Share

Bab 82

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-05-07 18:11:08

Shanum membuka mata dengan kepala berat. Tenggorokannya kering, sementara tubuhnya terasa ringan. Ingatannya tentang semalam di mobil Prana datang terlalu jelas. Ciuman Prana. Tangannya. Bisikan pria itu di telinganya.

“Kalau kamu belum siap dengan konsekuensinya...”

Shanum buru-buru menarik selimut menutupi wajahnya, seakan Prana membisikan itu tepat di telinganya sekarang.

“Apa aku keterlaluan ya?” gumamnya pelan sambil memejam frustrasi, ia ingat milik Prana yang menggembung di balik celanan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 84

    Getaran ponsel di tangan Shanum terasa seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh sarafnya, meruntuhkan atmosfer hangat yang sempat dibangun Prana. Nama Fadil di layar adalah pengingat kejam bahwa realita tidak akan membiarkannya mengecap bahagia lebih lama.Shanum menatap ponsel itu dengan bimbang. Berbeda dengannya, Prana justru bersikap sangat tenang. Pria itu tetap pada posisinya, mengamati setiap inci ekspresi Shanum dengan tatapan dewasa yang protektif.“Angkat,” bisik Prana rendah. “Aktifkan pengeras suaranya. Aku mau dengar apa yang mau dia bicarakan.”Shanum menelan ludah. Jemarinya yang gemetar menggeser ikon hijau dan menekan tombol speaker. Belum sempat Shanum mengucapkan halo, bentakan khas Fadil sudah memenuhi kabin mobil yang kedap suara itu.“Di mana kamu?!” Suara Fadil melengking tinggi, sarat akan tuntutan. “Aku kirim pesan tidak dibalas! Telepon berkali-kali tidak diangkat!”Shanum menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang hampir hilang. “Aku di

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 83

    “Mas, kok belok kesini?”Shanum mengerutkan kening saat menyadari Prana memutar kemudi ke arah jalan alternatif. Jalanan ini lebih sempit, namun terasa teduh karena jajaran pohon angsana yang rimbun di kedua sisinya. Suasana yang seharusnya menenangkan itu mendadak membuat perasaan Shanum tidak enak.Prana melirik sekilas. Satu tangannya menguasai kemudi dengan santai, sementara siku kanannya bersandar di ambang jendela. Jemarinya mengetuk ritme abstrak pada kulit kemudi, menciptakan suasana yang sulit ditebak.“Jalan utama sedang ada perbaikan, pasti macet parah di depan. Kita lewat jalur belakang saja, lebih lengang,” jawab Prana. Suaranya datar, namun ada nada yang tak biasa di sana.Mobil melaju membelah kesunyian. Shanum awalnya berusaha menikmati arsitektur rumah-rumah lama yang asri di sepanjang jalan, hingga matanya menangkap sebuah bangunan ikonik dengan fasad bata merah dan jendela kaca besar di sudut jalan.Leanor Cafe.Seketika, paru-paru Shanum seolah menyempit. Ia mengen

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 82

    Shanum membuka mata dengan kepala berat. Tenggorokannya kering, sementara tubuhnya terasa ringan. Ingatannya tentang semalam di mobil Prana datang terlalu jelas. Ciuman Prana. Tangannya. Bisikan pria itu di telinganya.“Kalau kamu belum siap dengan konsekuensinya...”Shanum buru-buru menarik selimut menutupi wajahnya, seakan Prana membisikan itu tepat di telinganya sekarang.“Apa aku keterlaluan ya?” gumamnya pelan sambil memejam frustrasi, ia ingat milik Prana yang menggembung di balik celananya.Tangannya refleks menyentuh leher. Dan detik berikutnya matanya langsung membesar. Shanum spontan bangkit dari tempat tidur sambil meraih cermin kecil di meja nakas. Ia memiringkan wajah ke kanan dan kiri dengan panik. Bekas samar keunguan terlihat jelas di dekat tulang lehernya.“Ini orang, dokter atau vampir sih?” gerutunya kesal. “Suka banget bikin bekas kayak gini.”Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas kasur. Nama Prana muncul di layar. Shanum langsung menatap layar itu sambil menaikan a

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 81

    “Aku juga gak mau lomba, aku lebih suka olahraga di tempat tersembunyi kalau malam gini,” sahut Prana serak sekaligus berbahaya.Seringai tipis di bibirnya lenyap saat ia mengambil alih kendali sepenuhnya. Jika tadi Shanum yang memulai karena luapan emosi, kini Prana yang memimpin dengan ketenangan mematikan—seteliti seorang ahli yang tahu persis titik mana yang mampu melumpuhkan hanya dengan satu sentuhan.Tangan Prana yang besar dan hangat merengkuh rahang Shanum, memiringkan wajah wanita itu untuk mendapatkan akses yang lebih dalam. Ciuman mereka bukan lagi sekadar tempelan bibir.Lidah mereka saling membelit, sementara suara decapan halus memenuhi kabin mobil yang kedap suara.. Shanum melenguh kecil, tangannya yang tadi menarik kerah kemeja Prana kini merayap naik, menjambak pelan rambut di tengkuk pria itu.“Mas... pelan-pelan...” bisik Shanum terengah saat bibir Prana memberikan tekanan yang membuat kepalanya kosong.“Kamu yang memancingnya, Num. Jangan minta aku berhenti sekara

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 80

    “Sus, masih ada pasien berikutnya?” tanya Prana tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Jemarinya masih lincah menari di atas keyboard, merapikan observasi klinis terakhir.Pintu ruangan terbuka sedikit, menampakkan kepala Mira. “Masih ada satu lagi, Dok. Katanya sudah di jalan.”Prana mengerutkan kening, mencari berkas yang seharusnya sudah ada di meja. “Mana rekam medisnya?”“Oh, sebentar, Dok!” Mira menghilang sejenak dan kembali dengan sebuah amplop putih besar yang masih tersegel rapat. “Ini, Dok. Pasien atas nama Tuan Fadil yang cek sperma empat hari lalu. Tadi saya telepon, katanya beliau sedang di luar negeri, jadi dia minta hasilnya diserahkan langsung pada istrinya.”“Fadil?”Gerakan jemari Prana membeku. Nama itu seketika mengirimkan amarah di dadanya. Sedangkan kedatangan Shanum selalu berhasil mengubah ritme jantungnya menjadi sebuah simfoni yang tak beraturan.“Istrinya bilang sekitar sepuluh menit lagi sampai,” tambah Mira.“Oke. Kamu boleh keluar, Mira. Biar ak

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 79

    “Num? Kamu masih di sana?” panggil Malik, pengacaranya di ujung telepon.Suara Malik terdengar seperti gaung jauh yang berusaha menarik Shanum kembali dari lamunannya. Shanum tersadar, napasnya tercekat di pangkal tenggorokan, meninggalkan rasa frustasi yang menjalar di dada.“Ya, aku masih di sini, Bang,” sahut Shanum pelan.“Kita belum kalah, Num” lanjut Malik memberi harapan. Profesionalisme seorang pengacara yang berusaha menenangkan kliennya, meski tetap saja ada keraguan yang tak bisa disembunyikan.“Penolakan administratif itu bukan akhir. Kita bisa ajukan ulang sesegera mungkin. Hanya saja sekarang, ada satu tembok besar yang sengaja mereka pasang untuk menjebak kita.”Malik menghela napas panjang di seberang sana. “Untuk sekarang, mau nggak mau, Kita harus melewati mediator keluarga dulu. Itu syarat yang diminta hakim jika ingin berkas ini diproses kembali tanpa hambatan 'kepentingan keluarga'.”“Mediator keluarga,” batin Shanum.Dua kata itu menghantam pendengaran Shanum sepe

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 11

    Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 10

    “Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 13

    Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 12

    Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status