Share

Satu Kali Lagi, Boss!
Satu Kali Lagi, Boss!
Author: BlackDiamond

01: Putus Asa

Author: BlackDiamond
last update publish date: 2026-08-03 09:06:05

"Tolong siapkan mental dan dana, jika kondisi mendesak, Ibu harus segera menjalani operasi penanganan darurat. Kita tidak bisa menundanya lagi."

Pesan singkat dari Dokter William—dokter spesialis yang merawat Ibu—terasa seperti eksekusi mati bagiku.

Aku, Siena, gadis berusia dua puluh tiga tahun yang baru saja lulus dengan predikat summa cum laude, kini hanyalah seorang karyawan kontrak di perusahaan teknologi besar. 

Gajiku terus dipotong bulan ini karena terlalu sering izin mendampingi Ibu cuci darah. Sejak sekolah, aku sudah terbiasa banting tulang karena hanya tinggal bersama Ibu dan dua adikku yang masih butuh biaya—satu di SMA dan satunya lagi masih SMP. Sementara Ayahku? Beliau hanyalah kuli bangunan yang hobinya menghabiskan uang untuk berjudi lalu menghilang tanpa tanggung jawab.

Selama ini kami bertahan dari jualan pecel pincuk Ibu dan berbagai pekerjaan sampinganku. Namun, gagal ginjal kronis yang diidap Ibu dalam satu tahun terakhir benar-benar menguras segalanya. BPJS memang menanggung biaya cuci darah harian, tetapi ongkos transportasi, obat luar, dan kini biaya operasi penanganan darurat... dari mana aku harus mendapatkan uang sebesar itu?

Malam makin larut. Tepat saat aku memandangi tumpukan berkas kantor yang kubawa pulang untuk dikerjakan, bayangan Ibu muncul di ambang pintu kamar.

“Kok belum tidur, Nduk? Istirahat yang cukup. Tubuh kamu itu kalau bukan buatan Tuhan pasti sudah rusak!”

Teguran lembut Ibu membuat jemariku berhenti bergerak di atas keyboard. Aku bangkit dari kursi dan langsung merengkuh tubuhnya erat-erat. Tubuh yang makin hari makin kurus dan ringkih. Aku tahu, setiap malam Ibu menahan sakit luar biasa, tetapi demi menjaga perasaan anak-anaknya, beliau selalu berpura-pura baik-baik saja.

Memeluknya begini, dadaku makin teriris mengingat pesan dokter tadi. "Maafin Siena, Bu… Siena belum bisa bahagiain Ibu..."

“Anak bodoh! Sudah, tidur sana!” ucap Ibu seraya mengusap kepalaku pelan, lalu berbalik meninggalkan kamar untuk mengecek kamar adik-adikku seperti biasanya.

Namun, baru saja aku kembali duduk dan hendak melanjutkan pekerjaan, teriakan histeris Tiara memecah kesunyian malam.

“Mbak… Ibu, Mbak! Cepat, Mbak!”

Jantungku serasa berhenti berdetak. Tanpa sempat memakai sandal, aku berlari kencang menuju kamar belakang. Di sana, Ibu sudah terbaring tak sadarkan diri di pangkuan Tiara yang menangis tersedu-sedu.

Dulu sewaktu kuliah, aku melakoni pekerjaan apa saja: buruh cuci, tukang setrika keliling, hingga membuka jasa ketik tugas demi satu harapan besar, yakni setelah lulus, aku bisa mengangkat derajat keluarga. Siapa sangka, di saat aku berhasil menembus perusahaan besar, kesehatan Ibu justru hancur berantakan.

Dada ini makin sesak tiap kali melirik Tiara. Di usianya yang masih sangat muda, dia terpaksa ikut banting tulang membantu tetangga demi mengumpulkan uang jajan sendiri. Kami miskin bukan karena kami malas, melainkan karena takdir terus menyudutkan kami tanpa memberi napas untuk bangkit.

Aku langsung panik, berlari ke luar rumah menerobos kegelapan malam, menggedor pintu rumah Pak RT dengan napas memburu. Beruntung, tetangga sekitar bergerak cepat membantu membopong tubuh kaku Ibu ke atas mobil bak terbuka milik warga. Selama perjalanan menerobos dinginnya angin malam, aku memangku kepala Ibu yang kian mendingin, terus merapalkan doa di antara rasa takut, sementara Tiara memeluk erat jemari Ibu yang tak berdaya.

Sesampainya di UGD, petugas medis langsung sigap mendorong brankar Ibu menerobos lorong rumah sakit yang riuh dan berbau antiseptik tajam. Begitu pintu ruang penanganan kritis tertutup rapat, dunia seolah mendadak hening.

Di luar ruangan yang serba dingin itu, benakku mendadak terlempar kembali pada pesan singkat Dokter William tadi, t

entang kemungkinan operasi dan kesiapan dana.

Aku menyandarkan kepala ke dinding rumah sakit yang dingin, merengkuh adikku dalam pelukan yang sama-sama rapuh.

"Tia… Mbak harus cari uang ke mana lagi?" rintihku pasrah, merengkuh tubuh adikku yang gemetar dalam pelukan yang sama-sama hancur.

Pikiranku benar-benar kacau, melayang ke batas antara hidup dan mati.

Apa aku biarkan saja Ibu pergi? Apa aku tega melihat beliau meninggal perlahan sambil menahan sakit luar biasa setiap hari? Tapi kalau Ibu harus dioperasi malam ini... aku harus cari ratusan juta ke mana?!

Setelah menenangkan Tiara dan memintanya menunggu di depan pintu UGD, aku berjalan linglung menuju lorong luar rumah sakit yang sepi.

Angin malam menerpa wajahku, tapi rasa dingin itu kalah dibanding kepala dan dadaku yang rasanya mau meledak. Tangan gemetarku meraih ponsel, lalu menekan nama Nina—satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara saat ini.

"Menurutmu di dunia ini ada yang seperti di dunia novel gak, Nin? Pria kaya yang mau membeli keperawanan dengan harga ratusan juta, atau bahkan satu miliar?" cerocosku melintasi saluran telepon, menyuarakan pikiran liar yang mendadak melintas di kepalaku.

Air mata yang sejak tadi menumpuk di pelupuk mata akhirnya meleleh, menetes perlahan menembus riasan tipis di pipiku.

“Ya ampun Sien, ada apa? Ibumu drop lagi? Kamu butuh uang berapa?” tanya Nina di seberang.

“Aku tidak tahu, Nin. Aku tidak tahu bisa jadi ratusan juta atau bahkan satu miliar…” jawabku dengan tangis meledak, air mataku sudah membasahi handphone yang ada di tanganku. Nina mendengarkanku dengan sabar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Boss!   117: Giliran Dia Cemburu!

    “Bu Valerie, mohon maaf…meskipun Anda Investor di perusahaan ini, Anda tidak bisa berlaku kasar, khususnya kepada pimpinan kami” ucap Rama mencekal pergelangan tangan Bu Valerie.“Di sini kami ada kamera CCTV jadi, saya mohon kerjasamanya” tambah Rama tegas.Aku bernapas legah melihat tatapan Bu Valerie yang meredah.“Kalau ibu ada yang ingin dibicarakan dengan saya, mari…kita bicara!” ucapku akhirnya.Bu Valerie diam sebentar, kemudian bicara “Kalau kamu punya harga diri, tinggalkan Jeremy!” ucapnya mengancam, kemudian ia memiringkan kepalanya berbisik di telingaku “Gugurkan bayi itu!”Mataku membulat, tanganku mengepal keras. Rumor beredar sangat cepat.“Sepertinya Bu Valerie sangat tertarik dengan kehidupan pribadi saya ketimbang proyeknya sendiri. Kalau tidak ada yang penting, saya pamit dulu. Rama..tolong antar Bu Valerie.Aku berjalan meninggalkan Bu Valerie dengan tenang.Hari itu berjalan sangat lambat. Aku yang tadinya ingin singgah ke apotek dan membeli test pack pun urung.

  • Satu Kali Lagi, Boss!   116: Hamil

    Tidak ada jawaban dari pertanyaanku, karen Pak Jeremy langsung menutup panggilan. Artinya, aku memang harus ke rumah sakit sesuai perintahnya.“Maaf, apa ada masalah besar?” tanya Rama yang tadinya kupikir konsentrasi mengemudi, ternyata dia mencuri dengar. Aku menarik napas panjang.“Nggak ada, kok! Kembali ke kantor ya..aku ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan. Nanti, bantu aku untuk menelpon vendor untuk kepastian dan juga negosiasi harga” perintahku.Rama mengangguk, aku lihat dari kaca spion dia tersenyum.Aku sandarkan kepalaku ke jendela mobil, aku tersenyum tipis. Kalau seandainya hamil ya sudah gugurkan saja, batinku. Namun, mendengar pikiranku sendiri mengatakan tentang ‘gugurkan’ hatiku terasa dicubit dan sakit! Apa bedanya aku dengan mendiam Bapak yang kejam dan menyiksa kami kalau aku dengan sengaja membunuh anakku sendiri? Anak ini tidak berdosa, kami melakukannya juga dalam keadaan sadar. Sebagai orang dewasa seharusnya aku bisa mempertanggung jawabkan perbua

  • Satu Kali Lagi, Boss!   115: Gugurkan!

    “Kamu hamil anak putra saya? Gugurkan!”Kalimat itu langsung menampar kesadaranku, bahkan terasa lebih menyiksa dibanding rasa mual yang baru saja mengocok perutku. Aku berdiri kaku di depan wastafel, jemariku masih mencengkeram tisu basah dengan wajah pucat dan bibir yang gemetar. Bu Amanda menatapku tajam—bukan lagi sekadar curiga, tapi sudah benar-benar memvonisku bersalah. Aku mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mencerna apa yang baru saja ia katakan.“Bu Amanda… saya tidak hamil,” suaraku keluar bergetar. “Saya hanya salah makan.”Jantungku berdetak begitu kencang. Hamil. Kata itu berputar-putar di kepala seperti lonceng peringatan. Tidak pernah ada dalam skenario hidupku. Tidak boleh terjadi. Aku bahkan belum siap memikirkan kemungkinan itu.Bu Amanda melangkah mendekat. Parfum mahalnya menusuk hidung yang masih sensitif. Ia menatap wajahku dari jarak dekat, seolah ingin membaca kebohongan di balik setiap kedipan mata.“Saya anter kamu ke dokter,” tegasnya dengan nada yang

  • Satu Kali Lagi, Boss!   114: Kamu Hamil

    “Biar saya berangkat dengan taksi, kita nggak searah” ucapku berdiri duluan. Pak Jeremy menarik lenganku saat melewatinya hingga aku jatuh ke pangkuannya.“Ada apa?” dia bertanya sembari mengunci tanganku hingga aku tidak dapat bergerak, aku berusaha meronta.“Pak..lepas…” pintaku.“Nggak! Sampai kamu mengatakan ada apa? Tiba-tiba saja ngambek! Lupa tadi malam kamu memohon-mohon di bawahku!” Pipiku menggelembung, menatap kesal Pak Jeremy.“Siapa perempuan itu?” tanyaku.Alis Pak Jeremy bertaut, tatapannya penuh tanda tanya “Perempuan? Perempuan siapa? Kamu cemburu?” “Nggak! Saya nggak punya hak cemburu!” “Oooh..tidak cemburu?”Pak Jeremy terkekeh, ia mencubit hidungku gemas. “Udah tahu cemburu begitu masih mengelak. Tidak ada perempuan lain. Hanya Monika—dan kamu!”Aku melengos “Bohong!” gumamku.Pak Jeremy mengeratkan cengkramannya hingga aku susah bergerak “Untuk apa bohong?”Aku masih menggembungkan pipiku, hm…cemburu ini nggak bisa aku sembunyikan “Terus siapa perempuan yang di

  • Satu Kali Lagi, Boss!   113: Reputasi

    “Mama, apa selama ini aku pernah membuat reputasi keluarga kita rusak?”Bu Amanda diam. Ia tidak langsung menjawab. Matanya hanya melirikku dengan tajam dari seberang meja, seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku layak berada di ruangan yang sama dengannya. Aku tetap duduk tegak, tangan di pangkuan, wajah ku usahakan netral dan tenang.“Mama sebagai orang tua hanya mengingatkan,” ucap Bu Amanda akhirnya, suaranya tenang namun penuh tekanan. “Meskipun kamu sudah bukan anak kecil lagi… namanya orang tua tidak ingin anaknya salah jalan!”Pak Jeremy meletakkan serbet linen berwarna putih tulang itu di atas meja dengan gerakan yang sangat terkontrol. “Aku mengerti. Terima kasih, Mama sudah perhatian.”Bu Amanda tidak langsung menerima jawaban itu. Ia menyesap tehnya pelan, lalu menaruh cangkir dengan dentingan halus yang terdengar sangat keras.“Kamu perlu hati-hati saja. Wanita muda, cantik, dekat-dekat denganmu…ingat usia!”“Mama, kan aku sudah bilang dia ini kompeten,” sahut Pak Jere

  • Satu Kali Lagi, Boss!   112: Panik

    "Sebentar saja!"Dua kata itu diiringi dengan pelukan erat Pak Jeremy di pinggangku, menarik tubuhku kembali ke dalam dekapan hangatnya semalam. Dan ya... berawal dari dua kata itu, kesadaranku melayang kembali hingga aku terbangun saat mendengar gedoran kencang dari luar.Suara Chloe!"Papa... Papa tidak kerja? Omah minta Chloe bangunin Papa, ini sudah jam tujuh!"Aku mendadak membuka mata. Panik! Sial, aku kesiangan!Aku buru-buru mendorong dada bidang Pak Jeremy, hendak melompat keluar dari ranjang. Namun, aku langsung sadar kalau aku masih benar-benar telanjang di balik selimut tebal, langkahku langsung tertahan."Pak..." bisikku setengah panik seraya mengguncang bahu Pak Jeremy. "Pak Jeremy, bangun!"Pak Jeremy membuka matanya perlahan. Bukannya terkejut atau melompat bangun, pria itu justru tersenyum tipis dan menarik napas dalam-dalam, mengulet santai."Ssst... Jangan panik," bisiknya dengan suara serak khas bangun tidur. "Aku tidak pernah tidur senyenyak ini selama di rumah."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status