Share

BAB 2

Author: Rainina
last update Last Updated: 2025-12-22 17:43:54

Ruangan itu gelap, satu-satunya sumber cahaya hanyalah sisa bara api di perapian yang nyaris mati, menciptakan bayang-bayang panjang di dinding.

Di tengah keremangan itu, seorang pria duduk di sofa yang berada di tengah ruangan. Tangannya menuangkan alkohol ke gelas kristal di hadapannya.

Begitu Sienna melangkah lebih dekat, pria itu menoleh sedikit. Wajahnya masih tersembunyi dalam bayangan, namun Sienna bisa merasakan tatapannya yang tajam.

"Seseorang mengirimmu?" pria itu bertanya dengan nada yang begitu dingin. Sienna dapat merasakan ketidaksukaan dalam suaranya.

"I... iya... Tuan..." Sienna menunduk, meremas kain jubahnya dengan jari-jari yang berkeringat dingin. Ia tidak yakin apa yang harus dilakukannya. Apakah ia harus langsung membuka jubahnya?

Ia menepuk sisi kosong di sebelahnya dengan santai.

“Duduk.”

Sienna berjalan dengan cepat dan menuju sofa. Ia duduk sedikit menjaga jarak dari pria itu, masih tidak yakin dengan apa yang harus ia lakukan.

Pria itu meraih gelas kristalnya, meneguk sisa cairan amber di dalamnya hingga tandas dalam sekali tegukan. Ia lalu menggeser gelas kosong itu ke arah Sienna.

“Tuangkan.”

Sienna tersentak pelan, namun segera meraih botol kristal berat yang ada di atas meja. Tangannya masih gemetar hebat karena  ketidakmampuannya menabak apa yang akan terjadi malam ini.

Tring!

Bunyi denting nyaring terdengar saat bibir botol beradu dengan bibir gelas. Tangan Sienna yang licin oleh keringat dingin tergelincir, membuat botol mahal itu nyaris meluncur jatuh dari genggamannya.

“Ma… maafkan saya!” Sienna memekik tertahan, buru-buru menahan botol itu dengan kedua tangan dan menegakkannya kembali. Jantungnya berpacu liar, takut pria itu akan marah karena kecerobohannya.

Namun pria itu hanya mendengus, matanya melirik jubah tebal yang masih membungkus tubuh Sienna.

“Lepaskan benda itu,” perintahnya datar.

Sienna membeku. “A… apa?”

“Jubahmu,” pria itu menunjuk dengan dagunya. “Benda tebal itu membuat gerakanmu lamban dan ceroboh.”

Sienna menelan ludah. Ia tahu momen ini akan datang, dengan gerakan kaku Sienna membuka ikatan tali jubah di lehernya.

Perlahan, kain hitam kasar itu meluruh dari bahunya, jatuh menumpuk di pinggangnya, memperlihatkan apa yang ada di baliknya.

Hening.

Pria itu tidak segera bicara. Ia hanya menatap Sienna, memindai penampilannya dari atas ke bawah. Namun alih-alih tatapan penuh nafsu, alis tebal pria itu justru berkerut dalam, menyiratkan kebingungan yang bercampur dengan rasa tidak percaya.

“Kau…” Pria itu memiringkan kepalanya, nada suaranya terdengar sangsi. “Kau berniat menghibur seorang pria di atas ranjang dengan gaun… itu?”

Wajah Sienna seketika memerah padam, rasa panas menjalar hingga ke telinganya.

Ia menunduk, menatap gaun yang dikenakannya. Itu adalah gaun terbagus yang tersisa di lemarinya, namun di mata orang lain, itu tak lebih dari kain lusuh.

Gaun itu hanyalah gaun katun panjang berwarna pucat dengan potongan leher tinggi yang sangat konservatif. Tidak ada renda, tidak ada pita, tidak ada sulaman benang emas. Bahkan kainnya terlihat sudah menipis di bagian siku karena terlalu sering dicuci.

Sienna sadar, pelayan wanita di lantai bawah yang melayani para ksatria saja mengenakan gaun yang jauh lebih baru, lebih berwarna, dan lebih memikat daripada dirinya.

Dibandingkan seorang wanita penggoda, Sienna lebih terlihat seperti wanita miskin yang tersesat di rumah bordil.

“Hanya… hanya ini yang saya miliki,” cicit Sienna pelan, suaranya sarat akan rasa malu yang mendalam. Ia meremas rok gaunnya, berharap lantai di bawah kakinya terbuka dan menelannya bulat-bulat.

Pria itu hanya memandang Sienna sejenak sebelum berdiri dan berjalan menuju ranjang sambil membuka kancing kemejanya.

Inikah saatnya? Batin Sienna, ia ikut berdiri dari sofa dan mengikuti langkah pria itu. Tapi ia justru menghentikan langkahnya dan menatap Sienna dari balik bahunya.

“Keluar. Katakan pada Irene kau sudah melayaniku agar kau tetap dibayar. Aku juga akan mengatakan hal yang sama. Aku mau tidur.”

Sienna mematung. Pria itu berniat memberinya uang, tapi bukan itu yang menyelamatkan nyawanya. Jika ia keluar dalam keadaan utuh, Viscount Rohan tetap akan menikahinya.

Dan jika utusan dari kuil melihat darah di tempat tidur setelah malam pertamanya, pernikahan itu akan dianggap sah.

Kepanikan meledak di dada Sienna. Ia sudah tidak lagi peduli dengan rasa malunya. Sienna berlari dan mencengkeram lengan pria itu yang sudah tidak ditutupi oleh pakaiannya..

“Tunggu! Tidak bisa!”

Pria itu berhenti, menatap tangan Sienna yang lancang menyentuhnya dengan tatapan membunuh. “Lepaskan.”

“Tidak!” Sienna menggeleng. “Anda tidak mengerti! Saya tidak butuh uang! Jika anda tidak melakukannya pada saya, pernikahannya akan sah!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 85

    Sienna menarik selimut tebal itu hingga menutupi sebagian wajahnya, hanya menyisakan mata dan dahi yang terlihat. Pipinya terasa panas, dan wajahnya semerah tomat.Sienna meraasa malu setengah mati.Ini bukan pertama kalinya ia melakukannya dengan Lucian, tapi reaksi yang dikeluarkannya tadi... desahan yang terlalu keras, cakaran di punggung Lucian, dan betapa ia memohon sentuhan pria itu... itu semua terasa begitu asing dan liar.“Uhhh…” Sienna mengeratkan pegangannya pada ujung selimut, ingin menyembunyikan diri selamanya di balik kain itu.Sementara itu, di belakangnya, Lucian duduk bersandar pada kepala ranjang dengan napas yang mulai teratur. Ia menenggak habis isi botol kaca yang berisi ramuan penawar buatan Sienna. Untungnya botol itu tidak pecah saat Sienna menjatuhkannya tadi.Lucian menghela napas panjang setelah botol itu kosong, merasakan kepalanya mulai terasa jernih, meski hasrat di tubuhnya belum sepenuhnya padam."Sepertinya yang salah bukan ramuannya..." gumam Lucian

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 84

    Teriakan panjang dan tinggi lolos dari bibir Sienna, menggema di seluruh ruangan saat gelombang kenikmatan itu menghantamnya tanpa ampun. Tubuhnya menegang hebat, lalu lemas seketika di atas seprai yang berantakan.Napas Sienna tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa malu yang luar biasa menyergapnya begitu kesadarannya perlahan kembali. Sienna buru-buru menutup wajahnya yang merah padam dengan kedua telapak tangan, tidak berani menatap Lucian setelah suara memalukan yang baru saja ia keluarkan.Namun, Lucian tidak memberinya waktu untuk bernapas atau bersembunyi.Pria itu, dengan napas yang memburu kasar dan keringat yang menetes dari pelipisnya, merangkak naik. Aroma Sienna yang kini bercampur dengan aroma gairah membuatnya gila. Tanpa aba-aba, Lucian memposisikan dirinya di antara paha Sienna dan menyatukan tubuh mereka dalam satu dorongan."Ahhh!"Sienna, yang tubuhnya masih sangat sensitif pasca pelepasan, sontak melengkungkan punggungnya. Sensasi penyatuan itu terasa

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 83

    "Cara... lain?" bisik Sienna dengan napas tercekat.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Sienna, dan mengangkat tubuh mungil itu dalam dengan gerakan cepat.“Ahh…” Sienna memekik tertahan, secara refleks mengalungkan kedua lengannya ke leher Lucian erat-erat karena takut jatuh. Kepala gadis itu bersandar di bahu Lucian yang kokoh, menghirup aroma maskulin yang kini bercampur dengan aroma lain yang memabukkan.Tanpa membuang waktu, Lucian membawa Sienna menuju ranjang besar di tengah ruangan. Ia merebahkan tubuh gadis itu di atas tumpukan bantal dan seprai sutra, lalu segera menindihnya, mengunci pergerakan Sienna di bawah tubuhnya.Bibir mereka bertemu dengan cepat, Sienna, yang biasanya pemalu dan pasif, kini berubah drastis di bawah pengaruh ramuan itu. Biasanya, gadis itu hanya akan mengepalkan tangannya di seprai atau memeluk leher Lucian dengan kaku ketika ia tidak mampu menahannya lagi.Tapi kali ini berbe

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 82

    "....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma alami Sienna yang kini menjadi satu-satunya pegangan kewarasannya di tengah badai hasrat yang menyerangnya saat ini."Menurutmu..." bisik Lucian dengan suara serak. "kenapa aku membawamu kemari, Sienna? Kenapa aku membawamu ke kastilku?"Sienna terdiam dalam dekapan itu. Mencoba mencerna pertanyaan itu dengan logika yang ia yakini selama ini."Maksud... maksud saya..." Sienna tergagap. "Anda membeli saya dari ayah saya dengan sekantong penuh emas. Dan sebagai Duke, Anda diperbolehkan memiliki seorang 'selir' atau budak untuk menghangatkan tempat tidur. Saya pikir..."Lucian menundukkan kepalanya, menatap Sienna dengan tatapan terluka yang bercampur dengan kabut nafsu."Apa... hhh..." Lucian

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 81

    Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucian, mempertahankan kewarasannya."Diam..." geram Lucian rendah."Berhentilah melawannya Lucian." Alexandria mendekatkan wajahnya, hendak mencium bibir Lucian."KUBILANG DIAM!"Dengan sisa tenaga terakhir yang dikumpulkan dari amarahnya, Lucian mencengkram bahu Alexandria.BYUR!Lucian mendorong tubuh Alexandria sekuat tenaga. Wanita itu terlempar ke belakang, menghantam air dengan keras hingga kepalanya membentur sisi bak mandi marmer."Argh!" pekik Alexandria kesakitan.Lucian menyeret tubuhnya sendiri keluar dari bak mandi. Tangannya menarik jubah mandi dan menghampirkannya secara asal, pria itu berusaha mencari pegangan agar tetap berdiri..Ia harus mengejar Sienna. Sekarang.="Nona Sienn

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 80

    Sementara itu, di balik pintu penghubung antara kamar tidur Lucian dan kamar Lucian, Sienna berdiri dengan gelisah. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening. Itu adalah ramuan penawar standar yang baru saja ia racik ulang dengan panik.Ia begitu yakin pasti ada yang salah dengan ramuan yang diminum Lucian sebelumnya. Tidak mungkin Duke yang dingin dan berwibawa itu tiba-tiba berbicara manis dan melantur tentang kepercayaan akan nyawanya jika bukan karena efek samping ramuan yang berlebihan. Ia harus memberikan penawarnya sebelum Lucian mulai berhalusinasi lebih parah dan mengatakan hal aneh di hadapan para ksatria Duchy."Masuklah jika Anda ingin masuk, Nona." suara Marta mengejutkan Sienna.Sienna menoleh cepat dengan mata membulat. "Bagaimana kalau Tuan Duke marah padaku? Aku sudah memberinya ramuan aneh tadi...""Tidak akan." potong Marta dengan senyum yang hangat. "Tuan Duke sangat peduli pada Anda. Beliau tidak akan marah hanya karena hal ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status