Masuk
"Tolong siapkan mental dan dana, jika kondisi mendesak, Ibu harus segera menjalani operasi penanganan darurat. Kita tidak bisa menundanya lagi."
Pesan singkat dari Dokter William—dokter spesialis yang merawat Ibu—terasa seperti eksekusi mati bagiku.
Aku, Siena, gadis berusia dua puluh tiga tahun yang baru saja lulus dengan predikat summa cum laude, kini hanyalah seorang karyawan kontrak di perusahaan teknologi besar.
Gajiku terus dipotong bulan ini karena terlalu sering izin mendampingi Ibu cuci darah. Sejak sekolah, aku sudah terbiasa banting tulang karena hanya tinggal bersama Ibu dan dua adikku yang masih butuh biaya—satu di SMA dan satunya lagi masih SMP. Sementara Ayahku? Beliau hanyalah kuli bangunan yang hobinya menghabiskan uang untuk berjudi lalu menghilang tanpa tanggung jawab.
Selama ini kami bertahan dari jualan pecel pincuk Ibu dan berbagai pekerjaan sampinganku. Namun, gagal ginjal kronis yang diidap Ibu dalam satu tahun terakhir benar-benar menguras segalanya. BPJS memang menanggung biaya cuci darah harian, tetapi ongkos transportasi, obat luar, dan kini biaya operasi penanganan darurat... dari mana aku harus mendapatkan uang sebesar itu?
Malam makin larut. Tepat saat aku memandangi tumpukan berkas kantor yang kubawa pulang untuk dikerjakan, bayangan Ibu muncul di ambang pintu kamar.
“Kok belum tidur, Nduk? Istirahat yang cukup. Tubuh kamu itu kalau bukan buatan Tuhan pasti sudah rusak!”
Teguran lembut Ibu membuat jemariku berhenti bergerak di atas keyboard. Aku bangkit dari kursi dan langsung merengkuh tubuhnya erat-erat. Tubuh yang makin hari makin kurus dan ringkih. Aku tahu, setiap malam Ibu menahan sakit luar biasa, tetapi demi menjaga perasaan anak-anaknya, beliau selalu berpura-pura baik-baik saja.
Memeluknya begini, dadaku makin teriris mengingat pesan dokter tadi. "Maafin Siena, Bu… Siena belum bisa bahagiain Ibu..."
“Anak bodoh! Sudah, tidur sana!” ucap Ibu seraya mengusap kepalaku pelan, lalu berbalik meninggalkan kamar untuk mengecek kamar adik-adikku seperti biasanya.
Namun, baru saja aku kembali duduk dan hendak melanjutkan pekerjaan, teriakan histeris Tiara memecah kesunyian malam.
“Mbak… Ibu, Mbak! Cepat, Mbak!”
Jantungku serasa berhenti berdetak. Tanpa sempat memakai sandal, aku berlari kencang menuju kamar belakang. Di sana, Ibu sudah terbaring tak sadarkan diri di pangkuan Tiara yang menangis tersedu-sedu.
Dulu sewaktu kuliah, aku melakoni pekerjaan apa saja: buruh cuci, tukang setrika keliling, hingga membuka jasa ketik tugas demi satu harapan besar, yakni setelah lulus, aku bisa mengangkat derajat keluarga. Siapa sangka, di saat aku berhasil menembus perusahaan besar, kesehatan Ibu justru hancur berantakan.
Dada ini makin sesak tiap kali melirik Tiara. Di usianya yang masih sangat muda, dia terpaksa ikut banting tulang membantu tetangga demi mengumpulkan uang jajan sendiri. Kami miskin bukan karena kami malas, melainkan karena takdir terus menyudutkan kami tanpa memberi napas untuk bangkit.
Aku langsung panik, berlari ke luar rumah menerobos kegelapan malam, menggedor pintu rumah Pak RT dengan napas memburu. Beruntung, tetangga sekitar bergerak cepat membantu membopong tubuh kaku Ibu ke atas mobil bak terbuka milik warga. Selama perjalanan menerobos dinginnya angin malam, aku memangku kepala Ibu yang kian mendingin, terus merapalkan doa di antara rasa takut, sementara Tiara memeluk erat jemari Ibu yang tak berdaya.
Sesampainya di UGD, petugas medis langsung sigap mendorong brankar Ibu menerobos lorong rumah sakit yang riuh dan berbau antiseptik tajam. Begitu pintu ruang penanganan kritis tertutup rapat, dunia seolah mendadak hening.
Di luar ruangan yang serba dingin itu, benakku mendadak terlempar kembali pada pesan singkat Dokter William tadi, t
entang kemungkinan operasi dan kesiapan dana.
Aku menyandarkan kepala ke dinding rumah sakit yang dingin, merengkuh adikku dalam pelukan yang sama-sama rapuh.
"Tia… Mbak harus cari uang ke mana lagi?" rintihku pasrah, merengkuh tubuh adikku yang gemetar dalam pelukan yang sama-sama hancur.
Pikiranku benar-benar kacau, melayang ke batas antara hidup dan mati.
Apa aku biarkan saja Ibu pergi? Apa aku tega melihat beliau meninggal perlahan sambil menahan sakit luar biasa setiap hari? Tapi kalau Ibu harus dioperasi malam ini... aku harus cari ratusan juta ke mana?!
Setelah menenangkan Tiara dan memintanya menunggu di depan pintu UGD, aku berjalan linglung menuju lorong luar rumah sakit yang sepi.
Angin malam menerpa wajahku, tapi rasa dingin itu kalah dibanding kepala dan dadaku yang rasanya mau meledak. Tangan gemetarku meraih ponsel, lalu menekan nama Nina—satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara saat ini.
"Menurutmu di dunia ini ada yang seperti di dunia novel gak, Nin? Pria kaya yang mau membeli keperawanan dengan harga ratusan juta, atau bahkan satu miliar?" cerocosku melintasi saluran telepon, menyuarakan pikiran liar yang mendadak melintas di kepalaku.
Air mata yang sejak tadi menumpuk di pelupuk mata akhirnya meleleh, menetes perlahan menembus riasan tipis di pipiku.
“Ya ampun Sien, ada apa? Ibumu drop lagi? Kamu butuh uang berapa?” tanya Nina di seberang.
“Aku tidak tahu, Nin. Aku tidak tahu bisa jadi ratusan juta atau bahkan satu miliar…” jawabku dengan tangis meledak, air mataku sudah membasahi handphone yang ada di tanganku. Nina mendengarkanku dengan sabar.
"Kemarilah. Aku tidak mungkin harus mengajarimu step-by-step bahkan hanya untuk keluar dari kamar dan makan, kan?" tegurnya.Mungkin dia melihat kekakuanku yang terus berdiri ragu di dekat pintu. Saat ini aku hanya mengenakan jubah sutra warna cream tanpa sehelai benang pun di baliknya. Hanya pakaian itu yang disediakan di dalam lemari kamar mandi. Sementara di seberang sana, Pak Jeremy sudah duduk santai menggunakan jubah sutra serupa, namun berwarna hitam pekat.Aku melangkah mendekat perlahan. "Maaf, Pak. Saya hanya canggung... dan saya merasa...""Hm... tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada pura-pura sok tahu. Makan yang banyak, karena kamu akan butuh banyak tenaga malam ini," potongnya tenang.Mendengar kalimat ‘butuh banyak tenaga,’ jantungku mendadak berdegup kencang. Maksudnya apa? Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, mencoba menetralkan desiran aneh di dadaku sebelum akhirnya duduk di kursi seberangnya.Pak Jeremy menyodorkan sebuah piring padaku—daging steak di atasnya sudah
"Bilang ke sopir untuk mampir sebentar ke supermarket untuk membeli kondom yang kotak emas atau hitam, ambil yang ukuran XL."Pesan singkat dari Pak Jeremy itu masuk persis setelah aku selesai mampir ke rumah, menyerahkan sejumlah uang untuk kebutuhan adik-adikku, serta mencarikan tetangga terpercaya untuk menutupi keberadaanku. Pak Jeremy melarangku membawa baju maupun pakaian dalam dari rumah. Katanya, semua sudah disiapkan di apartemen. Aku hanya bisa menurut.Tapi pesan susulan ini... benar-benar membuat seluruh mukaku panas karena malu. Langkah kakiku terasa sangat berat saat memasuki pintu kaca minimarket yang berdenting halus. Beruntung, lorong minimarket saat itu sedang sepi. Namun, begitu mataku tertuju pada barisan kotak kecil di rak, jantungku berdegup dua kali lebih cepat.“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya salah seorang pramuniaga yang melihatku celingukan seperti orang bingung, aku menggeleng pelan. Kemudian tersenyum.Jari-jariku yang gemetar meraih satu kotak be
Perasaan bersalah dan asing akibat kejadian bersama Pak Jeremy masih terus membuntutiku sampai aku tiba di rumah sakit. Namun, fokusku langsung teralih begitu melihat Dokter William berjalan tergesa menemuiku di depan koridor UGD dengan wajah cerah. "Mbak Siena... apa yang saya bilang? Yakini apa yang kamu imani. Ada orang baik yang mendonasikan dana untuk operasi Ibumu, dan itu membuat pihak rumah sakit bergerak cepat mendapatkan donor ginjal yang cocok," ucap Dokter William dengan senyum lega.Aku berdiri terpaku di tempatku. Rasa tercengang yang luar biasa menahan napas di tenggorokanku sebelum akhirnya air mataku meleleh deras. Dokter William berpikir ini adalah buah dari iman dan keajaiban doa. Namun di dalam hati, aku bertanya-tanya dengan getir... apakah Pak Jeremy adalah jawaban dari sebagian doa-doaku itu? Atau justru jalan dosa yang sengaja kuambil demi bertahan hidup?"Kamu anak baik dan pekerja keras, Siena. Tuhan selalu memberikan jalan untuk anak sebaik kamu," lanjutny
Kumingkan sedikit kepalaku, lalu menjulurkan lidahku dan memasukkannyake dalam mulut pria itu, mencoba meniru setiap gerakan dominan yangditunjukkannya tadi.Dengan keberanian terakhir yang kupunya, aku merengkuh tengkuk PakJeremy dengan kedua tangan yang gemetar. Kumingkan sedikit kepalaku, lalumenjulurkan lidahku dan memasukkannya ke dalam mulut pria itu. Aku mencobameniru setiap gerakan dominan yang baru saja ditunjukkannya.Balasan spontanku rupanya seperti menyulut api di dalam dada pria itu.Pak Jeremy mengerang rendah di dalam tenggorokannya. Gerakannya mendadakberubah brutal. Dia menyambar lidahku, melumatnya lebih dalam dan makinmenuntut. Pagutan panas itu terasa begitu agresif hingga membuat kepalakupening dan seluruh pasokan oksigen di paru-paruku terkuras habis.Bukannya melepaskanku seperti yang dia janjikan, sentuhan Pak Jeremy dibalik dalamanku justru makin berani dan memabukkan. Usapan jarinya di titiksensitifku kini bergerak makin cepat, ritmis, dan menekan
"Aku ingin kamu memberikan pelayanan pertamamu hari ini. Anggap saja... perkenalan singkat sebelum kamu terbiasa," jawabnya santai.Namun aku tetap bergeming di tempatku, duduk kaku di kursi seberang mejanya."Ke sinilah, mendekat," perintahnya lagi.Aku berdiri dengan ragu-ragu, melangkah pelan memutari meja. Dinginnya pendingin udara di ruangan ini rasanya makin menusuk hingga ke tulang, membuat persendianku melemas. Padahal aku hanya berjalan mendekat, belum melakukan apa pun."Kamu gugup?" tanya Pak Jeremy melihat langkahku yang tertahan.Aku mengangguk jujur."Duduk di sini," ucapnya tegas, lalu menepuk salah satu paha kekalnya.Dadaku berdesir hebat. ‘Tuhan... apakah ini benar? Masuk akalkah aku harus duduk di pangkuan bosku sendiri?’"Gemetar?" tanya Pak Jeremy.Suara beratnya terdengar begitu dekat di telingaku saat tangan besarnya mulai bermain di atas pahaku. Ketika telapak tangannya merayap makin naik melintasi kain rok kerja yang kukenakan, aku mendadak merasa seperti lup
"Kamu butuh waktu untuk berpikir?" tanyanya lagi ketikamelihatku bungkam. Aku mengangguk cepat. Pak Jeremy tersenyum tipis melihatresponsku. Pria matang dengan jejak janggut tipis di sepanjang rahang tegasnyaini memang terlihat sangat tampan secara visual. Garis wajahnya keras, maskulin, dan punya kharisma yang sulit diabaikan.Secara fisik, tidak ada alasan untuk menolaknya. Aku menyukai pria yang tampandan matang, tapi... bukankah dia terlalu matang untukku? Sial, kepalaku rasanyamau pecah.“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?” tanya Pak Jeremy tenang. Beliaumenyesap kopinya santai, kontras dengan dadaku yang rasanya mau meledak.“Sa-satu minggu, Pak...” bisikku pasrah.Pak Jeremy tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat bulukudukku berdiri. “Satu minggu? Kamu tahu betul kamu tidak akan punya uangsebanyak itu bahkan dalam satu tahun, Siena.”Pasi. Seluruh darah di tubuhku serasa menyusut. Kata-katanya menembustepat di titik terlemahku.“Saya tidak suka mengu







