisi surat kepemilikan rumah mewah di kawasan elite Jakarta itu. Semua kemewahan ini adalah hasil dari jerih payahnya, termasuk dari apa yang berhasil ia amankan melalui pengaruh rahasianya.Satrio tersenyum tipis, merapikan kerah kemeja kasual bermerek yang melekat pas di tubuh atletisnya. Ia tidak lagi memakai kacamata tebal yang dulu membuatnya terlihat seperti kutu buku yang lemah. Matanya kini tajam, memancarkan pesona dan kepercayaan diri yang mutlak."Sudah saatnya Bapak dan Ibu tidak perlu lagi hidup susah di kampung," gumam Satrio seraya membuka pintu mobil sport merahnya.Deru mesin berkapasitas besar itu menggelegar memecah keheningan garasi. Satrio menginjak pedal gas, membawa kendaraan miliaran rupiah itu membelah jalanan ibu kota, melaju menuju kampung
Hari pertama Nikko Prambudi menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Sementara langsung menjadi hari yang panjang bagi Satrio. Sejak jam kantor dimulai, Nikko tidak membuang waktu untuk menunjukkan taringnya. Ia sengaja memanfaatkan ketidakhadiran Pak Aizar untuk menekan Satrio dan menjatuhkan mental pria itu di hadapan seluruh karyawan Shine Group."Satrio! Kemari kamu!" panggil Nikko dengan suara meninggi, berdiri di ambang pintu ruang kerjanya di lantai delapan.Beberapa staf administrasi yang sedang berjalan di koridor langsung menghentikan langkah. Satrio yang baru saja keluar dari ruangannya, menoleh dengan tenang. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah mendekati meja kerja sekretaris yang berada tepat di depan ruangan Nikko.Di sana, Adirah sedang duduk dengan tegang. Sebagai sekretaris sementara yang ditugaskan mendampingi Nikko selama Pak Aizar cuti, posisi Adirah sangat serba salah. Jemarinya meremas pulpen di tangannya, matanya menatap Satrio dengan pandangan penuh rasa simpa
Suasana di lantai delapan gedung kantor pusat Shine Group pagi ini terasa sedikit berbeda dari biasanya. Sejak Pak Aizar mengambil cuti pernikahan untuk menikmati bulan madu romantis bersama Furi ke Maladewa, udara di koridor eksekutif mendadak berubah menjadi lebih tegang. Pucuk pimpinan sementara perusahaan raksasa ini kini diserahkan kepada sosok baru yang ditunjuk langsung oleh jajaran komisaris besar keluarga Prambudi. Dia adalah Nikko Prambudi, putra tunggal dari pasangan Darma dan Sisilia.Nikko baru saja menyelesaikan studi magisternya di salah satu universitas bergengsi di London. Di usianya yang masih sangat muda—seumuran dengan Satrio—Nikko langsung mendapatkan posisi strategis sebagai Wakil Presiden Direktur Sementara, menduduki ruangan megah di lantai delapan yang letaknya tepat berseberangan dengan ruangan kerja Satrio.Lelaki itu mewarisi garis wajah ibunya yang rupawan, namun dibalut dengan keangkuhan yang teramat pekat. Ketampanannya terbilang paripurna untuk ukuran
Dilingkupi rasa takjub dan gairah yang sudah tidak terbendung lagi, Sisilia tidak tahan untuk tidak bertindak lebih jauh. Perlahan namun pasti, ia memajukan tubuhnya dan mendekatkan wajah cantiknya pada kejantanan sempurna milik Satrio, siap menuntaskan setiap jengkal malam pembalasan ini di bawah kendali sang penguasa baru Shine Group itu."Ssshh... Ahh..." Satrio mengerang tertahan, suara beratnya memecah kesunyian malam di dalam unit apartemen yang temaram. Kedua tangannya mencengkeram erat sandaran kursi mewah tempatnya duduk, membiarkan punggungnya menegang saat merasakan jepitan hangat dan basah yang begitu pas dari bibir tipis Sisilia. Sensasi yang dihantarkan oleh wanita sosialita itu benar-benar kuat, mengalirkan gelombang kenikmatan yang langsung menusuk hingga ke pusat kesadarannya."Kamu... kamu benar-benar tahu cara melayani seorang pria, Sisilia... Ssshh... Teruskan," bisik Satrio dengan napas yang memburu cepat, matanya terpejam rapat menikmati setiap hisapan dan ger
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada







