Share

02: Tamat Sudah

Penulis: BlackDiamond
last update Tanggal publikasi: 2026-08-03 09:06:31

“Aku ada sepuluh juta. Maaf ya, Siena… Mama ambil ATM-ku,” ucap Nina lirih.

"Nin..., aku menelponmu bukan untuk minta kamu bantu aku lagi. Utangku padamu sudah terlalu banyak. Aku cuma mau cerita, karena aku sudah tidak sanggup menanggung beban ini sendirian."

Isak tangisku akhirnya pecah. Aku sadar betul tidak bisa terus-menerus bergantung pada Nina. Aku tahu, orang tuanya sudah mulai melarang Nina bergaul denganku karena menganggapku seperti lintah darat yang hanya memanfaatkan kebaikan anak mereka.

Padahal Nina adalah sahabat paling tulus yang kupunya. Aku tidak mau merusak persahabatan ini hanya karena terus-terusan menjadi beban.

"Terima kasih ya, Nin... Sepuluh juta itu besar banget, tapi aku tidak bisa terima," bisikku berusaha menghapus sisa air mata di pipi. "Kamu simpan saja uang itu. Terima kasih sudah mau mendengarkan cerita aku malam-malam begini seperti biasanya."

Di seberang telepon, Nina sempat hendak memprotes, namun suaranya perlahan tersapu kebisingan langkah kaki yang mendekat dari arah koridor UGD. Dari balik bayangan lampu taman, aku melihat figur Dokter William berjas putih berjalan cepat ke arahku.

"Aku tutup dulu ya, Nin. Sepertinya Dokter William datang," ucapku menutup panggilan saat melihat bayangan Dokter William.

"Mbak Siena, Ibunya harus segera dioperasi. Fungsi ginjalnya menurun drastis," ucap Dr. William, dokter spesialis yang menangani Ibu.

Mendengar kata-kata itu, bayangan buruk langsung memenuhi kepalaku. Fungsi ginjal menurun drastis... artinya organ vital Ibuku perlahan berhenti bekerja. Apakah itu berarti usia Ibu tidak akan lama lagi?

"Masih ada jalan lain, Dokter?" tanyaku menahan napas.

"Efek racunnya sudah mulai menyerang saraf otak. Kita tidak bisa lagi bertahan hanya dengan cuci darah tiga kali seminggu. Ibumu butuh transplantasi ginjal darurat."

“Be-berapa perkiraan biaya yang dibutuhkan, Dok?” tanyaku dengan penuh harap. Berharap biayanya tak sebanyak seperti yang pernah aku dengarkan jadi mungkin aku bisa mengupayakan uang itu dengan menjual rumah tua kami atau… entahlah!

"Untuk paket operasi utama resipien dan pendonor, sewa ruang isolasi khusus steril, hingga seluruh biaya perawatan intensif pascabedah, totalnya berada di kisaran 750 juta sampai 1,1 miliar rupiah," jawab dokter tanpa tedeng aling-aling.

"Dan karena kondisi ibumu sudah sangat kritis, kita terpaksa menggunakan jalur bypass khusus agar dokumen persetujuan organ dan tim bedah bisa langsung disiapkan tanpa antre."

Dokter William menepuk bahuku halus. "Tapi jalur bypass rumah sakit swasta ini punya syarat mutlak. Manajemen mewajibkan uang muka sebesar lima puluh persen—minimal 425 juta rupiah tunai—harus masuk ke kasir sebelum jadwal operasi darurat ini dikunci."

Mendengar angka mustahil itu aku tersenyum. Air mataku sudah tidak dapat aku bendung, aku bisa merasakan asin air mataku.

“Semua itu uang….” gumamku lirih dan hampir tidak terdengar.

Apakah kali ini aku harus menyerah saja pada nasib? Membiarkan Ibu meninggal secara perlahan karena ketidakmampuanku? Jika aku menyerah, apakah aku termasuk anak yang kejam? Tanpa sadar, kedua tanganku meremas rambutku sendiri, frustrasi.

Dr. William, pria berusia lima puluhan itu, menepuk bahuku pelan. Beliau sudah sangat familiar dengan keluarga kami karena jadwal cuci darah Ibu yang rutin seminggu sekali.

Malam panjang itu berlalu seperti mimpi buruk di bangku ruang tunggu UGD. Begitu fajar menyingsing dan petugas mengganti shift jaga, aku menghampiri Tiara yang tertidur lelap menyandarkan kepala di bahuku. Kuusap bahunya pelan, lalu menyelipkan sisa lembaran uang tunai terakhir dari dalam tas ke genggaman tangannya.

"Buat pegangan kamu dan bayar angkot pulang, ya. Mbak berangkat dulu."

Aku mengendarai motor matic bututku membelah jalanan kota yang mulai padat. Angin pagi menampar wajahku, tetapi kepalaku terasa begitu berat. Bayangan wajah Ibu yang pucat, tagihan rumah sakit yang kian melambung, serta tumpukan pekerjaan kantor berputar-putar tanpa henti di benakku.

Pikiranku melayang jauh, menerka-nerka dari mana aku bisa mendapatkan uang puluhan hingga ratusan juta dalam waktu singkat. Tatapanku kosong menatap aspal di depan.

Ckiiiiiik!

Suara derit rem membendung ruang dengarku, dilanjutkan benturan keras yang menggoncang tubuhku.

BRAAK!

Motor tua milikku menghantam bagian belakang sebuah mobil sedan mewah yang mendadak melambat di depan persimpangan. Benturan itu begitu keras hingga tubuhku terlempar kecil dan motor jatuh menyamping menimpa kakiku.

Pintu mobil mewah itu terbuka, dan seorang pria berjas rapi melangkah keluar dengan raut wajah dingin.

Tamat sudah. Hidupku benar-benar tamat hari ini.

“Mbak… kamu tidak apa-apa?”

Sebuah suara pria menyentak kesadaranku dari aspal yang dingin. Aku mendongak pasrah, mendapati seorang pria berjas rapi berlutut di dekatku dengan wajah cemas. Pria ini… seperti pernah kulihat, tapi kepalaku terlalu pening untuk mengingat di mana.

“Dia baik-baik saja, Yud?”

Suara berat yang mendekat dari arah belakang pria itu terdengar sangat intimidatif. Sosok pria jangkung dengan brewok tipis melangkah penuh percaya diri. Penampilannya teramat rapi, ditunjang sorot mata tajam yang dingin.

Ketampanan dan kharismanya tak sanggup menyembunyikan impresi horor yang mendadak mencengkeram dadaku.

“Sepertinya hanya lecet-lecet, Pak,” jawab pria yang dipanggil Yud itu seraya membantuku berdiri.

Pria brewok itu mengambil satu langkah lebih dekat. “Kamu tidak apa-apa?”

“Sa-saya baik… Ma-maafkan saya. Lain kali saya akan lebih hati-hati. Maaf Pak, saya buru-buru karena takut terlambat kerja,” ucapku terbata-bata.

Dia tak menyahut sepatah kata pun. Pandangannya berganti memindai kondisi bagian belakang mobil sedan mewahnya yang tampak mengkilap. “Kamu harus membayar ganti rugi.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Kali Lagi, Boss!   10: Sentuhan yang Membakar

    "Kemarilah. Aku tidak mungkin harus mengajarimu step-by-step bahkan hanya untuk keluar dari kamar dan makan, kan?" tegurnya.Mungkin dia melihat kekakuanku yang terus berdiri ragu di dekat pintu. Saat ini aku hanya mengenakan jubah sutra warna cream tanpa sehelai benang pun di baliknya. Hanya pakaian itu yang disediakan di dalam lemari kamar mandi. Sementara di seberang sana, Pak Jeremy sudah duduk santai menggunakan jubah sutra serupa, namun berwarna hitam pekat.Aku melangkah mendekat perlahan. "Maaf, Pak. Saya hanya canggung... dan saya merasa...""Hm... tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada pura-pura sok tahu. Makan yang banyak, karena kamu akan butuh banyak tenaga malam ini," potongnya tenang.Mendengar kalimat ‘butuh banyak tenaga,’ jantungku mendadak berdegup kencang. Maksudnya apa? Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, mencoba menetralkan desiran aneh di dadaku sebelum akhirnya duduk di kursi seberangnya.Pak Jeremy menyodorkan sebuah piring padaku—daging steak di atasnya sudah

  • Satu Kali Lagi, Boss!   09: Ukuran XL

    "Bilang ke sopir untuk mampir sebentar ke supermarket untuk membeli kondom yang kotak emas atau hitam, ambil yang ukuran XL."Pesan singkat dari Pak Jeremy itu masuk persis setelah aku selesai mampir ke rumah, menyerahkan sejumlah uang untuk kebutuhan adik-adikku, serta mencarikan tetangga terpercaya untuk menutupi keberadaanku. Pak Jeremy melarangku membawa baju maupun pakaian dalam dari rumah. Katanya, semua sudah disiapkan di apartemen. Aku hanya bisa menurut.Tapi pesan susulan ini... benar-benar membuat seluruh mukaku panas karena malu. Langkah kakiku terasa sangat berat saat memasuki pintu kaca minimarket yang berdenting halus. Beruntung, lorong minimarket saat itu sedang sepi. Namun, begitu mataku tertuju pada barisan kotak kecil di rak, jantungku berdegup dua kali lebih cepat.“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya salah seorang pramuniaga yang melihatku celingukan seperti orang bingung, aku menggeleng pelan. Kemudian tersenyum.Jari-jariku yang gemetar meraih satu kotak be

  • Satu Kali Lagi, Boss!   08: Apakah ini Keajaiban

    Perasaan bersalah dan asing akibat kejadian bersama Pak Jeremy masih terus membuntutiku sampai aku tiba di rumah sakit. Namun, fokusku langsung teralih begitu melihat Dokter William berjalan tergesa menemuiku di depan koridor UGD dengan wajah cerah. "Mbak Siena... apa yang saya bilang? Yakini apa yang kamu imani. Ada orang baik yang mendonasikan dana untuk operasi Ibumu, dan itu membuat pihak rumah sakit bergerak cepat mendapatkan donor ginjal yang cocok," ucap Dokter William dengan senyum lega.Aku berdiri terpaku di tempatku. Rasa tercengang yang luar biasa menahan napas di tenggorokanku sebelum akhirnya air mataku meleleh deras. Dokter William berpikir ini adalah buah dari iman dan keajaiban doa. Namun di dalam hati, aku bertanya-tanya dengan getir... apakah Pak Jeremy adalah jawaban dari sebagian doa-doaku itu? Atau justru jalan dosa yang sengaja kuambil demi bertahan hidup?"Kamu anak baik dan pekerja keras, Siena. Tuhan selalu memberikan jalan untuk anak sebaik kamu," lanjutny

  • Satu Kali Lagi, Boss!   07: Pelepasan Pertama

    Kumingkan sedikit kepalaku, lalu menjulurkan lidahku dan memasukkannyake dalam mulut pria itu, mencoba meniru setiap gerakan dominan yangditunjukkannya tadi.Dengan keberanian terakhir yang kupunya, aku merengkuh tengkuk PakJeremy dengan kedua tangan yang gemetar. Kumingkan sedikit kepalaku, lalumenjulurkan lidahku dan memasukkannya ke dalam mulut pria itu. Aku mencobameniru setiap gerakan dominan yang baru saja ditunjukkannya.Balasan spontanku rupanya seperti menyulut api di dalam dada pria itu.Pak Jeremy mengerang rendah di dalam tenggorokannya. Gerakannya mendadakberubah brutal. Dia menyambar lidahku, melumatnya lebih dalam dan makinmenuntut. Pagutan panas itu terasa begitu agresif hingga membuat kepalakupening dan seluruh pasokan oksigen di paru-paruku terkuras habis.Bukannya melepaskanku seperti yang dia janjikan, sentuhan Pak Jeremy dibalik dalamanku justru makin berani dan memabukkan. Usapan jarinya di titiksensitifku kini bergerak makin cepat, ritmis, dan menekan

  • Satu Kali Lagi, Boss!   06: Sentuhan Pertama

    "Aku ingin kamu memberikan pelayanan pertamamu hari ini. Anggap saja... perkenalan singkat sebelum kamu terbiasa," jawabnya santai.Namun aku tetap bergeming di tempatku, duduk kaku di kursi seberang mejanya."Ke sinilah, mendekat," perintahnya lagi.Aku berdiri dengan ragu-ragu, melangkah pelan memutari meja. Dinginnya pendingin udara di ruangan ini rasanya makin menusuk hingga ke tulang, membuat persendianku melemas. Padahal aku hanya berjalan mendekat, belum melakukan apa pun."Kamu gugup?" tanya Pak Jeremy melihat langkahku yang tertahan.Aku mengangguk jujur."Duduk di sini," ucapnya tegas, lalu menepuk salah satu paha kekalnya.Dadaku berdesir hebat. ‘Tuhan... apakah ini benar? Masuk akalkah aku harus duduk di pangkuan bosku sendiri?’"Gemetar?" tanya Pak Jeremy.Suara beratnya terdengar begitu dekat di telingaku saat tangan besarnya mulai bermain di atas pahaku. Ketika telapak tangannya merayap makin naik melintasi kain rok kerja yang kukenakan, aku mendadak merasa seperti lup

  • Satu Kali Lagi, Boss!   05: Deposit Tiga Tahun

    "Kamu butuh waktu untuk berpikir?" tanyanya lagi ketikamelihatku bungkam. Aku mengangguk cepat. Pak Jeremy tersenyum tipis melihatresponsku. Pria matang dengan jejak janggut tipis di sepanjang rahang tegasnyaini memang terlihat sangat tampan secara visual. Garis wajahnya keras, maskulin, dan punya kharisma yang sulit diabaikan.Secara fisik, tidak ada alasan untuk menolaknya. Aku menyukai pria yang tampandan matang, tapi... bukankah dia terlalu matang untukku? Sial, kepalaku rasanyamau pecah.“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?” tanya Pak Jeremy tenang. Beliaumenyesap kopinya santai, kontras dengan dadaku yang rasanya mau meledak.“Sa-satu minggu, Pak...” bisikku pasrah.Pak Jeremy tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat bulukudukku berdiri. “Satu minggu? Kamu tahu betul kamu tidak akan punya uangsebanyak itu bahkan dalam satu tahun, Siena.”Pasi. Seluruh darah di tubuhku serasa menyusut. Kata-katanya menembustepat di titik terlemahku.“Saya tidak suka mengu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status