Share

BAB 149

Author: Rainina
last update publish date: 2026-02-28 14:49:00

Cahaya keemasan matahari melalui celah tirai tebal di kamar utama kediaman Borgia.

Sienna mengerjap pelan, menyesuaikan matanya dengan cahaya. Ia menggeliat di balik selimut tebal yang hangat, meraih sisi ranjang di sebelahnya.

Tempat itu kosong dan terasa dingin. Lucian pasti sudah bangun lebih awal, mengingat pria itu memiliki kebiasaan tidur yang sangat singkat dan setumpuk urusan militer dan wilayah yang harus diurus.

Sienna tersenyum tipis mengingat kejadian semalam. Rona merah samar kemb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 407

    Klek. Suara putaran anak kunci besi yang berat memecah keheningan yang memenuhi ruangan.Pintu kayu ek berukir tebal yang dikunci rapat dari luar itu perlahan berderit terbuka. Alexander melangkah masuk ke dalam kamar tidur sang Ratu yang luas dan megah, namun terasa seperti sebuah penjara.Di ujung ruangan, seorang wanita berdiri menghadap jendela yang bahkan dihalangi oleh kayu, hanya menyisakan sedikit ruang untuknya melihat keluar. Sang Ratu keraajaan Eldoria, Raatu Charlotte.Ia mengenakan gaun sutra tipis yang jatuh menjuntai ke lantai, menonjolkan perutnya yang kini sudah membuncit besar karena kehamilan yang kian menua.Tidak ada reaksi sekecil apa pun dari wanita itu saat Alexander mendekat. Wajahnya begitu datar, pucat, dan nyaris tidak memiliki sisa-sisa kehidupan di matanya yang dulu selalu bersinar cerah."Lottie," panggil Alexander lembut, suaranya dipenuhi oleh puja dan obsesi yang pekat.Pria itu berjongkok dengan satu lutut tepat di hadapan istrinya. Alexander meraih

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 406

    Di dalam kamar utama Paviliun Tamu Istana yang megah, perabotan mewah berserakan di lantai. Meja kayu ek yang kokoh telah terbelah dua, vas-vas porselen hancur berkeping-keping, dan karpet beludru merah ternoda oleh anggur yang tumpah.Raja Alexander berdiri di tengah kekacauan itu dengan dada naik turun dan napas memburu. Matanya yang gelap menyalang liar, memancarkan kegilaan dan amarah yang nyaris meledak.Di salah satu sudut ruangan, Baron Borgia meringkuk ketakutan, menekan punggungnya ke dinding batu yang dingin. Wajah keriput pria tua itu pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat melihat raja muda dari selatan itu mengamuk layaknya iblis yang terlepas dari rantai."Tidak becus!" raung Alexander, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. "Aku memberimu satu tugas yang sangat sederhana, Borgia! Alihkan perhatian wanita itu agar ia sendiri yang berjalan padaku! Tapi apa yang kau lakukan?! Kau bersembunyi di balik dinding seperti tikus pengecut!"Alexander melangkah maju dengan

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 405

    Di tengah lautan manusia yang masih bersorak-sorai mengikuti irama parade penari bertopeng, Lucian awalnya memaksakan dirinya untuk tetap tenang.Saat gelombang penari yang liar itu memisahkan genggaman tangannya dari Sienna, insting pertama Lucian adalah untuk membelah kerumunan dengan kekerasan. Namun, akal sehatnya dengan cepat mengambil alih. Lucian tahu betul bahwa ia telah menempatkan puluhan Ksatria Bayangan elit di setiap sudut alun-alun. Mereka menyamar, berbaur, dan mata mereka dilatih untuk tidak pernah kehilangan target. Seharus selalu ada ksatria yang bersiaga untuk istrinya.Oleh karena itu, Lucian mengira perpisahan ini hanya akan berlangsung selama beberapa menit. Ksatria-ksatrianya pasti sudah mengamankan Sienna, melindunginya dari desakan kerumunan, dan sedang membawanya kembali ke titik kumpul yang aman di pinggir jalan.Namun, keyakinan rasional itu menguap tak berbekas saat sepasang mata merah darahnya menyapu ke arah pinggiran alun-alun yang sedikit lebih sepi

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 404

    Suara teriakan Alice yang melengking formal itu menggema dan memantul di dinding-dinding batu alun-alun, menghancurkan rencana gelap yang sudah disusun sedemikian rapi oleh Alexander.Raja Eldoria itu membeku, sebelum perlahan menoleh ke arah Alice. Sepasang matanya yang gelap kini memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Jika tatapan bisa mencabik-cabik seseorang, Alice pasti sudah hancur tak bersisa di tempatnya berdiri."Kau..." desis Alexander dengan rahang mengeras kaku. Urat-urat halus menonjol di pelipis dan lehernya.Didorong oleh kemarahan yang membutakan akal sehatnya, Alexander melepaskan cengkeramannya dari lengan Sienna. Pria itu mengambil satu langkah lebar dengan tangan terulur, berniat mencengkeram leher dayang kecil yang berani menghalangi jalannya itu.Namun, sebelum jemari Alexander berhasil menyentuh Alice, suara gemuruh puluhan langkah kaki yang tergesa-gesa langsung membanjiri lorong temaram tersebut.Teriakan Alice rupanya bekerja jauh lebih efektif dari y

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 403

    Saat rentetan kembang api pertama meledak di udara, ​di sudut jalan yang tidak terlalu padat, Alice mendongak dengan bibir sedikit terbuka, menatap takjub pada bunga-bunga cahaya yang mekar di atas sana. Di tangan kanannya, ia memegang setusuk manisan apel karamel yang baru saja ia beli dari seorang pedagang tua yang ramah. Rasa manis karamel yang lumer di lidahnya berpadu sempurna dengan udara malam musim semi yang sejuk.​Meskipun beberapa saat yang lalu Permaisuri Sienna telah memberikan perintah langsung padanya untuk pergi menikmati festival dengan bebas, Alice memilih untuk tidak mematuhi perintah itu sepenuhnya.​Dari kejauhan, Alice bisa melihat siluet Permaisuri Sienna yang berdiri berdampingan dengan sosok menjulang tinggi sang Kaisar.​Sebuah senyum tulus mengembang di balik topeng Alice saat ia melihat Lucian memeluk Sienna dari belakang untuk melindungi wanita itu dari dorongan kerumunan. Alice bisa melihat dengan jelas bagaimana Sienna tertawa bahagia, membalas peluk

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 402

    Sepasang mata merah Lucian menyipit tajam, memindai kerumunan dengan insting mematikan. Ia mencoba mencari arah pandang istrinya, mencari tahu bajingan mana yang berani membuat Permaisurinya terlihat menegang di tengah kerumunan..Sienna menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia sangat ingin menghampiri pria tua itu. Ia ingin menarik kerah jubah ayahnya ke tempat sepi, menuntut apa yang sebenarnya pria itu inginkan, dan memperingatkannya untuk enyah dari sekitar sini sebelum Lucian memenggal kepalanya. Sienna butuh kepastian bahwa bayang-bayang masa lalunya itu tidak akan mengganggu hidup barunya.Namun di sisi lain, tangan Lucian yang menggenggamnya terasa begitu protektif. Sienna tahu betul jika ia jujur dan mengatakan bahwa ayahnya berani menampakkan diri, Lucian tidak akan memberinya kesempatan untuk berbicara. Sienna tidak ingin malam indahnya hancur karena pria benalu itu."Tidak ada siapa-siapa, Lucian," dusta Sienna pelan, memaksakan se

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 74

    Lorong Sayap Barat dijaga ketat. Dua ksatria berarmor hitam dengan lambang Duchy Lorraine berdiri mematung di depan pintu kamar Alexandria, tangan mereka bersiaga di tombak panjang.Langkah kaki Arthur menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian koridor.Arthur berdiri dengan santai di depan

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 76

    "Tuan Duke, Dewan Bangsawan mengirimkan surat protes resmi."Damien meletakkan gulungan perkamen berstempel lilin merah di atas meja kerja Lucian. Wajah ajudan itu tampak keruh, tanda bahwa kabar yang dibawanya bukanlah kabar baik."Mereka menuntut Anda segera mencabut hukuman pengurungan terhadap

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 73

    Damien kembali ke ruang kerja Lucian dengan wajah yang jauh lebih suram daripada sebelumnya. "Katakan." perintah Lucian tanpa basa-basi."Pelayan pribadi Lady Alexandria... dia mati, Tuan Duke" lapor Damien dengan suara berat. "Dan Anna kritis. Tabib sedang berusaha memompa sisa racun keluar dari

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 70

    "Sienna." Lucian membalas panggilan itu lembut. Jemarinya tidak beranjak, masih betah merasakan kehangatan samar di kulit pipi gadis itu, seolah ingin memastikan bahwa gadis di hadapannya ini benar-benar nyata."Maafkan saya..." ucap Sienna lirih. Suaranya terdengar serak dan menyakitkan.Kalimat i

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status