Share

Bab 162

Penulis: Langit Berawan
last update Tanggal publikasi: 2026-08-15 23:28:01

Aroma kopi dan hidangan kelas atas menguar di udara Kantin Eksekutif Shine Group yang terletak di lantai 7. Tempat ini bukanlah kantin karyawan biasa, melainkan sebuah ruang makan eksklusif dengan dinding kaca transparan yang menyuguhkan pemandangan megah gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya.

Hanya jajaran manajer senior, kepala divisi, dan direksi yang memiliki akses untuk menikmati fasilitas di lantai ini. Siang itu, atmosfer di salah satu sudut meja bundar dekat jendela besar tampak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 162

    Aroma kopi dan hidangan kelas atas menguar di udara Kantin Eksekutif Shine Group yang terletak di lantai 7. Tempat ini bukanlah kantin karyawan biasa, melainkan sebuah ruang makan eksklusif dengan dinding kaca transparan yang menyuguhkan pemandangan megah gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya. Hanya jajaran manajer senior, kepala divisi, dan direksi yang memiliki akses untuk menikmati fasilitas di lantai ini. Siang itu, atmosfer di salah satu sudut meja bundar dekat jendela besar tampak begitu hidup dan dipenuhi tawa kemenangan.Empat wanita paling berpengaruh dan memikat di kantor pusat Shine Group—Adirah, Maya, Selina, dan Ranty—sedang berkumpul mengelilingi meja yang penuh dengan camilan mewah dan jus segar. Pengangkatan resmi Satrio sebagai Presiden Direktur Sementara menggantikan posisi Pak Aizar telah menjadi bahan obrolan utama yang membuat mata mereka berbinar penuh kegembiraan. Keberhasilan Satrio membalikkan keadaan dalam waktu satu malam tidak hanya menyelamatkan p

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 161

    Suasana di lantai tertinggi kantor pusat Shine Group benar-benar berubah total sejak pengumuman pagi tadi. Papan nama kuningan di depan pintu ruang kerja utama kini telah berganti dengan ukiran nama yang tegas: Satrio - Presiden Direktur Sementara.Seluruh staf sekretariat berjalan dengan langkah cepat dan setengah menunduk, tidak berani memicu kemarahan sang pimpinan baru yang terkenal dingin dan tak kenal kompromi saat mengeksekusi nasib Nikko Prambudi.Tepat pukul satu siang, setelah jam istirahat berakhir, pintu lift eksekutif berdenting terbuka di lantai utama. Malika melangkah keluar sambil mendekap sebuah map kulit berwarna biru tua di dadanya. Sebagai perwakilan dari Divisi HRD, ia ditugaskan secara mendadak oleh kepala divisinya untuk mengantarkan dokumen penyesuaian struktur organisasi serta berkas mutasi posisi Nikko Prambudi yang kini resmi menjadi bawahan operasional.Jantung Malika berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Setiap derap langkah sepatunya di atas lantai

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 160

    Keesokan hari, tepat pukul delapan kurang lima menit, pintu lift eksekutif terbuka. Satrio melangkah keluar dengan pembawaan yang teramat tenang namun memancarkan dominasi yang luar biasa pekat. Pagi ini, ia mengenakan setelan jas hitam potongan slim-fit berkelas yang dipadukan dengan kemeja putih bersih di bagian dalam. Di balik kain kemejanya, liontin giok jernih memancarkan denyutan hangat. Gelombang energi spiritual itu menyatu sempurna dengan aliran darahnya, memberikan aura kewibawaan yang membuat siapa saja yang berpapasan dengannya secara refleks menundukkan kepala tanda hormat.Di belakang Satrio, Adirah berjalan dengan langkah anggun namun tegas. Sekretaris utama Shine Group itu membawa sebuah map cokelat hitam tebal. Tatapan mata Adirah kini sepenuhnya stabil, dingin, dan profesional, tidak lagi menyisakan kecanggungan.Ketika Satrio memasuki ruang rapat yang megah dengan meja oval panjang di tengahnya, hampir seluruh kursi telah terisi. Di ujung meja, duduk Pak Dewan Kom

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 159

    "Syarat pertama yang ingin aku berikan... biarkan aku menunaikannya sekarang, Rio. Aku tidak ingin kamu berubah pikiran besok pagi," bisik Sisilia dengan suara parau yang teramat seksi dan menggoda.Wanita sosialita itu perlahan membuka pintu depan, lalu merangkak pindah menuju kursi penumpang bagian belakang yang berukuran sangat luas dan dilapisi kulit yang empuk. Di bawah pencahayaan basemen yang temaram, Sisilia perlahan melepas mantelnya, membiarkan tubuh putihnya yang masih sangat terawat berbalut gaun tipis terpampang nyata di hadapan Satrio.Satrio menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi penumpang yang empuk. Sepasang matanya yang tajam menatap ke bawah dari posisinya yang dominan. Ia membiarkan Sisilia bergerak dengan penuh kepatuhan di dalam kesunyian kabin mobil mewah yang kedap suara itu.Dengan jemari yang gemetar halus karena perpaduan rasa takut dan gairah mistis yang mengunci akal sehatnya, Sisilia perlahan membuka ikat pinggang dan ritsleting celana panjang yang di

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 158 

    Satrio baru saja hendak memejamkan mata setelah melewati hari yang melelahkan ketika ponsel di atas nakas bergetar panjang. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sangat ia kenal: Sisilia.“Satrio, aku tahu besok jam delapan pagi kamu mengagendakan rapat darurat dewan direksi. Kamu ingin menghancurkan Nikko, bukan? Tolong, jangan lakukan itu sebelum mendengar penjelasanku. Aku harus bertemu denganmu malam ini juga. Ini masalah hidup dan mati putraku.”Satrio menyipitkan mata, membaca baris demi baris kalimat penuh kepanikan itu. Seringai dingin terukir di wajah tampannya. Rupanya, rencana eksekusi rahasia yang ia susun bersama Adirah dan Dewan Komisaris telah bocor dan sampai ke telinga sang Wakil Direktur Pabrik Utama. Satrio mendengus pelan, berniat mengabaikan pesan tersebut. Baginya, nasib Nikko sudah berada di ujung tanduk dan tidak ada ruang untuk negosiasi lagi.Ditambah ia melirik jarum jam dinding di kamar rumah mewah barunya itu telah melewati angka dua belas malam. Su

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 157

    Malika menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan seiring dengan hilangnya sisa-sisa ketegangan dalam dirinya. "Aku mengerti sekarang, Rio. Maaf kalau tadi sempat salah paham. Kejadian di kampus dulu dengan Ayunda... jujur saja, itu membuatku agak trauma dan terlalu cepat menarik kesimpulan saat Pak Nikko bicara seperti itu."Satrio menggeleng pelan, sorot matanya melembut. "Kamu tidak salah, Malika. Justru aku yang harus meminta maaf karena lingkungan di sekitarku sering kali menyeretmu ke dalam masalah."Malika tersenyum kecil, binar matanya kembali bersih dan hangat seperti saat mereka masih sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. "Sudahlah, yang penting semuanya sudah jelas. Hari sudah mulai malam, aku harus segera pulang sebelum jalanan semakin macet.""Mari kuantar sampai ke depan lobi," ajak Satrio, melangkah di samping Malika dengan jarak yang sangat sopan.Sepanjang perjalanan menuju lantai bawah, suasana di antara mereka terasa begitu tenang. Ketiada

  • Satrio Sang Penguasa Wanita    Bab 2

    Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 1

    Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 5

    Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 4

    Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status