Masuk"Lucian." panggil Sienna saat pria itu sedang melepas kemejanya di kamar mereka. "Kau akan mengundang semua bangsawan tanpa terkecuali untuk pesta dansa perayaan kemenangan nanti, kan?"Mendengar nada bicara istrinya yang tidak biasa, Lucian menoleh pelan pada Sienna."Ya. Tentu saja. Undangan resmi dengan segel kekaisaran telah dikirimkan ke setiap kediaman bangsawan, baik di ibu kota maupun di wilayah luar." jawab Lucian tenang, menatap lekat wajah istrinya. "Ada apa, Sienna? Apa yang membuatmu terlihat begitu gelisah, Istriku?"Sienna menghela napas kasar. Ia berdiri mendekat pada Lucian, menatap suaminya dengan kilat mata frustrasi yang tak lagi bisa disembunyikan."Ini tentang Elizabeth." desis Sienna, nada suaranya bergetar menahan amarah yang mendidih. "Dia baru saja menemuiku. Dia meminta izinku untuk kembali ke Duchy Mountford, dan menikah dengan Lord Muda dari Marquesate Faucigny."Kening Lucian seketika berkerut tajam. Wajahnya yang selalu tampak tenang kini berubah serius.
Mendapat perlakuan kasar dan dingin dari pria yang selama ini ia anggap sebagai sahabat sekaligus mantan komandannya, Rowan menatap Caesar dengan kening berkerut tajam."Ada apa ini?" tanya Rowan, kebingungan dan rasa frustrasi mulai bercampur aduk. Ia memutar tubuhnya, menghalangi langkah Caesar. "Caesar, kenapa kau bersikap seperti ini? Jika sikap dinginmu ini adalah tentang masalah pelayan Ashford itu... “Yang Mulia Kaisar sendiri mengatakan bahwa namaku sudah dibersihkan. Aku tidak bersalah. Itu murni fitnah dari Lady Alexandria yang dijatuhkan kepadaku!"Rowan menjelaskan hal itu dengan nada mendesak, berharap reputasinya yang telah bersih di mata hukum kekaisaran bisa melembutkan sikap sahabatnya.Mendengar penjelasan Rowan yang masih sangat polos dan tidak memahami inti permasalahan yang sebenarnya, Caesar menatap mantan ksatrianya itu dengan pandangan yang luar biasa dingin. "Aku berharap..." ucap Caesar pelan. "...bahwa itu adalah satu-satunya masalah di antara kita di sin
Senyum lebar di wajah Rowan perlahan memudar. Keningnya berkerut bingung melihat perubahan sikap Elizabeth yang begitu drastis."Apa? Kenapa?" tanya Rowan tidak mengerti. "Kau adalah Dayang Permaisuri. Tentu saja kau harus hadir di pesta perayaan resmi kekaisaran."Elizabeth membuang mukanya ke arah rerumputan. Rasa sakit yang luar biasa tajam kembali mengoyak dadanya. Tapi ia harus mengingat janjinya pada Caesar."Aku... setelah ini aku harus segera berbicara dengan Yang Mulia Permaisuri,. ucap Elizabeth dengan suara bergetar, memaksa dirinya untuk menatap Rowan dan menjatuhkan realitas pahit itu tepat di depan mata sang pahlawan perang. "Ayahku telah membuat kesepakatan politik. Beliau akan menikahkanku dengan Lord Muda dari MarquasateFaucigny."Napas Rowan tercekat saat mendengar perkataan Elizabeth."Dan jika Permaisuri mengizinkan..." lanjut Elizabeth, meremas gaunnya dengan tangan sedingin es, menahan air mata keputusasaan yang kembali mendesak, "...aku mungkin harus segera ke
Mendengar namanya dipanggil dengan suara bariton yang begitu ia rindukan, pertahanan Elizabeth nyaris runtuh sepenuhnya.Tubuh gadis itu bergetar samar. Ia tidak sanggup menatap wajah pria di hadapannya. Takut jika ia mengangkat wajahnya, ia tidak akan bisa menahan diri untuk menghambur ke dalam pelukan pria itu dan membongkar seluruh perasaan yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Karenanya, Elizabeth hanya mampu menundukkan wajahnya, membiarkan helaian rambut pirangnya menutupi ekspresi wajahnya yang penuh kelegaan.Elizabeth menarik napas panjang, menelan bongkahan batu yang menyumbat tenggorokannya, sebelum akhirnya membuka mulutnya."Kau..." suara Elizabeth terdengar sedikit serak, namun ia berusaha keras untuk mempertahankan nada angkuh. "...masih tidak sopan seperti biasanya."Mendengar teguran tajam yang sudah sangat lama tak menyapa telinganya itu, alih-alih merasa bersalah atau meminta maaf, Rowan justru tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya.Beban penderitaan yang te
Matahari tengah bersinar terik ketika rombongan ksatria dari garis depan utara akhirnya menampakkan diri di gerbang Ibu kota.Debu jalanan mengepul diiringi derap langkah kuda yang bergemuruh. Berita tentang kemenangan telah menyebar lebih dulu bagaikan api yang melahap padang rumput kering. Saat pasukan itu tiba di depan gerbang raksasa ibu kota, lautan manusia telah berkumpul, bersorak-sorai menggemakan nyanyian kemenangan dan melemparkan kelopak bunga ke arah pahlawan mereka yang bersimbah peluh dan debu.Di garis terdepan gerbang, deretan utusan resmi istana yang mengenakan jubah sutra berdiri menyambut mereka. Terompet kekaisaran ditiup panjang, menandakan penghormatan tertinggi. Para utusan itu segera mengarahkan pasukan menuju penginapan mewah milik kekaisaran yang sengaja dikosongkan khusus untuk menjamu para ksatria yang bukan berasal dari ibu kota, memberikan mereka tempat untuk membersihkan diri dan beristirahat.Namun, tidak semua ksatria bisa langsung merebahkan tubuh
Perjalanan kembali menuju ibu kota terasa jauh lebih dingin dan mendung dari sebelumnya. Angin malam yang berhembus dari celah jendela kereta membawa hawa beku yang menusuk tulang, membuat perjalanan melintasi rute selatan itu terasa semakin berat dan panjang.Di dalam kabin kereta yang berguncang pelan, Alice menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi dengan tubuh yang terasa seolah baru saja diremukkan. Rasa lelah yang luar biasa pekat mencengkeram setiap otot di tubuhnya. Bagaimana tidak? Dayang utusan Permaisuri itu telah berkuda menembus badai siang dan malam tanpa henti. Ia baru saja tiba di pelataran Duchy Mountford beberapa jam yang lalu, dan kini ia sudah harus kembali menempuh rute mematikan yang sama menuju istana.Namun, rasa lelah fisiknya ternyata belum seberapa dibandingkan dengan tekanan mental yang harus ia hadapi di dalam kabin kecil ini.Kehadiran dua kakak beradik Duchy Mountford yang duduk berhadapan dengannya sama sekali tidak membantu meringankan suasana. Eliz
Ruang pertemuan rahasia di kediaman utama fraksi Utara malam itu terasa sesak oleh ketegangan dan antisipasi. Lampu kristal yang berpendar keemasan menyinari wajah-wajah para bangsawan tinggi yang saling berbisik tak sabar. Asap cerutu berbaur dengan aroma anggur merah yang menguar di udara.Keheb
Cahaya keemasan matahari melalui celah tirai tebal di kamar utama kediaman Borgia.Sienna mengerjap pelan, menyesuaikan matanya dengan cahaya. Ia menggeliat di balik selimut tebal yang hangat, meraih sisi ranjang di sebelahnya. Tempat itu kosong dan terasa dingin. Lucian pasti sudah bangun lebih a
Kereta kuda putih berlambang matahari Kekaisaran itu akhirnya berhenti di pelataran paviliun pribadi istana yang jauh dari kastil kaisar. Lucian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sienna. Dengan genggaman protektif yang tak pernah ia lepaskan, sang Duke memandu istrinya me
Sementara persiapan keberangkatan Lucian dan Sienna dilakukan secara rahasia di sayap utama, ketegangan yang berbeda tengah memuncak di sayap lain mansion.Langkah kaki yang berat dan berdentum keras terdengar memasuki kamar Tabib. Sir Roderick, ksatria senior yang menjabat sebagai Kepala Keamanan







