LOGINSedan hitam pinjaman Pak Aizar mendengung halus saat Satrio mengarahkan kemudi keluar dari gerbang lobi utama Gedung Shine Group. Udara sore ibukota langsung menyambut mereka dengan lambaian hawa panas dan deretan lampu merah yang mulai menyala di sepanjang jalur protokol. Di dalam ruangan mobil yang sejuk, keheningan sempat tercipta selama beberapa menit. Adirah duduk di bangku penumpang sebelah kiri, menyandarkan punggungnya pada jok penumpang sembari mendekap erat tas kerjanya. Pandangan matanya lurus menatap kaca depan, namun riak kegelisahan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.Satrio melirik tipis melalui sudut matanya. Ia sengaja mempertahankan kecepatan rendah, membiarkan suasana canggung ini menguji batas kesabaran sang sekretaris. Taktik tarik ulur emosi ini selalu menjadi pembuka yang sempurna sebelum ia meluncurkan pesona mistisnya."Mbak Adirah masih memikirkan kejadian di lobi tadi?" tanya Satrio dengan suara dalamya yang rendah dan tenang, memecah keheningan dalam mob
Suasana di lantai dasar gedung megah itu mendadak dipenuhi ketegangan laten yang siap meledak. Adirah dan Selina benar-benar berebutan ingin pulang balik dengan Satrio, masing-masing enggan mengalah dan bersikeras mempertahankan ego mereka di hadapan sang pemuda idaman.Menyadari bahwa situasi ini bisa menjadi bumerang yang menghancurkan reputasi dan taktik penaklukannya jika dibiarkan berlarut-larut, Satrio segera mengambil tindakan tegas. Ia tidak boleh membiarkan keributan ini memicu kecurigaan manajemen atas atau bahkan sampai ke telinga keluarga Presdir. Dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh perhitungan dominan, Satrio melangkah maju tepat di antara Adirah dan Selina, membelah jarak konfrontasi mereka.Tangan kanan Satrio bergerak dengan cekatan namun lembut, meraih pergelangan tangan Adirah yang bebas dari dekapan map. Ibu jarinya memberikan usapan perlahan di atas kulit pergelangan tangan sang sekretaris, sebuah sentuhan fisik rahasia yang seketika mengalirkan getaran
Jarum jam di dinding lobi utama Gedung Shine Group akhirnya tepat menunjuk ke angka lima sore. Suara dengung mesin absensi elektronik berbunyi beruntun, bersahut-sahutan dengan langkah kaki puluhan karyawan yang bergegas meninggalkan ruanggan dan kubikel kerja mereka. Obrolan rasa penat dan kemacetan jalan yang sudah menunggu dan akan dilalui mereka lalui, mulai menggema di area lobi. Di tengah kerumunan orang yang bergerak menuju pintu keluar, Satrio melangkah dengan sangat santai. Tas ransel hitamnya tersampir di bahu kanan, sementara kancing teratas kaos polonya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit untaian tali hitam tersembunyi yang mengikat liontin giok mistis di balik dadanya.Sesuai dengan janji yang telah disepakatinya tadi siang, Satrio mengarahkan langkahnya menuju sudut konter Customer Service (CS). Area ini terletak sedikit agak ke dalam, agak jauh dari pintu putar utama, menjadikannya titik tunggu yang strategis tanpa memicu kecurigaan berlebih dari rekan-r
Usai ketegangan kecil di restoran rooftop mereda, Satrio dan Debby segera menyelesaikan santap siang mereka. Jarum jam telah bergeser melewati pukul satu siang. Udara di luar ruangan mulai terasa menyengat, namun di dalam kabin sedan hitam mewah pinjaman Pak Aizar, suasananya terasa begitu sejuk. Mesin mobil berdengung halus, membelah jalur protokol Jakarta Selatan menuju area kampus elite tempat Debby menuntut ilmu.Sepanjang perjalanan, Debby tidak melepaskan sedetik pun genggaman tangannya dari lengan kekar Satrio. Kehadiran Tante Sisilia di restoran tadi benar-benar memicu alarm bahaya di kepala gadis kalangan atas tersebut. Sifat manjanya kini sepenuhnya bertransformasi menjadi sikap posesif yang sangat agresif."Rio, pokoknya mulai hari ini kamu harus laporan ke aku kalau mau ke mana-mana," ketus Debby seraya mendongak, menatap profil samping wajah tampan Satrio yang tengah fokus memperhatikan jalanan. "Aku tahu ya, perempuan-perempuan di kantor pusat itu pasti genit semua. Apal
Satrio juga menyadari kalau Sisilia masih curi-curi pandang padanya dari kejauhan. Melalui sudut matanya, ia bisa melihat bagaimana wanita sosialita itu berulang kali membasahi bibirnya sendiri sembari menatap tajam ke arah sudut meja luar. Rupanya, Sisilia nekat mencari waktu yang tepat untuk mendekati Satrio tanpa sepengetahuan keponakannya maupun teman-teman sosialitanya.Kesempatan itu akhirnya tiba ketika Satrio bangkit dari kursi untuk pergi ke toilet restoran. Sisilia yang terus mengawasi gerak-geriknya langsung berdiri dari mejanya dengan alasan ingin membenarkan riasan wajahnya. Ia melangkah dengan terburu-buru, mendahului rute menuju koridor remang-remang yang menghubungkan area makan utama dengan fasilitas toilet eksekutif.Saat keluar dari toilet, tiba-tiba wanita berpakaian modis dan seksi itu sudah ada di depannya. Sisilia berdiri bersandar pada dinding koridor yang sepi, sengaja memamerkan lekuk tubuhnya yang berbalut gaun ketat berpotongan dada rendah. Aroma parfum mah
Sisilia menelan ludahnya yang terasa kering. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga dadanya yang berpotongan rendah naik turun dengan tidak beraturan. Wajahnya yang putih bersih dilapisi kosmetik mahal kini merona merah padam karena malu sekaligus terpesona luar biasa oleh karisma anak magang yang awalnya ingin ia remehkan. Keangkuhannya sebagai nyonya besar runtuh total siang itu di atas rooftop restoran mewah."A-Ah, begitu ya... Kalau memang sudah izin Aizar, ya sudah. Tante... maksudku, aku hanya memastikan Debby tidak salah bergaul," jawab Sisilia terbata-bata, suaranya melemah drastis tanpa ada lagi nada ketus yang tersisa. Matanya dengan tidak tahu malu melirik ke arah dada bidang Satrio, merasakan tarikan gaib yang begitu kuat dari balik kemeja pria itu.Setelah Sisilia pergi dengan langkah terburu-buru kembali ke meja teman-temannya untuk menyembunyikan detak jantungnya yang liar dan wajahnya yang memerah, atmosfer di meja Satrio kembali berubah. Debby yang menyadari perubah







