LOGINSatrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada Satrio.
Tante Inet, wanita single parent berkulit putih bersih dengan alis runcing yang biasanya tampak judes, mendadak menghentikan kipas tangannya. Matanya terpaku pada Satrio yang berjalan mendekat. Untuk pertama kalinya, bukan kata-kata tagihan yang keluar dari bibirnya yang bergincu merah itu.
"Lho, Rio... baru pulang?" sapa Tante Inet dengan suara yang entah mengapa terdengar jauh lebih lembut, hampir seperti desahan. Ia memperbaiki posisi duduknya, membuat dasternya sedikit tersingkap di bagian paha.
Satrio tertegun. "Iya, Tante. Maaf... soal uang kos..."
"Hush, soal itu gampang, bisa diatur nanti," potong Tante Inet cepat. Ia berdiri dan melangkah mendekati Satrio. Wangi sabun mandi dari tubuh wanita itu menyerbu indra penciuman Satrio. Tante Inet menatap Satrio dari bawah ke atas dengan pandangan yang tidak biasa, tatapan penuh selidik namun penuh kekaguman.
"Kamu... kok kelihatan beda malam ini, Rio? Kelihatan lebih cakep. Lebih gagah dari biasanya. Pakai parfum apa sih?" Tante Inet menggoda sambil berpura-pura merapikan kerah kemeja Satrio, membuat jemarinya yang lentik menyentuh leher pemuda itu secara tidak sengaja.
Satrio bisa merasakan aura dari liontinnya sedang bekerja dengan sangat kuat. Tante Inet yang biasanya sinis kini tampak salah tingkah, wajahnya bersemu merah di bawah lampu teras yang temaram.
"Mampir dulu ke dalam yuk, Rio. Tante baru bikin teh jahe hangat, kayaknya badan kamu capek banget habis lembur," bisik Tante Inet sambil mengerling nakal.
Satrio menelan ludah. Ia sadar, kekuatan liontin ini tak memilih. Dari staf kantor hingga pemilik kosan, semua tampaknya mulai tunduk pada daya pikat mistisnya.
Satrio mencoba tetap waras di bawah tatapan lapar Tante Inet. Ia tahu, bermain api dengan pemilik kos di rumah utamanya adalah risiko besar. Jika ketahuan warga, habislah riwayatnya sebagai mahasiswa dan pendatang.
"Maaf, Tante, Rio capek banget. Besok pagi-pagi harus ke kantor tempat magang. Soal uang kos, Rio usahakan secepatnya ya," tolak Satrio halus sambil melangkah cepat menuju deretan kamar kos di bagian samping.
Tante Inet hanya terpaku di teras, matanya tak lepas dari punggung Satrio yang tegap. Ada desiran aneh yang membuatnya gelisah, sebuah tarikan kuat dari liontin giok yang tadi sempat berada sangat dekat dengannya.
Sesampainya di kamar, Satrio langsung mengunci pintu. Ia merasa gerah, bukan hanya karena cuaca, tapi karena gairah yang belum tuntas sejak dari kontrakan Selina. Ia melepas seluruh pakaiannya, menyisakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Liontin hitam itu tetap melingkar di lehernya, kontras dengan kulit dadanya yang bidang.
Satrio terengah-engah di dalam kamarnya yang sempit. Udara malam yang masuk melalui celah ventilasi kayu seolah tidak cukup mendinginkan suhu tubuhnya yang bergejolak.
Ia duduk di pinggir kasur yang sudah menipis, merasakan denyut jantungnya yang beradu dengan detak jarum jam dinding. Pikirannya benar-benar kacau. Bayangan Selina yang berlutut di depannya dan tatapan lapar Tante Inet di teras tadi berputar-putar seperti pusaran angin ribut di kepalanya.
Ia tahu, dengan kondisi gairah yang menggantung seperti ini, tidur adalah hal yang mustahil bisa ia lakukan. Setiap kali ia memejamkan mata, aroma parfum Selina dan wangi sabun mandi Tante Inet seolah merayapi saraf penciumannya. Liontin giok di dadanya masih memancarkan hawa hangat yang konstan, seolah terus memompa adrenalin dan hormon ke seluruh pembuluh darahnya.
"Sial... aku bisa gila kalau begini terus," gumam Satrio parau.
Hanya ada satu pilihan di kepala Satrio untuk meredakan ketegangan yang menyiksa ini. Ia melangkah menuju meja belajar di sudut kamar, tempat komputer jadulnya berada. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menekan tombol power. Suara deru kipas prosesor yang kasar memecah keheningan kamar, disusul dengan cahaya biru dari monitor tabung yang menyinari wajah Satrio yang berkeringat.
Setelah menunggu proses booting yang terasa lama, Satrio segera membuka folder tersembunyi yang ia beri nama samaran. Di sana, tersimpan koleksi film dewasa yang biasanya menjadi pelariannya di malam-malam sepi. Ia memilih sebuah video yang menampilkan wanita-wanita cantik dengan lekuk tubuh sempurna yang sedang bersenang-senang dengan para lelaki bertubuh tegap.
Saat gambar di layar mulai bergerak, Satrio merasakan miliknya dengan cepat menegang sempurna, menantang lilitan handuk putih di pinggangnya. Ia mencoba memfokuskan matanya pada layar, namun imajinasinya bekerja jauh lebih liar. Ia mulai memejamkan mata, membiarkan suara-suara dari speaker kecilnya menjadi latar belakang, sementara pikirannya membangun skenario sendiri.
Dalam khayalannya, ia bukan lagi menonton film itu. Ia adalah pria tegap di dalam layar, namun wanita yang sedang melayaninya bukan pemeran film tersebut, melainkan Selina. Ia membayangkan jari-jemari Selina yang lentik kembali menyentuh kulitnya, membayangkan bibir wanita itu bergerak dengan ritme yang sama pada miliknya seperti yang ia inginkan saat di kontrakan tadi.
Satrio mulai memanjakan dirinya sendiri, tangannya bergerak dengan ritme yang kian cepat pada miliknya seiring dengan imajinasinya yang kian dalam.
"Selina..." bisiknya pelan, seolah nama itu adalah ajimat yang bisa melepaskan seluruh beban di pundaknya.
Ia membayangkan napas hangat Selina di lehernya, tepat di dekat liontin gioknya. Ia merasa seolah-olah kekuatan mistis dari batu itu sedang memvisualisasikan Selina tepat di hadapannya. Sensasi itu begitu nyata, begitu mendesak, hingga Satrio merasa hampir mencapai titik ledakannya. Tubuhnya menegang, keringat bercucuran membasahi dadanya, dan ia sudah berada di ambang pelepasan yang luar biasa nikmat.
Namun, tepat di saat yang penuh kenikmatan itu, sebuah suara seketika memecah konsentrasinya…
Tok! Tok! Tok!
Satrio tersentak hebat hingga hampir terjatuh dari kursinya. Jantungnya serasa mau copot. Ia segera menarik handuknya untuk menutupi dirinya, sementara tangannya yang lain dengan panik meraba-raba tetikus untuk mematikan monitor.
"Rio... ini Tante Inet. Tante bawain kue bolu hangat buat ganjal perut kamu," suara Tante Inet terdengar manja dari balik pintu kayu kamarnya yang tipis.
Aroma parfum floral yang pekat langsung menyergap indra penciuman Satrio, begitu daun pintu jati itu tertutup rapat. Di dalam ruangan yang kedap suara itu, Sisilia tidak membuang waktu lagi untuk melepaskan seluruh topeng formalitasnya. Ia melangkah cepat, lalu menghambur ke dalam pelukan hangat Satrio dengan mata yang berbinar penuh dahaga asmara."Aku merindukanmu setengah mati, Rio," bisik Sisilia parau tepat di depan dada Satrio.Satrio tidak langsung membalas pelukan itu dengan gairah yang meluap. Ia meletakkan tas dokumennya di atas meja marmer dengan gerakan yang sangat tenang. Sepasang matanya menatap Sisilia dengan sorot mata dingin khas seorang penguasa."Tenangkan dirimu, Mbak Sisilia. Kita masih berada di lingkungan kantor pabrik," ucap Satrio dengan suaranya yang berat.Sisilia mendongak, menatap wajah tampan Satrio dengan pandangan memuja. Efek magis dari sisa energi giok di dada Satrio benar-benar telah meruntuhkan seluruh keangkuhannya sebagai nyonya besar keluarga P
Keesokan pagi, suasana di lantai delapan kantor pusat Shine Group berjalan dengan kesibukan yang kaku seperti biasa. Satrio duduk di balik meja kerjanya dengan setelan tuksedo abu-abu yang memancarkan karisma mutlak seorang pimpinan tertinggi baru. Tok… tok…! Pintu ruangannya diketuk perlahan, dan Adirah melangkah masuk sembari membawa beberapa lembar dokumen revisi anggaran.Penampilan Adirah pagi ini tampak begitu segar, namun gerak tubuhnya memancarkan rasa kepemilikan yang semakin tebal terhadap diri Satrio semenjak kunjungan rumahnya kemarin sore. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja kaca Satrio dengan jemari yang sedikit gemetar, menatap Satrio dengan sepasang mata sendu yang dipenuhi rasa malu-malu yang manja. "Ini berkas yang harus ditandatangani hari ini, Pak Presdir..."Satrio menerima berkas itu tanpa memutuskan kontak mata yang dingin. "Terima kasih, Mbak Adirah. Letakkan saja di sana."Adirah tidak segera membalikkan badan untuk keluar ruangan kerja utamanya. Ia justr
Napas Ningrum terdengar perlahan dan teratur di balik selimut. Di tepi ranjang, Satrio menatap wajah gadis sekampungnya itu yang kini tampak lebih tenang setelah tersadar dari pingsan.Mbok Sumi dan Pak Sukirman sudah diminta untuk kembali ke kamar mereka agar bisa beristirahat dengan tenang setelah ketegangan yang mengkhawatirkan mereka.Ningrum membuka kelopak matanya yang sembap, menatap Satrio dengan pandangan yang sarat akan kehampaan. "Aku tidak apa-apa, Rio... Aku cuma merasa sangat kecapekan setelah menyelesaikan sif malam yang padat di pabrik kemarin," ucap Ningrum lirih membohongi perasaannya.Satrio menghela napas pendek, mengusap puncak kepala Ningrum dengan gerakan tangan yang protektif. Namun, Satrio tidak mengetahui bahwa di balik alasan kelelahan fisik itu, dada Ningrum sebenarnya sedang remuk didera rasa cemburu dan kesedihan yang teramat sangat semenjak kedatangan Adirah. Ningrum merasa sangat tersisih karena di dalam rumah mewah ini, ia menyadari kedua orang tua S
"Rio... tubuhmu kelihatan sangat lelah dan tegang setelah seharian menghadapi banyak masalah di kantor, terutama masalah Malika dan teman lelakinya itu," bisik Adirah dengan kerlingan mata menggoda."Iya, pikiranku agak penat hari ini," sahut Satrio pendek.Adirah menggeser duduknya satu jengkal lebih dekat lagi, hingga aroma parfum lavendernya menyerbu indra penciuman Satrio. "Bagaimana kalau aku pijat sebentar punggungnya biar kamu merasa lebih rileks dan nyaman?" rayu Adirah sembari menyentuh lembut pundak Satrio, memberikan penawaran manis yang sarat akan sensualitas.Satrio menoleh, menatap lekat ke dalam sepasang mata Adirah yang memancarkan kepasrahan yang mendalam. Pengaruh energi giok di dadanya kian berdenyut hangat, merespons gairah yang menguar kuat di antara mereka. Satrio mengangguk pelan, memberikan izin mutlak, "Boleh, Adirah. Tolong ya..."Mendapat persetujuan itu, Adirah langsung bangkit berdiri dari sofa dengan senyum yang terukir di bibirnya. Ia melangkah ke arah
Malam kian larut saat mobil sport merah milik Satrio melesat membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di dalam mobil yang sejuk, keheningan terasa begitu kuat dan menegangkan. Satrio mencengkeram kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih bertumpu tegas di atas paha Adirah.Adirah menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk dengan napas yang memburu halus. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya yang dibalut blazer merah marun terasa sesak. Sentuhan tangan Satrio di pahanya seolah mengalirkan setruman yang membakar habis sisa-sisa logikanya.Ia melirik profil samping wajah Satrio yang tampak begitu tegas dan dingin di bawah temaram lampu dasbor. Di dalam benak Adirah, rasa cemburu akibat masalah Malika siang tadi mendadak menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah buncahan rasa bahagia dan harapan yang melambung tinggi karena malam ini ia berhasil dibawa ke ruang privat sang Presiden Direktur Sementara itu.Mobil sport mewah itu akhirnya berbelok mema
Mobil mewah milik Satrio membelah jalanan sore yang mulai dipadati kendaraan. Di dalam mobil yang sejuk, keheningan sempat mendominasi sebelum akhirnya mereka tiba di pekarangan rumah baru Satrio. Rumah megah bernuansa modern itu tampak asri dengan taman kecil di bagian depannya. Adirah yang duduk di kursi penumpang langsung merapikan penampilannya, memastikan tidak ada sehelai rambutpun yang berantakan. Senyum manis yang tampak begitu tulus dan polos sengaja ia pasang di wajah cantiknya.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma harum masakan langsung menyambut penciuman mereka. Di ruang tengah, kedua orang tua Satrio, Mbok Sumini dan Pak Sukirman, sedang duduk bersantai."Ibu, Bapak, ini Adirah. Sekretaris utama Satrio di kantor," ucap Satrio memperkenalkan wanita di sebelahnya dengan nada suara yang masih terdengar datar akibat sisa kekecewaan dari kantor.Adirah segera melangkah maju dengan gerakan yang sangat sopan. Ia membungkuk rendah, lalu meraih tangan Mbok Sumi dan Pak K
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me







