Share

BAB 20

Author: Rainina
last update Last Updated: 2026-01-07 13:10:09

Damien membuka mulutnya, hendak menjawab pertanyaan itu. Tapi sebelum ia bisa mengatakan apapun, suara roda kereta dan derap langkah kuda yang berat tiba-tiba memecah keheningan malam, menarik perhatian semua orang di perkemahan itu.

Rombongan kedua telah tiba. Itu adalah kereta logistik yang membawa para pelayan dan barang-barang kebutuhan perjalanan yang sempat tertinggal di belakang karena muatannya yang lebih berat.

Belum sempat kereta itu berhenti sempurna, pintu salah satu kereta pelayan sudah terbuka lebar.

Sesosok wanita muda melompat turun dengan tergesa-gesa, dan langsung berlari menerobos area perkemahan. Seragam pelayannya berkibar saat ia berlari lurus ke arah batang kayu tempat Sienna dan Damien duduk.

Itu adalah Anna.

"Nona! Nona Sienna!" teriak Anna, suaranya terdengar panik dan penuh kekhawatiran yang berlebihan.

Damien yang melihat kedatangan Anna segera menutup mulutnya rapat-rapat, menyimpan jawaban tentang tunangan Duke kembali ke dalam tenggorokannya.

Anna sampa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 21

    "Ba... baik."Anna akhirnya menjawab, suaranya terdengar kaku. Tubuhnya bangkit dari posisi membungkuk, namun kakinya tidak segera melangkah.Mata pelayan itu bergerak liar, melirik Sienna yang duduk di kursi dan Lucian yang berdiri menjulang di dekatnya. Ada keraguan di matanya, seolah meninggalkan mereka berdua sendirian di kamar tertutup adalah bencana.Namun, tatapan tajam Lucian yang semakin menukik tajam mematikan nyali Anna.Dengan langkah berat, Anna akhirnya berjalan mundur dan keluar dari ruangan.Klik.Suara kunci pintu yang berputar terdengar begitu nyaring di kamar itu.Lucian menghela napas kasar, seolah udara di ruangan itu baru saja bersih dari racun setelah kepergian Anna."Aku tidak menyukainya," ucap Lucian tiba-tiba.Sienna tersentak kecil dan menoleh ke arah Lucian dengan bingung. "Ma... maaf?""Pelayan itu. Anna," jelas Lucian datar, matanya menatap pintu dengan sorot dingin. "Dia adalah putri pelayan pribadi ibuku. Ibuku yang memaksanya ikut dalam rombongan ke i

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 20

    Damien membuka mulutnya, hendak menjawab pertanyaan itu. Tapi sebelum ia bisa mengatakan apapun, suara roda kereta dan derap langkah kuda yang berat tiba-tiba memecah keheningan malam, menarik perhatian semua orang di perkemahan itu.Rombongan kedua telah tiba. Itu adalah kereta logistik yang membawa para pelayan dan barang-barang kebutuhan perjalanan yang sempat tertinggal di belakang karena muatannya yang lebih berat.Belum sempat kereta itu berhenti sempurna, pintu salah satu kereta pelayan sudah terbuka lebar.Sesosok wanita muda melompat turun dengan tergesa-gesa, dan langsung berlari menerobos area perkemahan. Seragam pelayannya berkibar saat ia berlari lurus ke arah batang kayu tempat Sienna dan Damien duduk.Itu adalah Anna."Nona! Nona Sienna!" teriak Anna, suaranya terdengar panik dan penuh kekhawatiran yang berlebihan.Damien yang melihat kedatangan Anna segera menutup mulutnya rapat-rapat, menyimpan jawaban tentang tunangan Duke kembali ke dalam tenggorokannya. Anna sampa

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 19

    Napas Sienna tercekat di tenggorokan saat merasakan hawa panas tubuh Lucian semakin merapat, menghilangkan jarak di antara mereka.Tangan besar pria itu, yang tadi sibuk dengan tali-tali rumit, kini tidak langsung menjauh. Telapak tangannya yang kasar dan hangat justru mendarat di bahu telanjang Sienna.Kulit Sienna meremang. Sentuhan itu terasa berat begitu berat di bahunya.Sienna mematung, ia memejamkan matanya rapat-rapat karena rasa takut.Apa yang harus kulakukan? batinnya panik.Otaknya berputar liar. Lucian telah membelinya dengan harga selangit. Pria ini berhak atas dirinya. Menolak Lucian, atau bahkan sekadar menunjukkan keraguan, bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap harga diri seorang Duke.Rasa takut mulai merayap naik hingga ke tengkuknya.Bagaimana jika penolakan Sienna memicu kemarahan pria itu? Sienna teringat tamparan ayahnya yang menyengat, teringat sabetan pecut ibunya. Jika orang tuanya sendiri bisa menyiksanya, apa yang bisa dilakukan oleh orang asing yang b

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 18

    Sienna memekik tertahan saat kakinya tiba-tiba menjauh dari tanah. Dalam satu gerakan cepat, Lucian telah mengangkatnya ke dalam gendongan, seolah berat badan Sienna tidak berarti apa-apa."T… Tuan Duke! Apa yang Anda..." Sienna yang panik, melingkarkan tangannya ke leher Lucian secara refleks.Wajah mereka begitu dekat sekarang. Sienna bisa mencium aroma tubuh pria itu yang bercampur dengan aroma besi darah yang baru saja tumpah."Diamlah," potong Lucian. Ia tidak menatap Sienna, pandangannya lurus ke depan menuju kereta kuda. "Kau berjalan terlalu lambat. Kita akan sampai malam jika aku menunggumu merangkak."Lucian membawanya kembali ke arah kereta kuda. Namun kali ini, alih-alih meletakkan Sienna di dalam dan kembali ke kudanya, Lucian justru ikut masuk ke dalam."Jalan!" teriak Lucian dari dalam kereta.Roda kereta kembali berputar perlahan.Di dalam ruang sempit berlapis beludru itu, suasana terasa jauh lebih menyesakkan dari sebelumnya.Sienna duduk di pojok, memeluk dirinya se

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 17

    Di luar sana, suasana hening kembali tercipta, namun kali ini aroma darah memenuhi udara.Para bandit itu... mereka benar-benar telah membuat kesalahan terakhir dalam hidup mereka. Mereka mengira kereta mewah yang melintas tanpa iring-iringan bendera besar itu adalah milik pedagang kaya yang lemah.Mereka tidak sadar bahwa mereka baru saja mencoba merampok Sang pahlawan perang Kekaisaran.Mayat-mayat bergelimpangan di tanah dalam posisi yang mengenaskan. Pertarungan itu, jika pembantaian sepihak bisa disebut pertarungan, berakhir bahkan sebelum sempat dimulai dengan benar."Apa Anda tidak apa-apa, Tuan Duke?"Damien bertanya sambil membersihkan pedangnya dengan kain, meski ia tahu pertanyaan itu hanyalah formalitas belaka.Lucian bahkan tidak menoleh. Ia mengabaikan pertanyaan bodoh itu sepenuhnya. Tentu saja dia tidak terluka. Tidak ada satupun ujung pedang bandit kotor itu yang berhasil menyentuh ujung jubahnya, apalagi kulitnya.Lucian menyarungkan pedangnya kembali. Mata merahnya

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 16

    Jantung Sienna seolah berhenti berdetak. Darah di wajahnya surut seketika."Tu... tunangan?" suaranya hanya terdengar seperti bisikan."Ya, tunangan," ulang Anna. Nada bicaranya begitu manis. Pelayan itu kembali menatap cermin, mempertemukan pandangannya dengan Sienna. "Mereka adalah pasangan yang sempurna, Nona. Bagaikan lukisan hidup. Tuan Duke sangat menghormati Nona Alexandria di atas segalanya,"Senyuman Anna semakin melebar, membuat matanya melengkung seolah ia sedang menyampaikan kabar gembira. "Beliau tidak akan pernah membiarkan wanita lain sejajar dengan tunangannya."Kalimat itu menggantung di udara, menciptakan batas yang jelas. Mata mereka bertemu di cermin untuk beberapa saat sebelum akhirnya Anna menepukkan kedua tangannya, seolah kaget dengan apaa yang baru saja ia katakan sendiri."Ah, ya ampun... maafkan kelancangan saya. Saya mengira Anda sudah tahu," ucap Anna dengan nada penyesalan. "Saya pikir Tuan Duke sudah menceritakan perihal wanita yang dicintainya pada Anda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status