로그인Waktu berlalu dengan cepat hingga tidak terasa malam pun telah tiba. Jam kantor telah usai sejak pukul lima sore tadi, dan sebagian besar lampu di lantai delapan sudah mulai dimatikan untuk menghemat energi. Koridor eksekutif kini telah berubah menjadi sangat sepi dan senyap.Di dalam ruang kerjanya yang hanya diterangi oleh lampu meja, Satrio masih sibuk berkutat dengan tumpukan kertas. Jemarinya bergerak lincah menuliskan angka-angka inventaris gudang tekstil menggunakan pulpen, menghitung ulang semuanya secara manual tanpa bantuan kalkulator komputer seperti yang diperintahkan Nikko.Klek.Suara pintu ruangannya yang terbuka perlahan membuat Satrio menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak dan terkejut saat mendapati Adirah melangkah masuk ke dalam ruangannya sembari membawa sebuah map biru dan segelas kopi hangat."Adirah? Kamu belum pulang?" tanya Satrio heran, melirik jam tangan kronografnya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.Adirah tersenyum manis, melangka
Langkah kaki Satrio terdengar mantap saat ia menapakkan kakinya kembali di lantai delapan gedung kantor pusat Shine Group. Jam dinding di koridor eksekutif telah menunjuk ke arah angka satu siang. Penampilan Satrio tampak sangat bersahaja. Ia hanya mengenakan kemeja polos tanpa dasi dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku. Tidak ada lagi kacamata tebal yang dulu selalu bertengger di hidungnya, digantikan oleh tatapan mata yang jernih, tenang, dan sarat akan kedewasaan. Pesan dari ibunya di rumah baru mereka benar-benar tertanam dalam di lubuk hatinya."Baru datang jam segini, Satrio?!" sebuah suara keras yang melengking tinggi memecah keheningan kantor.Nikko Prambudi sudah berdiri di ambang pintu ruang kerja Wakil Presiden Direktur. Lelaki itu bersedekap dada, menatap Satrio dengan pandangan yang berapi-api. Jas abu-abunya tampak sedikit kusut, mencerminkan emosinya yang sedang tidak stabil. Di kubikel sekretaris yang berada tepat di depan ruangan Nikko, Adirah tampak duduk m
Siang itu, terik matahari ibu kota menyengat pelataran rumah mewah baru Satrio. Raungan mesin mobil sport merah miliknya perlahan meredup, menyisakan keheningan di pekarangan luas bergaya modern itu. Satrio mematikan mesin, lalu segera turun dari kursi kemudi. Dengan gerakan yang tenang, ia berjalan memutari kap mobil untuk membukakan pintu sebelah kiri.Dari dalam mobil mewah itu, melangkah keluar seorang gadis dengan pakaian sederhana namun rapi. Dia adalah Ningrum. Gadis itu tampak menatap bangunan megah berlantai dua di hadapannya dengan gugup. Jemarinya saling meremas satu sama lain, tampak sangat segan untuk melangkah lebih jauh."Ayo masuk, Ningrum. Jangan takut, ada Ibu dan Bapak di dalam," ajak Satrio sembari tersenyum menenangkan, memberikan isyarat lewat gerak tangannya agar Ningrum mengikutinya.Ningrum mengangguk pelan, melangkah dengan sangat hati-hati mengekor di belakang Satrio. Begitu pintu jati besar itu terbuka, Mbok Sumini, ibu Satrio, dan Pak Sukirman, ayah Satrio
Perjalanan menuju ibu kota berakhir di sebuah kawasan perumahan elite yang dijaga ketat oleh petugas keamanan 24 jam. Mobil sport merah milik Satrio melaju mulus melintasi jalanan aspal sehalus cermin, lalu membelok masuk ke sebuah pekarangan luas. Di sana, sebuah rumah mewah bergaya modern tropis dengan pilar-pilar kokoh dan dinding kaca besar berdiri dengan megah.Satrio mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke arah kedua orang tuanya yang sejak memasuki gerbang kompleks perumahan hanya bisa terdiam dengan mata membelalak tak percaya."Bapak, Ibu... kita sudah sampai. Ini rumah baru kita," ucap Satrio lembut, memecah keheningan di dalam kabin mobil.Ibunya, dengan tangan yang gemetar, membuka pintu mobil perlahan. Begitu kakinya menapak di lantai teras yang terbuat dari marmer mengkilap, air matanya menetes. Sang ayah berjalan di sampingnya, memandangi pancuran air di taman depan dengan tatapan kosong karena terlalu takjub."Astaga, Satrio... Rumah ini besar sekali, Nak. Apa ini benar-b
Di sudut pekarangan rumah, dekat dengan pohon mangga yang rindang, sekelompok pemuda desa tampak berkerumun. Mereka adalah teman-teman sebaya Satrio yang dulu sering nongkrong di pos ronda. Tono, Supri, Dimas, dan beberapa pemuda lainnya hanya bisa berdiri di kejauhan dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.Mereka ingat betul bagaimana dulu mereka sering mengejek Satrio yang selalu membawa buku tebal. Mereka bahkan pernah terbahak-bahak sambil menepuk pundak Satrio, mengajaknya menyerah saja dari bangku kuliah untuk menjadi buruh kasar pengangkut barang di pelabuhan kota."Lihat itu... mobilnya saja mungkin seharga seluruh rumah di desa kita," bisik Tono dengan suara bergetar, matanya tidak berkedip menatap bodi berkilau mobil sport merah milik Satrio.Dimas menghela napas panjang, menendang kerikil di dekat kakinya dengan lesu. "Dulu kita selalu mengejeknya si kutu buku miskin. Sekarang... melihatnya berdiri di sana saja aku sudah merasa tidak pantas."Satrio yang sedang menunggu ib
Pagi itu, garasi rumah mewah Satrio diterangi oleh kilauan merah menyala dari sebuah mobil sport keluaran terbaru yang baru saja ia dapatkan. Di tangannya, Satrio menggenggam erat kunci mobil mewah itu beserta map kulit berisi surat kepemilikan rumah mewah di kawasan elite Jakarta itu. Semua kemewahan ini adalah hasil dari jerih payahnya, termasuk dari apa yang berhasil ia amankan melalui pengaruh rahasianya.Satrio tersenyum tipis, merapikan kerah kemeja kasual bermerek yang melekat pas di tubuh atletisnya. Ia tidak lagi memakai kacamata tebal yang dulu membuatnya terlihat seperti kutu buku yang lemah. Matanya kini tajam, memancarkan pesona dan kepercayaan diri yang mutlak."Sudah saatnya Bapak dan Ibu tidak perlu lagi hidup susah di kampung," gumam Satrio seraya membuka pintu mobil sport merahnya.Deru mesin berkapasitas besar itu menggelegar memecah keheningan garasi. Satrio menginjak pedal gas, membawa kendaraan miliaran rupiah itu membelah jalanan ibu kota, melaju menuju kampung
"Kenapa melamun, Satrio? Pak Aizar paling tidak suka orang yang lambat. Sebaiknya kamu segera naik ke lantai atas sekarang," sindir Selina. Suaranya terdengar sangat renyah, dipenuhi kepuasan karena berhasil menjebak pemuda magang yang selama ini selalu tampak tenang itu.Satrio tidak menjawab. Den
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me







