INICIAR SESIÓN“Aku ada sepuluh juta. Maaf ya, Siena… Mama ambil ATM-ku,” ucap Nina lirih.
"Nin..., aku menelponmu bukan untuk minta kamu bantu aku lagi. Utangku padamu sudah terlalu banyak. Aku cuma mau cerita, karena aku sudah tidak sanggup menanggung beban ini sendirian."
Isak tangisku akhirnya pecah. Aku sadar betul tidak bisa terus-menerus bergantung pada Nina. Aku tahu, orang tuanya sudah mulai melarang Nina bergaul denganku karena menganggapku seperti lintah darat yang hanya memanfaatkan kebaikan anak mereka.
Padahal Nina adalah sahabat paling tulus yang kupunya. Aku tidak mau merusak persahabatan ini hanya karena terus-terusan menjadi beban.
"Terima kasih ya, Nin... Sepuluh juta itu besar banget, tapi aku tidak bisa terima," bisikku berusaha menghapus sisa air mata di pipi. "Kamu simpan saja uang itu. Terima kasih sudah mau mendengarkan cerita aku malam-malam begini seperti biasanya."
Di seberang telepon, Nina sempat hendak memprotes, namun suaranya perlahan tersapu kebisingan langkah kaki yang mendekat dari arah koridor UGD. Dari balik bayangan lampu taman, aku melihat figur Dokter William berjas putih berjalan cepat ke arahku.
"Aku tutup dulu ya, Nin. Sepertinya Dokter William datang," ucapku menutup panggilan saat melihat bayangan Dokter William.
"Mbak Siena, Ibunya harus segera dioperasi. Fungsi ginjalnya menurun drastis," ucap Dr. William, dokter spesialis yang menangani Ibu.
Mendengar kata-kata itu, bayangan buruk langsung memenuhi kepalaku. Fungsi ginjal menurun drastis... artinya organ vital Ibuku perlahan berhenti bekerja. Apakah itu berarti usia Ibu tidak akan lama lagi?
"Masih ada jalan lain, Dokter?" tanyaku menahan napas.
"Efek racunnya sudah mulai menyerang saraf otak. Kita tidak bisa lagi bertahan hanya dengan cuci darah tiga kali seminggu. Ibumu butuh transplantasi ginjal darurat."
“Be-berapa perkiraan biaya yang dibutuhkan, Dok?” tanyaku dengan penuh harap. Berharap biayanya tak sebanyak seperti yang pernah aku dengarkan jadi mungkin aku bisa mengupayakan uang itu dengan menjual rumah tua kami atau… entahlah!
"Untuk paket operasi utama resipien dan pendonor, sewa ruang isolasi khusus steril, hingga seluruh biaya perawatan intensif pascabedah, totalnya berada di kisaran 750 juta sampai 1,1 miliar rupiah," jawab dokter tanpa tedeng aling-aling.
"Dan karena kondisi ibumu sudah sangat kritis, kita terpaksa menggunakan jalur bypass khusus agar dokumen persetujuan organ dan tim bedah bisa langsung disiapkan tanpa antre."
Dokter William menepuk bahuku halus. "Tapi jalur bypass rumah sakit swasta ini punya syarat mutlak. Manajemen mewajibkan uang muka sebesar lima puluh persen—minimal 425 juta rupiah tunai—harus masuk ke kasir sebelum jadwal operasi darurat ini dikunci."
Mendengar angka mustahil itu aku tersenyum. Air mataku sudah tidak dapat aku bendung, aku bisa merasakan asin air mataku.
“Semua itu uang….” gumamku lirih dan hampir tidak terdengar.
Apakah kali ini aku harus menyerah saja pada nasib? Membiarkan Ibu meninggal secara perlahan karena ketidakmampuanku? Jika aku menyerah, apakah aku termasuk anak yang kejam? Tanpa sadar, kedua tanganku meremas rambutku sendiri, frustrasi.
Dr. William, pria berusia lima puluhan itu, menepuk bahuku pelan. Beliau sudah sangat familiar dengan keluarga kami karena jadwal cuci darah Ibu yang rutin seminggu sekali.
Malam panjang itu berlalu seperti mimpi buruk di bangku ruang tunggu UGD. Begitu fajar menyingsing dan petugas mengganti shift jaga, aku menghampiri Tiara yang tertidur lelap menyandarkan kepala di bahuku. Kuusap bahunya pelan, lalu menyelipkan sisa lembaran uang tunai terakhir dari dalam tas ke genggaman tangannya.
"Buat pegangan kamu dan bayar angkot pulang, ya. Mbak berangkat dulu."
Aku mengendarai motor matic bututku membelah jalanan kota yang mulai padat. Angin pagi menampar wajahku, tetapi kepalaku terasa begitu berat. Bayangan wajah Ibu yang pucat, tagihan rumah sakit yang kian melambung, serta tumpukan pekerjaan kantor berputar-putar tanpa henti di benakku.
Pikiranku melayang jauh, menerka-nerka dari mana aku bisa mendapatkan uang puluhan hingga ratusan juta dalam waktu singkat. Tatapanku kosong menatap aspal di depan.
Ckiiiiiik!
Suara derit rem membendung ruang dengarku, dilanjutkan benturan keras yang menggoncang tubuhku.
BRAAK!
Motor tua milikku menghantam bagian belakang sebuah mobil sedan mewah yang mendadak melambat di depan persimpangan. Benturan itu begitu keras hingga tubuhku terlempar kecil dan motor jatuh menyamping menimpa kakiku.
Pintu mobil mewah itu terbuka, dan seorang pria berjas rapi melangkah keluar dengan raut wajah dingin.
Tamat sudah. Hidupku benar-benar tamat hari ini.
“Mbak… kamu tidak apa-apa?”
Sebuah suara pria menyentak kesadaranku dari aspal yang dingin. Aku mendongak pasrah, mendapati seorang pria berjas rapi berlutut di dekatku dengan wajah cemas. Pria ini… seperti pernah kulihat, tapi kepalaku terlalu pening untuk mengingat di mana.
“Dia baik-baik saja, Yud?”
Suara berat yang mendekat dari arah belakang pria itu terdengar sangat intimidatif. Sosok pria jangkung dengan brewok tipis melangkah penuh percaya diri. Penampilannya teramat rapi, ditunjang sorot mata tajam yang dingin.
Ketampanan dan kharismanya tak sanggup menyembunyikan impresi horor yang mendadak mencengkeram dadaku.
“Sepertinya hanya lecet-lecet, Pak,” jawab pria yang dipanggil Yud itu seraya membantuku berdiri.
Pria brewok itu mengambil satu langkah lebih dekat. “Kamu tidak apa-apa?”
“Sa-saya baik… Ma-maafkan saya. Lain kali saya akan lebih hati-hati. Maaf Pak, saya buru-buru karena takut terlambat kerja,” ucapku terbata-bata.
Dia tak menyahut sepatah kata pun. Pandangannya berganti memindai kondisi bagian belakang mobil sedan mewahnya yang tampak mengkilap. “Kamu harus membayar ganti rugi.”
“Bu Valerie, mohon maaf…meskipun Anda Investor di perusahaan ini, Anda tidak bisa berlaku kasar, khususnya kepada pimpinan kami” ucap Rama mencekal pergelangan tangan Bu Valerie.“Di sini kami ada kamera CCTV jadi, saya mohon kerjasamanya” tambah Rama tegas.Aku bernapas legah melihat tatapan Bu Valerie yang meredah.“Kalau ibu ada yang ingin dibicarakan dengan saya, mari…kita bicara!” ucapku akhirnya.Bu Valerie diam sebentar, kemudian bicara “Kalau kamu punya harga diri, tinggalkan Jeremy!” ucapnya mengancam, kemudian ia memiringkan kepalanya berbisik di telingaku “Gugurkan bayi itu!”Mataku membulat, tanganku mengepal keras. Rumor beredar sangat cepat.“Sepertinya Bu Valerie sangat tertarik dengan kehidupan pribadi saya ketimbang proyeknya sendiri. Kalau tidak ada yang penting, saya pamit dulu. Rama..tolong antar Bu Valerie.Aku berjalan meninggalkan Bu Valerie dengan tenang.Hari itu berjalan sangat lambat. Aku yang tadinya ingin singgah ke apotek dan membeli test pack pun urung.
Tidak ada jawaban dari pertanyaanku, karen Pak Jeremy langsung menutup panggilan. Artinya, aku memang harus ke rumah sakit sesuai perintahnya.“Maaf, apa ada masalah besar?” tanya Rama yang tadinya kupikir konsentrasi mengemudi, ternyata dia mencuri dengar. Aku menarik napas panjang.“Nggak ada, kok! Kembali ke kantor ya..aku ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan. Nanti, bantu aku untuk menelpon vendor untuk kepastian dan juga negosiasi harga” perintahku.Rama mengangguk, aku lihat dari kaca spion dia tersenyum.Aku sandarkan kepalaku ke jendela mobil, aku tersenyum tipis. Kalau seandainya hamil ya sudah gugurkan saja, batinku. Namun, mendengar pikiranku sendiri mengatakan tentang ‘gugurkan’ hatiku terasa dicubit dan sakit! Apa bedanya aku dengan mendiam Bapak yang kejam dan menyiksa kami kalau aku dengan sengaja membunuh anakku sendiri? Anak ini tidak berdosa, kami melakukannya juga dalam keadaan sadar. Sebagai orang dewasa seharusnya aku bisa mempertanggung jawabkan perbua
“Kamu hamil anak putra saya? Gugurkan!”Kalimat itu langsung menampar kesadaranku, bahkan terasa lebih menyiksa dibanding rasa mual yang baru saja mengocok perutku. Aku berdiri kaku di depan wastafel, jemariku masih mencengkeram tisu basah dengan wajah pucat dan bibir yang gemetar. Bu Amanda menatapku tajam—bukan lagi sekadar curiga, tapi sudah benar-benar memvonisku bersalah. Aku mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mencerna apa yang baru saja ia katakan.“Bu Amanda… saya tidak hamil,” suaraku keluar bergetar. “Saya hanya salah makan.”Jantungku berdetak begitu kencang. Hamil. Kata itu berputar-putar di kepala seperti lonceng peringatan. Tidak pernah ada dalam skenario hidupku. Tidak boleh terjadi. Aku bahkan belum siap memikirkan kemungkinan itu.Bu Amanda melangkah mendekat. Parfum mahalnya menusuk hidung yang masih sensitif. Ia menatap wajahku dari jarak dekat, seolah ingin membaca kebohongan di balik setiap kedipan mata.“Saya anter kamu ke dokter,” tegasnya dengan nada yang
“Biar saya berangkat dengan taksi, kita nggak searah” ucapku berdiri duluan. Pak Jeremy menarik lenganku saat melewatinya hingga aku jatuh ke pangkuannya.“Ada apa?” dia bertanya sembari mengunci tanganku hingga aku tidak dapat bergerak, aku berusaha meronta.“Pak..lepas…” pintaku.“Nggak! Sampai kamu mengatakan ada apa? Tiba-tiba saja ngambek! Lupa tadi malam kamu memohon-mohon di bawahku!” Pipiku menggelembung, menatap kesal Pak Jeremy.“Siapa perempuan itu?” tanyaku.Alis Pak Jeremy bertaut, tatapannya penuh tanda tanya “Perempuan? Perempuan siapa? Kamu cemburu?” “Nggak! Saya nggak punya hak cemburu!” “Oooh..tidak cemburu?”Pak Jeremy terkekeh, ia mencubit hidungku gemas. “Udah tahu cemburu begitu masih mengelak. Tidak ada perempuan lain. Hanya Monika—dan kamu!”Aku melengos “Bohong!” gumamku.Pak Jeremy mengeratkan cengkramannya hingga aku susah bergerak “Untuk apa bohong?”Aku masih menggembungkan pipiku, hm…cemburu ini nggak bisa aku sembunyikan “Terus siapa perempuan yang di
“Mama, apa selama ini aku pernah membuat reputasi keluarga kita rusak?”Bu Amanda diam. Ia tidak langsung menjawab. Matanya hanya melirikku dengan tajam dari seberang meja, seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku layak berada di ruangan yang sama dengannya. Aku tetap duduk tegak, tangan di pangkuan, wajah ku usahakan netral dan tenang.“Mama sebagai orang tua hanya mengingatkan,” ucap Bu Amanda akhirnya, suaranya tenang namun penuh tekanan. “Meskipun kamu sudah bukan anak kecil lagi… namanya orang tua tidak ingin anaknya salah jalan!”Pak Jeremy meletakkan serbet linen berwarna putih tulang itu di atas meja dengan gerakan yang sangat terkontrol. “Aku mengerti. Terima kasih, Mama sudah perhatian.”Bu Amanda tidak langsung menerima jawaban itu. Ia menyesap tehnya pelan, lalu menaruh cangkir dengan dentingan halus yang terdengar sangat keras.“Kamu perlu hati-hati saja. Wanita muda, cantik, dekat-dekat denganmu…ingat usia!”“Mama, kan aku sudah bilang dia ini kompeten,” sahut Pak Jere
"Sebentar saja!"Dua kata itu diiringi dengan pelukan erat Pak Jeremy di pinggangku, menarik tubuhku kembali ke dalam dekapan hangatnya semalam. Dan ya... berawal dari dua kata itu, kesadaranku melayang kembali hingga aku terbangun saat mendengar gedoran kencang dari luar.Suara Chloe!"Papa... Papa tidak kerja? Omah minta Chloe bangunin Papa, ini sudah jam tujuh!"Aku mendadak membuka mata. Panik! Sial, aku kesiangan!Aku buru-buru mendorong dada bidang Pak Jeremy, hendak melompat keluar dari ranjang. Namun, aku langsung sadar kalau aku masih benar-benar telanjang di balik selimut tebal, langkahku langsung tertahan."Pak..." bisikku setengah panik seraya mengguncang bahu Pak Jeremy. "Pak Jeremy, bangun!"Pak Jeremy membuka matanya perlahan. Bukannya terkejut atau melompat bangun, pria itu justru tersenyum tipis dan menarik napas dalam-dalam, mengulet santai."Ssst... Jangan panik," bisiknya dengan suara serak khas bangun tidur. "Aku tidak pernah tidur senyenyak ini selama di rumah."







