LOGINMendengar ucapan Alfred, keheningan yang mencekam langsung memenuhi ruang kerja Lucian.
Bahkan Damien, ksatria bayangan yang terlatih untuk tidak menunjukkan emosi, terlihat kaget. Matanya membelalak menatap Alfred. Ia tidak menyangka kepala pelayan tua itu berani menyuarakan penghinaan pada Sienna seterbuka itu langsung di hadapan tuannya.
Namun Alfred tidak mundur. Ia
Mendengar jawaban yang begitu terus terang itu, jantung Sienna berdegup satu ketukan lebih cepat. Darahnya berdesir hangat. Semburat merah seketika menjalar, mewarnai kedua pipinya.Sienna menundukkan pandangannya, tiba-tiba merasa sangat malu dan salah tingkah. Melihat wajah istrinya yang merona merah padam, tatapan Lucian semakin melembut. Senyum tipis yang memabukkan terukir di sudut bibirnya. Pria itu mengulurkan tangannya, memetik sekuntum bunga berwarna putih yang mekar sempurna dari semak di dekat mereka.Dengan sentuhan yang sangat berhati-hati, seolah takut merusak barang berharga yang mudah pecah, Lucian menyelipkan tangkai bunga itu ke balik telinga Sienna. Jari-jari besarnya, kini mengusap lembut pipi istrinya yang merona, lalu menelusuri garis rahangnya, hingga beristirahat dengan posesif di tengkuk wanita itu.Sienna kembali mendongak. Mata biru jernihnya menatap lurus ke dalam manik mata merah suaminya."Kau jauh lebih indah dari bunga manapun di taman ini, Sienna."
Lesley menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah. Kedua tangannya yang berada di atas pangkuan kini mengepal erat. Harga dirinya terasa hancur diinjak-injak, dan amarah tertahan membuat napasnya sedikit memburu.Melihat reaksi Lesley, Elizabeth mencondongkan tubuhnya ke depan."Apa pun yang sedang kau pikirkan di dalam kepalamu saat ini, Lady Lesley." desis Elizabeth tajam, memutus setiap angan-angan Lesley bahwa mereka berdua adalah rekan yang setara. "Jangan pernah merasa bahwa kita berada di tempat yang sama. Kau dan aku... darah yang mengalir dalam diri kita sangat berbeda."=Matahari mulai naik ke tengah, namun pikiran Sienna masih tertinggal pada kehangatan dan percakapan intim antara dirinya dan Lucian tadi pagi.Bahkan setelah Lucian keluar, sang Permaisuri merenung dalam diam. Ia baru menyadari sebuah kebenaran yang selama ini ia abaikan. Hubungannya dengan Lucian memang selalu terasa begitu tegang dan dipenuhi kewaspadaan, bahkan jauh sebelum mereka pindah
Cahaya matahari pagi jatuh menyinari wajah Lady Elizabeth. Gadis itu berdiri mematung di balik jendela kamarnya yang mengarah langsung ke pelataran luas dan taman tempat para ksatria istana biasa berlatih.Pandangan mata birunya tidak tertuju pada barisan ksatria kekaisaran berseragam hitam yang sedang berpatroli, melainkan terkunci pada satu sosok pria yang duduk diam di sudut taman yang paling sepi, tepat di bawah bayangan pohon ek besar.Itu adalah Rowan.Sejak pesta di Marquessate Turin malam itu, hak Rowan sebagai pengawal pribadi Elizabeth telah dilucuti sepenuhnya oleh otoritas istana. Ksatria keluarga Mountford itu tidak lagi diizinkan berada di dekat Elizabeth, dilarang melangkah masuk ke lorong kamar para dayang, dan digantikan sepenuhnya oleh pengawasan ksatria elit Kaisar.Namun, pria itu menolak untuk pergi. Meski hanya diizinkan mengawasi dari kejauhan, Rowan tetap berada di sana. Ksatria jangkung itu duduk bersandar di batang pohon dengan bahu yang tegang, mengabaikan
Urat di pelipis Beatrice berkedut keras. Harga dirinya sebagai mantan nyonya besar Duchy Lorraine sekaligus Ibu Suri meronta hebat. Menolak untuk ditundukkan oleh ancaman semacam ini. Ia menatap Alexandria dengan tatapan membunuh yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya."Apa kau kira kau bisa mengancamku, Alexandria?" desis Beatrice dingin. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti gesekan pedang yang ditarik dari sarungnya.Namun, alih-alih ciut, Alexandria justru memiringkan kepalanya dengan anggun. Senyum di bibir merahnya perlahan melembut, memancarkan kepolosan palsu yang luar biasa memuakkan."Entahlah, Ibu Suri." balas Alexandria dengan nada yang ringan, seolah mereka hanya sedang mendiskusikan cuaca. Ia mengangkat bahunya pelan. "Karena aku tidak tahu pasti apakah ancaman ini akan berhasil meruntuhkan arogansimu... maka aku mencobanya, bukan?"Alexandria bangkit dari kursinya, merapikan lipatan gaunnya dengan perlahan. Ia menatap Beatrice dari a
Di saat gairah yang membara dan napas yang memburu tengah menyelimuti kamar utama istana kekaisaran, suasana yang sepenuhnya bertolak belakang justru tengah terjadi jauh di luar istana.Malam itu, bangunan megah milik seorang Viscount itu tampak sepi dari luar, seolah seluruh penghuninya telah terlelap. Namun, di salah satu ruang minum teh yang berada di sayap paling tersembunyi, Beatrice duduk dengan postur yang luar biasa kaku. Tanpa pengawal istana, tanpa pelayan yang mengiringi, Beatrice hadir secara diam-diam menembus pekatnya malam.Dengan wajah sedingin es, Beatrice mengangkat cangkir porselennya, menyesap teh hitam pekat itu dengan penuh wibawa. Tidak ada sedikit pun riak kegelisahan di wajahnya yang mulai dihiasi gurat usia, meski insting bertahannya memperingatkan bahwa tempat ini adalah sarang ular.Cklek.Suara derit pelan dari engsel pintu ganda memecah kesunyian ruangan. Dari balik bayang-bayang lorong, sesosok wanita melangkah masuk. "Lama tidak bertemu, Nyonya Beatr
"Lucian..." erang Sienna manja, suaranya bergetar penuh permohonan. Sebuah rengekan manis yang lolos begitu saja dari sela-sela bibirnya yang masih basah.Sambil menahan napas, Sienna menatap mata suaminya dengan sorot memelas. Di dalam hati, ia sangat berharap pria itu akan segera kehabisan kesabaran. Ia menunggu Lucian memutar posisi mereka dan mengambil alih seluruh kendali permainan seperti yang selalu dilakukannya selama ini.Tapi... pria di bawahnya itu sama sekali tidak bergerak.Lucian hanya berbaring diam, punggungnya bersandar pada tumpukan bantal. Otot-otot perut dan dadanya menegang kaku layaknya pahatan batu tapi ia benar-benar menolak untuk membantu. Sepasang mata merahnya menyala tajam, menatap lurus ke arah wajah istrinya yang memerah padam, mengunci pandangan Sienna.Lucian perlahan melepaskan tangannya yang tadi membimbing tangan Sienna. Pria itu kemudian memindahkan kedua telapak tangannya yang besar ke pinggang ramping sang Permaisuri untuk menyibak gaunnya semak
Bruk!Baron Borgia jatuh tersungkur di atas tanah berkerikil di pelataran depan. Sebelum ia sempat bangun untuk mengutuk lagi, seorang pelayan pria melangkah tenang menuruni anak tangga batu.
Riuh seketika meledak, memenuhi setiap sudut aula yang megah itu sesaat setelah pengumuman sang Kaisar bergema.Kali ini, tidak ada lagi yang menyembunyikan bisik-bisik mereka. Aturan kesopanan seolah dilupakan. Seluruh
"Apa kau sudah memutuskan ingin yang mana?"Suara bariton Lucian menyentak Sienna dari lamunannya. Gadis itu berdiri dengan kening berkerut di hadapan deretan gaun yang tergantung rapi di rak berlapis emas, gaun-gaun ya
Sisa perjalanan menuju Ibu Kota berhasil dilewati dengan jauh lebih tenang. Berkat ramuan herbal rutin yang diberikan oleh Tabib yang ketakutan, rasa mual Sienna berangsur hilang. Rona merah perlahan kembali ke wajahnya.Ketika gerbang megah Ibu Kota mulai terlihat menjulang di kejauhan, Sienna tid