MasukBegitu mereka melangkah lebih jauh ke dalam aula, beberapa bangsawan yang didorong oleh rasa penasaran, ambisi politik, atau sekadar ingin menjilat, mulai mencoba mendekat.
Mereka memasang senyum palsu terbaik mereka, bersiap untuk berbasa-basi dan mencari tahu siapa wanita di pelukan sang Duke. ada begitu banyak rumor yang menyelimuti Sienna di Ibu Kota, tapi hanya segelintir orang yang pernah m
Di saat gairah yang membara dan napas yang memburu tengah menyelimuti kamar utama istana kekaisaran, suasana yang sepenuhnya bertolak belakang justru tengah terjadi jauh di luar istana.Malam itu, bangunan megah milik seorang Viscount itu tampak sepi dari luar, seolah seluruh penghuninya telah terlelap. Namun, di salah satu ruang minum teh yang berada di sayap paling tersembunyi, Beatrice duduk dengan postur yang luar biasa kaku. Tanpa pengawal istana, tanpa pelayan yang mengiringi, Beatrice hadir secara diam-diam menembus pekatnya malam.Dengan wajah sedingin es, Beatrice mengangkat cangkir porselennya, menyesap teh hitam pekat itu dengan penuh wibawa. Tidak ada sedikit pun riak kegelisahan di wajahnya yang mulai dihiasi gurat usia, meski insting bertahannya memperingatkan bahwa tempat ini adalah sarang ular.Cklek.Suara derit pelan dari engsel pintu ganda memecah kesunyian ruangan. Dari balik bayang-bayang lorong, sesosok wanita melangkah masuk. "Lama tidak bertemu, Nyonya Beatr
"Lucian..." erang Sienna manja, suaranya bergetar penuh permohonan. Sebuah rengekan manis yang lolos begitu saja dari sela-sela bibirnya yang masih basah.Sambil menahan napas, Sienna menatap mata suaminya dengan sorot memelas. Di dalam hati, ia sangat berharap pria itu akan segera kehabisan kesabaran. Ia menunggu Lucian memutar posisi mereka dan mengambil alih seluruh kendali permainan seperti yang selalu dilakukannya selama ini.Tapi... pria di bawahnya itu sama sekali tidak bergerak.Lucian hanya berbaring diam, punggungnya bersandar pada tumpukan bantal. Otot-otot perut dan dadanya menegang kaku layaknya pahatan batu tapi ia benar-benar menolak untuk membantu. Sepasang mata merahnya menyala tajam, menatap lurus ke arah wajah istrinya yang memerah padam, mengunci pandangan Sienna.Lucian perlahan melepaskan tangannya yang tadi membimbing tangan Sienna. Pria itu kemudian memindahkan kedua telapak tangannya yang besar ke pinggang ramping sang Permaisuri untuk menyibak gaunnya semak
Jemari Sienna yang bergetar hebat akhirnya berhasil meloloskan pengait dan sabuk kulit tersebut. Dengan napas tertahan, ia menarik kain gelap itu turun sepenuhnya.Seketika, bukti nyata dari hasrat suaminya yang telah terbangkitkan sepenuhnya terpampang jelas tanpa penghalang apa pun, hanya satu jengkal dari wajah Sienna.Selama ini, pergumulan intim mereka lebih sering terjadi dalam dominasi Lucian. Sienna tidak pernah dihadapkan pada situasi di mana ia yang memegang kendali hingga sejauh ini dan melihat pusat gairah pria itu secara langsung dengan jarak begitu dekat.Mata biru Sienna membelalak sempurna. Jantungnya berdebar begitu gila hingga telinganya berdenging. Ukuran dan intensitas dari gairah sang Tiran Utara itu benar-benar mengintimidasi akal sehatnya. Nyali Sienna seketika menciut. Sebuah dorongan untuk menarik diri dan mundur merayap naik, membekukan pergerakannya. Tangannya yang masih mengambang di udara kini bergetar semakin kuat.Merasakan keraguan istrinya, tubuh Luc
Sienna menggeleng pelan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata merah suaminya."Aku tidak sedang memaksakan diriku, Lucian." bisiknya.Lucian membuang napas panjang, tatapannya melembut melihat raut wajah istrinya yang terlihat begitu bersungguh-sungguh."Sienna, tidak apa-apa. Kau tidak perlu menebus apa pun. Aku hanya sedang lelah hingga pikiranku kacau dan berbicara seperti tadi.""Tidak, kau tidak mengerti." bantah Sienna pelan.Memang benar, awalnya gerakan agresif itu didorong oleh rasa bersalah yang mencekik. Namun, saat bibir mereka bertemu, saat ia merasakan kehangatan tubuh Lucian yang familiar dan dekapan tangan pria itu di pinggangnya, sesuatu yang lain ikut terbakar di dalam dada Sienna. Namun, dari sorot matanya, Sienna tahu Lucian masih berpikir bahwa istrinya ini hanya sedang melakukan tugas untuk menenangkannya.Sienna menelan ludah, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang ia miliki. Ia melepaskan kalungan tangannya dari leher Lucian, menempelkan kedua telapak tang
Sienna membuka mulutnya, bersiap melontarkan bantahan atau alasan logis tentang betapa gentingnya situasi mereka saat ini. Namun, kata-kata itu mati di ujung lidahnya.Ia menatap mata merah suaminya yang meredup, lalu tanpa sadar memutar kembali ingatannya selama beberapa hari terakhir. Sejak insiden demam itu, isi kepala dan setiap kalimat yang keluar dari mulut Sienna memang tidak pernah jauh dari kecurigaan, penyelidikan, dan strategi. Ia memperlakukan pria yang berdiri di hadapannya ini layaknya seorang jenderal perang, melupakan fakta bahwa pria ini adalah suaminya yang baru saja melewati hari-hari yang melelahkan.Sadar akan kesalahannya, perlahan Sienna kembali menutup mulutnya. Bahunya yang tegang sedikit menurun.Melihat istrinya terdiam, pria itu menghela napas panjang dan berat. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, lalu merengkuh tubuh ramping Sienna ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif. Lucian membenamkan wajahnya di perpotongan leher Sienna, me
Di ruang kerja pribadi Kaisar, Lucian duduk dalam keheningan yang mencekam. Mata merahnya yang tajam menatap lurus ke arah seorang pria berpakaian serba hitam yang tengah berlutut dengan satu kaki di atas karpet. Pria itu adalah salah satu ksatria bayangan elitnya, anjing pelacak paling mematikan yang diutus secara khusus untuk membuntuti kepergian mendadak Lady Lesley tempo hari."Laporanmu." titah Lucian.Ksatria bayangan itu menundukkan kepalanya semakin dalam. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia. Saya mengikuti kereta kuda keluarga Saxony yang ditumpangi oleh Lady Lesley tanpa terdeteksi."Ksatria itu mengambil napas sejenak, suaranya terdengar sangat serius dan tegang."Alasan tentang Count Saxony yang sakit keras murni sebuah kebohongan, Yang Mulia. Count dan Countess dalam keadaan sehat. Namun, yang paling krusial adalah... saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa Pangeran Arthur berada di sana."Keheningan seketika membungkus ruangan tersebut. Rahasia terbesar yang di
Membeli…Begitu mendengar kata itu diucapkan, keberanian yang sempat Sienna kumpulkan untuk menghadapi nasibnya menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang rasa mual yang muncul secara tiba-tibaTangannya yang mencengkeram lengan Marie bergetar hebat. Kenapa... semua orang begitu terobsesi ingin
Begitu suara Marie terdengar, Eleanor kembali menarik tangan Sienna dan mencengkramnya dengan kuat.“Aku tidak tahu bagaimana caranya.” ucap wanita itu pelan. “Tapi lakukan sesuatu, minta uang pada Dukemu itu, atau mencurilah darinya. Tapi kau harus memberikan sesuatu untukku.”Wanita itu melepaska
Napas Sienna tercekat di tenggorokan saat merasakan hawa panas tubuh Lucian semakin merapat, menghilangkan jarak di antara mereka.Tangan besar pria itu, yang tadi sibuk dengan tali-tali rumit, kini tidak langsung menjauh. Telapak tangannya yang kasar dan hangat justru mendarat di bahu telanjang Si
Jantung Sienna seolah berhenti berdetak. Darah di wajahnya surut seketika."Tu... tunangan?" suaranya hanya terdengar seperti bisikan."Ya, tunangan," ulang Anna. Nada bicaranya begitu manis. Pelayan itu kembali menatap cermin, mempertemukan pandangannya dengan Sienna. "Mereka adalah pasangan yang







