مشاركة

Bab 73

مؤلف: Langit Berawan
last update تاريخ النشر: 2026-06-25 23:17:54

Satrio dengan cepat menguasai keadaan. Ia menarik senyuman manisnya yang paling hangat, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping keyboard dengan gerakan alami.

"Maaf banget, Mbak Adirah. Aku tidak ada niat mengabaikanmu," ucap Satrio dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin untuk meredam kekesalan gadis itu. Ia membalikkan ponselnya yang memang sengaja dalam mode senyap. "Ponselku dari tadi pagi sedang lowbet dan harus ku-charger di bawah meja. Aku baru saja menyalakannya
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 77

    Dengan gerakan yang penuh tuntutan, Ranty membalikkan posisi tubuh mereka. Ia merayap naik, mendominasi dan mengambil alih kendali di atas tubuh bidang Satrio. Jemari tangannya mencengkeram bahu Satrio dengan erat, sementara rambut panjangnya yang tergerai jatuh menyapu dada pemuda itu, tepat di atas liontin giok yang kini berpendar hangat dalam kegelapan yang samar. Ranty tidak berhenti bergerak, mencari titik kepuasan tertinggi di atas milik Satrio dengan ritme yang kian cepat dan menuntut, seolah takut jika momen ini akan menguap begitu saja."Ah... Rio, sentuhanmu berbeda sekali," erang Ranty di sela-sela gerakannya yang kian memanas. Mata sayunya menatap lekat ke bola mata Satrio. "Katakan kalau kamu juga hanya menginginkanku sekarang. Tolong... buat aku tidak bisa memikirkan pria lain lagi."Satrio sendiri hanya berbaring sembari menyunggingkan senyuman tipis penuh spekulasi. Kedua tangannya mencengkeram pinggul ramping Ranty, mengunci dan mengarahkan setiap pergerakan wanita i

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 76

    Sedan hitam mewah milik Pak Aizar meluncur mulus memasuki area lobi hotel berbintang di pusat kota. Satrio menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet dengan gerakan tenang, lalu melangkah lebar melewati pintu kaca otomatis. Di bawah penerangan lampu kristal lobi yang megah, langkah kaki Satrio terasa mantap. Di balik kemeja biru dongkernya, liontin giok misterius itu berdenyut dengan ritme yang konstan, menyalurkan energi hangat yang membuat karisma alaminya berlipat ganda malam itu.Ia naik menggunakan lift menuju lantai empat. Lorong hotel berbintang ini terasa sunyi, hanya menyisakan suara langkah sepatunya yang teredam karpet tebal bernuansa merah marun. Satrio menyusuri nomor-nomor di pintu hingga langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu solid dengan angka kuningan yang mengilat: 402.Sesuai dengan pesan singkat yang dikirimkan Ranty sebelumnya, pintu itu memang tidak dikunci rapat. Satrio mendorong daun pintu dengan pelan, membiarkannya terbuka tanpa menimbulkan s

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 75

    Kedamaian di meja sudut restoran itu mendadak terusik saat ponsel di dalam saku celana Satrio bergetar hebat. Layarnya menyala terang di atas meja, menampilkan nama kontak yang membuat dahi Satrio berkerut dalam: Nona Debby. Sesuai dengan batasan ketat yang diperingatkan oleh Pak Aizar tadi pagi, Satrio tahu ia harus mulai menarik jarak dari putri keluarga konglomerat itu demi keselamatannya sendiri. Dengan gerakan tenang yang tidak kentara, ia membalikkan layar ponselnya ke atas meja tanpa berniat mengangkatnya.Tak berselang lama, sebuah notifikasi lain berkedip. Kali ini pesan dari Ranty, staf marketing seksi yang siang tadi menemuinya di kantin. Ranty mulai menagih janji yang sempat Satrio iyakan lewat pesan singkat saat ia berada di rumah kos sore tadi, lengkap dengan nomor kamar hotel tempatnya menginap malam ini.Satrio mengabaikan kedua interupsi tersebut, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia tidak akan membiarkan gangguan luar merusak rencananya untuk mengika

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 74

    Jarum jam dinding di ruang divisi IT akhirnya berdentang menunjukkan pukul lima sore. Suara karyawan yang bersiap pulang mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan. Satrio merapikan meja kerjanya dengan gerakan tenang, mematikan komputer, lalu menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan. Setelah berpamitan singkat dengan beberapa rekan kerja seruangannya, ia melangkah cepat menuju basemen gedung Shine Group.Di area parkir khusus, sebuah mobil sedan hitam mengilat milik Pak Aizar sudah menunggunya. Mobil mewah yang dipinjamkan langsung oleh sang Presdir itu menjadi penanda kuat betapa posisi Satrio kini mulai diperhitungkan. Satrio membuka pintu pengemudi, menyalakan mesin yang menderu halus, lalu mengemudikan kendaraan tersebut membelah kemacetan jalanan kota menuju rumah kosnya.Sesampainya di kamar kos, Satrio tidak ingin membuang waktu. Ia melepas kemeja kerjanya yang terasa gerah, menyisakan liontin giok misterius yang menggantung di dadanya. Permukaan giok itu terasa hangat saat be

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 73

    Satrio dengan cepat menguasai keadaan. Ia menarik senyuman manisnya yang paling hangat, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping keyboard dengan gerakan alami. "Maaf banget, Mbak Adirah. Aku tidak ada niat mengabaikanmu," ucap Satrio dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin untuk meredam kekesalan gadis itu. Ia membalikkan ponselnya yang memang sengaja dalam mode senyap. "Ponselku dari tadi pagi sedang lowbet dan harus ku-charger di bawah meja. Aku baru saja menyalakannya beberapa menit yang lalu dan belum sempat membuka pesan yang masuk." Adirah menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar mendengar alasan Satrio. Sifat tulus dan kepolosan Adirah memang selalu membuatnya mudah untuk memaafkan pria di depannya ini. Ia melirik ke arah layar ponsel Satrio yang kini menyala, menampilkan isi pesan singkat yang dikirimkannya tadi pagi. Sebagai sekretaris utama Pak Aizar, Adirah sebenarnya mengemban tugas yang cukup padat hari ini. Namun, ia sengaj

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 72 

    Setelah keluar dari ruangan Pak Aizar, Satrio tidak membiarkan peringatan keras dari bos besarnya itu merusak fokusnya. Ia melangkah kembali ke kubikel kerjanya di divisi IT dengan ekspresi yang sangat tenang. Di bawah kemeja putihnya, liontin giok pemikat terasa berdenyut stabil, menyalurkan energi yang menjaga keteguhan mentalnya. Bagi Satrio, tekanan dari Aizar bukanlah sebuah hambatan, melainkan sekadar riak kecil dalam genangan air yang siap ia seberangi.Ia segera menghadap komputer dan mulai membuka lembar kerja digital. Fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan tugas proyek sistem jaringan terintegrasi baru yang sedang dijalani divisinya. Proyek ini berskala besar dan menjadi salah satu perhatian utama dewan direksi Shine Group.Namun, tidak banyak orang di kantor yang tahu bahwa posisi Satrio sebagai staf magang di proyek ini sebenarnya sudah berada di tingkat yang sangat aman. Ia bahkan bisa dikatakan tidak tersentuh oleh intrik politik kantor atau ancaman pemecatan dari

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 55

    Untaian kalimat manis dari bibir Satrio terbukti sangat ampuh. Adirah, yang semula dilingkupi rasa kecewa mendalam, perlahan-lahan melonggarkan cengkeramannya pada pulpen. Sepasang matanya yang sayu menatap Satrio dengan gumpalan asmara yang begitu pekat. Efek mistis dari liontin giok yang menggant

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 54

    Keesokan hari di kantor pusat Shine Group dimulai dengan kesibukan yang biasa. Satrio baru saja meletakkan tasnya dan menyalakan komputer di kubikel kerjanya ketika ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari Debby, adik bungsu Pak Aizar.“Rio, nanti siang temani aku ke toko, y

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 47

    "Kenapa melamun, Satrio? Pak Aizar paling tidak suka orang yang lambat. Sebaiknya kamu segera naik ke lantai atas sekarang," sindir Selina. Suaranya terdengar sangat renyah, dipenuhi kepuasan karena berhasil menjebak pemuda magang yang selama ini selalu tampak tenang itu.Satrio tidak menjawab. Den

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 45

    Pintu mobil sedan mewah milik Pak Aizar tertutup dengan dentuman rapat yang berat. Satrio segera menyalakan mesin kendaraan, membiarkan deru halus pendingin ruangan mulai menyejukkan dalam mobil yang sempat terasa hangat. Di kursi penumpang sebelah kemudi, Adirah langsung melipat kedua tangannya d

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status