Share

BAB 3

Author: Rainina
last update publish date: 2025-12-22 17:44:06

Sienna kembali menarik tangan pria itu sekuat tenaga. Pria itu jelas memiliki fisik yang jauh lebih kuat, namun di ambang kebingungannya, ia membiarkan tubuhnya tertarik ke bawah, mendekat ke arah wajah Sienna.

Cahaya redup dari sisa bara api di perapian kini jatuh tepat di wajahnya, dan saat itulah Sienna melihatnya.

Sepasang mata itu.

Bukan cokelat, bukan biru, bahkan bukan hijau zamrud yang umum dimiliki bangsawan biasa. Iris mata pria itu berwarna merah darah yang menyala dalam kegelapan.

Darah di wajah Sienna seketika surut. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia tahu arti warna mata itu. Di seluruh kekaisaran ini, hanya mereka yang memiliki darah langsung keluarga Kekaisaran yang diberkati dengan mata semerah darah.

Sienna melepaskan cengkeramannya seolah tangan pria itu adalah bara api. Ia terhuyung mundur, napasnya tercekat di tenggorokan.

"Pernikahan apa maksudmu?" Pria itu bertanya, keningnya berkerut tajam. Tatapannya menuntut jawaban, jelas tidak mengerti apa hubungan antara melayani nafsunya dengan sebuah pernikahan.

Sienna memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar bukan lagi hanya karena dingin, tapi karena rasa takut.

Pikiran Sienna berputar liar. Apakah ia baru saja mencoba menjebak seorang anggota keluarga kekaisaran?

Tidak, Sienna bisa menyebutkan dua keluarga bangsawan yang memiliki mata yang persis seperti itu selain keluarga kekaisaran.

Dan semuanya sama berbahayanya.

Bagaimana jika pria ini sudah memiliki istri? Bagaimana jika istrinya adalah seorang Putri atau Duchess yang sudah jelas memiliki kedudukan sosial yang jauh lebih tinggi dari dirinya?

Jika itu terjadi, nasib Sienna tidak akan berubah. Ia hanya akan berpindah dari satu lubang neraka ke lubang neraka lainnya.

Sienna menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir keraguan itu. Tidak. Ia tidak boleh mundur sekarang. Yang terpenting saat ini adalah menggagalkan rencana Viscount Rohan. Resiko di depan matanya jauh lebih nyata daripada ketakutan akan status pria ini.

Lagipula Sienna tidak sedang berusaha menikahinya. Ia hanya perlu pria itu untuk mengambil kesuciannya.

"Saya akan dinikahi bangsawan tua yang sudah memiliki dua istri," ucap Sienna. Ia memaksakan dirinya untuk kembali menatap mata merah menyala itu, menelan rasa takutnya bulat-bulat. 

"Jika saya menginjakkan kaki di rumah itu... jika pernikahan itu sah... saya akan mati di tangan kedua istrinya yang cemburu."

Pria itu terdiam. Hening yang mencekam mengisi ruangan itu. Namun, alih-alih simpati, ekspresi pria itu justru mengeras. Rahangnya mengatup rapat, dan kilatan marah terlihat jelas di mata merahnya.

"Jadi kau hanya ingin menggunakanku?" suaranya begitu rendah dan menusuk. "Kau kira aku  pejantan yang bisa kau manfaatkan sesuka hatimu hanya karena kau butuh merusak dirimu sendiri?"

Pria itu mendengus kasar dan membuang muka dengan jijik. "Keluar!"

Bentakan itu membuat nyali Sienna menciut, tapi bayangan wajah Viscount Rohan yang menyeringai dan burung mati di depan pintu mansion keluarganya jauh lebih menakutkan.

Sienna tidak punya pilihan lain. Logika sudah meninggalkan kepalanya.

Dengan gerakan putus asa, Sienna maju dan kembali menyambar tangan pria itu. Ia menariknya turun dengan kasar, memejamkan mata rapat-rapat, dan melakukan usaha payah untuk menciumnya.

Ia tidak tahu caranya. Ia tidak pernah melakukannya.

Dug!

Alih-alih pertemuan bibir yang lembut, Sienna justru menabrakkan wajahnya terlalu keras. Gigi mereka beradu dengan bunyi yang nyaring dan menyakitkan.

Kepala Sienna berdengung hebat. Rasa sakit yang tajam menyengat bibirnya, dan rasa asin darah seketika merembes di lidahnya.

Sienna terkesiap dan mundur, memegang mulutnya yang terasa kebas. Air mata menggenang di sudut matanya karena rasa sakit fisik dan rasa malu yang tak tertahankan.

Pria itu juga mundur selangkah, tangannya menyentuh bibir bawahnya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. Ia menatap jari-jarinya, memastikan tidak ada darah, lalu menatap Sienna dengan tatapan yang sulit diartikan.

Bukan lagi kemarahan yang meledak-ledak, melainkan campuran antara rasa kaget dan... kasihan?

"Kau..." Pria itu mendesis pelan, namun nadanya tidak lagi setinggi tadi. Ia melihat Sienna yang kini berdiri dengan mata berkaca-kaca sambil memegangi mulutnya sendiri. "Kau bahkan tidak tahu apa yangs sedang kau lakukan."

Pria itu menghela napas panjang, menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan frustasi. Amarahnya pada kelancangan wanita itu entah kenapa menguap begitu melihat betapa menyedihkannya usaha Sienna barusan.

"Dengar," ucapnya, suaranya terdengar lebih berat dan lelah. "Jika kau sebegitu putus asanya ingin menghancurkan hidupmu sendiri... setidaknya lakukan dengan benar."

Sienna mendongak, matanya yang basah menatap pria itu bingung.

Tanpa peringatan, pria itu melangkah maju. Kali ini tidak ada keraguan dalam gerakannya. Satu tangannya melingkar di pinggang ramping Sienna, menarik wanita itu hingga tubuh mereka bertabrakan, sementara tangan lainnya menangkup rahang Sienna, memaksanya mendongak.

Jantung Sienna terasa hampir meledak. Aroma pria itu memenuhi indra penciumannya, memabukkan dan mengintimidasi di saat bersamaan.

"Jangan tutup matamu," bisik pria itu tepat di depan bibir Sienna yang bengkak. Mata merahnya menatap lurus ke dalam manik mata Sienna, menghipnotisnya. "Lihat siapa yang akan menghancurkanmu malam ini."

Dan sebelum Sienna sempat menarik napas, pria itu menunduk dan melumat bibirnya. Bukan benturan kasar seperti yang Sienna lakukan tadi, melainkan ciuman yang membuat lutut Sienna seketika terasa lemas seperti tak bertulang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 220

    Belum sempat Sienna bereaksi pada dorongan itu, Lucian menjatuhkan tubuh besarnya ke atas tubuh Sienna, mengurung wanita itu sepenuhnya di bawah kungkungannya.Berat tubuh suaminya menekan tubuhnya, sementara kedua tangan Lucian bertumpu di sisi kepala Sienna, mengunci segala celah baginya untuk melarikan diri atau membuang muka.Sienna menahan napas. Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa senti. Mata merah Lucian yang biasanya menatapnya dengan penuh pemujaan, kini menatap lurus ke dalam mata biru Sienna dengan keputusasaan dan kemarahan yang tertahan.."Bagaimana kau bisa terus berpura-pura tidak tahu siapa yang kubicarakan?" geram Lucian tepat di depan bibir Sienna, napasnya yang panas menerpa kulit wajah istrinya.Tangan Lucian yang menumpu di kasur terkepal kuat hingga meremas seprai sutra di bawah mereka. Sorot matanya menelanjangi setiap kebohongan yang terus Sienna bangun.."Apa racun yang diberikan Arthur juga telah merusak hati nuranimu?" desis Lucian, suar

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 219

    Malam itu, berbeda dengan hari-hari lainnya, Lucian telah kembali ke kamar lebih dulu dibanding istrinya.Ketika Sienna melangkah masuk, pemandangan yang menyambutnya membuat langkahnya terhenti.Lucian duduk di sofa tunggal di dekat perapian yang menyala redup. Pria yang biasanya memancarkan aura penguasa yang tak tertembus itu kini tampak berantakan.Kemejanya dibiarkan terbuka di bagian kerah, dan raut wajahnya terlihat sangat kusut. Di tangannya terdapat sebuah gelas kristal berisi anggur merah, sementara sebotol anggur yang isinya sudah setengah kosong tergeletak di atas meja di sebelahnya.Hati Sienna berdenyut nyeri melihat suaminya dalam keadaan seperti itu. Ia tahu Lucian sedang disiksa oleh beban pik

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 218

    Trak! Trak!Suara ketukan pangkal tombak yang beradu keras dengan lantai marmer tiba-tiba menggema dari balik pintu, menghentikan detak jantung setiap orang di ruangan itu seketika.Pintu ganda berlapis emas Aula Anggrek yang menjulang tinggi didorong terbuka lebar secara bersamaan oleh dua ksatria bersenjata lengkap.Hawa dingin seketika berhembus masuk, menyapu ruangan dan menghilangkan keangkuhan yang sedari tadi dipupuk oleh ketiga gadis tersebut.Seorang kepala pelayan istana melangkah masuk dengan wajah tegas, berdiri tegak di sisi pintu, dan menarik napas panjang."Yang Mulia Permaisuri Kekaisaran, telah tiba!" seru pria itu dengan suara

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 217

    Pembicaraan yang sejak tadi memenuhi ruangan perlahan mulai redup seiring berjalannya waktu.Udara di dalam ruangan yang awalnya dipenuhi oleh antusiasme, saling pamer dan sindir, senyuman manis yang dipaksakan, dan aroma parfum mahal, kini berubah menjadi kaku dan menjemukan.Sudah lebih dari satu jam berlalu, namun Sienna belum juga menampakkan wajahnya.Di salah satu sofa beludru utama yang terletak di tengah ruangan, tiga nona muda, Lady Catherine, Lady Charlotte, dan Lady Margaret mulai menunjukkan raut wajah yang masam.Kipas di tangan mereka kini dikibaskan dengan ritme yang cepat dan penuh kekesalan, menciptakan suara kepakan kecil yang memecah keheningan canggung di antara para kandidat lainnya.

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 216

    Dua minggu berlalu dengan begitu cepat.Siang itu, dari balik jendela kaca di ruang kerjanya yang berada di lantai kedua Istana, Lucian berdiri mematung.Mata merah sang Kaisar menatap tajam ke arah pelataran gerbang istana dalam, di mana rentetan roda kereta kuda saling berderit memecah kesunyian istana.Kereta-kereta kuda itu membawa lambang dari berbagai keluarga bangsawan dari berbagai tingkatan.Namun, yang membuat darah Lucian mendidih bukanlah lambang-lambang itu, melainkan pemandangan absurd yang tersaji di pelataran.Puluhan pelayan berlarian menurunkan peti-peti kayu raksasa, kotak-kotak perhiasan, dan tumpukan koper kulit dari atas ke

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 215

    Saat Lucian masuk ke kamar mereka, Sienna sedang duduk di dekat perapian. Istrinya itu tengah memegang secangkir teh porselen, menyesapnya perlahan seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mengganggu ketenangannya.Melihat suaminya masuk dengan aura yang begitu pekat, Sienna hanya meletakkan cangkir tehnya dengan pelan dan menatap Lucian."Aku sudah mendengar semuanya dari Marquess Ashford." ucap Lucian tanpa basa-basi.Sang Kaisar melangkah mendekati wanita itu, menatap mata istrinya lekat-lekat. "Batalkan surat-surat itu. Aku tidak setuju kau membawa wanita-wanita lain ke dalam istana ini, Sienna."Mendengar larangan mutlak dari suaminya, ekspresi Sienna tidak berubah sedikit pun. Wajahnya tetap tenan

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 66

    Anna membalikkan badannya dengan kaku, jantungnya berdegup begitu keras hingga dadanya terasa sakit.Di ambang pintu, Marta berdiri dengan tatapan tajam. Pelayan itu tidak langsung masuk, hanya mematung di sana dengan satu alis terangkat."Apa yang sedang kau lakukan di meja itu?" tanya Marta, suar

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 65

    "LUCIAN!"Bentakan Beatrice memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding batu yang dingin. Wajah Duchess yang biasanya anggun kini merah padam menahan amarah. Dadanya naik turun dengan cepat."Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" desis Beatrice, suaranya bergetar antara murka dan rasa ma

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 61

    Rumah kaca Kastil Lorraine sedang dalam puncak keindahannya. Tapi Sienna justru memandang rumah kaca yang saat ini menjadi tempat pesta minum itu itu seperti penjara.Ketika Sienna akhirnya tiba di dalamnya, langkahnya terhenti mendadak. Jantungnya terasa jatuh hingga ke perut.Semua kursi sudah te

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 62

    Suasana di meja itu terasa semakin mencekik seiring berjalannya waktu. Sienna mencoba menyentuh cangkirnya tehnya setenang mungkin, namun tangannya sedikit gemetar. Sienna sudah pernah hadir di acara minum teh wanita bangsawan sebelumnya.Tapi kali ini, tekanan yang ia rasakan begitu memebani dadan

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status