LOGINRoda kereta berlambang singa emas Duchy Lorraine akhirnya berhenti berputar tepat di depan gerbang pilar putih yang menjulang tinggi menuju pintu Istana Kaisar.
Di dalam kabin kereta yang mewah, Sienna merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Lututnya lemas, seolah tulang-tulangnya berubah menjadi jeli.
Seumur hidupnya, Sienna hanya pernah melihat Kaisar dari jarak yan
Alexander perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur dan kepalanya berdenyut hebat. Rasa sakit yang luar biasa tajam dan membakar langsung menyengat rongga mulutnya, memaksanya untuk meringis tertahan. Tabib istana telah menjahit lidahnya yang nyaris putus dan menghentikan pendarahannya, namun rasa sakitnya sama sekali tidak berkurang.Mantan penguasa Eldoria itu mencoba mengangkat kepalanya. Ia tidak lagi dirantai dalam posisi berlutut, melainkan dibiarkan terbaring di atas tumpukan jerami yang dingin di sudut sel.Saat pandangannya mulai menjernih, Alexander menyadari bahwa ia tidak sendirian.Di balik jeruji besi selnya yang tebal, diterangi oleh cahaya obor yang meremang, berdiri dua sosok yang menatapnya dalam diam. Lucian berdiri dengan postur tegap dan mengancam, sebelah lengannya melingkar posesif di bahu Sienna, menjaganya agar tetap berada pada jarak yang aman dari jeruji.Sienna menatap pria yang terpuruk di dalam sel itu. Tidak ada lagi ketakutan di mata sang Permaisur
Mendengar kebenaran yang baru saja diucapkan sang Viscount, Alexander seketika merasa seluruh tenaganya terkuras habis.Tubuhnya merosot lemas hingga lututnya menghantam lantai batu dengan keras. Rantai besi yang menahan kedua tangannya berdenting pelan. Sorot matanya yang tadi menyala penuh amarah, kini meredup, tergantikan oleh kebingungan dan keputusasaan yang luar biasa."Kau berbohong," bisik Alexander. Suaranya terdengar hampa dan gemetar.Mantan Viscount itu menatapnya dengan raut wajah muak. Ia menarik napas pelan, menenangkan emosinya."Untuk apa saya berbohong?" balas Viscount itu dengan nada dingin. "Ketika saya begitu membenci Anda untuk semua yang telah Anda lakukan padanya?"Alexander menggelengkan kepalanya. Napasnya mulai tersengal. Ilusi yang ia pelihara bertahun-tahun seolah menolak untuk dihancurkan begitu saja. Ia tidak siap menerima kenyataan bahwa dirinya adalah satu-satunya monster dalam cerita ini."Tidak... dia... dia berniat lari dariku karena dia mencintaimu
Angin malam berhembus dengan sangat kencang, menghantam dinding-dinding batu menara Istana Eldoria yang menjulang tinggi dan terisolasi. Di dalam salah satu ruangan di puncak menara tersebut, udara terasa luar biasa dingin. Tidak ada perapian yang menyala. Tidak ada kehangatan yang tersisa di ruangan batu yang pengap itu.Malam itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Alexander, sang Raja yang biasanya selalu datang mengunjunginya dengan obsesi yang mencekik, tidak menampakkan batang hidungnya. Terjadi sebuah situasi darurat, sebuah pemberontakan skala kecil di perbatasan selatan kerajaan yang memaksa sang tiran untuk pergi dan memimpin pasukannya secara langsung. Kepergian Alexander meninggalkan sebuah celah kecil pada penjagaan menara yang biasanya sama sekali tidak bisa ditembus oleh siapa pun.Memanfaatkan celah keamanan tersebut dan cuaca buruk yang menyamarkan pandangan para penjaga, sesosok bayangan menyelinap masuk ke area terlarang istana. Dengan gerakan yang senyap, ia
Di ruang kerja kaisar, keheningan yang menyesakkan turun perlahan setelah sang informan menyelesaikan seluruh cerita panjangnya. Sienna duduk terpaku di atas sofa beludrunya. Matanya kini kembali berkaca-kaca, menahan bendungan air mata yang siap tumpah.Sienna terlihat begitu sedih. Hatinya hancur memikirkan nasib menyakitkan dari saudara kembar yang tidak pernah ia temui itu. Setelah mendengar semua cerita lengkap dari sang informan dada Sienna terasa luar biasa sesak. Tangan wanita itu gemetar pelan, meremas sapu tangan di pangkuannya untuk menyalurkan rasa duka yang mendalam.Melihat istrinya yang terlihat begitu terguncang, Lucian segera bertindak. Sang Kaisar menatap informan berpakaian biasa itu dengan raut wajah tegas dan mengangguk pelan. "Ceritamu sudah cukup. Kau boleh pergi sekarang, silahkan temu ajudanku. Ada sedikit perbekalan untukmu." ucap Lucian.Namun, pria itu tidak langsung beranjak pergi. Ia justru menundukkan kepalanya semakin dalam ke arah meja sang kaisar.
Keesokan paginya, rombongan kekaisaran bergerak kembali menuju istana. Perjalanan pulang itu dilakukan dengan menggunakan kereta kuda khusus yang jalannya diperlambat dan telah dilapisi bantalan tebal untuk meredam guncangan. Di dalam kereta, Lucian tidak melepaskan pelukannya sedikit pun dari Sienna, memastikan istrinya merasa hangat dan nyaman sepanjang perjalanan.Setibanya mereka di istana, suasana masih dipenuhi oleh sisa-sisa ketegangan pasca ledakan. Pasukan penjaga berjejer rapat di setiap lorong. Lucian langsung membawa Sienna ke kamar utama yang telah dijaga ketat oleh Ksatria Bayangan.Begitu Sienna dibaringkan di atas ranjang, pintu kamar terbuka dengan kasar. Alice dan Elizabeth langsung berlari masuk. Wajah kedua wanita itu tampak berantakan, dihiasi mata yang membengkak karena terlalu banyak menangis sejak semalam."Yang Mulia!" Alice menjatuhkan dirinya berlutut di tepi ranjang dan menggenggam tangan Sienna dengan gemetar. "Maafkan saya... hiks... maafkan saya karena
"Keadaan janin Permaisuri... untungnya masih bertahan dengan sangat kuat."Udara yang sejak tadi membeku di dalam ruangan medis itu seolah mencair seketika.Tabib itu buru-buru melanjutkan penjelasannya saat melihat rahang sang Kaisar masih mengeras kaku. "Pendarahan ini dipicu oleh guncangan fisik yang keras dan tingkat stres yang terlampau ekstrem. “Namun, nyawa di dalam kandungan Permaisuri sama sekali tidak tersentuh bahaya fatal. Dengan ramuan khusus untuk menghentikan pendarahannya dan istirahat total, kondisi beliau akan kembali stabil."Mendengar vonis tersebut, seluruh tenaga di tubuh Lucian seolah menguap begitu saja. Kelegaan telah melumpuhkan tubuhnya.Sang Dewa Perang, pria yang tidak pernah goyah di hadapan ribuan pasukan musuh, kini terhuyung mundur selangkah. Ia menarik napas panjang dengan gemetar, melepaskan beban tak kasat mata yang sejak tadi nyaris meremukkan tulang rusuknya. Lucian langsung menjatuhkan dirinya, terduduk lemas di atas kursi kayu di sebelah ranja
Anna membalikkan badannya dengan kaku, jantungnya berdegup begitu keras hingga dadanya terasa sakit.Di ambang pintu, Marta berdiri dengan tatapan tajam. Pelayan itu tidak langsung masuk, hanya mematung di sana dengan satu alis terangkat."Apa yang sedang kau lakukan di meja itu?" tanya Marta, suar
"LUCIAN!"Bentakan Beatrice memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding batu yang dingin. Wajah Duchess yang biasanya anggun kini merah padam menahan amarah. Dadanya naik turun dengan cepat."Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" desis Beatrice, suaranya bergetar antara murka dan rasa ma
Alexandria menggeram tertahan. Harga dirinya terkoyak habis. Menyadari bahwa ia tidak akan bisa memenangkan perdebatan ini tanpa merusak citranya sendiri di depan publik, ia akhirnya menyerah.Dengan napas memburu dan kaki yang dihentakkan keras ke tanah berbatu, Alexandria berbalik arah."Kita kem
Sosok pria yang membelah kerumunan itu adalah Damien.Ajudan terpercaya Duke Lorraine itu berjalan tenang, namun auranya memancarkan ketegasan. Jubah hitam dengan lambang Duchy Lorraine yang melekat di bahunya menjadi bukti posisinya di Duchy.Damien berjalan lurus ke arah Sienna yang masih berlutu







