Share

BAB 4

Author: Rainina
last update publish date: 2025-12-22 17:44:23

Sienna berteriak, punggungnya melengkung tanpa dapat ia kendalikan.

Rasanya seolah seluruh tubuhnya dikoyak dari dalam. Rasa sakit yang tajam dan asing menusuk dirinya, menandakan bahwa sesuatu yang sakral telah direnggut paksa darinya.

Akhirnya... akhirnya ia telah menjadi barang rusak yang tidak diinginkan.

Air mata merembes dari sudut mata Sienna, meluncur turun membasahi bantal. Itu adalah air mata campuran antara rasa sakit fisik yang menyengat, rasa malu dan... kelegaan yang memenuhi rongga dadanya.

Karena ia tahu, setelah ini, Viscount Rohan tidak akan lagi menginginkannya lagi. Namun, pria itu masih diam, dan Sienna tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Ingatan Sienna melayang pada percakapan saat ayahnya masih memiliki sedikit kekayaan, saat ia masih diizinkan duduk di pesta minum teh bersama putri bangsawan lainnya.

"Kau harus diam seperti mayat," bisik salah satu temannya dulu, wajahnya pucat saat menceritakan malam pertamanya. "Jika suamimu memintamu melayaninya di tempat tidur, kau tidak boleh berteriak, bergerak, atau mengatakan apapun. Ibuku bilang, wanita terhormat tidak menikmati hal kotor seperti itu."

Seperti mayat. Benar, begitu. Itulah yang coba dilakukan oleh Sienna sejak tadi.

Tapi pria itu sudah mengambil kesuciannya, bukankah seharusnya ini sudah berakhir? Apakah seharusnya ia pergi? Atau haruskah ia menunggu pria itu melepaskannya?

Sienna merasa terjebak. Ia tidak dapat pergi ke mana-mana karena tubuh mereka masih bersatu.

Sienna berusaha mengangkat wajahnya, mencoba melihat ekspresi pria itu dalam kegelapan. Tapi ia tidak bisa. Pria itu membenamkan wajahnya di ceruk leher Sienna, nafasnya terdengar berat dan kasar, menyapu kulit bahu Sienna yang telanjang.

"Siapa namamu?" tanya pria itu akhirnya, suaranya terdengar serak di telinga Sienna.

Sienna berpikir sejenak di tengah kabut rasa sakitnya. Haruskah ia memberitahu namanya pada orang asing yang baru saja menghancurkannya?

"Siapa namamu?" desaknya lagi. Kali ini pria itu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Sienna yang basah.

Sienna menelan ludahnya, saat lagi-lagi manik matanya yang merah menatap Sienna.

"Si... Sienna."

"Sienna."

Sienna merasakan wajahnya memanas. Ada perasaan aneh yang menjalar di perutnya saat namanya disebut dengan nada seintim itu oleh bibir pria asing.

"Luca," ucap pria itu pelan sebelum mengecup rahang Sienna, membuat wanita itu tersentak.

"A... apa?" tanya Sienna, berusaha meredam suara aneh yang hampir keluar dari tenggorokannya.

"Namaku. Luca." ucapnya lagi sambil menurunkan ciumannya.

Kenapa pria ini belum berhenti? Ia sudah mengambil apa yang ia butuhkan, kenapa ia masih memeluk Sienna seerat ini?

"Aku akan mulai bergerak."

Sienna menatapnya dengan tatapan bingung. Saat Luca menarik pinggulnya sedikit menjauh, Sienna menghela nafas lega, mengira siksaan ini akhirnya berakhir.

Ia bermaksud untuk menggeser tubuhnya bangkit, ketika tiba-tiba pria itu menghentakkan dirinya kembali, menghujam lebih dalam dari sebelumnya.

"Aaahh..."

Suara itu lolos begitu saja dari bibirnya. Itu bahkan bukan teriakan, melainkan seperti suara yang keluar dari seseorang yang terlihat kehabisan nafas. Kepalanya kembali terbanting ke bantal, tenggelam dalam kelembutan kain yang kontras dengan kekasaran yang terjadi pada tubuhnya.

Sienna mencengkeram sprei sekuat tenaga, buku-buku jarinya memutih, matanya terbelalak dengan lebar. Ia tidak mengerti. Sungguh, ia tidak mengerti.

Kenapa pria ini tidak berhenti? Kenapa dia justru bergerak semakin intens?

Sienna kembali mengangkat tangannya, berniat menggigit punggung tangannya sendiri untuk meredam suara-suara memalukan yang terus mendesak keluar dari tenggorokannya. Ia harus diam. Ia harus menjadi mayat.

Namun, tangan besar Luca segera mencegatnya.

Pria itu menarik tangan Sienna dari mulutnya, lalu menjalin jari-jari mereka di atas bantal. Mengunci Sienna sepenuhnya, merampas satu-satunya pertahanannya.

"Tuan... tolong..." isak Sienna, tapi bahkan ia pun tidak tahu apa yang ia mohon.

"Luca," koreksi pria itu tegas di sela nafasnya yang memburu. "Sebut namaku, Sienna."

Sienna masih menutup mulutnya. Air mata kembali mengalir dari sudut mata Sienna. Dunianya berputar, akal sehatnya perlahan terkikis oleh dominasi pria di atasnya. Dan di tengah badai itu, Sienna akhirnya menyerah.

Ia berhenti memikirkan perkataan temannya, ia berhenti mencoba menjadi mayat.

=

Sienna tidak memejamkan matanya sedetik pun malam itu.

Begitu Luca tertidur ia langsung menyelinap keluar. Ia sudah kembali mengenakan jubahnya saat langkahnya berhenti di ujung tangga. Malam semakin larut, tapi suara tawa masih terdengar.

Sienna menggenggam jubahnya sebelum akhirnya sesuatu menghantam pikirannya.

Ini saatnya. Batin Sienna. Jika ia ingin berita ini sampai ke telinga Viscount Rohan ia seharusnya memanfaatkan kerumunan ini.

Sienna akhirnya membuka jubahnya dan melangkah masuk ke kerumunan yang tersisa.

Satu kepala menoleh. Lalu dua. Lalu bisik-bisik mulai terdengar seperti dengungan.

"Hei, lihat itu..." Seorang ksatria dengan gelas bir di tangannya menyenggol temannya.

Mata-mata merah dan mabuk itu menatap Sienna dengan lapar sekaligus merendahkan. Mereka memindai penampilan Sienna yang berantakan, bukti nyata dari apa yang baru saja dilakukannya di lantai atas.

"Sudah kubilang kan, dia putri Baron Borgia," celetuk suara lain yang lebih keras, sengaja agar Sienna mendengarnya. "Wajahnya persis seperti ibunya yang sombong itu."

"Kasihan sekali," sambar temannya sambil terkekeh jahat. "Keluarganya sudah bangkrut total, tidak punya harta, dan sekarang... lihat dia. Dia pasti sudah sangat putus asa sampai harus menjajakan diri di tempat seperti ini."

"Kudengar tidak ada yang mau menikahinya karena dia tidak punya mahar. Tapi aku tidak menyangka dia akan jatuh sejauh ini, ternyata Baron Borgia membesarkan seorang pelacur, bukan seorang Lady."

Sienna berusaha mengabaikan suara-suara itu, begitu ia tiba di luar, Sienna mencoba berlari secepat mungkin. Ia menghentikan kereta kuda yang lewat dan meminta untuk diantarkan ke rumahnya.

Sienna mencoba masuk dari pintu belakang, akses para pelayan yang sudah lama rusak. Ia berusaha berjalan sepelan mungkin menuju lantai dua.

Sienna baru saja mencapai tangga ketika sebuah cahaya dari lilin tiba-tiba menerangi seluruh ruangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 220

    Belum sempat Sienna bereaksi pada dorongan itu, Lucian menjatuhkan tubuh besarnya ke atas tubuh Sienna, mengurung wanita itu sepenuhnya di bawah kungkungannya.Berat tubuh suaminya menekan tubuhnya, sementara kedua tangan Lucian bertumpu di sisi kepala Sienna, mengunci segala celah baginya untuk melarikan diri atau membuang muka.Sienna menahan napas. Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa senti. Mata merah Lucian yang biasanya menatapnya dengan penuh pemujaan, kini menatap lurus ke dalam mata biru Sienna dengan keputusasaan dan kemarahan yang tertahan.."Bagaimana kau bisa terus berpura-pura tidak tahu siapa yang kubicarakan?" geram Lucian tepat di depan bibir Sienna, napasnya yang panas menerpa kulit wajah istrinya.Tangan Lucian yang menumpu di kasur terkepal kuat hingga meremas seprai sutra di bawah mereka. Sorot matanya menelanjangi setiap kebohongan yang terus Sienna bangun.."Apa racun yang diberikan Arthur juga telah merusak hati nuranimu?" desis Lucian, suar

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 219

    Malam itu, berbeda dengan hari-hari lainnya, Lucian telah kembali ke kamar lebih dulu dibanding istrinya.Ketika Sienna melangkah masuk, pemandangan yang menyambutnya membuat langkahnya terhenti.Lucian duduk di sofa tunggal di dekat perapian yang menyala redup. Pria yang biasanya memancarkan aura penguasa yang tak tertembus itu kini tampak berantakan.Kemejanya dibiarkan terbuka di bagian kerah, dan raut wajahnya terlihat sangat kusut. Di tangannya terdapat sebuah gelas kristal berisi anggur merah, sementara sebotol anggur yang isinya sudah setengah kosong tergeletak di atas meja di sebelahnya.Hati Sienna berdenyut nyeri melihat suaminya dalam keadaan seperti itu. Ia tahu Lucian sedang disiksa oleh beban pik

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 218

    Trak! Trak!Suara ketukan pangkal tombak yang beradu keras dengan lantai marmer tiba-tiba menggema dari balik pintu, menghentikan detak jantung setiap orang di ruangan itu seketika.Pintu ganda berlapis emas Aula Anggrek yang menjulang tinggi didorong terbuka lebar secara bersamaan oleh dua ksatria bersenjata lengkap.Hawa dingin seketika berhembus masuk, menyapu ruangan dan menghilangkan keangkuhan yang sedari tadi dipupuk oleh ketiga gadis tersebut.Seorang kepala pelayan istana melangkah masuk dengan wajah tegas, berdiri tegak di sisi pintu, dan menarik napas panjang."Yang Mulia Permaisuri Kekaisaran, telah tiba!" seru pria itu dengan suara

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 217

    Pembicaraan yang sejak tadi memenuhi ruangan perlahan mulai redup seiring berjalannya waktu.Udara di dalam ruangan yang awalnya dipenuhi oleh antusiasme, saling pamer dan sindir, senyuman manis yang dipaksakan, dan aroma parfum mahal, kini berubah menjadi kaku dan menjemukan.Sudah lebih dari satu jam berlalu, namun Sienna belum juga menampakkan wajahnya.Di salah satu sofa beludru utama yang terletak di tengah ruangan, tiga nona muda, Lady Catherine, Lady Charlotte, dan Lady Margaret mulai menunjukkan raut wajah yang masam.Kipas di tangan mereka kini dikibaskan dengan ritme yang cepat dan penuh kekesalan, menciptakan suara kepakan kecil yang memecah keheningan canggung di antara para kandidat lainnya.

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 216

    Dua minggu berlalu dengan begitu cepat.Siang itu, dari balik jendela kaca di ruang kerjanya yang berada di lantai kedua Istana, Lucian berdiri mematung.Mata merah sang Kaisar menatap tajam ke arah pelataran gerbang istana dalam, di mana rentetan roda kereta kuda saling berderit memecah kesunyian istana.Kereta-kereta kuda itu membawa lambang dari berbagai keluarga bangsawan dari berbagai tingkatan.Namun, yang membuat darah Lucian mendidih bukanlah lambang-lambang itu, melainkan pemandangan absurd yang tersaji di pelataran.Puluhan pelayan berlarian menurunkan peti-peti kayu raksasa, kotak-kotak perhiasan, dan tumpukan koper kulit dari atas ke

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 215

    Saat Lucian masuk ke kamar mereka, Sienna sedang duduk di dekat perapian. Istrinya itu tengah memegang secangkir teh porselen, menyesapnya perlahan seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mengganggu ketenangannya.Melihat suaminya masuk dengan aura yang begitu pekat, Sienna hanya meletakkan cangkir tehnya dengan pelan dan menatap Lucian."Aku sudah mendengar semuanya dari Marquess Ashford." ucap Lucian tanpa basa-basi.Sang Kaisar melangkah mendekati wanita itu, menatap mata istrinya lekat-lekat. "Batalkan surat-surat itu. Aku tidak setuju kau membawa wanita-wanita lain ke dalam istana ini, Sienna."Mendengar larangan mutlak dari suaminya, ekspresi Sienna tidak berubah sedikit pun. Wajahnya tetap tenan

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 84

    Teriakan panjang dan tinggi lolos dari bibir Sienna, menggema di seluruh ruangan saat gelombang kenikmatan itu menghantamnya tanpa ampun. Tubuhnya menegang hebat, lalu lemas seketika di atas seprai yang berantakan.Napas Sienna tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa malu yang luar biasa m

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 86

    "Tuan Duke, hari ini merupakan jadwal rutin untuk melakukan donasi rutin Duchy pada Kuil Utama." lapor Damien.Lucian tidak menghentikan gerakan tangannya di atas kertas. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa menoleh."Lalu?" tanya Lucian acuh tak acuh. "Lakukan seperti biasa. Kirim utusan untu

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 82

    "....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 79

    "Nona... apa Anda yakin?"Pelayan pribadi Alexandria bertanya dengan suara gemetar. Tangannya memegang lentera kecil, menerangi lorong sempit di balik dinding kastil yang biasanya hanya dilewati oleh tikus dan pelayan yang menuju kamar tuannya.Alexandria menatap pelayan itu dengan tajam, matanya b

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status