แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Langit Berawan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-07 22:16:59

Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu kamarnya.

"Rio? Kamu sudah tidur ya?" suara Tante Inet kembali terdengar, kali ini lebih dekat, seolah ia menempelkan telinganya di pintu. "Tante tahu kamu belum tidur, lampu kamarnya masih nyala terlihat dari bawah pintu."

 Satrio menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak mungkin membuka pintu dalam kondisi seperti ini. Tubuhnya masih sangat tegang, dan keringat yang membanjiri tubuhnya akan terlihat sangat mencurigakan. 

Namun, menolak Tante Inet yang sudah datang membawakan makanan juga bisa menyinggung perasaan wanita itu, yang artinya risiko bagi keberlangsungan masa kosnya.

"I-iya, Tante... sebentar!" sahut Satrio dengan suara yang ia usahakan terdengar normal, meski terdengar sedikit serak.

"Buka dong pintunya, Rio. Masa Tante cuma mau kasih kue ditolak? Tante juga mau tanya sesuatu soal lampu di ruang tamu yang kedap-kedip," rayu Tante Inet lagi. Nada suaranya tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pergi. Justru terdengar ada nada kegelisahan yang sama dengan yang dirasakan Satrio, aura liontin itu rupanya masih menarik Tante Inet untuk mendekat.

Satrio melihat ke arah monitornya yang sudah gelap, lalu ke arah pintu. Ia menyadari bahwa malam ini, liontin giok itu benar-benar tidak akan membiarkannya beristirahat dengan tenang. Daya pikat mistis itu seolah sengaja mempertemukannya dengan situasi-situasi yang menguji batas kewarasannya.

Dengan tangan yang masih gemetar, Satrio memakai kembali kaos singletnya dengan terburu-buru, mencoba menyembunyikan gairah yang masih tersisa di balik handuk yang melingkar di pinggangnya. Ia menarik napas panjang, mengusap keringat di dahi dengan handuk, dan melangkah menuju pintu.

"Tenang, Rio... tenang," batinnya memperingatkan diri sendiri.

Saat ia memutar kunci dan membuka sedikit celah pintu, aroma parfum Tante Inet yang menyengat langsung menyerbu masuk. Di sana, Tante Inet berdiri dengan nampan kecil berisi dua potong kue bolu, namun tatapannya sama sekali tidak tertuju pada kue itu. Matanya langsung mengunci mata Satrio, dan perlahan turun ke arah dada Satrio yang masih naik turun karena napas yang tidak teratur.

"Kok keringatan banget, Rio? Kamu... lagi olahraga ya di dalam?" tanya Tante Inet dengan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Satrio merinding sekaligus membangkitkan kembali panas di liontinnya.

"Rio... ini Tante Inet bawain kue bolu hangat buat ganjal perut kamu," suara Tante Inet terdengar manja di ambang pintu.

Satrio ragu sejenak,  ia hanya membuka pintu sedikit. Ternyata, Tante Inet sudah berdiri di sana dengan piring di tangan, dan tanpa menunggu dipersilakan, ia malah menyelinap masuk ke dalam kamar sempit itu.

Begitu pintu tertutup, suasana mendadak senyap. Pandangan Tante Inet langsung terkunci pada tubuh Satrio yang hanya tertutup handuk. Tetesan air keringat dari pelipis jatuh ke dadanya, mengalir melewati batu giok hijau yang kini seolah berpendar redup.

"Duh, Rio... kamu kok nekat banget cuma pakai handuk begini," gumam Tante Inet, namun matanya sama sekali tidak berpaling. Piring kue itu diletakkannya sembarangan di atas meja belajar.

"Tante... Rio baru mau mandi. Nggak enak kalau ada orang lihat Tante di kamar Rio malam-malam begini," ucap Satrio, mencoba melakukan taktik jual mahal yang justru membuat Tante Inet semakin gemas.

Tante Inet mendekat, napasnya mulai memburu. Keberaniannya muncul berkali-kali lipat karena pengaruh mistis dari liontin itu. "Tante nggak butuh uang kosmu malam ini, Rio. Tante cuma butuh... kamu temenin Tante sebentar."

Tangan Tante Inet yang dingin mulai meraba pundak Satrio, perlahan turun menuju ikatan handuk di pinggangnya. Satrio mematung, merasakan debaran jantung yang makin kencang. Ia teringat ucapannya tadi: Kalau dia yang masuk ke kamarku, itu bukan salahku.

"Tante yakin?" bisik Satrio dengan suara berat yang penuh godaan.

Tante Inet tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik Satrio lebih dekat, membiarkan daster satinnya bergesekan dengan kulit Satrio yang panas. Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi Satrio, kini berubah menjadi saat menegangkan kedua malam itu yang tak terduga setelah bersama Selina, kini dengan sang pemilik kos.

Satrio bersandar di pinggiran lemari pakaiannya, melipat tangan di dada sehingga otot lengannya terpampang jelas di bawah cahaya lampu kamar yang kekuningan. Ia mencoba tetap tenang, meski ia tahu liontin giok di lehernya sedang bekerja sangat keras memompa keberanian dan daya pikatnya.

Tante Inet melangkah mendekat, aroma parfum floral dari tubuhnya yang sedikit berisi itu tercium sangat kuat. Ia menatap Satrio dari ujung kaki hingga ke dada, tepat di mana batu giok itu menggantung. Matanya seolah terkunci pada aura mistis yang memancar dari sana.

"Jangan jual mahal dong, Rio... Tante tahu kamu lagi kesulitan uang," bisik Tante Inet sambil menyentuh ujung handuk Satrio dengan jarinya yang gemetar. "Uang kos bulan ini Tante gratiskan. Anggap saja bonus karena kamu sudah jadi penghuni yang baik."

Satrio menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura terkejut. "Gratis, Tante? Serius?"

"Serius. Syaratnya cuma satu," Tante Inet mendongak, menatap mata Satrio dengan tatapan penuh permohonan dan gairah yang tak tertahankan. "Biarkan Tante lihat dan sentuh milikmu sebentar saja. Tante penasaran, apa sehebat penampakan badanmu yang sekarang."

Mendengar tawaran yang begitu menguntungkan, Satrio tidak bisa lagi menahan senyum kemenangannya. Ia teringat kembali pengalamannya dengan Selina sebelumnya, ternyata menjadi lelaki nakal itu sangat menyenangkan. Tanpa banyak bicara, Satrio perlahan melepaskan ikatan handuk di pinggangnya, membiarkan kain putih itu jatuh ke lantai.

Tante Inet terkesiap, tangannya refleks menutupi mulutnya sendiri. Matanya membelalak melihat milik Satrio yang sudah menegang sempurna, efek dari sisa gairah dengan Selina dalam khayalannya di dalam film yang belum tuntas sepenuhnya…

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 155

    Keributan hebat di lorong lantai lima antara Satrio dan Nikko siang itu tidak butuh waktu lama untuk menyebar. Isu mengenai dua pria petinggi sementara yang seolah-olah sedang memperebutkan Malika, si anak baru yang polos, langsung meledak menjadi buah bibir terhangat. Kabar angin itu berembus kencang, terutama di kalangan wanita-wanita berpengaruh di kantor pusat Shine Group yang selama ini selalu menaruh perhatian lebih pada setiap jengkal langkah kaki Satrio.Menjelang sore hari, suasana di dalam pantry utama lantai delapan tampak begitu tegang. Adirah, Selina, dan Maya sengaja berkumpul di sana. Mereka berdiri melingkari meja konter dapur dengan cangkir kopi dan teh di tangan masing-masing, menggunjingkan kejadian heboh yang baru saja mengguncang lantai lima.Adirah mengaduk teh hangatnya dengan gerakan yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada binar kepuasan yang samar di sepasang matanya yang sempat meredup kemarin. "Kalau menurutku, baguslah kalau Pak Nikko mulai melirik M

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 154

    Persaingan di lantai eksekutif Shine Group kini bergeser ke arah yang lebih sunyi namun jauh lebih mematikan. Nikko Prambudi bukan orang bodoh. Melalui jaringan desa-desus staf kantor dan pengamatannya sendiri, ia mulai mencium aroma kedekatan yang tidak biasa antara Satrio dan Malika, staf baru di divisi HRD. Bagi Nikko, Malika adalah umpan sekaligus titik lemah baru Satrio yang bisa ia manfaatkan. Nikko sudah bertekad bulat untuk menyingkirkan Satrio dari perusahaan, namun ia tahu diri setelah mendapat peringatan keras dari ibunya, Sisilia. Kali ini, ia harus bergerak dengan cara yang sangat halus, rapi, dan tidak terang-terangan.Strategi baru pun disusun. Nikko mulai ikut berpura-pura mendekati Malika di sela-sela jam kantor. Tentu saja, tindakan itu ia lakukan bukan karena ia menyukai gadis itu. Malika yang selalu tampil anggun, bersahaja, dan berpakaian tertutup sama sekali bukan tipe wanita kesukaan Nikko. Selera Nikko sejak dulu adalah wanita yang berpakaian seksi, berani,

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 153

    Tekanan di dalam ruang makan keluarga Malika semakin semakin berat, seolah-olah seluruh udara telah diisap habis dari udara. Liontin giok kuno yang melingkar di balik kemeja Satrio berguncang hebat, memancarkan hawa panas yang membakar kulit dadanya. Rasanya seperti ada sebongkah arang membara yang dipaksa menempel. Satrio mencengkeram pinggiran meja makan kayu, menahan erangan sakit agar tidak lolos dari tenggorokannya. Wajahnya yang semula segar kini berubah pucat pasi, dan sebutir keringat dingin berukuran besar mulai menetes dari pelipisnya."Satrio? Kamu tidak apa-apa, Nak?" suara istri profesor Wahyu terdengar bergaung di telinga Satrio, terdengar menjauh seiring dengan pandangannya yang mulai mengabur.Satrio mencoba menarik napas, namun paru-parunya terasa seperti dikunci. Energi dari sisa puasa Weton keluarga ini benar-benar menolak keras keberadaan energi pemikat yang bersemayam di tubuhnya. "Ma-maaf, Tante... Prof..." Satrio terbata-bata, suaranya parau dan bergetar. Ia

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 152

    Keesokan pagi, Satrio duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong, menghirup udara dalam-dalam. Namun, hasil yang didapatnya nihil. Aroma wangi mawar yang biasanya melekat erat di setiap sudut ruangan itu tidak pernah kembali lagi. Kamar itu kini hanya menyisakan bau debu dan kayu tua yang mati.Satrio terbangun dengan rasa hampa dan kehilangan yang luar biasa di dadanya. Sebuah lubang besar menganga di hatinya, menyisakan rasa perih yang tak kasat mata. Ia melirik ke luar jendela, menatap kunci mobil sport merahnya di atas meja. Meskipun saat ini ia sudah memiliki apartemen mewah, mobil mahal, jabatan mentereng, dan ribuan wanita kantor yang siap bertekuk lutut di bawah perintah dan pesonanya, Satrio tahu semua itu semu. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kejayaan mistis serta segala kemudahan yang ia nikmati selama ini tidak pernah lepas dari peran dan pengorbanan Putih. Tanpa dewi gaib itu, ia hanyalah pria biasa yang beruntung.Untuk menghapus rasa kesedihan yang terus mencengkeram

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 151

    Rasa takut yang luar biasa mencengkeram dada Satrio setelah mendengar ucapan Putih. Jantungnya berdegup kencang, menimbulkan sensasi ngilu yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, Satrio memajukan tubuhnya dan langsung merengkuh sosok wanita gaib di depannya ke dalam pelukan yang sangat erat."Tidak, Putih! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" seru Satrio, suaranya tercekat di tenggorokan, bergetar menahan gejolak emosi yang membuncah.Meskipun tubuh Putih terasa sedingin es, Satrio tetap mendekapnya dengan seluruh kehangatan yang ia miliki. Pada detik itu, Satrio menyadari satu kebenaran yang mendalam di dalam hatinya. Jauh di lubuk jiwanya, ia sudah sangat dekat dan selalu dahaga akan kelembutan serta belaian dari dewi gaib itu. Putih bukan sekadar penjaga baginya. Putih adalah satu-satunya sosok yang mengetahui seluruh rahasia, ambisi, ketakutan, dan setiap jengkal kelemahan terbesar seorang Satrio. Di depan para wanita, Satrio harus selalu tampil sempurna, kuat

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 150

    Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, namun Satrio memilih untuk tidak mengarahkan kendaraannya menuju rumah barunya yang megah dan nyaman. Pikirannya yang penat dan dipenuhi rasa bersalah setelah melihat perubahan drastis pada Adirah serta sikap menyengat dari Selina menuntun langkahnya kembali ke tempat lama. Kosan lamanya.Satrio memarkirkan mobilnya di bawah rindangnya pohon mangga di sudut halaman kos. Setelah mengunci pintu mobil, ia melangkah menyusuri lorong kosan yang remang-remang. Langkah kaki tegapnya terdengar bergema pelan di atas lantai tegel yang dingin. Begitu kunci pintu kamarnya berputar dan terbuka, Satrio langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur busa tanpa sempat mengganti kemeja kerjanya.Malam merambat semakin larut, melewati garis tengah malam hingga suasana menjadi sunyi senyap. Hanya ada suara jangkrik yang mengerik samar dari balik dinding luar.Satrio yang semula terpejam mendadak membuka kedua matanya. Indra perasanya yang tajam menangkap sesua

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 4

    Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 3

    Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem

  • Satrio Sang Penguasa Wanita    Bab 2

    Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 1

    Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status