LOGINSatrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu kamarnya.
"Rio? Kamu sudah tidur ya?" suara Tante Inet kembali terdengar, kali ini lebih dekat, seolah ia menempelkan telinganya di pintu. "Tante tahu kamu belum tidur, lampu kamarnya masih nyala terlihat dari bawah pintu."
Satrio menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak mungkin membuka pintu dalam kondisi seperti ini. Tubuhnya masih sangat tegang, dan keringat yang membanjiri tubuhnya akan terlihat sangat mencurigakan.
Namun, menolak Tante Inet yang sudah datang membawakan makanan juga bisa menyinggung perasaan wanita itu, yang artinya risiko bagi keberlangsungan masa kosnya.
"I-iya, Tante... sebentar!" sahut Satrio dengan suara yang ia usahakan terdengar normal, meski terdengar sedikit serak.
"Buka dong pintunya, Rio. Masa Tante cuma mau kasih kue ditolak? Tante juga mau tanya sesuatu soal lampu di ruang tamu yang kedap-kedip," rayu Tante Inet lagi. Nada suaranya tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pergi. Justru terdengar ada nada kegelisahan yang sama dengan yang dirasakan Satrio, aura liontin itu rupanya masih menarik Tante Inet untuk mendekat.
Satrio melihat ke arah monitornya yang sudah gelap, lalu ke arah pintu. Ia menyadari bahwa malam ini, liontin giok itu benar-benar tidak akan membiarkannya beristirahat dengan tenang. Daya pikat mistis itu seolah sengaja mempertemukannya dengan situasi-situasi yang menguji batas kewarasannya.
Dengan tangan yang masih gemetar, Satrio memakai kembali kaos singletnya dengan terburu-buru, mencoba menyembunyikan gairah yang masih tersisa di balik handuk yang melingkar di pinggangnya. Ia menarik napas panjang, mengusap keringat di dahi dengan handuk, dan melangkah menuju pintu.
"Tenang, Rio... tenang," batinnya memperingatkan diri sendiri.
Saat ia memutar kunci dan membuka sedikit celah pintu, aroma parfum Tante Inet yang menyengat langsung menyerbu masuk. Di sana, Tante Inet berdiri dengan nampan kecil berisi dua potong kue bolu, namun tatapannya sama sekali tidak tertuju pada kue itu. Matanya langsung mengunci mata Satrio, dan perlahan turun ke arah dada Satrio yang masih naik turun karena napas yang tidak teratur.
"Kok keringatan banget, Rio? Kamu... lagi olahraga ya di dalam?" tanya Tante Inet dengan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Satrio merinding sekaligus membangkitkan kembali panas di liontinnya.
"Rio... ini Tante Inet bawain kue bolu hangat buat ganjal perut kamu," suara Tante Inet terdengar manja di ambang pintu.
Satrio ragu sejenak, ia hanya membuka pintu sedikit. Ternyata, Tante Inet sudah berdiri di sana dengan piring di tangan, dan tanpa menunggu dipersilakan, ia malah menyelinap masuk ke dalam kamar sempit itu.
Begitu pintu tertutup, suasana mendadak senyap. Pandangan Tante Inet langsung terkunci pada tubuh Satrio yang hanya tertutup handuk. Tetesan air keringat dari pelipis jatuh ke dadanya, mengalir melewati batu giok hijau yang kini seolah berpendar redup.
"Duh, Rio... kamu kok nekat banget cuma pakai handuk begini," gumam Tante Inet, namun matanya sama sekali tidak berpaling. Piring kue itu diletakkannya sembarangan di atas meja belajar.
"Tante... Rio baru mau mandi. Nggak enak kalau ada orang lihat Tante di kamar Rio malam-malam begini," ucap Satrio, mencoba melakukan taktik jual mahal yang justru membuat Tante Inet semakin gemas.
Tante Inet mendekat, napasnya mulai memburu. Keberaniannya muncul berkali-kali lipat karena pengaruh mistis dari liontin itu. "Tante nggak butuh uang kosmu malam ini, Rio. Tante cuma butuh... kamu temenin Tante sebentar."
Tangan Tante Inet yang dingin mulai meraba pundak Satrio, perlahan turun menuju ikatan handuk di pinggangnya. Satrio mematung, merasakan debaran jantung yang makin kencang. Ia teringat ucapannya tadi: Kalau dia yang masuk ke kamarku, itu bukan salahku.
"Tante yakin?" bisik Satrio dengan suara berat yang penuh godaan.
Tante Inet tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik Satrio lebih dekat, membiarkan daster satinnya bergesekan dengan kulit Satrio yang panas. Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi Satrio, kini berubah menjadi saat menegangkan kedua malam itu yang tak terduga setelah bersama Selina, kini dengan sang pemilik kos.
Satrio bersandar di pinggiran lemari pakaiannya, melipat tangan di dada sehingga otot lengannya terpampang jelas di bawah cahaya lampu kamar yang kekuningan. Ia mencoba tetap tenang, meski ia tahu liontin giok di lehernya sedang bekerja sangat keras memompa keberanian dan daya pikatnya.
Tante Inet melangkah mendekat, aroma parfum floral dari tubuhnya yang sedikit berisi itu tercium sangat kuat. Ia menatap Satrio dari ujung kaki hingga ke dada, tepat di mana batu giok itu menggantung. Matanya seolah terkunci pada aura mistis yang memancar dari sana.
"Jangan jual mahal dong, Rio... Tante tahu kamu lagi kesulitan uang," bisik Tante Inet sambil menyentuh ujung handuk Satrio dengan jarinya yang gemetar. "Uang kos bulan ini Tante gratiskan. Anggap saja bonus karena kamu sudah jadi penghuni yang baik."
Satrio menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura terkejut. "Gratis, Tante? Serius?"
"Serius. Syaratnya cuma satu," Tante Inet mendongak, menatap mata Satrio dengan tatapan penuh permohonan dan gairah yang tak tertahankan. "Biarkan Tante lihat dan sentuh milikmu sebentar saja. Tante penasaran, apa sehebat penampakan badanmu yang sekarang."
Mendengar tawaran yang begitu menguntungkan, Satrio tidak bisa lagi menahan senyum kemenangannya. Ia teringat kembali pengalamannya dengan Selina sebelumnya, ternyata menjadi lelaki nakal itu sangat menyenangkan. Tanpa banyak bicara, Satrio perlahan melepaskan ikatan handuk di pinggangnya, membiarkan kain putih itu jatuh ke lantai.
Tante Inet terkesiap, tangannya refleks menutupi mulutnya sendiri. Matanya membelalak melihat milik Satrio yang sudah menegang sempurna, efek dari sisa gairah dengan Selina dalam khayalannya di dalam film yang belum tuntas sepenuhnya…
Saat sampai di lobi lantai 5, Rio berpapasan dengan Maya (staf keuangan) yang sedari tadi mondar-mandir seperti macan lapar. Begitu melihat Satrio keluar sendirian, Maya langsung menyergapnya."Rio! Kamu ke mana saja? Aku cari di pantry nggak ada, di ruang IT nggak ada. Mbak Adirah juga mukanya ditekuk pas lewat tadi," cerocos Maya sambil kembali memegang lengan Satrio, aroma mawar dari tubuh Satrio kembali membuatnya hampir kehilangan kendali."Baru saja dari arsip, Mbak. Ada urusan teknis," jawab Satrio singkat.Maya mendekatkan wajahnya ke dada Satrio, menghirup aroma yang sangat ia sukai itu. "Lupakan soal arsip. Ikut aku ke ruang rapat kecil di lantai ini, lampunya mati dan aku takut masuk sendirian buat ambil berkas audit. Temani aku ya?"Satrio menatap mata Maya. Kali ini, ia merasa Maya jauh lebih menarik daripada Bu Mayang atau Adirah yang terlalu menuntut. Namun, ia juga ingat janji "laporan" di pantry atas bersama Adirah.Satrio menatap mata Maya yang berbinar penuh harap.
Pintu ruang arsip yang berat itu berderit tertutup, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara rak-rak besi tinggi yang penuh dengan map tua. Adirah tidak menuju meja pencarian dokumen. Dengan langkah yang terburu-buru dan napas yang mulai tak beraturan, ia justru menarik lengan Satrio menuju pojok ruangan yang paling gelap dan tersembunyi."Mbak... dokumennya di sebelah mana?" tanya Satrio dengan suara jantannya yang tenang, namun penuh godaan.Adirah tidak menjawab. Ia memojokkan Satrio ke dinding rak, lalu jemarinya yang lentik mulai gemetar menyentuh wajah Satrio. Ia mengusap rahang Satrio yang kini tampak begitu tegas, lalu turun ke leher di mana jakun Satrio tampak menonjol dan naik-turun saat pemuda itu menelan ludah. Mata Adirah seolah terkunci pada bibir Satrio yang tipis, merah merona, dan tampak sangat menggoda akibat sisa energi Putih semalam."Lupakan dokumennya, Rio... aku nggak tahan liat kamu kayak gini," bisik Adirah serak. Ia berjinjit, wajahnya hanya berjara
Satrio melangkah keluar dari ruangan Pak Aizar dengan wibawa yang sulit dijelaskan. Langkah kakinya terdengar mantap di lorong lantai eksekutif, menuju area pantry untuk sekadar membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah mendengar rahasia besar dari Sang Presdir.Begitu pintu pantry yang terbuat dari kaca buram itu ia dorong, suasana yang tadinya bising oleh suara tawa dan denting sendok mendadak senyap seketika.Di sana ada Selina, yang sedang menyeduh teh bersama tiga staf wanita lainnya dari bagian administrasi dan marketing. Begitu Satrio masuk tanpa bingkai kacamata yang biasanya menutupi wajahnya, semua mata tertuju padanya seolah terhipnotis."Rio?" gumam Selina lirih. Gelas teh di tangannya hampir saja terlepas.Tanpa kacamata, mata Satrio tampak begitu dalam, tajam, namun memiliki binar yang sangat memikat, efek dari penyatuan energinya dengan Putih semalam. Rahangnya yang tegas dan kulitnya yang terlihat lebih bersih membuat staf wanita lainnya saling berbisik denga
Di kantor Shine, Satrio melangkah masuk ke ruangan Pak Aizar dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut soal pekerjaan, tapi karena rahasia besar yang ia simpan sejak terbangun pagi tadi.Pak Aizar sedang menyesap kopi hitamnya saat Satrio duduk di hadapannya. Sang Presdir menurunkan cangkirnya, lalu menatap Satrio tajam. Alisnya terangkat saat melihat Satrio tidak lagi mengenakan kacamata."Wah, ada yang beda hari ini. Makin tajam saja penglihatanmu, Rio," puji Aizar sambil tersenyum simpul. "Gimana kemarin di rumah? Debby bilang komputernya sudah beres. Dia sepertinya senang sekali kamu datang."Satrio mengangguk sopan. "Sudah lancar, Pak. Cuma masalah debu di hardware-nya saja."Suasana mendadak hening sejenak. Satrio meremas jemarinya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal yang mengusik jiwanya. Dengan suara yang sedikit bergetar dan nada yang dijaga agar tetap rendah, ia akhirnya bertanya."Pak... boleh saya tanya sesuatu yang prib
Satrio tersentak bangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja berlari maraton dalam tidurnya. Ia segera terduduk di tepi ranjang, matanya menyapu setiap sudut kamar kosnya yang sempit. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan dengungan kipas angin tua.Namun, indra penciumannya tidak bisa berbohong. Kamar itu masih dipenuhi aroma bunga mawar yang sangat pekat, harum yang begitu melenakan dan tidak mungkin berasal dari pewangi ruangan murah miliknya. Satrio mencari-cari sosok Putih, wanita dari negeri di atas awan itu, namun ia telah lenyap tanpa jejak."Putih?" bisiknya pelan, suaranya masih serak.Tidak ada jawaban. Satrio kemudian menunduk dan tertegun. Di balik celana yang ia kenakan, ia merasakan sensasi lembap yang nyata. Saat ia memeriksa, bagian bawahnya sudah basah kuyup oleh sisa-sari pati tubuhnya yang tumpah dalam pergulatan panas tadi. Rasa nikmat yang luar biasa itu masih membekas di saraf-sarafnya, terasa terlalu nyata untuk sekadar dise
Malam itu, kamar kos Satrio terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Setelah kepuasan batin menaklukkan hati Debby, Satrio tertidur lelap tanpa gangguan dari Tante Inet yang untungnya sudah masuk ke rumahnya lebih awal. Namun, tepat pada pukul dua dini hari, suasana kamar yang pengap itu mendadak berubah secara mistis. Aroma bunga mawar yang sangat segar dan harum semerbak memenuhi setiap sudut ruangan, mengalahkan bau apek kamar kos pria pada umumnya.Dalam keadaan setengah sadar, Satrio membuka matanya. Di ujung ranjangnya, berdiri sesosok wanita yang kecantikannya mustahil ada di dunia nyata. Kulitnya seputih pualam dan memancarkan cahaya redup, rambutnya panjang terurai hingga ke pinggang, dan ia mengenakan kain sutra tipis yang seolah melayang ditiup angin gaib. Dialah Putih, sang penjaga liontin dari Negeri di Atas Awan."Satrio..." bisik Putih. Suaranya terdengar merdu seperti denting kecapi, langsung menggetarkan liontin giok di dada Satrio hingga batu itu berpendar hijau teran