Share

Bab 4

last update publish date: 2026-05-07 22:16:41

Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada Satrio.

Tante Inet, wanita single parent berkulit putih bersih dengan alis runcing yang biasanya tampak judes, mendadak menghentikan kipas tangannya. Matanya terpaku pada Satrio yang berjalan mendekat. Untuk pertama kalinya, bukan kata-kata tagihan yang keluar dari bibirnya yang bergincu merah itu.

"Lho, Rio... baru pulang?" sapa Tante Inet dengan suara yang entah mengapa terdengar jauh lebih lembut, hampir seperti desahan. Ia memperbaiki posisi duduknya, membuat dasternya sedikit tersingkap di bagian paha.

Satrio tertegun. "Iya, Tante. Maaf... soal uang kos..."

"Hush, soal itu gampang, bisa diatur nanti," potong Tante Inet cepat. Ia berdiri dan melangkah mendekati Satrio. Wangi sabun mandi dari tubuh wanita itu menyerbu indra penciuman Satrio. Tante Inet menatap Satrio dari bawah ke atas dengan pandangan yang tidak biasa, tatapan penuh selidik namun penuh kekaguman.

"Kamu... kok kelihatan beda malam ini, Rio? Kelihatan lebih cakep. Lebih gagah dari biasanya. Pakai parfum apa sih?" Tante Inet menggoda sambil berpura-pura merapikan kerah kemeja Satrio, membuat jemarinya yang lentik menyentuh leher pemuda itu secara tidak sengaja.

Satrio bisa merasakan aura dari liontinnya sedang bekerja dengan sangat kuat. Tante Inet yang biasanya sinis kini tampak salah tingkah, wajahnya bersemu merah di bawah lampu teras yang temaram.

"Mampir dulu ke dalam yuk, Rio. Tante baru bikin teh jahe hangat, kayaknya badan kamu capek banget habis lembur," bisik Tante Inet sambil mengerling nakal.

Satrio menelan ludah. Ia sadar, kekuatan liontin ini benar-benar tidak pandu bulu. Dari staf kantor hingga pemilik kosan, semua tampaknya mulai tunduk pada daya pikat mistisnya.

Satrio mencoba tetap waras di bawah tatapan lapar Tante Inet. Ia tahu, bermain api dengan pemilik kos di rumah utamanya adalah risiko besar. Jika ketahuan warga, habislah riwayatnya sebagai mahasiswa dan pendatang.

"Maaf, Tante, Rio capek banget. Besok pagi-pagi harus ke kantor tempat magang. Soal uang kos, Rio usahakan secepatnya ya," tolak Satrio halus sambil melangkah cepat menuju deretan kamar kos di bagian samping.

Tante Inet hanya terpaku di teras, matanya tak lepas dari punggung Satrio yang tegap. Ada desiran aneh yang membuatnya gelisah, sebuah tarikan kuat dari liontin giok yang tadi sempat berada sangat dekat dengannya.

Sesampainya di kamar, Satrio langsung mengunci pintu. Ia merasa gerah, bukan hanya karena cuaca, tapi karena gairah yang belum tuntas sejak dari kontrakan Selina. Ia melepas seluruh pakaiannya, menyisakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Liontin hitam itu tetap melingkar di lehernya, kontras dengan kulit dadanya yang bidang. 

Satrio terengah-engah di dalam kamarnya yang sempit. Udara malam yang masuk melalui celah ventilasi kayu seolah tidak cukup mendinginkan suhu tubuhnya yang bergejolak. 

Ia duduk di pinggir kasur yang sudah menipis, merasakan denyut jantungnya yang beradu dengan detak jarum jam dinding. Pikirannya benar-benar kacau. Bayangan Selina yang berlutut di depannya dan tatapan lapar Tante Inet di teras tadi berputar-putar seperti pusaran angin ribut di kepalanya.

Ia tahu, dengan kondisi gairah yang menggantung seperti ini, tidur adalah hal yang mustahil bisa ia lakukan. Setiap kali ia memejamkan mata, aroma parfum Selina dan wangi sabun mandi Tante Inet seolah merayapi saraf penciumannya. Liontin giok di dadanya masih memancarkan hawa hangat yang konstan, seolah terus memompa adrenalin dan hormon ke seluruh pembuluh darahnya.

"Sial... aku bisa gila kalau begini terus," gumam Satrio parau.

Hanya ada satu pilihan di kepala Satrio untuk meredakan ketegangan yang menyiksa ini. Ia melangkah menuju meja belajar di sudut kamar, tempat komputer jadulnya berada. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menekan tombol power. Suara deru kipas prosesor yang kasar memecah keheningan kamar, disusul dengan cahaya biru dari monitor tabung yang menyinari wajah Satrio yang berkeringat.

Setelah menunggu proses booting yang terasa lama, Satrio segera membuka folder tersembunyi yang ia beri nama samaran. Di sana, tersimpan koleksi film dewasa yang biasanya menjadi pelariannya di malam-malam sepi. Ia memilih sebuah video yang menampilkan wanita-wanita cantik dengan lekuk tubuh sempurna yang sedang bersenang-senang dengan para lelaki bertubuh tegap.

Saat gambar di layar mulai bergerak, Satrio merasakan miliknya dengan cepat menegang sempurna, menantang lilitan handuk putih di pinggangnya. Ia mencoba memfokuskan matanya pada layar, namun imajinasinya bekerja jauh lebih liar. Ia mulai memejamkan mata, membiarkan suara-suara dari speaker kecilnya menjadi latar belakang, sementara pikirannya membangun skenario sendiri.

Dalam khayalannya, ia bukan lagi menonton film itu. Ia adalah pria tegap di dalam layar, namun wanita yang sedang melayaninya bukan pemeran film tersebut, melainkan Selina. Ia membayangkan jari-jemari Selina yang lentik kembali menyentuh kulitnya, membayangkan bibir wanita itu bergerak dengan ritme yang sama pada miliknya seperti yang ia inginkan saat di kontrakan tadi. 

Satrio mulai memanjakan dirinya sendiri, tangannya bergerak dengan ritme yang kian cepat pada miliknya seiring dengan imajinasinya yang kian dalam.

"Selina..." bisiknya pelan, seolah nama itu adalah ajimat  yang bisa melepaskan seluruh beban di pundaknya.

Ia membayangkan napas hangat Selina di lehernya, tepat di dekat liontin gioknya. Ia merasa seolah-olah kekuatan mistis dari batu itu sedang memvisualisasikan Selina tepat di hadapannya. Sensasi itu begitu nyata, begitu mendesak, hingga Satrio merasa hampir mencapai titik ledakannya. Tubuhnya menegang, keringat bercucuran membasahi dadanya, dan ia sudah berada di ambang pelepasan yang luar biasa nikmat.

Namun, tepat di saat yang penuh kenikmatan itu, sebuah suara seketika memecah konsentrasinya…

Tok! Tok! Tok!

Satrio tersentak hebat hingga hampir terjatuh dari kursinya. Jantungnya serasa mau copot. Ia segera menarik handuknya untuk menutupi dirinya, sementara tangannya yang lain dengan panik meraba-raba tetikus untuk mematikan monitor.

"Rio... ini Tante Inet. Tante bawain kue bolu hangat buat ganjal perut kamu," suara Tante Inet terdengar manja dari balik pintu kayu kamarnya yang tipis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 18

    Saat sampai di lobi lantai 5, Rio berpapasan dengan Maya (staf keuangan) yang sedari tadi mondar-mandir seperti macan lapar. Begitu melihat Satrio keluar sendirian, Maya langsung menyergapnya."Rio! Kamu ke mana saja? Aku cari di pantry nggak ada, di ruang IT nggak ada. Mbak Adirah juga mukanya ditekuk pas lewat tadi," cerocos Maya sambil kembali memegang lengan Satrio, aroma mawar dari tubuh Satrio kembali membuatnya hampir kehilangan kendali."Baru saja dari arsip, Mbak. Ada urusan teknis," jawab Satrio singkat.Maya mendekatkan wajahnya ke dada Satrio, menghirup aroma yang sangat ia sukai itu. "Lupakan soal arsip. Ikut aku ke ruang rapat kecil di lantai ini, lampunya mati dan aku takut masuk sendirian buat ambil berkas audit. Temani aku ya?"Satrio menatap mata Maya. Kali ini, ia merasa Maya jauh lebih menarik daripada Bu Mayang atau Adirah yang terlalu menuntut. Namun, ia juga ingat janji "laporan" di pantry atas bersama Adirah.Satrio menatap mata Maya yang berbinar penuh harap.

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 17

    Pintu ruang arsip yang berat itu berderit tertutup, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara rak-rak besi tinggi yang penuh dengan map tua. Adirah tidak menuju meja pencarian dokumen. Dengan langkah yang terburu-buru dan napas yang mulai tak beraturan, ia justru menarik lengan Satrio menuju pojok ruangan yang paling gelap dan tersembunyi."Mbak... dokumennya di sebelah mana?" tanya Satrio dengan suara jantannya yang tenang, namun penuh godaan.Adirah tidak menjawab. Ia memojokkan Satrio ke dinding rak, lalu jemarinya yang lentik mulai gemetar menyentuh wajah Satrio. Ia mengusap rahang Satrio yang kini tampak begitu tegas, lalu turun ke leher di mana jakun Satrio tampak menonjol dan naik-turun saat pemuda itu menelan ludah. Mata Adirah seolah terkunci pada bibir Satrio yang tipis, merah merona, dan tampak sangat menggoda akibat sisa energi Putih semalam."Lupakan dokumennya, Rio... aku nggak tahan liat kamu kayak gini," bisik Adirah serak. Ia berjinjit, wajahnya hanya berjara

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 16

    Satrio melangkah keluar dari ruangan Pak Aizar dengan wibawa yang sulit dijelaskan. Langkah kakinya terdengar mantap di lorong lantai eksekutif, menuju area pantry untuk sekadar membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah mendengar rahasia besar dari Sang Presdir.Begitu pintu pantry yang terbuat dari kaca buram itu ia dorong, suasana yang tadinya bising oleh suara tawa dan denting sendok mendadak senyap seketika.Di sana ada Selina, yang sedang menyeduh teh bersama tiga staf wanita lainnya dari bagian administrasi dan marketing. Begitu Satrio masuk tanpa bingkai kacamata yang biasanya menutupi wajahnya, semua mata tertuju padanya seolah terhipnotis."Rio?" gumam Selina lirih. Gelas teh di tangannya hampir saja terlepas.Tanpa kacamata, mata Satrio tampak begitu dalam, tajam, namun memiliki binar yang sangat memikat, efek dari penyatuan energinya dengan Putih semalam. Rahangnya yang tegas dan kulitnya yang terlihat lebih bersih membuat staf wanita lainnya saling berbisik denga

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 15

    Di kantor Shine, Satrio melangkah masuk ke ruangan Pak Aizar dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut soal pekerjaan, tapi karena rahasia besar yang ia simpan sejak terbangun pagi tadi.Pak Aizar sedang menyesap kopi hitamnya saat Satrio duduk di hadapannya. Sang Presdir menurunkan cangkirnya, lalu menatap Satrio tajam. Alisnya terangkat saat melihat Satrio tidak lagi mengenakan kacamata."Wah, ada yang beda hari ini. Makin tajam saja penglihatanmu, Rio," puji Aizar sambil tersenyum simpul. "Gimana kemarin di rumah? Debby bilang komputernya sudah beres. Dia sepertinya senang sekali kamu datang."Satrio mengangguk sopan. "Sudah lancar, Pak. Cuma masalah debu di hardware-nya saja."Suasana mendadak hening sejenak. Satrio meremas jemarinya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal yang mengusik jiwanya. Dengan suara yang sedikit bergetar dan nada yang dijaga agar tetap rendah, ia akhirnya bertanya."Pak... boleh saya tanya sesuatu yang prib

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 14

    Satrio tersentak bangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja berlari maraton dalam tidurnya. Ia segera terduduk di tepi ranjang, matanya menyapu setiap sudut kamar kosnya yang sempit. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan dengungan kipas angin tua.Namun, indra penciumannya tidak bisa berbohong. Kamar itu masih dipenuhi aroma bunga mawar yang sangat pekat, harum yang begitu melenakan dan tidak mungkin berasal dari pewangi ruangan murah miliknya. Satrio mencari-cari sosok Putih, wanita dari negeri di atas awan itu, namun ia telah lenyap tanpa jejak."Putih?" bisiknya pelan, suaranya masih serak.Tidak ada jawaban. Satrio kemudian menunduk dan tertegun. Di balik celana yang ia kenakan, ia merasakan sensasi lembap yang nyata. Saat ia memeriksa, bagian bawahnya sudah basah kuyup oleh sisa-sari pati tubuhnya yang tumpah dalam pergulatan panas tadi. Rasa nikmat yang luar biasa itu masih membekas di saraf-sarafnya, terasa terlalu nyata untuk sekadar dise

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 13

    Malam itu, kamar kos Satrio terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Setelah kepuasan batin menaklukkan hati Debby, Satrio tertidur lelap tanpa gangguan dari Tante Inet yang untungnya sudah masuk ke rumahnya lebih awal. Namun, tepat pada pukul dua dini hari, suasana kamar yang pengap itu mendadak berubah secara mistis. Aroma bunga mawar yang sangat segar dan harum semerbak memenuhi setiap sudut ruangan, mengalahkan bau apek kamar kos pria pada umumnya.Dalam keadaan setengah sadar, Satrio membuka matanya. Di ujung ranjangnya, berdiri sesosok wanita yang kecantikannya mustahil ada di dunia nyata. Kulitnya seputih pualam dan memancarkan cahaya redup, rambutnya panjang terurai hingga ke pinggang, dan ia mengenakan kain sutra tipis yang seolah melayang ditiup angin gaib. Dialah Putih, sang penjaga liontin dari Negeri di Atas Awan."Satrio..." bisik Putih. Suaranya terdengar merdu seperti denting kecapi, langsung menggetarkan liontin giok di dada Satrio hingga batu itu berpendar hijau teran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status