Share

Bab 137

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-05-25 09:35:46

“Mbak, tadi siang ke rumah sakit? Berantem lagi sama Ibu?” tanya Tiara langsung menyemburkan pertanyaan tanpa basa-basi di seberang telepon.

Shanum memijat pelipisnya pelan. Ia baru saja selesai membersihkan diri dan duduk di tepi ranjang, ketika ponsel di atas nakasnya berdering nyaring, menampilkan nama adiknya disana.

“Iya,” jawab Shanum tak bertenaga.

“Astaga, Mbak!” Tiara begitu dipenuhi rasa frustrasi. “Aku kan udah bilang, tunggu aba-aba dari aku. Aku ini lagi berusaha membujuk Ayah sama
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
lullaby dreamy
kynya Tiara yg suka sm Prana, tp dr Prana nya sndiri ga ada perasaan apa2 . trs wkt pas pulang dr Mall Tiara jg kan mndadak mnta diturunin di minimarket, bsa aja dia ga tahan krn Prana trus2an manggil sayang ke Shanum .
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 227

    Tok! Tok! Tok!Ketukan keras di pintu apartemen membuat tangan Prana yang sedang mengoleskan selai di atas roti Shanum berhenti di tengah gerakan. Gerakannya tenang, namun tatapannya menajam.Shanum ikut mengangkat kepala. Mereka saling berpandangan. Suara ketukan di pintu apartemen itu membuyarkan ketenangan sarapan mereka.“Siapa, Mas?” tanya Shanum.Prana langsung masuk ke mode waspada. Di tengah situasi rentan karena kasus Fadil, kunjungan tanpa kabar seperti ini memicu alarm bahaya. Banyak hal yang dikhawatirkan. Apakah ini orang tua Shanum yang memang sedang mencari keberadaan Shanum? Atau pihak kepolisian yang membawa perkembangan baru?“Kamu teruskan sarapanmu,” pinta P rana. “Biar aku yang periksa.”Prana memeriksa lubang intip pintu, dan langsung tertegun. Ia membuka pintu dengan dahi berkerut dalam. Orang yang tak disangka-sangka sekarang berdiri di depan pintunya. Rahang Prana mengetat seketika, tangannya di handel pintu mengerat seketika.Dengan gerakan kasar Prana membuk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 226

    “Di mana bunganya?” tanya Prana.Shanum menunjuk ke arah luar kamar. “Tadi aku taruh di meja sudut dekat ruang tengah.”Prana langsung turun dari ranjang. Dalam beberapa langkah panjang ia sudah keluar dari kamar dan berdiri di depan meja yang dimaksud Shanum. Sebuah rangkaian bunga lili terlihat sangat mencolok. Prana mengambil kartu kecil yang terselip di antara tangkai bunga.Lekas pulih, Shanum. Kalid.Hanya tiga kata. Tak ada kata berlebihan, tak ada rayuan. Prana menatap nama itu dengan seksama, mencoba mencari maksud lain yang tak tertulis. Tapi tak ada.“Kalid,” desisnya pelan.Alis Prana berkerut dalam. Tangannya menggenggam kartu itu lebih lama dari seharusnya. Ia merasa benda itu tak memiliki hak untuk ada di sini dan mengusik ruang pribadinya.Jelas sekali ia tak suka ada pria lain memberi perhatian pada Shanum. Di sisi lain, kepalanya juga memikirkan bagaimana bisa rekan sejawatnya itu bisa tahu Shanum tinggal di sini, namun ego dan rasa cemburunya sebagai seorang pria de

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 225

    Perlahan Prana menaiki ranjang, tangannya melingkari pinggang Shanum yang sudah terlelap sejak ia memasuki apartemen, lalu mencium pipi Shanum yang terasa hangat.Shanum bergerak sedikit, terdengar gumaman kecil dari bibirnya. “Udah pulang, Mas?”“Aku bangunin kamu ya?” bisik Prana di dekat telinga Shanum. “Udah, tidur lagi. Ini udah larut.”Bukannya menuruti ucapan Prana, Shanum justru memutar tubuhnya menghadap sang dokter. Ia mendekat, mencium aroma sabun dari tubuh Prana. “Kamu baru mandi ya?”“Iya, gerah banget,” jawab Prana. Ia merapikan letak selimut Shanum. “Tidur lagi, Num. Kamu harus banyak istirahat.”Hanya mengangguk kecil, Shanum mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Prana yang masih lembab. “Kenapa gak dikeringkan dulu?”“Kalau aku pakai hairdryer, nanti berisik. Tapi kamu malah tetep bangun gara-gara aku...” kata Prana.Shanum tersenyum kecil. “Aku memang belum tidur nyenyak kok.”Prana menatap wajah Shanum lekat-lekat. Mengingat kembali pesan yang dikirimkan Tiara

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 224

    “Mas, semalam Mbak Num tahu Mas dapat telepon dari Tante Ralin. Aku gak jadi nginep di apartemen soalnya dilarang datang sama Mbak Num. Ponselku semalam lowbat jadi baru ngasih tahu sekarang.”Prana membaca deretan pesan dari Tiara di layar ponsel itu dengan tatapan lurus. Kepalanya yang sudah pening sejak subuh kini terasa makin berat. Diletakkannya benda pipih tersebut di atas meja kayu kafe dengan agak keras.“Kenapa, Pran?” tanya Hendra. Pria itu menyesap kopi hitamnya perlahan, memperhatikan raut muka sahabatnya yang mendadak berubah keruh.Mereka berdua saat ini duduk di sudut sebuah kedai kopi yang berada tak jauh dari gerbang utama rumah sakit. Jam dinding kafe menunjukkan angka delapan pagi, membuat suasana sekitar mereka belum terlalu bising oleh pengunjung.“Pesan dari Tiara,” jawab Prana pendek sambil memajukan posisi duduknya. “Shanum tahu semalam Mama telepon. Dia pura-pura tidur waktu aku pergi, terus larang Tiara datang.”Hendra meletakkan cangkir kopinya kembali ke ta

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 223

    Suara pintu depan yang terkunci bergema samar di dalam kamar. Detik itu juga, sepasang mata Shanum terbuka. Kedua kelopaknya yang semula terpejam rapat kini terbuka lebar. Ia tak benar-benar terlelap. Pengaruh obat memang membuatnya mengantuk, tapi suara Prana menelepon ibunya membuatnya langsung waspada.Tadi ia sengaja berpura-pura tidur, dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Prana di pojok ruangan, termasuk kebohongan pria itu tentang kamar mandi yang bocor dan janji untuk menginap di rumah ibunya.“Kayaknya tadi tante Ralin mau menginap disini,” gumam Shanum sambil mendudukkan diri di sofa. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang kian menumpuk. “Gara-gara aku Mas Prana sampai harus berbohong.”Ia beringsut turun dari sofa, melangkah perlahan menuju meja makan untuk mencari ponselnya. Ia harus bergerak cepat sebelum Tiara telanjur datang. Begitu menemukan benda pipih itu, Shanum langsung mendial nomor sahabatnya.“Halo, Ra?” panggil Shanum begitu panggilan tersambung.“L

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 222

    “Mama udah di jalan diantar Hania, sebentar lagi sampai.”Pesan kedua dari Ralin—Mama Prana—muncul di layar ponsel membuat tubuh Prana langsung menegang. Tatapannya beralih dari layar ke Shanum yang tertidur pulas di pangkuannya.“Sial,” gerutunya dalam hati.Prana menutup mata sesaat. Dari semua kemungkinan yang ia bayangkan hari ini, kedatangan mendadak Mamanya adalah yang paling tak ia inginkan. Perlahan ia menggeser tubuh Shanum agar bersandar pada bantal sofa. Untungnya efek obat masih membuat wanita itu tidur nyenyak.Begitu memastikan Shanum tak terbangun, Prana segera menjauh beberapa langkah dan menekan tombol panggil. Jantungnya berdegup kencang memburu waktu. Dengan gerakan cepat namun berhati-hati agar suaranya tak menggema, ia mencari kontak Mamanya dan langsung menekan tombol panggil.Telepon diangkat hanya dalam hitungan detik.“Halo, Pran? Mama baru aja mau telepon kamu. Hania lagi parkir bentar.” Suara Ralin langsung menyambar begitu telepon diangkat.Prana mengembusk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 110

    “Akhirnya keluar juga,” gumam Prana santai duduk di balik kemudi.Langkah Shanum langsung terhenti di ambang teras, beberapa detik ia keluar dari rumah. Sebuah SUV hitam mengkilap terparkir tepat di depan. Pagi ini berniat mengunjungi ayahnya. Sudah beberapa hari ia tak menengok ke sana, sementara p

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 108

    Lima hari telah berlalu sejak ketegangan di ruang tamu bersama Kartika. Malam ini, aura gelap kembali memayungi Shanum. Fadil baru saja menginjakkan kaki di Jakarta setelah menyelesaikan urusan tendernya di Yogyakarta.Fadil masuk ke dalam kamar dengan langkah berat. Ia melempar tas kerjanya ke sem

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 107

    “Hasilnya, aku sendiri belum—” Shanum menggenggam brosur program bayi tabung itu begitu erat, di bawah tatapan mengintimidasi dari Kartika dan senyum tipis penuh selidik dari Putri.Belum sempat ia menyelesaikan kalimat yang sudah tersusun di ujung lidah, suara dering ponsel mendadak memotong suasa

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 106

    “Mas…” gumam Shanum sambil mengerjap, tangannya meraba sisi ranjang yang kosong. Prana sudah tak ada di sana.Matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, ia langsung tersentak.“Ya ampun, kesiangan!” Shanum segera merapikan rambutnya yang berantakan dan melangkah keluar k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status